
...ANYEONG MY FUTURE HUSBAND...
^^^By. Lucifer^^^
“Kenapa kamu gigit bibir saya sih, Bi?" Sean mengaduh kesakitan. Ada semburat emosi pada wajahnya tepat setelah Rubina menggigit bibir bawahnya.
"Sorry, aku kan nggak sengaja." Sean yang menyentuh bibir bawah bekas gigitan Rubina baru saja tersadar kalau rasa perih itu menghadirkan darah segar.
"Ck... Gara-gara kamu bibir saya jadi berdarah. Beneran ya, dikasih kesempatan dapat ciuman bukannya nikmatin, malah buat saya sakit. Dasar amatiran. Padahal saya pikir kamu sangat handal dalam urusan kayak gini."
Rubina tidak memberikan kalimat balasan bukan karena tidak tahu harus menjawab apa, lebih dari itu Rubina telah bangkit hendak mengambil tisu buat dia pergunakan untuk mengelap darah segar di bibir suaminya.
"Duuhh! Sorry ya By. Aku harap kamu bisa makluminya soalnya ini tuh pertama kali aku ngelakuin ciuman sama cowok."
"Hah.. you lier?" Sea menyipitkan matanya.
"Entah kamu mau percaya atau nggak tapi ya.. kayak gitulah kenyataannya."
Sean menyimpan keraguan di dalam dirinya. Menilai keagresifan Rubina selama ini dia bahkan mengira kalau gadis itu sudah pernah melakukan hal-hal seperti itu dengan pria lain, tapi melihat kekakuannya saat melakukan ciuman tadi Sean meyakini bahwa cara gadis itu membalasnya memang terlihat amatir.
"Beneran By, aku nggak ada maksud buat nyakitin kamu. Aku benaran bingung pas itu. Aku sih biasanya ngeliat adegan kayak gitu di drama. Makanya nggak heran kenapa aku sekaku itu. Sekali lagi maaf ya, By," ucap Rubina dengan penuh ketulusan sambil dia tetap membersihkan dengan tisu darah segar yang diakibatkan oleh gigitannya.
Sean tidak mengerti. Meski hati kecilnya ingin menepis tangan Rubina agar menjauh dari bibirnya, tetap saja tangannya serasa berat untuk melakukan itu. Secera tidak langsung Sean mengakui bahwa dirinya merasakan ada sensasi saat Rubina memperlihatkan kepeduliaannya.
"Sekali lagi aku minta maaf ya By." Rubina kembali melantunkan permohonan maaf, dan entah sudah berapa kali dia melantunkan permohonan maaf seperti itu. Rubina belum sampai ke tahap puas sebelum akhirnya dia mendengar suaminya menerima permohonan maafnya.
"Berenti ngucapin maaf, rasanya telinga saya jadi panas dengernya."
"Aku bakalan terus minta maaf sampe kamu maafin aku."
Sean mengeluarkan bunyi decakan. "Iya, saya maafin. Udah ya, berenti ngomong maaf kayak gitu!"
"Yang ikhlas kalo maafin By."
"Saya ikhlas Rubina Henney Wiriawan."
"Mana senyumnya?" Rubina memiringkan kepala di depan Sean.
Sean pun menyunggingkan senyum yang dipaksakan.
"Ngomong-ngomong sebelum ini kamu udah pernah ciuman yah?" Rubina memberikan sebuah pertanyaan rasa tuduhan. bukan jawaban yang Sean lantunkan tapi tautan kedua halisnya yang seakan bertanya 'Kenapa?'.
"Ya... Aku penasaran saja."
"Ini kali pertama saya ciuman. Dan itupun kepaksa gara-gara ada janji buat ngelakuinnya. Coba kalo enggak, pasti saya nggak bakalan ngelakuinnya.” Sean sempat-sempatnya memberikan kalimat setajam itu padahal sebelum itu dia juga menikmati saat dia memainkan bibir indah itu. Dia bahkan menarik tengkuk istrinya saat hendak menyudahi aksi tersebut.
