
Mmhhmm...
Nadin pun tersadar dari pingsannya mengerjapkan mata melihat sosok Hans ada di sampingnya.
"Mas?!" Nadin hendak beranjak dari ranjang itu tapi Hans mencegahnya dan menidurkan Nadin lagi tanpa kata-kata.
"Mas, ngapain disini?" tanya Nadin lagi sambil mengurut keningnya yang pusing karena tiba-tiba bangun tadi.
"Kalau saya nggak kesini saya nggak bakalan tau kalau kamu lagi hamil!" ucap Hans melihat ke arah Nadin. "Sampai kapan kamu mau menyembunyikan tentang kehamilan kamu, Nad?!"
"Buat apa Mas tau? Toh Mas juga nggak menginginkan anak ini kan?"
"Nad..."
"Mas, aku udah terima surat cerai yang Mas tanda tangani, kita akan ketemu di persidangan nanti!"
"Nad, niat saya ketemu kamu mau ngomongin itu, saya nggak tau kalau saya sudah menandatangani surat cerai itu, dan entah kenapa surat itu sudah ada tanda tagan saya..."
"Hah... Mas, sekarang saya tanya sama Mas, emang ada yang berani buat menjiplak tanda tangan Mas? Nggak kan? Mas emang dari dulu nggak menginginkan aku buat jadi istri kamu Mas, dan aku tau kalau Mas tau aku hamil, Mas pasti akan menggugurkan janin ini kan?"
"Nad--"
"Makanya aku nggak bilang sama Mas kalau aku hamil, kalau Mas nggak menginginkannya, nggak apa-apa... aku bisa ngurus anak ini sendirian, aku juga nggak kan bilang kalau Mas adalah ayah kandung dari anak ini! kalau Mas nggak menginginkannya... karena aku tau kalau mas cuma mau seorang anak dari Azura, atau mungkin sama Aquila?!"
"Nadin!" bentak Hans emosi.
"Mas mau apalagi? selama ini aku udah cukup sabar ngadepin Mas, ngadepin sikap Mas yang selalu dingin sama aku... dan sekarang aku udah cukup buat mertahanin Mas, Mas sekarang bebas.. aku udah rela ngelepasin Mas... aku--- Akkhh..." pekik Nadin sambil memegang perutnya yang kram.
"Kamu kenapa Nad, apa yang kamu rasakan?!" Hans mulai panik melihat Nadin yang kesakitan. lalu Nadin menggeleng pelan.
"Mas pulanglah.. Aku pengen sendirian..." Hans yang asalnya ingin berada disisinya Nadin pun teringat akan kata-kata Dokter tadi. jangan membuatnya stres ataupun kecapaian.
Mau tidak mau Hans pun keluar dari ruangan itu. Seketika Nadin pun menangis setelah Hans keluar dari ruangan itu menumpahkan air matanya yang dia tahan daritadi. Hans yang masih di depan pintu ruangan itu hanya terdiam mendengar tangisan Nadin yang terdengar olehnya. Hans meremas rambutnya tidak tau harus melakukan apa.
"Kak..." saat Aquila sudah berada di hadapan Hans.
"Kenapa kamu nggal bilang kalau Nadin hamil, Quil?!"
"Kak... sumpah atas nama Kak Azura, aku juga baru tau tadi kalo Nadin lagi hamil, aku juga sama terkejutnya sama kayak kakak..." ucapnya sambil memnerikan sebungkus kresek obat-obatan yang dia beli tadi di farmasi klinik.
"Thank's Quil..." ucapnya sambil menerima kresek itu. "kamu bisa pulang Quil, biar Saya yang jaga disini!"
"Tapi, kakak nggak apa-apa kan?" Hans hanya tersenyum lalu mengangguk.
"Ya sudah, salam buat Nadin ya Kak, bilang aku pamit..."
"Hmmm" jawab Hans irit.
Aquila pun dengan ragu berjalan meninggalkan Hans di depan ruangan rawat Nadin. Lalu Hans pun duduk di salah satu kursi klinik depan ruangan Nadin sambil menunduk pasrah.
***
"Gimana keadaan Nadin?!" tanya Althea panik saat Nadin meneleponnya tadi siang.
"Lumayan lebih tenang, daripada tadi siang..." jawab Hans ragu.
