I'm Not Cinderella

I'm Not Cinderella
AMFH 107



...ANYEONG MY FUTURE HUSBAND...


^^^By. Lucifer^^^


SEAN sedang duduk di tepi ranjang memperhatikan Sheran yang sedang tertidur dengan pulasnya. Tak berapa jauh dari tempatnya terduduk terlihat Sarah yang begitu semangatnya memperhatikan wajah Sean dan Sheran secara bertahap.



"Anak sama ayahnya sama-sama ganteng," kata Sarah memberikan pujian kepada suami dan anak laki-lakinya. “Aku yakin, lambat laun Sheran juga akan semakin mirip sama kamu Mas."


Sean cuma menganggukkan kepalanya seolah dia sangat tertarik dengan percakapan yang berjalan. Padahal sebenarnya tidak demikian. Sean hanya pura-pura tertarik karena saat itu yang sedang dia pikirkan adalah sebuah cara untuk melakukan aksinya mengambil sampel rambutnya Sheran tanpa ketahuan oleh Sarah.


Tak berselang lama kemudian Sean pun mendapatkan ide. Karena tak mau berlama-lama dia pun merealisasikan idenya saat itu juga.


"Sar," panggil Sean pelan karena menyadari Sheran yang saat itu sedang pulas.


"Hmmm, kenapa Mas?"


"Boleh minta tolong gak?"


"Tentu saja boleh. Memangnya Mas Sean mau minta bantuan apa sama aku?"


"Saya lapar," aku Sean. Tentu saja yang dia sampaikan barusan cuma kebohongan semata. Pasalnya sebelum dia berangkat menemui Sarah dia sudah mampir dulu di restauran.


"Mau aku masakin apa Mas?" Sarah bertanya.


"Hmmm di sekitar sini ada yang jual nasi padang gak?" tanya Sean.


"Ada Mas, di perempatan depan sana ada kok. Mau aku beliin?"


"Boleh. Tapi sebelumnya maaf ya udah ngerepotin kamu."


"Nggak ada istilah ngerepotin kalau sama suami sendiri. Kalau begitu aku berangkat sekarang. Mas jagain Sheran sebentar ya!"


"Iya, Sheran biar saya yang jagain."


Setelah Sarah telah pergi, Sean dengan segera mengeluarkan gunting lipat kecil dari dalam dompetnya. Dengan penuh kehati-hatian Sean langsung melakukan tugasnya. Beberapa helai rambut itu diamankan dengan sebuah plastik bening lalu dimasukkannya sampel rambut serta gunting kecil itu kembali ke dompet.


"Akhirnya beres juga. Semoga dengan ini saya bisa segera menghilangkan keraguan yang ada di dalam hati saya.”


Sean menghabiskan banyak waktu memainkan ponselnya. Dia menghubungi Nino via chat untuk memberi tahukan soal sampel yang sudah berhasil dia dapatkan.


Saat Sarah juga telah kembali, Sean tanpa banyak ba, bi, bu, segera menghabiskan makanannya. Dan tepat setelah itu sudah tidak ada lagi alasan baginya untuk berlama-lama di sana.


"Saya pulang ya."


"Hah? Kok pulang sih, Mas?" sambung Sarah. "Aku pikir Mas Sean bakalan nginep di sini malam ini."


"Saya enggak bisa, Sar."


"Ayo lah, Mas, nginep aja di sini. Nggak masalah kalau mas Sean nggak mau melakukan hubungan intim sama aku, asalkan Mas Sean nginep."


“Maaf tapi saya beneran nggak bisa. Saya masih ada urusan lain."


"Urusan apa?"


"Pekerjaan," Sean mengatasnamakan pekerjaan karena tidak mungkin dia berbicara jujur tentang urusannya dengan Nino.


"Urusan pekerjaan atau urusan sama Rubina?"


"Tolong ya Sar, jangan mulai berdebat sama saya!" ucap Sean. "Jangan sampai kamu menyulut emosi saya sehingga dengan terpaksa kamu harus mendengar saya marah dan akhirnya kamu mendapatkan bentakan dari saya!" Sean memperingatkan. Mukanya sudah tidak bersahabat.


****


"ASTAGA..."


AGAM sedikit membulatkan matanya sambil menekan tombol 'delete' yang terdapat pada keyboard pada meja yang ada di hadapannya.


Ya... Agam yang sedang mengerjakan pekerjaan kantor cuma bisa tepok jidat saat dia salah mengetik. Bisa-bisanya pria itu sampai menuliskan nama RUBINA HENNEY WIRIAWAN di sana.


"Sadar Gam! Bina itu udah resmi jadi istri orang!" gumam Agam. Dia terus menanamkan itu di dalam pikirannya. Sesekali dia juga memukul-mukul kepalanya dengan maksud ingin membuang jauh-jauh bayangan tentang Rubina yang mengisi ruang di dalam imajinya.


