
...ANYEONG MY FUTURE HUSBAND...
^^^By. Lucifer^^^
"Assalamu alaikum, Bu." Rubina dengan lembut memulai percakapan.
"Waalaikum salam," jawab Marisa di seberang sana. "Maaf yah Ibu ganggu, Ibu cuma mau nanya, apakah kondisi kalian baik-baik aja?"
Padahal Rubina yang diberikan pertanyaan seperti itu oleh Marisa tapi yang tegang malah Sean. Masalahnya kalau Marisa tahu kondisi terkini Rubina yang sedang demam, ditambah tahu soal kejadian tenggelam yang terjadi kemarin, bisa-bisa Sean auto kena semprot.
"Halo, Bina, kamu baik-baik aja kan?" Marisa mengulang pertanyaan yang sama dengan sebelumnya karena Rubina malah membungkam tidak langsung memberinya sebuah jawaban.
"Baik-baik aja kok, Bu!" ucap Rubina berbohong. Rubina pikir bukan pilihan yang tepat kalau dia menceritakan insiden tenggelam yang terjadi kemarin. Rubina cuma tidak mau kalau ibu mertuanya menjadikan Sean sebagai objek yang patut disalahkan. Padahal kan kejadian tenggelam itu karena kesalahan Rubina juga, dan Sean sampai terlambat menolongnya karena Sean mengira Rubina sedang berpura-pura-seperti yang dia lakukan sewaktu menjalani pemotretan prewedding di pantai.
"Kamu yakin kan baik-baik aja? Kalau ada masalah jangan lupa lapor sama ibu ya. Apalagi masalah yang berkaitan sama Sean. Kalau dia jahat sama kamu, kamu langsung laporan sama Ibu, biar Ibu aja yang ngasih pelajaran."
"Enggak kok, Bu. Sean nggak jahat sama Bina. Sebaliknya aku liat Sean sangat perhatian sama Bina." RUBINA melirik ke arah Sean, dilihatnya pria tampan itu sedang tersenyum padanya.
Sean mengucap syukur karena Rubina tidak membebarkan insiden tenggelam yang menimpanya kemarin. Dengan begitu Sean tidak perlu repot-repot untuk meladeni amarah ibunya saat tahu soal itu.
"Syukurlah kalau kamu dan Sean baik-baik saja. Ibu lega mendengarnya. Kalau begitu teleponnya Ibu tutup dulu ya, soalnya Ibu mau ke pasar."
"Baiklah Bu."
"Assalamu alaikum."
"Waalaiku salam, Bu."
Sean menghela napasnya saat sambungan telepon dari ibunya sudah terputus.
"asaya heran loh. Kenapa sih orang-orang sangat suka sama kamu. Apa karena kamu yang terlalu menjaga image, sampe mereka semua nggak bisa lihat sisi nyebelin yang kamu punya. Bahkan ibu saya sendiri kedengeran sangat sayang sama kamu lebih dari rasa sayang yang dia miliki buat saya."
Tanpa mendengar jawaban dari Rubina, Sean telah beranjak membawa langkah kakinya menuju ke kamar mandi.
***
WAKTU tiga hari yang dihabiskan di vila akhirnya berakhir. Rubina dan Sean saat ini sedang di taksi menuju ke apartemen. Awalnya Rubina pikir setelah kepulangan mereka dari vila keduanya akan mampir dulu di rumah orang tua Sean. Tapi ternyata Sean meminta sopir taksi yang mengantarnya untuk langsung ke apartemen.
"By?" panggil Rubina.
"Hmmm."
"Kenapa sih kita langsung ke apartemen. Padahal kan Ibu tadi nyuruh kita buat mampir dulu."
"Ribet kalo kita mampir dulu di rumah. Mending langsung ke apartemen aja."
"Ribet kenapa sih, By?" kepo Rubina.
"Ya ribet aja. Lagian saya juga capek, pengen istirahat. Dan menurut saya tempat terbaik buat istirahat adalah di apartemen."
Tidak ada interaksi verbal yang berjalan setelah itu. Sean fokus kepada ponselnya membaca artikel tentang sepakbola. Rubina sendiri memilih melempar pandangannya ke luar jendela memperhatikan panorama kota malam. Mereka pada jalan pikiran masing-masing sampai akhirnya mereka sampai di depan apartemen.
"Kamu mau nginap di sini?" tanya Sean. "Ayo cepetan turun!" suruhnya terkesan tidak sabaran.
"Sabar dong, By. Ini juga aku langsung mau turun kok."
"Ada apa?" Sean menoleh dan menatap degan tatapan meredup.
