
...ANYEONG MY FUTURE HUSBAND...
^^^By. Lucifer^^^
Di tempat lain namun di waktu yang bersamaan terlihat Sean yang sedang berjalan. Baru saja dia memarkirkan motornya di pelataran parkir yang tersedia di rumah sakit tempat ayah mertuanya dirawat. Dan tentu saja Sean memutuskan untuk datang ke rumah sakit. Bukan karena tidak tahu malu, tapi bagaimana pun juga status Sean sekarang masih sebagai suami sahnya Rubina, terlepas dari yang membuat hubungan mereka berada di ujung tanduk.
Sean berjalan menyusuri lobi menuju ke ruang rawat Ayah mertuanya. Dia datang seraya menenteng sebuah kresek berisikan camilan kesukaan istrinya. Sean membeli cilok tersebut di depan SMA tempat sekolah Rubina dulu sekaligus tempat praktek magangnya. Sedikit banyak Sean tahu kenapa Rubina suka makanan tersebut karena dulunya diam-diam dia sering melihat Rubina dan genk nya yang sedang antri di sana.
"Hopefully Bina will be happy when I bring her favorite snacks when she was still in school." Sean tersenyum sudah tidak sabar melihat bagaimana respon dari Rubina nanti saat dirinya memberikan makanan itu.
Rasa antusias semakin dirasakan oleh Sean setelah dia berdiri di pintu. “Assalamu alaikum," salam Sean. Dia menggunakan tangan kirinya yang dikepal untuk mengetuk pintu karena tangannya berkutat dengan barang bawaannya.
"Waalaikum salam," jawab Rubina dari dalam. "Langsung masuk aja, By."
Sean mendorong pintu perlahan setelah dia menekan kenop. Senyum di bibirnya langsung menghilang saat sepasang bola matanya menemukan kehadiran Rubina sedang duduk di sofa bersama dengan Caca dan juga Agam.
'Sial, kenapa harus ada dia lagi sih di sini? Udah kayak jelangkung aja yang dateng nggak diundang pulang nggak diantar,' sebal Sean yang tertuang lewat batinnya.
Kehadiran tak terduga Agam membuat Sean kesal. Sean tidak mengira bahwa di ruangan tempat papi mertuanya dirawat sudah ada Agam bersama dengan Caca. Dibilang kesal tentu saja Sean kesal. Jangankan bertemu dengan Agam, bahkan mendengar namanya saja sudah bikin Sean kesal duluan. Apalagi disaat sekarang hubungannya dengan Rubina sedang berada di fase di mana hubungan itu akan segera berakhir. Sean jadi parno sendiri.
Dia takut Rubina akan meninggalkannya dan memilih Agam sebagai penggantinya.
Tapi meski begitu Sean tetap menyadari soal istrinya bersikap sehangat itu tentu saja ada alasan.
Bukan tidak mudah untuk menebak bahwa Caca dan Agam adalah alasan kenapa Rubina bersikap seperti ini.
"Kamu sendiri aja, By?" Rubina berbasa-basi. Kalau saja bukan karena kehadiran Caca dan Agam di ruangan tempat Ayahnya di rawat, mungkin Sean tidak akan mendapatkan respon sehangat ini dari Rubina. "Kamu bawa apa, By?" Rubina bertanya sambil dia mengarahkan fokusnya kepada barang bawaan yang ada di tangan suaminya.
"Saya beliin kamu makanan spesial," sedikit lupa soal kehadiran Agam yang cukup membuatnya kesal kali ini Sean terlihat menyunggingkan senyum sambil dia memangkas jarak dengan sang istri.
"Hmmm? Makanan spesial?" Rubina meredupkan mata, berhasil dibikin penasaran oleh ucapan suaminya.
"Saya beli pas di perjalanan menuju ke sini! Makanan spesial buat orang yang spesial." Sean mengatakan kalimat semanis itu sambil dia menyodorkan tangan kanannya yang menenteng kresek.