"Ada masalah apa Gam?" Syifa yang kebetulan letak kubikelnya tidak jauh dari kubikelnya Agam langsung mendekat karena sudah tidak tahan dengan rasa penasaran saat melihat Agam memukul-mukul kepalanya.


Agam menoleh dan mendongakkan kepalanya mengadap ke Syifa yang memandangnya dengan kening mengkerut. "Hah?! Oh Nggak kenapa-kenapa kok, Fa, gue cuma pusing aja." Agam kemudian nyengir.


"Oh.... cuma pusing doang. Gue pikir otak lo lagi miring sampe lo mukul-mukul kepala lo kayak gitu."


"Sialan! Enak aja, lo pikir gue nggak waras. Lo kali yang otaknya miring. Eh, By The Way lo mau ke mana bawa berkas banyak-banyak?"


"Mau ke ruang fotokopi."


"Nitip dong, kebetulan gue juga ada berkas yang mau di fotokopi."


"Kampret! Bukanya ditolongin, lo kek yang potokopi, bukan malah nyuruh gue juga.. Ogah banget! Males ah"


"Ck... Pelit bnaget sih. Ini nih salah satu ciri-ciri orang yang nanti kuburannya bakalan sempit.”


“Enak saja kalo ngomong,” kata Syifa sambil dia menabok punggung lebar milik Agam sampai pria itu memperdengarkan suara ringisan.


"Sakit woi," keluh Agam.


“Siapa suruh lo kalo ngomong sembarangan. Tuh mulut juga kalo ngomong jangan asal-asalan. Nggak ada filternya sama sekali.”


"Lo tuh yang duluan. Orang cuma mau minta tolong juga."


Syifa meninggalkan Agam, dia lanjut menuju ke ruangan tempat di mana terdapat sebuah mesin fotokopi berada.


'Jangan-jangan sebenarnya Syifa juga udah tau lagi soal itu? Secara kan dia sahabat dekatnya Bina. Kayaknya gue harus nyari tau sendiri.'


Ya.... Agam sebenarnya sudah tahu soal rahasia diantara Rubina dan Sea. Agam tidak sengaja mendengar itu tapi dia berpura-pura tidak tahu apa-apa. Dan juga, kabar itu seperti angin segar bagi Agam. Kalau Rubina dan Sean pada akhirnya memutuskan untuk berpisah, itu artinya Agam kembali mendapatkan kesempatan untuk memperjuangkan cintanya ke Rubina.


Agam mengambil berkas di mejanya yang memang hendak dia fotokopi, dengan langkah dipercepat dia menghampiri Syifa. Sejurus kemudian dia sudah berdiri bersebelahan dengan Syifa yang terlihat sibuk bergelut dengan mesin fotokopi.


"Fa?" panggil Agam.


"Hmmm... Kenapa lagi? Lo mau ngecengin gue lagi? Mau bilang kalo kuburan gue bakalan sempit lagi kayak tadi, Hm?" sensi Syifa.


"Dih, siapa juga yang mau ngecengin lo. Gue ke sini soalnya pengen nanya sesuatu sama lo.”


"Mu nanya apa emang?"


"Soal Bina," barulah setelah meloloskan kalimat itu Agam jadi perpikir apakah dia harus menanyakan soal itu kepada Syifa atau tidak. Takutnya Syifa juga nggak tahu soal itu.


'Mendingan gue nggak usah nanyain soal hubungan Bina sama Syifa deh. Takutnya Syifa juga belum tau soal itu. Ntar urusannya malah melebar ke mana-mana.' Pikir Agam.


"Kenapa sama Bina?"


"Hah? Oh nggak... nggak apa-apa. Kemarin dia ngasih tau soal acara reunian."


"Oh itu, si Rima lagi launching restaurannya. Trus katanya mereka semua ngundang temen sekelas buat dateng. Lo emangnya nggak ngecek grup?"


"Belum sempet soalnya chat yang masuk di grup banyak banget. Males baca dari atas. By the way lo mau dateng?"


"Kalo nggak ada halangan gue bakalan datang kok. Emang kenapa lo nanyain soal itu?"


"Penasaran aja infonya tuh valid atau nggak. Takutnya pas gue dateng acaranya udah bubar. Kan nggak lucu kalo gue udah tampil ganteng-ganteng dan akhirnya nggak ada acara. Bisa mubazir kegantengan gue.”


"Ganteng? Dih najis," Syifa ke Agam sambil mengedikkan bahunya mendengar pria itu sedang melantunkan pujian untuk dirinya sendiri.


Memang sih, kenyataannya Agam memang termasuk ke dalam kategori pria 'good looking' namun Syifa merasa sangat jijik dengan pria semacam itu.