"Serius itu ciuman pertama yang dilakukan sama kamu?" tanya Rubina. Dia terdengar menyimpan keraguan terkait dengan jawaban Sean yang menegaskan bahwa itu adalah ciuman pertamanya.
"Itu emang ciuman pertama yang saya lakukan.” Sean mempertegas.
"Tapi kok...."
"Kenapa?" tanya Sean cepat.
"Keliatan banget kayak udah pro. Aku sampe heran loh By. Itu bibir atau vacum cleaner sih? Daya isepnya kuat banget!" Rubina geleng-geleng kepala saat mengingat adegan ketika suaminya sedang mencium bibirnya tadi. Sampai-sampai dia juga tersenyum hanya karena memikirkannya. “Kamu setertarik itu ya nyium aku sampe kamu langsung narik bagian belakang leher aku?"
“Saya ngelakuin itu supaya kamu ngerasa puas setelah ngelakuin ini. Bukannya udah lama kamu pengen adegan itu? Saya cuma bantu kamu buat ngewujudin apa yang selama ini jadi impian kamu, makanya saya langsung inisiatif buat narik bagian belakang leher kamu pas kamu nyoba buat narik ciuman saya."
"Tapi kamu juga nikmatin kan?"
"Dih, siapa yang nikmatin?”
"Jadi kamu nggak nikmatin?" tanya Rubina lagi.
"Nggak," sembari geleng-geleng kepala Sean memberikan jawaban yang sebenarnya kebalikan dari yang dia rasakan tadi. "Sedikit pun saya nggak ada tuh nikmatin ciuman dari kamu yang amatiran itu. Yang ada, saya dapetin sakit nih," sambil dia memamerkan bibir bawahnya yang terlihat bekas lukanya.
"Namanya juga belum ada pengalaman By. Ciuman selanjutnya aku janji nggak bakalan ngulangin hal yang sama," ucap Rubin dengan sangat yakin bahwa akan ada ciuman selanjutnya yang akan dia dapatkan dari Sean. "Kamu mau ke mana, By?” Rubina segera mengajukan pertanyaan saat Sean bangkit meninggalkan posisi duduknya.
"Saya mau ke kamar, sekalian juga masukin Lion ke kandang," jawab pria itu. Setelahnya dia mengambil Lion dari lantai dan lanjut berjalan menuju kamar meninggalkan Rubina sendirian.
***
SEAN mengibas-ngibaskan kerah piyama yang dia kenakan ketika hawa panas menyerang dirinya. Anehnya saat ini kondisi AC di kamar dalam keadaan menyala. Karena tidak tahan berada di sana lebih lama membuatnya bangkit. Hal pertama yang terpikirkan oleh Sean saat itu adalah balkon. Semoga saja di balkon nanti hawa panas di dalam dirinya akan menghilang.
Sean tidak langsung ke balkon melainkan melimpir dulu ke dapur. Sesampainya dia di sana dia langsung mengambil gelas dan mengisinya dengan susu dingin yang diambilnya dari dalam freezer. Sean segera menuang ke gelas sampai gelasnya itu terisi penuh. Lalu setelah itu dia kembali ke kamar. Dia melangkahkan kakinya dengan hati-hati karena dia tidak ingin mengganggu Rubina yang sudah tidur.
Sean menggunakan tangan kirinya untuk membuka pintu penghubung ke balkon karena tangan kanannya sedang memegang susu dingin. Sean sangat berhati-hati membuka pintu meski di tengah-tengah keadaan agak sulit melakukannya dengan tangan kiri.
Sean meletakkan susu dinginnya di meja sambil dia berdiri di tepian balkon. Salah satu tangannya terangkat dan mendarat mulus di bagian luka di bibirnya. Momen ciuman tadi kembali membayang-bayangi dunia imajinya. Padahal yang dia dapatkan sebelumnya adalah rasa perih karena Rubina yang terlalu agresif malah menggigit bibirnya, tapi dibalik rasa perih itu ada kenikmatan yang sampai saat ini terus terbayang-bayang.
“Bibirnya manis kayak gula,” ucapnya dengan nada rendah dan tentu saja dia mengucapkannya setengah sadar.
