
"Nad, kamu udah nikah?!" ucap Bastian melihat kaget kearah Nadin. Sementara Nadin hanya tersenyum kearah Bastian.
"Iya, Tian. aku udah nikah baru beberapa minggu kemarin..." Bastian pun hanya terdiam kesal, kecewa bercampur aduk jadi satu, Bastian tidak menyangka kalau Nadin benar-benar sudah menikah.
Tak lama Danniel dan Hans berjalan kearah Meja Nadin.
"Nad... Istri saya ada di dalam?" tanya Danniel yang bediri diantara Nadin juga Bastian.
"Oh iya, ada Pak, Ibu di dalam sedang nunggu Bapak..." Danniel sekilas memperhatikan Bastian yang masih terdiam, lalu berjalan ke ruangan Althea. Sementara Hans langsung duduk di sofa depan meja Nadin tanpa bertanya apa-apa.
"Pak, sebentar lagi anda akan meeting bersama PT. Angkasa." ucap sang sekretaris mengingatkan.
"Hmm... Nad... Aku pulang dulu, nanti aku hubungin lagi, aku penasaran siapa cowok yang beruntung bisa dapetin kamu..." tandas Bastian sambil menepuk pundak Nadin pelan. Sementara Nadin hanya tersenyum kecut sambil melirik kearah Hans yang masih duduk tenang sambil membaca majalah yang tersedia di sana.
"Katanya Mas mau makan siang bareng ya?" ucap Nadin Setelah kepergian Bastian dan sekretarisnya sambil menghampiri Hans untuk duduk di samping Hans.
"Hmm..." gumam Hans menandakan jawaban iya pada pertanyaan Nadin masih dengan sikapnya yang dingin bahkan tatapannya tidak lepas dari majalah yang sedang dia baca.
"Tau gitu tadi aku bekel buat makan siang" jawabnya sambil cemberut sambil mengetuk-ngetuk jarinya di meja. Hans melirik sekilas kearah Nadin lalu sedikit mengembangkan senyum sekilas melihat reaksi Nadin. Lalu saat Nadin melihat kearahnya Hans pun kembali fokus ke majalah itu menetralkan kembali wajah bengisnya.
"Pak, Ini makanan yang Bapak pesan tadi..." Ucap salah satu Office Boy yang bekerja di perusahaan Althea. Dia disuruh oleh Hans membeli makanan untuk makan siang mereka atas perintah Danniel. Hans pun langsung berdiri dan memberi tips untuk pegawai office boy itu sambil membawa dua keresek besar yang berisi makanan pesanan mereka. Satu Hans simpan di meja depan Nadin satu lagi dia bawa ke dalam ruangan Althea.
Sementara Nadin yang tersenyum karena Hans yang inisiatip membelikannya makan siang buatnya. Nadin pun membuka keresek dan mengeluarkan dua kotak makan lalu menyimpannya di atas meja.
Hmm??? ada peningkatan nih, dia beli makanan buat makan siang kita?
"sedang apa?!" tanya Hans saat dia baru keluar dari ruangan Althea.
"Hm.. nyiapin makanan kamu..."
"bawa makanannya ke ruangan Boss Al, ada yang mau diobrolin sama kita katanya!"
"Oh... apa ya?" Sementara Hans hanya mengedikan bahunya.
Haahh salah gue, nanya sama manusia es!
***
"Jadi gini, Hans, Nad... besok kalian tau kan kalau saya dan Danniel akan keluar kota buat menghadiri charity event dari pak Walikota." Ucap Althea setelah mereka menghabiskan makanannya.
Sementara Hans dan Nadia pun mengangguk kearah Danniel dan juga Althea.
"Masalahnya adalah di hari itu juga di sekolah anak-anak ada acara yang mengharuskan orang tua atau wali anak untuk hadir. Sebenernya kita berat buat milih antara anak dan kerjaan, tapi charity event pak walikota udah dari jauh-jauh hari dan kita udah janji akan datang." ucap Danniel ragu, karena jujur sebenernya Danniel lebih memilih ke acara putra putrinya di sekolahannya, tapi sekali lagi Althea lebih memilih ke acara charity event bukan hanya karena sudah janji, tapi Althea ingin lebih mendekatkan hubungan Hans dan Nadin agar lebih saling perhatian lagi terutama Hans. jadi Danniel menyetujui ide sang istri dengan berat hati.
"So? kalian bisa kan wakilin kita berdua buat datang ke acara sekolah Bina dan Eme?" lanjut Althea yang dengan tegas.
Hans dan Nadin pun hanya terdiam saling pandang.
***
"Om Haaannnssss!!!!!, Tate Nadiiiiinnnn!!!!!" teriak Bina saat Nadin dan Hans baru saja tiba di sekolah Taman kanak-kanak.