"Mau ke mana?"
"Pertanyaan macam apa itu? Ya tentu aja saya akan ke masuk ke apartemen saya."
"Maksud aku kenapa kamu langsung masuk gitu aja? Terus barang-barang ini?" Rubina mengarahkan telunjuknya ke barang-barang miliknya.
Sean melirik sebentar barang-barang yang dimaksud oleh Rubina. Setelah itu dia memberikan jawaban, "Kan koper itu punya kamu. Harusnya kamu sendiri dong yang bawa koper itu ke apartemen."
"Ya harusnya kamu dong By yang bantuin aku. Kamu kan suami aku, udah jadi tanggung jawab kamu buat bantuin aku. Apalagi buat urusan yang berat-berat kayak gini."
"Sekarang aku tanya. Ini barang punya siapa?" tanya Sean.
"Barang aku," jawab Rubina.
"Berarti sudah tanggung jawab kamu buat membawanya sendiri."
"Tapi kan By," Rubina memelas, "Kamu kan suami aku."
"Iya, saya suami kamu, tapi saya juga bukan pesuruh kamu."
"Tapi By, aku kan gak bisa bawa barang ini sambil naik tangga."
"Tenang saja. Kita enggak naik tangga kok, di dalam ada lift yang langsung menghubungkan ke apartemen saya. Jadi enggak usah lebay. Sebaiknya bergegas karena saya udah nggak sabar buat..."
"Buat tidur sama aku?" sahut KayRubinala cepat. Dia benar-benar bersemangat saat mengatakannya. Gadis berambut hitam itu bahkan tidak peduli dengan tatapan menyeramkan yang diberikan oleh Sean.
"Bisa-bisanya ada manusia yang otaknya kotor kayak kamu." Sean menggelengkan kepala saat memutar badan membelakangi Rubina.
"Dasar suami durhaka. Masa istri dibiarin buat bawa barang berat kayak gini sih," keluh Rubina. Sengaja memelankan suaranya karena dia tidak ingin Sean mendengarnya.
"Apa kata kamu barusan? Kamu ngatain saya suami apa?" usut punya usut ternyata Sean mendengar apa yang Rubina katakan. Sean telah memutar kembali badannya menghadap Rubina saat meloloskan dua buah pertanyaan itu.
"Aku bilang kalau suami aku ganteng banget," dusta Rubina seraya memasang senyum terbaiknya.
Setibanya di apartemen mereka disambut oleh pemandangan yang cukup memanjakan mata. Rubina melihat keadaan apartemen terlihat sangat rapi. Semua barang-barang berada di tempat semestinya.
Keadaan apartemen terlihat begitu rapi karena tadi pagi Sean meminta bantuan Nino untuk mencari jasa kebersihan.
"Siapa yang bersihin apartemen ini. kok bersih banget," Rubina menyentuh sandaran sofa lalu tangan yang menyentuh permukaan lembut itu didekatkan di area wajahnya, Tidak ada debunya sama sekali."
"Sebelum kita berangkat dari vila udah ada jasa kebersihan yang ngebersiin tempat ini. Makanya keadaan apartemen saya keliatan sangat bersih dan rapi. saya emang kurang begitu suka dengan segala hal yang berantakan. Oleh karena itu saya minta, selama kamu tinggal di sini jangan pernah membuat apartemen saya berantakan. Soalnya saya nggak suka melihat hal-hal yang berantakan!"
"Ok, aku janji aku nggak akan... Eh, kok apartemen jadi gelap?" belum sampai ke tahap selesai mengucapkan yang hendak dia katakan dan secara mendadak Rubina kaget melihat tidak ada cahaya di ruangan itu. Semua lampu di apartemen dalam keadaan mati dan membuat ruangan itu jadi gelap gulita.
Peluh langsung mengucur deras membanjiri permukaan wajah Sean. Dia mengedarkan pandangan ke segala penjuru namun dia tidak menemukan sedikitpun sumber cahaya. Debaran jantung pria itu berdegup melewati ritme normalnya.
"Bina kamu di mana?" suara itu terdengar agak shaky. Suara itu menjelaskan betapa ketakutan sedang dirasakan oleh Sean.
"Aku di si—," Rubina tidak punya kesempatan untuk menyudahi kalimatnya saat Sean menarik tangannya dan menenggelamkan kepalanya ke dalam dada bidang milik pria itu. Ketakutan membawa Sean untuk terpaksa melakukan itu pada Rubina. Sean memeluk Rubina dengan sangat erat. Ketakutan yang dia dapatkan membuatnya tidak memikirkan yang namanya gengsi lagi.