Sean lantas geleng-geleng kepala setelah tersadar. “Ah, kenapa juga gue terus mikirin ciuman itu?" Sadar Sean, "Lo nggak punya perasaan lebih sama dia!" Sean mencoba meyakinkan itu di dalam hatinya meski sebenarnya sulit. "Tapi apa mungkin kalau sebenarnya rasa cinta udah tumbuh di dalam diri gue? Apa jangan-jangan tanpa gue sadari gue sebenarnya mulai nyaman dan tanpa gue sadarin juga gue udah naruh perasaan lebih sama Bina?"
***
SEAN bangkit meninggalkan posisi tidurnya. Menoleh ke samping dia menemukan Rubina yang sedang mengucek matanya. Rubina juga baru bangun dari tidurnya saat indra pendengarannya menemukan seseorang tengah membunyikan bel apartemen.
"Ck... Siapa siah yang dateng pagi buta gini?" Sean berdecak kesal.
"Mungkin Ibu kamu atau Ibu aku yang dateng." Rubina menebak siapa yang datang. "Ya udah, kita ke depan aja buat ngecek!" ajak Rubina.
***
Sean adalah orang yang membuka pintu. Ternyata dugaan Rubina saat di kamar tadi salah. Orang yang mereka jumpai ketika pintu apartemen telah terbuka adalah Emerald, kakak laki-laki Rubina. Pria itu berdiri di depan pintu apartemen dengan salah satu tangannya menenteng sesuatu.
"Ngapain Kak Eme dateng ke sini? Pagi buta lagi?" Rubina bertanya.
"Ck... Nggak boleh banget ya kalo gue dateng ke sini!" ucap Emerald agak sensi.
"Bukan nggak boleh, Kak. Tapi ya kira-kira dong, nggak di jam segini juga, ini masih pagi banget loh, dan bukannya jam segini biasanya Kak Eme masih work out ya?"
"Ya harusnya sih kayak gitu. Tapi Ibu nyuruh gue buat mampir dulu ngasih makanan ke kalian. Nih!" sambil dia menyerahkan makanan di tangannya menuju ke Rubina. Rubina segera menyambut pemberian kakaknya.
"Makasih banyak Kak. Sampe repot-repot dateng kesini bawain makanan," ucap Sean, memberikan kesan ramah kepada saudara iparnya.
"Santai aja lagi. Oh ya kalo gitu..." tadinya Emerald hampir saja meloloskan sebuah kalimat pamit namun kalimat pamit itu seakan tertahan di kerongkongannya saat melihat sesuatu yang membuatnya bertanya-tanya. "Sean?" panggilnya.
"Kenapa Kak?" Sean menampilkan muka penasaran mendapati kakak iparnya menatapnya dengan intens.
Dengan mata menyipit Emerald membuka sudut bibir mengeluarkan pertanyaan. “Gue liat ada bekas luka di bibir bawah lo. Itu kenapa ya? Jangan-jangan digigit sama Bina?"
Sean yang tidak siap diberikan pertanyaan seperti itu pun segera memutar otaknya memikirkan sebuah jawaban.
"Anu, eu gini Kak," di menit awal Sean belum mendapatkan jawaban untuk dia kembalikan kepada Emerald. "Nggak sengaja kegigit," Sean terpaksa menempuh jalan berbohong.
Pikirnya akan terasa sangat memalukan kalau sampai dia mengakui dugaan kakak iparnya soal luka itu yang pada dasarnya memang diakibatkan oleh gigitan Rubina.
Jawaban yang disampaikan oleh Sean sukses membuat Emerald tertawa. Sean mungkin mengira jawabannya akan langsung membuat Emerald percaya. Tapi kenyataannya tidak seperti itu. Enerald bahkan sudah tahu kalau apa yang disampaikan oleh Sean adalah kebohongan semata.
"Jawaban lo lucu," balas Emerald.
"Lucu kenapa?" tanya Rubina.
"laki lo berusaha buat nutupin luka yang ada di bibirnya. Kalo gue bocah, mungkin gue bakalan percaya sih sama omongannya. Tapi amat disayangkan gue udah terlalu tua buat tau kalo Sean bohong. Gue tau kok kalo bekas luka itu akibat gigitan dari Bina pas kalian lagi ciuman kan."
