I'm Not Cinderella

I'm Not Cinderella
Ekstra Part 52 Kisah Hans



"Nadin... Kemarilah, di situ bahaya! ayo... kita pulang...Hmm..."


Nadin pun hanya menangis tersedu-sedu melihat ke arah Hans.


"Nggak!"


"Nadin!!"


"Setelah pulang terus apa? aku udah nggak pantas jadi istri kamu lgi Mas... aku udah cacat, aku udah nggak bisa memberikan keturunan buat kamu, Mas!" ucapnya sambil terisak.


"... Dan kamu sendiri yang bilang, Mas. kalau kamu akan melakukan apa yang Ayah suruh... kamu akan menikahi orang yang bisa melahirkan keturunan buat kamu lagi kan, Mas?! kalau kamu menikah dengan wanita lain buat apa aku hidup Mas? lebih baik aku mati, biar kamu bisa menikahi wanita lain... aku bener-bener nggak sanggup liat kamu nikah sama orang lain Mas... aku nggak sanggup!" tangisnya pun pecah dia pun berjongkok.


"Kamu salah Nad, kamu jangan dengarkan apa kata Aquila ataupun ayah mu...dan kamu bener-bener salah sangka... kamu nggak denger kelanjutan kata-kata saya setelah itu, Nad..." ucap Hans mulai bergerak perlahan mendekati Nadin setelah melihat Nadin yang tidak terlalu fokus kearahnya karena tangisannya.


"Apa itu yang ingin anda dengar Pak?! seharusnya disaat sekarang anda harus mendungkung putri anda bukan malah mendorong saya untuk menikah dengan wanita lain lagi dan meninggalkan putri anda..."


"Hanya karena tidak bisa melahirkan dan mempunyai anak lagi, lalu dia nggak pantas jadi seorang istri? Hah... sungguh lucu sekali!"


"Jujur pertama kali saya menikah dengan putri anda saya memang tidak memiliki perasaan padanya, tapi selama kami mengarungi rumah tangga kami, putri anda mengubahnya... saya menyayangi putri anda, saya ingin melindunginya dari orang-orang yang ingin menyakitinya termasuk anda, Pak. Dan sekarang kami saling membutuhkan, dan dari awal saya menikah dengan putri anda, saya tidak pernah terbesit sedikit pun untuk meninggalkan atau menceraikan putri anda, Pak. Jadi.... jika anda kesini ingin memisahkan saya dengan Nadin maka anda hanya membuang sia-sia waktu berharga anda, Pak. Karena saya tidak akan meninggalkan Nadin." ucap Hans mengulangi kata-katanya ketika berbicara dengan ayahnya Nadin.


Apa???


Nadin pun mulai agak tenang dan mulai berdiri melihat kearah Hans dengan air mata yang masih mengalir meskipun tidak se histeris tadi.


"Kamu tetaplah Nadin, tidak berubah sedikit pun---" ucap Hans tertahan melihat kearah Nadin dengan air mata yang menetes. Dan untuk pertama kalinya Nadin melihat Hans menangis karena dirinya. "Nad... saya sayang sama kamu, saya mencintai kamu, Nadin..."


Dan akhirnya terucap kata-kata yang sangat ditunggu oleh Nadin, sayang dan cinta dari Hans untuknya sepenuhnya.


Nadin pun menggerakan kakinya untuk melangkah tapi saat kakinya melangkah tanah yang diinjaknya retak dan tubuh Nadin pun menjadi tidak stabil.


Sraaakkk....


Aaaakkhhhh!!!!


"Nadiiiinn!!!" triak Hans sambil berlari melewati pgar pembatas.


No... i will die!


gumam Nadin dalam hati lalu menutup mata pasrah.


"i love you Mas Hans!" ucapnya pelan.


Bruuuukkk...


aku masih hidup?


Nadin membuka matanya perlahan dan terkejut saat melihat didepannya.


