I'm Not Cinderella

I'm Not Cinderella
Ekstra Part 17 Kisah Hans



"Kenapa menatap saya seperti itu?!"  Hans padahal tidak sama sekali mengalihkan pandangannya, namun dengan mudah mengetahui apa yang Nadin lakukan. Bagaimana bisa?


Nadin mengerjab, lalu menggeleng kaku. Dia malu tertangkap basah selalu mengagumi pesona pria itu, berkali-kali bahkan sejak dulu saat pertemuan pertama mereka.


Tiga orang pelayan datang membawakan menu yang di pesan Hans dan juga Nadin. Nadin sempat terkejut pasalnya dia tadi tidak menyadari apa yang di pesan  yang lumayan sangat banyak, bahkan lebih banyak darinya. Hei, ada berapa menu yang pria itu pesan? Kenapa banyak sekali? Trus siapa yang mau menghabiskannya?


Bahkan ramyeon masuk ke dalam salah satu menu pesanannya. Serius Hans akan memakan mie? Pria itu tidak mmyukai makanan satu ini—setau Nadin.


“Saya hanya ingin mencicipi semuanya, jika itu yang sedang memenuhi pikiran kamu.” Ucap Hans sambil mrngambil nasi goreng seafood, memakannya tanpa banyak bicara.


Nadin yang masih menganga mulai menyadarkan diri. Dia mengambil menu ayam teriyaki, melahapnya juga tanpa banyak mengeluarkan sepatah kata pun. Ini pertama kalinya Hans berinisiatip untuk menjemput Nadin meskipun sebenarnya mereka tidak bisa pulang, dapat perhatian lebih dari Hans dengan mengobati lukanya, dan yang lebih penting dia tidak memakai pengaman saat berhubungan. Dan itu semua adalah sebuah langkah awal untuk hubungan mereka berdua menjadi lebih baik lagi.


Hans memesan hampir semua menu, menghabisakan cukup banyak uang padahal Nadin yakin tak semua makanan  dihabiskannya.


Hanya memakan sedikit nasi gorengnya, lalu berpindah ke menu yang lain.


“Apa makanannya enak, Mas?” Hans mengangguk kecil. Hanya itu saja.


Nadin merutuki diri, dia sangat sulit membuat topik pembicaraan dengan Hans. Meskipun Hans sudah mau memulai hubungan lebih baik, tapi untuk sikap dia masih sama. Pria itu selalu menjawab singkat, dan obrolan pun terhenti begitu saja.


“Lanjutkan makanmu, tidak perlu memerhatikan saya terus.” Nadin langsung terkesiap, menunduk malu. Lagi-lagi ketahuan oleh Hans.


Sesaat Nadin melihat kearah kerumunan orang lalu lalang dan melihat Bastian yang sedang berjalan dengan mungkin teman-temannya.


“Ngapain Bastian ada di sini?” gumam Nadin dalam hati.


Hans menatap Nadin benerapa saat, baru kemudian mengikuti pandangan wanita itu dengan menoleh ke arah belakangnya mengikuti pandangan Nadin.


“Lanjutkan makanmu, Nad!” tekan Hans sekali lagi.


Nadin menoleh pada Hans, menerima tatapan tajam itu darinya.


“Aku belum sempet ngenalin kamu sama Bastian ya? Dia temen aku, kamu juga pernah ketemu dia pas waktu kmu mampir ke kantor kemaren…”


“Saya tidak tanya.” Tanpa rasa bersalah dan berdosa, Hans menjawab demikian. Nadin langsung mengatup mulutnya, mengerucutkan bibirnya.


“Ck… resek!” desis Nadin kesal, lalu tersadar dan langsung menutup mulutnya dengan mata melotot.


Hahaha Nadin tidak tau saja kalau mereka sempat bertemu bahkan berbicara face to face, dan sempat beradu argumen sedikit saat sebelum Hans pergi menyusul Nadin ke sini.


Hans tidak lagi memusatkan tatap pada Nadin, sekrang fokus pada layar Handphone dan kentang goreng miliknya.


“Makan burgernya, kamu menyukainya bukan?”


“Mas tau makanan kesukaan aku?” Ucap Nadin sambil mengulum senyum. Perasaan senang itu hadir, namun setelahnya kembali menyurut setelah Hans menyahut.


“Althea yang setiap hari mengingatkan saya!” Singkat, jelas dan padat. Begitu mengesalkan memang.


“Aku sabar!” Nadin mengusap dada sambil berusaha menyunggingkan senyuman. Untung saja Nadin memiliki stok kesabaran yang banyak, coba saja kalau Althea yang berada di posisinya. Tak segan wanita itu memaki dan memukul kepala Hans, mengingat sifat Althea yang keras dan juga sangat gengsian sudah pasti dia nggak akan mudah buat tunduk di hadapan Hans, jangankan Hans seorang Danniel Henney saja tunduk padanya.


