I'm Not Cinderella

I'm Not Cinderella
Ekstra Part 34 Kisah Hans



"Aunty Nadiiiiinnnn... nggak kngen sama aku ya? Semenjak Aunty pulang ke rumah Om Hans Aunty nggak pelnah main lagi ke lumah ini..." ucap Bina manja sambil berlari minta dipangku Nadin.


"Bina... turun sayang jangan minta digendong Aunty Nadin lagi.."


"Emang kenapa Bu?!"


"Karena di dalam perut Aunty Nadin ada dede bayi... nanti kasian dede bayinya kalau kamu terus minta di gendong..."


"Hah??? Maksudnya Aunty Nadin nanti akan punya dede bayi??? asiiikkkk aku nanti punya temen dong..." Nadin pun hanya tersenyum masih menggendong Bina.


"Kalau gitu tulunin aku deh Aunty aku lela kok nggak digendong Aunty asal nanti dede bayinya bisa main sama aku..." ucap Bina sambil meminta turun dari gendongan Nadin.


Sementara itu Emerald melihat kearah Hans tajam, seperti tidak rela kalau Nadin punya bayi.


Althea dan Danniel pun hanya bisa tersenyum melihat tingkah kedua bocah itu.


"Masuk yuk, Nad... Hans..." ajak Althea lalu masuk ke dalam rumahnya.


Ya.... Hari libur ini akan dihabiskan Hans dan Nadin di rumah keluarga Henney, bukan apa-apa, karena setelah Ndin keluar dari rumah itu si kecil Bina dan juga sang kakak Emerald terus menanyakan Nadin karena jarangnya Nadin ke rumah Althea untuk sekedar bermain bersama kedua bocah itu karena pekerjaan Nadin yang menyita waktunya.


Saat Nadin sedang duduk di lantai sambil mengobrol bersama Althea sekaligus bermain bersama Bina... Hans, Danniel dan Emerald pun duduk di sofa ruang tengah.


"Kamubkenapa sih Eme? kok liatinnya gitu sama Om Hans?! Kayak ngajak berantem tau kalo gitu!" ucap Danniel sambil menyesap kopi buatan sang istri.


"Om Hans nggak nyakitin Aunty Nad lagi kan?!" Danniel yang mendengar perkataan Emerald hanya melongo. Sementara Hans melihat Emerald dengan tatapan dingin.


"Memangnya kenapa? Itu juga bukan urusanmu!" jawab Hans tak kalah sengit.


"Cih! Awas aja kalo Aunty Nad nangis lagi cuma gara-gara Om Hans... aku nggak bakalan kasih ijin Om Hans buat ketwmu Aunty Nad lagi!"


"Memangnya kamu siapanya Aunty Nad?"


"Pokoknya kalau Om Hans nyakitin Aunty Nad lagi aku yang akan maju buat perhitungan sama Om Hans..."


"Ck... bocah!"


Danniel yang tidak ingin menengahi mereka verdua hanyaenggelengkan kepalanya karena sifat mereka yang sangat sama persis. Bahkan Danniel sering bertanya dalam hati Apa Dia anaknya Hans? Karena saking sifatnya sebelas dua belas.


"Emerald Anak kandungmu Boss... Boss nggak sadar ya, sifat boss juga sama kayak Emerald... lagian saya nggak mau nanti punya anak kayak Emerald.. bisa stress kena stroke dini saya Boss!"


"Sialan lo! lagian tau banget sih apa yang gue pikirin?! udah kayak mbah dukun aja..." Emerald menengok ke arah Danniel.


"Apa itu Mbah dukun Pah?!" Danniel pun hanya menepuk jidatnya, lupa kalau Emerald anaknya segala ingin diketahuinya saking IQ nya tinggi Dannie pun mulai kelimpungan dan suka lupa kelepasan dalam berucap.


Hans pun hanya tersenyum melihat tingkah Danniel yang kewalahan dengan pertanyaan putra sulungnya.


Apa dia juga akan seperti itu kalau punya anak nanti?


***


Pagi hari... Hans sengaja mengantar Nadin ke butik milik Aquila...


"Kapan?" ucap Hans mulai obrolannya saat di dalam mobil. Ndin pun melihat ke arah Hans heran.


"Apaan?"


"Kontrol..." Emang dasar yang namanya Hans ya... ga bisa hmgitu ngomong agak panjang gitu ya.. cuma pendek-pendek mana orang lain ngerti.. untungnya lawan bicaranya Nadin jadi tau apa yang dimaksud suaminya itu.


"Minggu besok Mas..." ucap Nadin samvil tersenyum. Hans hanya mengangguk-ngangguk.