"Loh, emang ganteng kan?"


"Yakin ganteng? Kalo emang ganteng kok sampe ditolak berkali-kali sama Bina? Sampe bertahun-tahun malah lo nungguin cintanya Bina tapi si Bina malah cintanya sama Sean.” ucap Syifa telah mengembalikan fokus perhatiannya kepada mesin fotokopi ketika tiba-tiba matanya membulat sempurna saat tersadar kalau ucapannya sangat berlebihan kepada Agam.


Menoleh cepat, Syifa menemukan Agam sedang menampilkan muka hambar.


"Eh Gam, gue ngomongnya udah kelewatan ya? Aduh, sorry ya, gue refleks."


"Oh nggak apa-apa kok. Santai aja kali."


Walaupun bibir Agam mengatakan kalau dirinya sedang baik-baik saja namun raut di mukanya tidak bisa berbohong. Syifa juga bisa merasakan itu. Dia tahu bahwa perasaan Agam sedang tidak baik-baik saja. Dan sialnya semua itu karena Syifa yang tidak memfilter omongannya.


"Sumpah Gam. Gue nggak ada niatan sama sekali buat ngomong gitu ke lo," meninggalkan urusan fotokopinya Syifa menghadap ke arah Agam dan memperlihatkan kedua tangannya yang saling bertaut. "Sorry yah Gam."


"Lupain aja. Gue nggak kenapa-kenapa kok. Toh kenyataannya emang bener kalo upaya pernyataan perasaan gue selalu dapet penolakan dari Bina. Persis sama yang lo bilang barusan. Oh ya, ngomong-ngomong itu masih lama nggak pake mesin fotokopinya?"


"Lumayan lama sih, tapi kalo lo mau duluan, silakan!”


"Nggak perlu. Lo lanjutkan aja. Ntar gue balik lagi pas lo udah selese pakenya. Gue balik ke meja ya,” Agam balik badan. Kepergiannya tentu saja menyisakan perasaan bersalah di hati Syifa.


Syifa baru berhenti memandang punggung Agam setelah pria itu menghilang di ambang pintu.


'Syifa astaga mulut lo kok tajem banget sih,' Syifa menghakimi dirinya sendiri lewat kalimat yang disampaikan oleh batinnya. Tidak berhenti di sana Syifa yang belum puas menyalahkan dirinya, kali ini menggunakan tangannya untuk memukul-mukul area bibirnya.


****


RUBINA tersentak kaget saat pintu kamar terbuka. Untungnya lipstik Rubina tidak berakhir cemong karena kagetnya. Menoleh ke pintu dia memperhatikan Sean sedang mendekat kepadanya.



“Bisa nggak sih kalo masuk pintunya diketok dulu? Aku tahu ini apartemen kamu, tapi ya harus paham juga dong yang namanya privasi!" judes Rubina.


Ya, sekarang dia sudah kembali ke apartemen seperti janjinya bahwa dia akan menetap selama kurang lebih dua minggu sebelum nantinya dia mengambil keputusan untuk memberitahukan segala permasalahan ini kepada Ayahnya yang akan dilanjutkan dengan perceraian.


Meski memutuskan untuk menetap di apartemen milik Sean untuk sementara waktu, tentu saja Rubina tidak ingin tidur di ranjang yang sama dengan Sean. Karena itu dia memilih untuk pisah kamar dengan Sean.


"Kenapa diem? Aku serius loh, aku nggak suka kalo kamu asal masuk gitu aja kayak tadi."


"Maaf karena saya lupa ngetuk pintu."


"Lupain aja soal itu. Kenapa kamu dateng ke kamar buru-buru? Kamu bawa kabar penting apa?"


"Nggak ada kabar penting. Saya cuma mau ngasih tau kalo makanannya udah siap. Saya buatin makanan kesukaan kamu."


"Nggak perlu repot-repot. Selain aku nggak butuh perhatian lebih dari kamu lagi, saat ini aku juga lagi ada janji keluar."


Sean memaksakan senyumnya.


"Oh, Emangnya kamu mau ke mana?"


"Aku ada reuni."


"Ah begitu... Mau saya anterin kamu ke sana?"


"Nggak perlu. Aku berangkatnya sama temen-temen aku aja," ketus Rubina. Dia berbicara seolah dia sedang tidak berbicara dengan suaminya, melainkan dengan musuh bebuyutannya. Sedari awal matanya bertemu dan beradu pun Sean sudah bisa melihatan kilatan penuh amarah yang dilayangkan Rubina untuknya.


"Tunggu apa lagi? Kalo emang udah nggak ada yang mau diomongin, silakan keluar!"


Hayooo.... nyesek kan Sean disinisin sama Bina... roda berputar cuy...