I'm Not Cinderella

I'm Not Cinderella
AMFH 41



...ANYEONG MY FUTURE HUSBAND...


^^^By. Lucifer^^^


Suara itu... suara yang teramat familier di ingatan Rubina. Ya, Rubina yakin seratus persen bahwa orang yang sedang berbicara dengannya saat ini memang Sean.


"Demi apa kamu nelpon aku duluan? Kamu tau nggak, aku pikir sekarang lagi mimpi loh soalnya dapet telepon dadakan dari kamu." Rubina tanpa ragu mengungkapkan perasaan senangnya pada Sean setelah mendapatkan telepon darinya.


"Tujuan saya nelpon bukan buat dengar sikap lebay kamu itu. Saya nelpon soalnya saya mau ngajak kamu buat ketemu"


"Ketemu? Kapan? Sekarang?" cecar Rubina. Terkesan tidak sabaran.


"Ya nggak sekarang juga. Sekarang udah malam. Besok pagi aja gimana? Bisa?" tanya Sean di seberang sana.


"Bisa banget. Bahkan tanpa nanya sekalipun kamu pasti udah tau jawaban aku apa pas kamu ngajak aku buat ketemuan. Oh ya, kita ketemunya di mana?"


"Besok kita ketemu di taman aja."


"Hmmm okey. Besok aku bakalan dateng ke taman buat nemuin calon suami aku." Rubina berujar dengan penuh percaya dirinya. "Halo?" ucap Rubina karena tidak mendengar respon dari pria di seberang sana. Rubina pun membawa layar ponsel ke depan wajahnya. Usut punya usut Sean ternyata telah memutuskan sambungan telepon secara sepihak. Tanpa ucapan pamit Sean menyudahinya.


"Astaga Sean bener-benaer yah. Bisa-bisanya dia langsung mutusin sambungan teleponnya secara sepihak. Bahkan setelah tujuh tahun berlalu dia masih aja bertahan dengan sikapnya yang dingin. Nggak heran kenapa dia dapet julukan Mr. Snowman."


Belum lama setelah Rubina menyampaikan uneg-unegnya tentang sikap dingin Sean. Sekarang bibirnya tengah menyunggingkan senyum. Baru saja dia kepikiran soal ajakan Sean untuk bertemu dengannya. Rubina jadi tidak sabar menunggu sampai hari esok tiba.


RUBINA sudah duduk pada kursi berbahan dasar besi tempat di mana dia dan Sean membuat janji bertemu. Bahkan sejak semalam Rubina merasa sedikit kesulitan untuk terlelap karena dia terlalu kepikiran. Rubina mencoba menebak-nebak alasan Sean mengajaknya bertemu.


"Dih, Sean kok lama banget ya?" keluh Rubina lewat gumaman. "Padahal gue udah nggak sabar buat tau hal penting yang bakalan dia bahas."


Rubina menunggu selama lima menit sebelum akhirnya dia melihat kehadiran pria tampan mendekat ke arahnya. Rubina juga melihat pria itu tengah membawa sebuah paper bag.


Sean duduk di dekat Rubina. Paper bag bawaannya berakhir di pangkuannya.


"Emang ada apa sih, kok tiba-tiba banget kamu ngajakin ke taman? Apa... jangan-jangan kamu mau nyatain perasaan kamu ya? duh... bentar aku belum siap!" ucap Rubina yang terlalu percaya diri.


"Berenti membual! Udah saya bilang mustahil bagi saya buat naruh perasaan lebih sama kamu. Saya ke sini karena sebenarnya saya mau minta tolong sama kamu."


"Meminta tolong?" Rubina mengulang. Sean pun mengangguk.


"Tapi sebelum itu, ambil dulu paper bag ini," sambil menyerahkan paper bag yang sebelumnya berada di pangkuannya.


Rubina menyambut pemberian Sean meski sebenarnya dia cukup penasaran ingin mengetahui apa isi paper bag tersebut.


"Apa ini?"


"Di dalam paper bag itu ada sebuah gaun buat kamu."


"Gaun?"


"Iya."


"Kenapa tiba-tiba kamu ngasih aku gaun?" Rubina bukannya tidak senang mendapatkan hadiah dari Sean.