Sean hanya bisa memamerkan cengiran di detik pertama setelah mendengar yang disampaikan oleh Emerald. Pikirnya tidak ada lagi alasan baginya untuk menyembunyikan soal ciuman itu. Apalagi melihat keyakinan pada diri Emerald saat ini.
"Sorry Kak. Bukannya mau bohong, cuma..."
"Santai ajalah Sean. gue ngerti kok kenapa lo sampe bohong." Emerald menepuk salah satu bahu milik adik iparnya. Seulas senyum dia persembahkan untuk mempertagas bahwa dia biasa-biasa saja atas kebohongan yang disampaikan oleh Sean sebelumnya.
"Yah, lo harus sabar ya Sean, kalo Bina itu agresif. Bukan hal yang mengejutkan kalo kalomu nyium suami lo sampe bibirnya robek kayak gitu."
"Enak saja kalo ngomong. Gue nggak agresif ya Kak."
"Noh buktinya," Emerald menunjuk ke bekas luka di bibir Sean. "Ok lah urusan gue udah selese, gue pamit ya."
"Iya Kak..." Sean.
"Betewe semangat yah buat kalian berdua!" ujar Emerald dengan senyum misterius.
"Semangat Kenapa Kak? Emangnya kita lagi lomba?"
"Iya, lomba nyetak ponakan buat gue." goda Kaisar kepada dua sejoli yang berdiri di hadapannya.
Dari pancaran mukanya terlihat dengan jelas raut bahagia sedang diperlihatkan oleh Emerald. Di awal pernikahan itu sebenarnya Emerald berterus terang memiliki keraguan bahwa hubungan adiknya dengan Sean tidak akan bertahan lama. Tapi melihat apa yang terjadi hari ini Emerald turut senang melihatnya.
Emerald melihat adik perempuannya tampak bahagia.
Ya, walaupun kenyataan sebenarnya tidak demikian. Tanpa Emerald ketahui adiknya masih dalam tahap berjuang untuk mendapatkan Sean sepenuhnya.
"Bahagia selalu ya kalian. Pokoknya jangan nyerah sebelum berhasil dapet ponakan yang gantengnya kayak gue!" meski dalam artian sedang menggoda namun tersirat doa di dalam kalimat yang baru saja disampaikan oleh Emerald.
***
"TOLONG AMBILKAN SAYA CIUMAN!" alam bawah sadar membuat Sean menyampaikan kalimat perintah seperti itu kepada perawat yang berdiri di sebelahnya.
'Ya Tuhan, pakek salah nyebut lagi.'
Sean mengucapkan kalimat barusan lewat batin sambil menggigit bibir bawah bagian dalamnya.
Tentu saja seorang perawat yang ditujukan pertanyaan seperti itu oleh dokter Sean hanya bisa melongo. Perawat tersebut saling membagikan pandangan bingung dengan si pasien yang lukanya sedang mendapat penanganan dari Sean.
"Maaf, dok tadi nyuruh saya buat ambil apa?" tanya si perawat. Tentu saja dia bingung dengan perintah dokter Sean sebelumnya.
"Eu... Saya nyuruh buat ambil plester, soalnya plester yang ada di tangan saya sudah habis," Sean memberikan penjelasan mendetail. Ya, pekerjaan ringan seperti membebat luka seperti ini bisa saja Sean meminta bantuan perawat, tapi seperti itulah Sean, dia akan meminta bantuan perawat kalau dia sudah lelah atau saat dia sedang mengerjakan sesuatu yang lain.
Setelah mendapatkan benda yang dia butuhkan segera dia mengerjakan tugasnya yang terjeda.
"Untuk sementara Anda bisa beristirahat dulu. Anda pasti masih shock setelah insiden itu! Nanti jangan lupa meminta keluarga Anda untuk menemui saya di ruangan. Nanti akan saya resepkan obat," Sean tersenyum memperhatikan lawan bicaranya mengangguk lemah.
“Kalau begitu saya pamit!”