"Saya akan liat jadwal Boss, siapa tau hari itu jadwalnya kosong..." Nadin mengerutkan kening sesaat sambil berfikir.


"Mas mau nganter aku ke dokter?!" Hans mengangguk canggung dengan muka datar. Lalu hati Nadin pun ikut senang. lalu memeluk tubuh Hans tak lama mengecup bibir Hans sekilas.


"Makasih, Mas."


Tak.lama Hans pun mencegah kepala Nadin untuk menjauh dan tanpa menfulur waktu Hans pun kembali mengecuo bibir Nadin lama dan makin lama melakin dalam ciumannya. Nadin yang terkejut oun hanya terdiam dan mengikuti permainan Hans.


"Mas... Nanti kamu telat ke kantor!" ucap Nadin saat sengajaeleoaskan cumbuan Hans terlebih dahulu.


Hans melap bibirnya dengan ibu jarinya masih melihat Nadin tanpa ekspresi. dan takutnya tambah lama Nadin pun menarik tangan kanan Hans lalu mencium punggung tangannya.


"Aku kerja dulu ya, Mas... hati-hati di jalan..." ucap Nadin lalu keluar dari mobil Hans.


Dan tanpa mereka sadari Aquila memperhatilan gerak gerik mereka berdua saat di dalam mobil tadi di kaca depan butiknya.


Ting...


"Hubungan kamu sama Kak Hans baik lagi Nad?!" pertanyaan Aquila secara tiba-tiba membuat Nadin kaget sampai hampir melompat.


"Ya ampun Quil.. bikin kaget deh..." Nadin lupa menceritakan kejadian saat di ruang sidang kepada Aquila.


Lalu Nadin pun menceritakan semua yang terjadi saat di pengadilan tempo hari. Aquila yang mendengarnya hanya terdiam lalu tesenyum kearah Nadin.


"Ya... bagus deh, akhirnya kalian bisa baikan lagi... Akhirnya Kak Hans sudah memutuskan untuk melypakn Kak Azura dan mempertahankan kamu, Nad.. Selamat ya..." ucapnya pelan sambil menepuk pundak Nadin...


"Ok.. kalo gitu ayo.. kita kerja lagi... hari ini aku ada meeting di luar sama klien... Oh ya.. yang kemaren klien mya sangat puas Nad, tar aku transfer bonus nya ya.. sekalian sama karyawan lain juga..."


"Siyap... makasih ya Quil..."


***


"Aaaakkkkhhhh.... kurang ajar! ternyata mereka balikan lagi.... gue pikir mereka bakalan cerai.... siaaalll siaaaalll siaaaall. Liat aja, gimana pun juga lo nggak bakalan bahagia... liat aja...!" ucap seorang perempuan saat tiba di sebuah Apartment.


Drrrttt!!!


Telepon miliknya bergetar saat dia menyimpannya di atas meja.


"Ya... Hallo?! kenapa? mmhh.. iya tar gue transfer, oh iya nanti pas nebus obat dosisnya tambah ya.. kayaknya yang kemaren kurang mempan, nggak ada reaksi apapun... mmhh... ok...!" diapun mematikan teleponnya saat dirasa sudah beres bicaranya. lalu perpuan itu pun tersenyum.


"Let's see... apa kali ini lo akan bertahan? atau malah----" perempuan itu pun langsung tertawa keras seperti orang gila, secara tadi marah-marah sekarang ketawa puas... apa lagi kalo bukanorang gila yes...


***


Pukul Satu siang...


"Kak Hans?!" ucap Aquila saat dia baru saja beres meeting dengan klien. Dan tak sengaja bertemu dengan Hans yang baru bereseeting juga dengan klien di tempat yang sama.


"Aquila?!" gumamnya seperti biasa tanpa ekspresi. Aquila pun berlari ke arah Hans lalu tak sengaja kakinya tersandung oleh kakinya sendiri sampai badannya hampir jatuh, tapi dengan sigap Hans yang berada di depannya langsung menangkap badan Aquila hingga tidak jatuh.


"Aaakkhh.."


"Hati-hati Aquila.." ucap Hans datar.


"iya... maaf! eh tapi aku seneng banget loh ketemu Kakak disini, Kakak disini ada urusan kerjaan ya?" Hans hanya mengangguk. "Sama dong aku juga baru beres meeting... udah makan siang belum? makan bareng yukk... dari pagi aku belum sempet sarapan... ya ya ya..." ucapnya manja.


Hans akhirnya mengangguk dengan berat hati setelah berfikir sejenak. Sementara Aquila tersenyum dengan senang lalu memeluk lengan Hans manja. Hans pun hanya terdiam tidak bereaksi sama sekali.