Bina yang tadinya duduk bersama salah satu gurunya tiba-tiba berdiri seketika saat melihat sosok Hans dan juga Nadin lalu berlari menghampiri Hans dan meloncat kearah Hans, Hans yang sudah sigap pun langsung menangkap tubuh mungil Bina dan mengangkatnya tinggi-tinggi. Bina yang senang dia angkat tinggi-tinggi pun hanya tertawa, berbeda dengan Hans yang masih menampakan mimik muka datarnya.
Guru Bina pun menghampiri Hans dan juga Nadin.
"Maaf, kami agak telat menjemput Bina, Bu guru."
"Terus dimana Eme sekarang?"
"Acala lombanya ada di gedung sebelah Tate Nadin... ayo cepetan kita kesana..."
"Iya sayang kita kesana sekarang, kalau gitu kami permisi dulu bu. guru..."
Hans dan Nadin pun berjalan.
"Mas ga berat? biar sama aku aja.yang gantian gendong Bina nya..."
"Ga mau Tate, aku mau digendong cama Om Hans..." ucap Bina manja membuat Nadin tersenyum melihat tingkah Bina.
"Kenapa Bi.. takut ya Om nya direbut sama Tate?!"
"Ga juga... aku cuma mau ngeliatin ke temen-temen aku kalau aku punya Om yang ganteng! temen-temen aku soalnya suka kalau liat cowok ganteng, sekalang aja meleka lagi liatin temen-temen kak Eme... apalagi Syifa, dia suka banget sama kak Eme... kemana-mana pasti dia ikutin kak Eme..."
Oh my God anak kecil jaman sekarang bisa tau suka-sukaan tau mana ya g ganteng dong.. seumuran aku boro-boro... ngusap ingus iya.. hadeuh...
Nadin cuma geleng-geleng kepala mendengar penuturan Bina.
***
Saat sampai di lapangan, mata Nadin menyusuri anak-anak yang lain mencri sosok Emerald.
"Itu Kak Eme..." ucap Bina sambil menunjuk Emerald yang lagi berdiri memunggu gilirannya untuk ikut lomba.
and you know??? di kedua samping kiri kanan, depan dan belakang dia ada benerapa cewek yang berdiri dan ngeliatin Emerald bak artis yang di kerumuni Fans. kayaknya itu anak-anak cewek seangkatannya, adik kelas maupun kakak kelas mungkin ya dari yang aku liat, soalnya aku liat umurnya beda-beda termasuk si krucil yang jadi sahabatnya Bina tuh dia nempel terus di kakinya Eme. heran ya sama anak-anak sekarang.
Nadin pun duduk di bangku penonton melihat Emerald yang akan bersiap-siap untuk mengikuti lomba. Sementara Hans di bawa oleh Bina untuk diperkenalkan pada teman-temannya.
Hah.. emang pada dasarnya keturunan sultan, ya pastinya nggak diragukan lagilah, ini anak pasti udah gedenya sama kayak Boss Danniel deh... mau pelajaran olah raga semua pasti dikuasai...
Tak lama mata Nadin mengedar dan tertuju pada sosok yang sekarang menjadi suaminya. Dengan muka datar yang Hans miliki, Bina pun dengan bangganya mengenalkan Hans sama teman-temannya. Senyum Nadin pun seketika tersenyum melihat tingkah suaminya dan Bina yang entah mereka sedang membicarakan apa. Tapi yang jelas Hans benar-benar tidak menanggapi teman-teman Bina yang ikut tertarik padanya.
"Tante Nad....!" ucap Emerald yang baru saja selesai ikut lomba sedikit berteriak dan menghampiri Nadin.
Emerald berjalan sambil mengelap keringat dengan handuk kecilnya dan diikuti oleh fans setianya yaitu para cewek-cewek. Ada yang bawain handuklah, minumlah, makananlah dan lain-lain. kemudian cewek-cewek itu pun pun berhenti memberi jarak ketika Emerald sudah duduk di samping Nadin.
"Hmm... hebat ya anaknya Kak Al sama Boss Danniel, udah pinter dalam pelajaran, jago olah raga, dan tentunya disukain banyak cewek-cewek... gimana rasanya banyak fans, seneng nggak?!"
"Seneng apaan?! yang ada nyusahin, mau kemana-mana selalu ngikutin udah kayak nggak punya kerjaan aja mereka." ucap Emerald ketus. Hm... dinginnya kenapa jadi mirip Hans sih.. tapi ngegemesin...
"Tante kesini sendirian?"
"Hmmm.. nggak kok, tuh.. sama Om Hans!". ucap Nadin sambil menunjuk sosok Hans yang
sedang berbincang dengan teman-teman Bina.
Emerald pun melihat kearah yang di tunjuk Nadin sambil tersenyum kecut dan menggelengkan kepala melihat kelakuan Bina.
"Tante, kok mau nikah sama Om Hans?! Om Hans kan nggak kayak Daddy, nggak romantis, nggak perhatian, lebih ke dingin..."
"Mm--Hmm. Sebelas dua belaslah kayak kamu."
"Cihhh..." Emerald pun mendengus.