"Kamu udah liat dia?" tanya Danniel dengan tenang. Hans hanya menggelengkan kepalanya.
"Dia nggak mau ketemu saya, dan saya juga nggak ingin kalau Nadin sampai stress jadi saya nunggu di luar, nggak baik buat janinnya." Althea, Danniel dan Rafael pun langsung terdiam seketika dan saling pandang.
"Oh.. jadi kamu sudah tau keadaan Nadin?" ujar Althea sambil menghela napas.
"Kenapa kalian juga menyembunyikannya dari saya?!"
"Gue pikir lo nggak mau janin di dalam rahim, Nadin. jadi ya kita nggak mau terjadi apa-apa sama Nadin juga bayinya." Sindir Althea mendadak berbicara nonformal pada Hans. Hans pun hanya tersenyum samar sambil menunduk. Althea lalu lekas masuk ke dalam ruangan Nadin tanpa menanyakan dimana ruang Nadin karena tau pasti ruangannya berada di depan tempat duduk Hans. Lalu Danniel dan Rafael pun menepuk pundak Hans dan mengajak Hans untuk duduk dengan mereka.
"Gimana perasaan lo sekarang setelah tau dan lo udah terlanjur tanda tangan tu surat cerai?!" ujar Rafael. Hans pun terdiam seperti banyak pikiran dan terlihat galau.
"Want to talk with us, Hans?!" ucap Rafael yang tau gelagat Hans.
***
Di taman Klinik tempat Nadin di rawat...
Tiga orang pemuda taasedang duduk sambil meminum soda yang dibeli Rafael. katanya biar enak ngeluarin unek-uneknya.
Dan ternyata bukan cewek-cewek aja yang butuh curhat, cowok juga butuh yes...
"Jujur... saya menikah sama Nadin bukan buat main-main. Niat saya nikah sama Nadin adalah untuk selamanya. Dan Saya hanya perlu waktu buat ngelupain Azura... meskipun masih belum sepenuhnya lupa tapi seenggaknya saya udah nerima Nadin..."
"Hah... lalu Aquila?"
"Dia sudah saya anggap adik saya..."
"Hadeuuhh.. lo tau kan istilah diantara cewek dan cowok itu nggak ada kata 'kakak adek' ataupun 'sahabatan'?!"
"Hah.. mana ada kakak nyium adeknya dengan penuh hasrat saat di club!" ucap Danniel dengan sedikit kesal lalu mengambil handphonenya. "Jujur ya.. gue sebenernya jijik nyimpen video ini tapi Altgea bilang harus disimpan biar jadi bukti!" Lanjut Danniel memperlihatkan video ciuman hotnya Hans dengan Aquila.
Rafael yang ikut nonton video itu pun kaget dan shock. "Kampret lo! Adeknya Azura lo embat juga! meskipun lo lagi mabok harusnya lo masih sadar bro!" ucap Rafael sambil menggeplak kepala Hans.
Hans pun hanya terdiam mengingat saat bangun dia dan Aquila sampai tidur bersama dan bagian atas Aquila tidak mengengenakan benang sehelai pun begitu pun dengannya dengan posisi mereka yang berpelukan dan Aquila sama sekali tidak mempermasalahkan nya.
"Fix, Aquila nggak baik buat lo Hans! meskipun lo bilang dia baik, tapi tetep aja kita nilai dia bukan cewek baik-baik, dia mungkin mirip sama Azura, tapi dia bukan Azura Hans!" ujar Rafael.
"Sekarang mending lo terima keputusan Nadin. dengan lo perbaikin sikap lo sam Nadin kalo lo mau Nadin balikan lagi sama Lo, proses cerai nggak gampang bro! ada tahap mediasi juga antar dua orang siapa tau di tahap itu Nadin jadi merubah pikirannya dengan ngeliat sikap lo yang berubah. Makanya lo kao nerubah dan mau mempertahankan pernikahan lo jangan setengah-setengah." ucap Danniel menasehati Hans begitu juga Rafael.
Dan mereka pun ngobrol ngaler ngidul ngobrolin pengalaman mereka dengan pasangan mereka masing-masing. Apalagi Danniel yang sempat cerai dengan istri pertamanya dan itu saat-saat terpuruk bagi kehidupannya. Dan dia nggak mau pengalamannya itu dialami olehnya maupun kedua sahabatnya.