Hanya saja dia merasa aneh karena memberikan hadiah bukanlah kebiasaan Sean.


"Apa kamu lagi nyoba ngasih aku hadiah tutup mulut?" Rubina menduga-duga berdasarkan pemikirannya.


"Hadiah tutup mulut? Apa maksud kamu," bingung Sean.


"Karena kemarin aku kan nggak sengaja liat koleksi kaset dewasa yang ada di apartemen kamu, ya... mungkin aja kamu ngasih hadiah gaun ini supaya aku nggak ngebocorin itu sama orang lain? Kalo memang itu alasannya, kamu tenang saja. Aku nggak akan ngasih tau itu sama siapa pun. Aku janji."


"Sudah saya bilang kaset itu bukan milik saya. Dan siapa juga yang bilang kalau gaun ini saya kasih buat tutup mulut?"


"Kalau emang bukan hadiah tutup mulut, terus apa?"


"Gaun ini sengaja saya beli soalnya saya mau minta kamu buat dateng sebagai pasangan saya di acara nikahan salah satu rekan saya. Anggap saja kamu lagi pura-pura sebagai pacar saya. Gimana? Kamu mau kan?"


"Maksudnya aku dateng ke sana sebagai pacar kamu?"


"Ya. Kamu cuma perlu pura-pura aja saat kita di sana."


"Kenapa pura-pura sih? Kan emang bentar lagi juga kita bakalan nikah."


"Terserah kamu," jawab Sean malas. "Jadi gimana? mau ga bantu saya?" tatapan Sean penuh harap.


"Aku mau bantu kamu kok. Tapi itu nggak gratis."


"Maksud kamu?"


"Ya.. Aku bakalan bantu kamu. Tapi sebagai gantinya kamu juga harus bantu aku."


"Kamu harus janji nganter aku ke kampus selama satu bulan penuh. Gimana?"


"Sebulan? Tapi itu terlalu lama," Sean mengeluh.


"Ya udah, kalo gitu dua minggu aja," Rubina mengurangi permintaannya.


"Nggak. Dua minggu masih sangat lama."


"Hmmm gimana kalo seminggu, tapi kamu harus nganter jemput aku?" Rubina memberi penawaran lain.


"Ok, tapi dengan catatan ada pengecualian kalo misalnya saya sibuk maka kamu bisa pulang dengan taksi atau mungkin ojek online. Gimana?"


"Deal," sahut Rubina.


"KAMU MAU KE MANA SEAN, TUMBEN JAM SEGINI KAMU RAPI BANGET PAKAI JAS SEGALA?" pertanyaan itu menyambut kehadiran Sean dari lantai atas. Orang yang mengajukan pertanyaan seperti itu untuknya adalah Marisa, ibunya. Marisa melihat putranya yang sedang dalam keadaan rapi dengan setelan jas, dan itu cukup membuatnya bertanya-tanya.


"Saya mau ke kondangan Bu. Malam ini salah satu teman sekelas waktu SMA lagi menggelar resepsi pernikahan," jawab Sean.


Marisa membuat gerakan kepala manggut-manggut atas jawaban putranya. "Tunggu bentar!" cegat Marisa kala menyadari ada sesuatu yang salah dan harus dia perbaiki saat itu juga.


"Kenapa, Bu?" tanya Sean memberikan pandangan bingung.


"baju kamu kurang rapi. Sini biar Ibu yang bantu kamu rapiin," Marisa maju untuk merapikan pakaian putranya yang agak berantakan di matanya. Dengan begitu cekatan Marisa menggunakan kedua tangannya.


"Sebentar lagi kamu juga akan menikah menyusul teman SMA kamu itu. Seenggaknya setelah kamu nikah nanti udah ada istri kamu yang gantiin posisi ibu dalam hal mengurus kamu segala keperluan kamu. Termasuk memperbaiki pakaian atau dasi kerja kamu."


Sean jujur saja tidak nyaman dengan pembahasan yang selalu mengarah kepada pernikahan. Tapi karena orang yang memulai pembahasan itu adalah ibunya sendiri sehingga Sean tidak punya pilihan selain mendengarkan seolah-olah dia memang tertarik.