Sean pun balik badan. "Kalau ada apa-apa panggil saya di ruangan," ucapnya kepada si perawat. Lalu setelah itu dia kembali ke ruangannya.
"Sial!" umpatan itu dia lontarkan tepat setelah dia masuk dan mengunci pintu ruangannya. Sungguh, Sean merasa kesulitan dalam mengontrol dirinya. Mungkin naik setingkat lagi dia bakalan jadi gila. Bisa-bisanya dampak dari ciuman yang dilakukannya semalam masih membayang-bayanginya.
“Tau balalan kayak gini gue bakalan minta waktu lebih sebelum ngelakuinnya," gumamnya menyampaikan sesal.
Sean duduk di kursi empuknya saat sesuatu kembali dia bayangkan dan menambah beban pikirannya. Selain ciuman itu, sebenarnya ada satu lagi hal yang dia pikirkan.
Lebih tepatnya tadi pagi-saat dia dan Rubina sedang menikmati sarapan yang dibawakan oleh Emerald. Sean tidak sengaja melihat ponsel milik Rubina yang diletakkan di meja dan memperlihatkan sebuah wallpaper di mana ada foto pria sedang menghadap belakang terpampang di sana. Sean tidak tahu siapa sosok pria di gambar tersebut, yang jelas karena gambar itu Sean jadi overthinking.
“Apa mungkin Bina punya cowok idaman lain karena sikap gue yang terlalu dingin sama dia?"
"Apa dia bisa buat ngelakuinnya? Ya kali, di pikirannya kan cuman ada gue," Sean tersenyum smirk namun di detik selanjutnya senyum itu menghilang karena rasa was-was yang kembali dia rasakan.
“Tapi sebenarnya masuk akal juga sih kalo sampe dia punya cowok idaman lain. Soalnya kan sikap gue ke dia selalu dingin. Ah, bukan dingin lagi sih. Tapi kelewat dingin."
"Gue harus nanya siapa cowok yang ada di foto itu. Tapi apa iya kalo sekarang gue lagi cemburu?" tanya Sean kepada dirinya sendiri.
Kemudian pria itu mengedikkan bahu membuang jauh-jauh pemikiran soal dia cemburu.
"Gue bukannya cemburu, gue cuma penasaran aja."
***
"GIMANA? APAKAH IDE KITA BERHASIL?" Rara menggerakkan kedua buah alisnya ketika melantukan pertanyaan seperti itu.
"Nah iya, gue juga penasaran soal itu," Syifa berhenti menyeruput jus buah naga di hadapannya sebelum menceletuk. Dia ikut penasaran dengan jawaban yang akan disampaikan oleh Rubina terhadap pertanyaan yang diajukan oleh Rara.
Terlihat Rubina mengerutkan keningnya bingung saat dia disodorkan pertanyaan seperti itu oleh Rara. Sejujurnya Rubina tidak mengerti ke mana arah pembicaraan Rara saat ini.
“Ide apaan sih, Ra? gue enggak paham ke mana topik pembicaraan lo."
"Itu loh Bi. Soal baju haram yang kita beli di mall hari itu. Lo udah merealisasikannya? Terus bagaimana dengan reaksi Sean setelah liat lo yang pake baju haram itu? Apa dia langsung terpukau dan akhirnya menghancurkan sekat yang memisahkan kalian berdua?" Rara memperjelas diikuti oleh pertanyaan beruntun untuk Rubina.
"Enggak. Gue berubah pikiran di detik-detik terakhir saat gue mau pake. Ngedadak aja gue ngerasa kalo gue kesannya terlalu murahan kalau gue sampe ngelakuin itu. Maka dari itu gue mutusin buat batalin rencana itu.”
"Gue ngerti yang lagi lo omongin, tapi kan nggak ada salahnya juga kalo lo nempuh cara itu buat semakin mengeratkan hubungan lo dengan si Mr. Snowman. Sapa tau kan setelah menempuh langkah itu lo bisa langsung runtuhin tuh sekat pemisah yang ngebentang di antara kalian,” ucap Rara.