"Emangnya apa sih isi kantong kresek ini?" tanya Rubina dibarengi gerakan menyambut pemberian suaminya.
"Cilok. Daya beli di depan SMA kamu. Dulu kan kamu sering banget nongkrong di sana sama Syifa dan Rara. Makanya Saya beliin itu siapa tahu kamu kangen makanan itu."
"Oh... Kayaknya cilok ini buat kamu aja By, soalnya aku juga udah ada, nih" sambil memperlihatkan kresek yang sebelumnya dibawakan oleh Agam. Ada senyum yang diperlihatkan oleh Rubina, sebuah senyum miring yang diartikan sedang mengejek pada Sean.
"Kamu dapat ciloknya dari mana?"
"Tadi aku dibeliin sama Agan. Dia beli cilok ini di tempat yang sama dengan tempat kamu beli juga."
Ada perasaan kecewa yang Sean rasakan saat istrinya secara terang-terangan lebih memilih cilok pemberian Agam. Sean merasakan sakit di bagian hatinya tapi disaat yang bersamaan dia tidak bisa berbuat apa-apa.
"Ayo Sean, duduk!" Agam menggeser posisi duduknya menjauh dari Rubina. Agam membiarkan Sean duduk di antara dirinya dan Rubina.
"Oh iya, Gam, gue denger dari anak-anak katanya ada reunian lagi ya minggu ini?" tanya Rubina.
"Iya katanya, gue juga sempet ngecek di grup, katanya reuniannya di restauran kan?"
"Iya, Gam. Reuniannya di restauran. Katanya sih si Rima sekalian mau launching restauran barunya makanya dia ngundang kita semua buat dateng. Oh ya, lo bakalan datang kan, Gam?"
"Insya Allah kalau enggak ada halangan gue bakalan dateng. Gimana sama lo?"
"Sama sih jawaban gue kayak lo. Kalau nggak ada halangan insya Allah bakalan dateng.”
Senyum yang Sean lihat di bibir Rubina saat berinteraksi verbal dengan Agam membuat Sean terbakar api cemburu. Sean diam-diam juga ingin berada di posisi Agam saat ini.
'Kenapa Bina harus senyum sama si Agam sih? Apa dia nggak sadar kalo ada gue di sini?' pikir Sean. Sean meneguk salivanya, 'Gue tau kelakuan gue sangat biadab, tapi kan status gue masih suami sahnya.'
"Bi!" panggil Sean.
"Hmmm.... Kenapa By?" jawab Rubina.
"Saya mau ngomongin sesuatu sama kamu."
"Tentang apa, By?"
Rubina sebenarnya agak malas untuk meladeni, tapi berhubung ada Caca dan Agam di sekitarnya jadi Rubina terpaksa menyanggupi permintaan suaminya untuk berbicara sebentar.
"Tunggu bentar ya,” ucap Rubina kepada Caca dan Agam.
Sean dan Rubina berdiri di sebuah koridor yang sepi setelah sebelumnya meninggalkan ruangan tempat papinya dirawat.
“Ada apa?" Rubina yang terlalu malas berbasa-basi langsung pada intinya. "Hal penting apa yang mau kamu omongin sampe harus keluar segala? Emangnya nggak bisa dibicarain di dalem?"
Sean melihat perbedaan yang begitu signifikan saat Rubina berbicara kepadanya dibanding saat Rubina berbicara dengan Agam saat di ruangan tadi.
"Kenapa kamu ngajak Agam buat dateng?"
"Lah siapa juga yang ngajak. Dia sendiri kok yang dateng sama Caca. Toh kedatangannya juga baik-baik, mau jengukin Papah. Ya kali aku ngusir dia pulang. Kamu ini ada-ada aja deh.”
"Yakin dia datang beneran buat jengukin Papah doang?"
"Maksud kamu apaan sih! Ya tentu aja dia dateng buat jengukin papah yang lagi sakit.”
