
...ANYEONG MY FUTURE HUSBAND...
^^^By. Lucifer^^^
"Sampai kapan pun saya nggak bakalan ngajuin cerai buat hubungan saya sama Bina."
"Kenapa sih Mas, apa sih yang spesial dari dia, aku perhatiin badannya dia keliatan biasa aja, bagusan juga badan aku," kesal dengan jawaban Sean membuat Sarah sampai melakukan body shiming terhadap Rubina. Sarah sebenci itu dengan Rubina.
"Ingat ya Mas, aku adalah ibu dari darah daging kamu...”
"Kamu memang ibunya, tapi aku bukan ayah biologisnya Sheran"
"Kamu ini ngomong apa sih, Mas? kok kamu tiba-tiba nggak mau ngakuin tentang Sheran? Apa Bina yang ngomong macam-macam sama kamu."
"Bukan Bina." Sean membela Rubina.
"Siapa lagi kalau bukan dia?"
"Kamu nggak perlu ngenjelek-jelekkin Bina di hadapan saya. Bukan dia kok yang ngomong macam-macam tentang kamu."
"Terus siapa lagi yang ngomong macam-macam tentang Sheran sampai kamu berpikir kalo Sheran bukan darah daging kamu kalau bukan Rubina? Cuma dia orang yang nggak suka dengan hubungan kita."
"Nih," Sean merogoh sakunya dan langsung meletakkan amplop putih berisikan hasil tes DNA ke meja kayu di hadapannya. "Dengan surat ini saja udah cukup untuk membuktikan bahwa saya bukan ayah biologisnya."
***
SARAH sedang gugup namun sekuat tenaga dia berusaha untuk terlihat sedang baik-baik saja. Sarah menambah senyum supaya pria di hadapannya tidak menyaksikan ketegangan yang sebenarnya sudah dia rasakan saat Sean meletakkan amplop di meja.
"Kamu ini ngaco banget sih Mas. Dan ini..." Sarah mengambil sepucuk surat yang ada di meja, "Surat apa sih ini, Mas?" Sarah masih mencoba untuk bersikap tenang meski perasaannya sudah tidak enak. Sarah yakin ada masalah serius.
"Kamu baca aja. Di sana tertulis jelas bahwa Sheran bukanlah darah daging saya."
Sarah sangat terkejut saat membaca isi secarik kertas itu yang mempertegas bahwa Sean bukanlah ayah biologis dari Sheran. Sungguh, setelah menemukan itu Sarah jadi menyimpan banyak pertanyaan di dalam kepalanya. Termasuk pertanyaan kapan Sean mengambil sampel untuk melakukan tes DNA?
"Kamu dapat ini dari mana sih Mas? Kok hasilnya bisa ngaco kayak begini sih?" heran Sarah. Dia mengalihkan pandangannya dari kertas itu menuju ke wajah suaminya yang kala itu sudah menampilkan muka yang tidak bersahabat. "Atau jangan-jangan Rubina lagi yang bikin tes DNA manipulasi kayak begini. Bener-bener yah si Bina. Demi untuk menghancurkan hubungan kita dia sampai bertindak seperti ini. Dia sampai menghalalkan segala cara."
"Berhenti untuk terus menyudutkan Bina kayak gitu,” sebal Sean menaikkan volume suaranya sedikit lebih keras dari yang sebelumnya. “Bina nggak tau apa-apa soal ini. Jadi, berenti untuk terus melibatkan dia!" seru Sean penuh penekanan. Jangan ditanya lagi, mata melotot yang diperlihatkan olehnya saat itu sudah lebih dari cukup untuk membuat Sarah selaku lawan bicaranya untuk meneguk salivanya takut.
"Tapi Mas, surat ini bisa saja rekayasa kan? Sheran itu anak kamu Mas. Dia adalah darah daging kamu sendiri, kok setega itu kamu nggak mau ngakuin dia," Sarah masih berkilah meski sudah ada bukti di tangannya yang memperjelas bahwa Sean bukanlah ayah biologis dari Sheran.