"Mas, pergi berapa hari?"


"tiga hari... Oh iya, akan ada orang yang mengawasi kamu selama saya pergi! dan juga kamu akan diantar jemput Dany"


"Kenapa? saya ga papa kok sendiri juga udah biasa!"


Bukan apa-apa, sekarang Nadin sudah menjadi tanggung jawab Hans dan juga banyak musuh-musuhnya yang pasti akan mengincar Nadin setelah dia tau kalau Nadin adalah istri dari seorang Hans. Dan juga Hans tidak mau kesalahan itu terulang kembali untuk kedua kalinya. Kesalahan yang sudah merenggut nyawa Azura. Pacar yang sangat dicintai oleh Hans.


***


Nadin membuka kedua matanya dan melihat di sampingnya sudah tidak ada sosok Hans. Entah jam berapa Hans pergi, tapi tadi malam adalah malam kelam bagi Nadin.


Yang biasanya mencapai titik finish bersamaan, kali ini Nadin dibiarkan melangkah duluan-- Hans yang meminta. Tidak lama, barulah Hans menyusul. Dan apa itu??!


Hans tidak mencapai garis finish yang seharusnya. Mengambil tissue berniat membersihkan sisa kemesraan mereka diatas perut Nadin. Wanita itu menahan tangis, mendorong dada Hans keras hingga tercipta jarak.


Tidak peduli Hans akan marah atau bagaimana, Ndin segera bangkit dan melangkah menuju kamar mandi. Terisak pilu di dalam sana sambil membersihkan diri. Siapa yang tidak bersedih dengan semua ini, dia merasa tidak dihargai perasaannya oleh Hans.


Jika kalian pikir Hans akan membujuk Nadin, maka salah besar. Hatinya sudah terlanjur beku, sulit untuk menjuru ke hal seperti itu.


Dan setelah ini Nadin akan berbicara pada Althea, bagaimana cara menghadapi seorang Hans, karena cara melarikan diri dan juga dingin pada Hans tidak berhasil membuat Hans berubah, meskipun awalnya Hans sudah mau melepas pengaman dan mengeluarkannya tadi di dalam Nadin tapi untuk kedua kalinya Hans mengeluarkan diluar. Sama saja dengan memakai pengaman kan?!


***


Sementara itu di Sydney Australia...



Danniel dan juga Hans sedang berada di aula hotel ternama di Sydney Australia...


sedang ada Charity event yang diselenggarakan oleh duta besar dari Australia.



Hans dengan siaga berdiri dan mengikuti kemana pun Danniel pergi.


"Hans... rileks, kamu bisa istirahat!"


"Tapi---"


"Banyak pengamanan disini, lagian ada anak buah kamu juga kan? so kamu busa istirahat, ambilah makanan, setelah itu kamu boleh balik lagi kesini."


"Baik, Boss!" Ucap Hans sedikit membungkukkan badannya pada Danniel, lalu pergi dari hadapan Danniel untuk mencari minuman, karena tenggorokannya terasa sangat kering.


Saat sedang menikmati minumannya sekilas Hans melihat sosok Azura berjalan melintas di hadapannya.


"Azura?!"


Hans yang kaget pun terdiam selama beberapa menit lalu setelah sadar dia pun mengekori kemana wanita itu berjalan tapi saat akan di ikuti wanita itu menghilang dari hadapannya.


"Aakkhh shiittt!! Kemana dia pergi?!"


***


Dan setelah kejadian itu Hans jadi kepikiran dengan sosok Azura yang terlihat olehnya saat di acara kemarin.


"Kenapa Hans?! Sejak tadi malam kamu lebih sering melamun, apa ada yang kamu pikirkan? atau kamerindukan istrimu?" Hans menggeleng.


"Justru saya kemrin malam meligat Azura Boss!" Danniel yang tadinya fokus denyan tabletnya sekarang menatap Hans heran.


"Maksud kamu?"


"Entahlah, itu benar atau bulan tapi saya benar-benar melihat sosok Azura di oesta kemarin malam..."


"Sudah kamu cari tau?"


"Sedang diurus boss!"


"Lalu bisakah kamu fokus untuk sekarang?"


Jujur saja, Hans sebenarnya ingin pergi dan langsung mencari tahu siapa sosok yang mirip dengan Azura tadi malam. Hans tahu kalau itu tidak mungkin Azura karena jelas-jelas Azura sudah meninggal dan itu tepat di depan mata Hans sendiri.