"Tapi saya nggak yakin kalau tujuan dia dateng adalah buat jengukin Papah."
Rubina mendesah pelan. "Udah deh, nggak usah ngebesar-besarin masalah sepele."
"Sepele dari mananya? Ya kalo dia emang dateng buat jengukin Papah, kenapa dia sampe bela-belain buat beliin kamu cilok segala? Ngejenguk papah itu adalah alibi doang. Dia pikir saya nggak paham kalo dia datang buat godain kamu."
"Kok kamu suudzon banget sih jadi orang,” Rubina mulai kesal.
"Bukan suudzon. Faktanya emang kayak gitu. Dia bahkan udah suka kamu sejak jaman masih SMA. Bahkan dia masih ngejar-ngejar kamu pas hari pernikahan kita. Coba deh pikirkan baik-baik! Mustahil dia akan move on secepat itu. Saya yakin pria berandalan kayak dia punya niatan buat ngegoda kamu."
"Berandalan kata kamu?" Rubina tertawa merasa tidak habis pikir dengan suaminya yang melabeli Agam sebagai berandalan.
Rasanya darah yang mengalir di tubuh RUBINA serasa mendidih saja mendengarnya.
"Kenapa ketawa? Kamu pikir saya lagi becanda?"
"Aku ketawa soalnya ngerasa lucu aja sama kamu yang ngatain Agam berandalan hanya karena asumsi kamu yang ngira dia dateng buat godain aku."
"Percaya sama saya, Bi. Dia tuh bukan pria baik-baik."
"Emangnya kamu udah sebaik apa sampe nilai Agam kayak gitu? Apa kebaikan yang kamu maksud termasuk nikahin cewek secara siri trus ngebohongin semua anggota keluarga buat nikah sama aku? Itu kebaikan yang kamu maksud? Hah!"
"Bukan gitu maksud saya, Bi..."
"Stop," potong Rubina.
Daripada kamu terus-terusan mhejelekin Agam di depan aku, memdingan kamu ambil kaca dan jangan lupa ngaca supaya kamu bisa nilai sendiri keburukan yang ada di diri kamu! Kamu bahkan dengan mudah nilai orang lain secara gamblang tapi nggak tahu cara nilai diri sendiri."
"Saya cemburu, Bi. Apakah kamu belum sadar juga?"
"Cemburu?"
"Iya. Saya cemburu ngeliat kamu memperlakukan Agam dengan sebaik itu. Kamu bahkan tersenyum kepadanya."
"Terserah aku dong, mau senyum sama siapa pun juga."
"Tapi saya cemburu Bi. Saya nggak suka liat kamu senyum ke orang lain selain saya!"
"Terus apa hubungannya sama aku?"
"Kan kamu istri saya."
"Istri? Sejak kapan kamu nganggep aku sebagai istri kamu? Perasaan dari awal cuma aku yang berjuang sendirian. Selama ini nggak memiliki ketertarikan sama aku. Pernikahan kita tuh nggak lebih dari sekedar formalitas doang. Tapi tunggu aja, tinggal bentar lagi, saat Papah udah baikan aku bakalan bilang kebenaran soal kamu yang udah punya anak dari istri siri kamu, By. Dan setelah itu kita bakalan cerai dan kamu bisa fokus sama si Sarah dan anak kamu yang namanya Sheran itu."
Uhuk!
Sean dan Rubina kompak mengarahkan fokusnya kepada suara batuk yang baru saja terdengar. Betapa terkejutnya pasangan sejoli itu ketika menemukan Agam sedang berdiri tak jauh darinya.
"So... Sorry banget," Agam menautkan kedua telapak tangannya di depan dada sambil dia mengumbar air muka merasa bersalah. "Gue nggak ada niatan buat nguping sama sekali, tadinya gue ke sini buat pamit pulang soalnya gue dapet telepon dari orang kantor."