"Hasil tes DNA itu asli, bukan rekayasa. Saya yang ngambil sampel rambut Sheran. Kamu ingat kan pas saya datang ke sini malam-malam dan nyuruh kamu buat beli nasi padang? Pas kamu udah pergi, saya baru bertindak melakukan apa yang seharusnya saya lakukan.”
"Tega ya kamu Mas ngelakuin ini ke aku."
"Tega?" ulang Sean, dia tertawa singkat. "Yang sebenarnya tega siapa, yang malah dituduh tega siapa. Sadar Sar, kamu yang udah tega sama saya. Kamu udah ngejebak saya dalam pernikahan ini. Kamu udah menghancurkan kehidupan saya.”
"Mas, Sheran itu anak kamu Mas. Tolong Mas percaya sama aku!" Sarah memohon-mohon.
"Anak? Di kertas itu udah jelas-jelas tertulis kalau saya bukan ayah biologisnya."
"Mana bisa begitu? Kan kamu yang berhubungan sama aku, Mas. Kamu adalah orang pertama dan terakhir yang melakukan itu sama aku." Sarah mengungkitnya lagi demi untuk meyakinkan suaminya. "Aku nggak pernah berhubungan dengan siapapun kecuali sama kamu. Ya kalau Sheran bukan anak kamu, terus dia anak siapa?"
"Itu udah jujur loh, Mas. Sheran emang anak kamu. Dia adalah darah daging kamu,” Sarah mengulurkan tangan kanannya, dia menggenggam kuat tangan besar milik suaminya. Namun hanya dalam hitungan detik Sarah menyentuh tangan itu dan Sean langsung menggunakan segenap kekuatannya untuk menyingkirkan tangan Sarah.
"Kalo emang kamu cuma melakukan hubungan itu sama saya otomatis hasil tes DNA itu akan mengatakan bahwa saya adalah ayah biologis dari Sheran."
"Mas ayo dong percaya sama aku!" Sarah masih berharap suaminya itu bisa mempercayainya.
"Saya minta sama kamu. Tolong bicara yang jujur. Sebenarnya siapa ayah biologisnya Sheran!"
"Kamu Mas..."
"Saya bilang berenti berkelit," geram Sean dengan nada tinggi. Sekarang dia bahkan sudah tidak peduli dengan tetangga yang bisa mendengar keributan yang diakibatkannya. Sean sedari tadi mencoba untuk bersabar, bertanya dengan harapan Sarah mau mengakuinya tapi semakin lama Sarah malah semakin berkelit dan membuat Sean habis kesabaran. "Kalo kamu tetep nggak mau bilang, maka jangan salahkan saya kalo saya sampai membawa kasus ini ke pengadilan. Saya bisa membawa hasil tes DNA ini sebagai bukti bahwa kamu telah melakukan tindak penipuan!"
Sarah dengan air mata yang sudah luruh membasahi pipih menegang di tempatnya mendengar ancaman dari bibir Sean yang disampaikan dengan raut muka serius. Sarah jadi tidak bisa berpikir jernih. Dia takut akan ancaman yang dilayangkan oleh suaminya akan terjadi.
"Saya nggak main-main Sarah. Saya beneran bakalan bawa kasus ini ke pihak berwajib kalo kamu terus mengatakan kebohongan sama saya."
"Baiklah Mas. Sekarang aku akan jujur," jawab Sarah dengan begitu terpaksa. “Aku akan berkata jujur terkait dengan apa yang terjadi. Ya, benar kata kamu Mas. Sesuai dengan hasil tes DNA itu Sheran memang bukan darah daging kamu."
"Terus Sheran anak siapa?"
"Anak mas Bram."
"Bram?" ulang Sean. Sean mencoba memikirkannya namun yang ada kepalanya semakin buntu karena Sean merasa tidak kenal dengan seorang pria bernama Bram. "Siapa dia? Apa saya kenal sama dia?"