"Nasib baik kalau Sean bakalan luluh kalo gue laksanain rencana itu. Tapi entah kenapa gue malah takut dia akan semakin benci gue. Selain benci dia mungkin aja bakalan ngerasa ilfil sama gue. Dan gue juga ngerasa terlalu menjijikan kalau gue harus ngelakuin itu, ya meskipun kenyataannya dia adalah suami sah gue."
" Ya... Gue mengerti kok, dan menurut gue langkah lo udah sangat tepat," sambung Syifa. "Tapi Bi? Sejauh ini apa belum ada tanda-tanda kalau hati Sean yang terbuat dari es itu udah cair?"
"Gue perhatiin sih dia udah nggak terlalu dingin sama gue kok. Kadang kita juga udah saling terbuka dalam beberapa hal." Rubina bercerita sesuai dengan apa yang memang dia rasakan akhir-akhir ini. "Ya moga aja dalam waktu dekat perubahan sikapnya itu berangsur makin baik. Gue sih enggak masalah kalo harus nunggu lama yang penting gue selalu di dekat dia. Itu aja sih yang gue harapkan. Kalau urusan hati gue selalu percaya sama Tuhan.
Tuhan adalah maha pembolak-balik hati. gue percaya hati dingin Sean akan segera mencair seiring berjalannya waktu
"Maafin gue ya, Bi. Soalnya ide gue hampir aja bikin Sean tambah benci sama lo," Rara mengatakannya sambil dia memasang raut muka bersalah. Sungguh, dia tidak berpikir sampai sejauh itu. Yang dia pikirkan saat melantunkan ide tersebut hanyalah sesuatu yang menguntungkan Rubina. Rara tidak memikirkan kemungkinan terburuk yang akan Rubina dapatkan jika menuruti ide gilanya.
"Nggak apa-apa kok Ra. Lo nyaranin ide itu kan karena tujuan lo baik. Lo pengen bantuin gue supaya hubungan gue sama Sean berangsur baik."
"Tapi kan Bi, ide gue tuh hampir bikin lo dapet masalah dari Sean. Untungnya Lo memutuskan buat nggak melanjutkan ide itu disaat yang tepat. Sekali lagi maafin gue ya!"
"Udahlah. Nggak usah dibahas lagi masalah itu. Mending kita buka topik baru," Rubina yang malas untuk membicarakan soal Sean pun menyarankan kedua rekannya untuk membuka topik baru.
"Ah iya, ngomongin soal topik baru gue bawa kabar. Katanya besok lusa ketua kelas kita waktu SMA berencana ngadain reuni kecil-kecilan. Sekalian juga katanya besok ada syukuran rumah barunya. Kalian berdua dateng kan? Kalo kalian dateng gue juga bakalan dateng, tapi kalo kalian mutusin buat nggak dateng, gue otomatis nggak dateng. Soalnya kan nggak bakal seru juga kalo gue ke acara reunian itu tanpa kehadiran kalian berdua," Syifa memperhatikan wajah kedua sahabatnya secara bertahap.
Menunggu salah satu dari mereka memberikan jawaban.
"Kalau gue sih bakalan pergi, apalagi kan lusa weekend. Dari pada bosen juga tinggal di rumah. Tapi gimana sama Lo Bi?" tanya Rara kepada Rubina. "Kamu yakin bakalan pergi ke acara reunian itu?"
"Hmmm emangnya kenapa?" bingung Rubina dengan pertanyaan yang diajukan oleh Rara seakan dia menyimpan keraguan soal Rubina yang akan bergabung di acara reunian besok lusa.
"Ya, nggak, takutnya kan lo nggak bakal ikut acara reunian itu soalnya pasti di sana lo bakal ketemu sama Agam."
"Sekarang Agam udah nggak ngejar-ngejar gue lagi kok, Ra. Soalnya dia tau gue sama Sean nikah atas dasar saling cinta. Jadi, gue bakalan dateng ke acara reunian itu. Tapi gue mohon ya sama kalian sebisa mungkin jangan sampai keceplosan tentang hubungan gue yang sebenarnya sama Sean. Apalagi sampai ketahuan sama Agam. Bisa-bisa dia balik lagi ngejar-ngejar gue lagi kayak dulu.