Ya... Nadin berada dipelukan Hans dengan posisi Hans verada dibawah Nadin.


"Mas... Hans..." Hans pun hanya terdiam melihat kedalam bola mata Nadin dengan posisi masih sama, tak lama Hans oun tersenyum kerah Nadin yang msih bengong melihat kearah Hans.


"Tertangkap! sudah saya dapatkan, dan saya nggak akan melepaskannya lagi!" ucap Hans sambil tersenyum kearah Nadin.


"Mas... Maafin aku.. aku udah nggak bisa memberikan keturunan buat kamu lagi..." ucapnya disela tangisannya.


"Hah... sudahlah, Nad..."


"Tapi--- Mas..."


"Tanpa anak pun saya nggak masalah, yang penting kamu selalu ada disisi saya, Nad... Saya nggak bisa hidup tanpa kamu Nad..." Nadin tertegun dengan kata-kata yang Hans ucapkan.


"Dengar, Nad. Mulai sekarang kita akan selalu bersama, sampai salah satu dari kita mati, kamu harus terus ada di samping saya. Itu sudah cukup!" ucap hans sambil mengusap pipi Nadin yang penuh dengan air matanya. Ndin pun tersenyum kearah Hans masih menangis.


"Mas, aku juga sangat mencintaimu lebih dari apapun di dunia ini."


"Makasih, Nad... kamu mau bertahan selama ini buat mengubah perasaan saya sama kamu, kamu sudah lewati dimana saat saya menyakiti hati kamu... sampai saat ini di mana kamulah juaranya hati saya sudah tertambat sama kamu Nad..."


Nadin pun lamgsung memeluk tubuh Hans dengan erat sambil menangis keras. Hans pun hanya tersenyum melihat reaksi Nadin lalu membalas pelukan Nadin dan mengecup kepala Nadin berkali-kali.


***


"Well Well Well... harusnya kita ga usah repot-repot nyusulin mereka kesini kalo adegannya kayak begini!" ucap Danniel melihat kearah Rafael dan juga Dany.


Tak lama Althea berlari kearah mereka dengan khawatir.


"Niel... mana Nadin dan Hans?!"


"Tuuuuhhh... mereka malah asik-asik pelukan sementara kita disini khawatirin mereka.


"Hah... liat aja Nadin... gue kasih hukuman karena mikir mu ninggalin kita tanpa mikirin kita gimana kalo kehilangan dia... ck!" ucap Althea kesal.


"Tapi seenggaknya ada yang jujur sama perasaannya sekarang, dan mudah-mudahan cinta mereka kayak kita ya, tetep kuat biarpun banyak rintangan dan halangan." ucap Danniel.


***


Ya... setelah kejdian itu kedua orang tua Nadin benar-benar minta maaf pada Nadin dan mereka dipindah tugaskan oleh Danniel supaya tidak mengganggu rumah tangga Nadin juga Hans.


Aquila dihukum seumur hidup tanpa bebas jaminan, dan kalian tau sekarang dia seperti orang gila selalu dihantui oleh anak kecil juga sosok seperti Jonathan menurutnya...


Meskipun dalam rumah tangga Nadin dan Hans tidak dikaruniai anak, Danniel juga Althea mengijinkan kedua putra putri mereka untuk menginap di tempat Hans dan Nadin untuk menemani mereka saat weekend bila mereka tidak pergi ke kakek nenek mereka. Agar mereka juga ikut merasakan kehadiran anak-anak di kehidupan mereka berdua.


Dan kehidupan mereka berdua pun sangat harmonis dan sudah saling percaya dengan cinta diantara mereka.


- end -


Sampai jumpa lagi nanti di Balik Kisah Rafael Sang Flamboyan ya...


Sekarang authornya mu istirahat dulu...


Sekalian nyari kisi- kisi buat cerita Rafel selanjutnya... sama nerusin judul-judul yang lainnya yang masih on going...


bye...