Sarah geleng-geleng kepala. “Sepertinya Mas Sean nggak kenal sama mas Bram. Mas Bram biasanya hanya datang nemuin aku di saat malam aja."
"Ada hubungan apa kamu sama Bram? Kenapa kamu bisa hamil anaknya dia?" cecar Sean. Belum sempat lawan bicaranya menjawab pertanyaannya saat Sean menambahkan, "Dan kenapa juga kamu bilang kalo Sheran itu anak saya, padahal kamu sendiri tau kalau Sheran itu anaknya Bram?"
"Maaf ya, Mas, aku memang terpaksa melakukan itu. Aku tau ini salah, tapi aku nggak ada pilihan lain."
"Apa maksud kamu?”
"Jadi aku dan mas Bram itu memang pacaran. kita bahkan udah membicarakan hal-hal serius. Tapi aku tidak menyangka kalau apa yang dikatakan oleh Mas Bram tidak lebih dari sebatas bualan semata. Harapan untuk berumah tangga hanyalah angan-angan saja. Mas Bram tidak pernah benar-benar cinta sama aku. Di hari terakhir kita bertemu mas Bram memutuskan untuk mengakhiri semuanya."
Sarah menghapus air matanya dengan punggung tangan lalu melanjutkan penjelasannya dengan suara yang parau. "Mas Bram memilih untuk mengakhiri hubungannya sama aku padahal aku udah sangat mencintainya. Aku bahkan telah memberikan seluruh yang kupunya, termasuk mahkota aku sebagai seorang perempuan. Aku menyesal, tapi menyesal pun udah enggak ada gunanya karena semuanya udah terjadi."
"Soal malam itu apakah kita benar-benar melakukan hubungan terlarang?"
"Haaahh... nggak," jawab Sarah dibarengi oleh sebuah helaan napas dan gelengan. “Mas dan aku nggak pernah ngelakuin apa-apa malam itu. Memang benar bahwa malam itu mas Sean mabuk karena ada campur tangan aku di dalamnya. Aku bahkan membuat semuanya terlihat rapi seolah-olah kita melakukan hubungan terlarang itu, padahal kenyataannya tidak seperti itu, malam itu kita hanya tidur berdua saja, tidak melakukan hal lebih. Dan semua itu udah aku rencanakan karena aku takut hubungan aku sama mas Bram sebelumnya menghasilkan anak. Dan beberapa saat setelah itu aku menyadari kalau ketakutan aku ternyata memang kesampaian. Aku hamil, dan aku menggunakan mas Sean sebagai orang yang harus bertanggung jawab."
Sarah menautkan kedua telapak tangannya di depan dada— dalam artian dia sedang memperlihatkan bahwa dia sangat menyesali perbuatannya itu.
"Tega kamu, Sar! Padahal kamu yang berbuat gila sama Bram tapi saya malah ikut terseret dalam permasalahan kalian. Kamu bener-bener perempuan paling jahat yang pernah saya temui. Dan setelah ini saya akan talak kamu."
Sarah meneguk salivanya merasakan getir. Sarah bukannya tidak ingin memperjuangkan Sean. Hanya saja Sarah sadar bahwa pernikahan diantara mereka terjadi karena insiden yang direncanakan oleh Sarah. Dan juga karena Sarah takut akan dilaporkan ke pihak berwenang atas kasus penipuan, dia pun memutuskan untuk menyerah sampai di sini. "Baiklah Mas, aku akan menerima keputusan talak itu."
"Ok... kalo gitu. Sebaiknya kebohongan kamu harus diselesaikan sampai di sini aja."
ADA perasaan lega yang mendiami diri Sean setelah dia baru saja pulang dari rumah Sarah. Perlahan namun pasti Sean sedang mencoba untuk menyelesaikan semua permasalahannya. Setelah masalahnya dengan Sarah sudah beres, kini Sean hanya perlu untuk menyelesaikan masalahnya dengan Rubina.