"Kamu berangkat sama Nino ke acara nikahan temen kamu?" iseng Marisa menanyakannya. Lagian yang Marisa tahu, satu-satunya sahabat yang putranya miliki cuma Nino.


"Nino berangkat duluan Bu sama pacarnya. Tapi saya sama dia janjian ketemu di sana."


"Berarti kamu sendirian dong ke sana?"


"Enggak Bu, saya nggak sendirian."


"Lah, terus kamu berangkat sama siapa. Katanya kan kamu ketemu sama Nino di sana."


"saya berangkat sama Bina."


Kalau saja Marisa tidak lebih dulu meneguk salivanya, mungkin sekarang wanita itu akan berakhir terbatuk oleh salivanya sendiri.


"Ibu nggak salah denger kan?" Marisa antara kaget namun senang saat mendengar Alvin yang mengajak Kayla untuk ikut bersamanya ke acara nikahan rekan Alvin. "Kamu beneran ngajakin Kayla untuk ke acara nikahan teman SMA kamu, Vin?"


"Iya, Bu. Saya ngajakin Bina. Mungkin sekarang dia juga lagi siap-siap di rumahnya."


Marisa tidak dapat menyembunyikan wajah berserinya mendengar kabar putranya akan berangkat ke kondangan bersama Rubina. Padahal baru kemarin dia mendengar kabar tentang putranya yang kurang setuju dengan perjodohannya. Tapi sekarang ternyata ada kemajuan yang menurutnya cukup signifikan. Marisa turut senang kalau semisal putranya dan Rubina semakin dekat satu sama lain. Memang itu yang diharapkan jauh-jauh hari sebelum perjodohan itu dilakukan.


"Ibu seneng banget dengernya. Alhamdulillah kalau hubungan kamu sama Bina semakin baik, semoga kedepannya akan terus seperti ini," ada senyum yang diberikan oleh Marisa setelah menyelesaikan kalimatnya.


Sean sebenarnya bisa saja memberikan penjelasan yang runtut mengenai dirinya yang punya alasan terselubung kenapa mengambil keputusan untuk mengajak Rubina ke kondangan. Tapi, Sean merasa dia tidak perlu membahasnya lebih lanjut. Biarkan saja ibunya berpikir bahwa hubungan Sean dan Rubina berjalan mulus. Sean tidak tega merenggut senyum di bibir ibunya saat ini.


"Kamu sama Bina berangkat naik apa ke acara pernikahan teman kamu?" tanya Marisa.


"Naik motor Bu."


"Hah, kok naik motor? Mending pake mobil kamu aja."


"Nggak usah Bu. Enakan naik motor."


"Enak di kamu, tapi gimana sama calon menantunya Ibu? Ibu nggak mau yah kalau sampai calon menantu Ibu sampai masuk angin karena naik motor malem-malem," secara terang-terangan Marisa mengungkapkan kekhawatirannya dengan kondisi calon menantunya. "Mendingan kamu pakai mobil kamu aja, Sean."


"Nggak usahlah, Bu. Kalo naek motor lebih efisien. Apalagi kan Ibu tau sendiri kondisi macet di kota ini kayak apa. Kalo pake mobil nanti yang ada saya sama Bina bakalan telat. Beda cerita kalau saya berangkat naek motor, bisa nyelip kalo misal ketemu macet."


"Tetep aja Ibu khawatir sama Bina."


"Nggak ada yang perlu dikhawatirkan Bu. Rubina aman kok sama saya. Lagian dia anaknya kuat kok. Dia bebal kok orangnya." Sean mencoba meyakinkan ibunya.


"Ya udah kalau memang keputusannya seperti itu. Tapi kamu harus janji jangan ngebut-ngebut pas bonceng Bina," Marisa mengingatkan.


"Siap Bu."


"Hati-hati di jalan," kata Marisa sebelum akhirnya dia meninggalkan Sean sendirian. Sean secara kontan mendengus ketika ibunya meninggalkannya.


Marisa kala itu menuju ke kamar untuk menemui suaminya. Tentu saja Marisa hendak membagikan kabar tentang perkembangan yang terjadi pada hubungan putranya dengan Rubina.