
...ANYEONG MY FUTURE HUSBAND...
^^^By. Lucifer^^^
“Rubina Henney Wiriawan!” meskipun seruan itu tersampaikan dengan suara datar dan dingin seperti kebiasaan Sean, namun hal seperti itu malah dianggap sebaliknya oleh Rubina. Terus terang saja Rubina menganggap itu terasa merdu saat sampai ke indra pendengarannya. Rubina merasa dunia berhenti berputar detik itu juga.
“Hmm... Kenapa?” Sean memangkas jarak setelah melangkah maju. “Apa kamu nggak pernah ngerasa lelah buat ngejar cinta saya? Udah tujuh tahun berlalu dan kamu masih aja berharap sesuatu dari saya?" tanya Sean.
"Terus terang aja ya dok, aku nggak akan nyerah. Aku bakalan terus ngejar dokter karena aku merasa kalo kamu adalah masa depan aku," balas Rubina dengan nada super percaya diri.
"Trus gimana kalo jawaban saya masih sama? gimana kalo saya ngasih jawaban yang bukan apa yang kamu harapkan?" tanya Sean berandai-andai.
Pria yang sedang memakai snelli putih khas dokter yang tersemat di badannya itu semakin memangkas jarak dengan Rubina. Membuat Rubina merasa gugup saja.
"Nggak apa kalo misalkan kamu ngasih jawaban yang sama kayak tujuh tahun yang lalu. Lagian kamu punya hak buat ngasih jawaban yang sesuai dengan isi hati kamu yang sebenarnya. Aku siap kalo harus nunggu lagi. Tapi please kamu jangan ngelarang aku buat terus berusaha ngejar cinta kamu."
"Ada sesuatu yang harus saya luruskan di sini," Sean berbisik dan semakin membuat Rubina terbang ke langit ke tujuh.
"A-- Apa?"
Sean tidak melakukan aba-aba semakin mendekatkan bibirnya kepada bibir milik Rubina. Jangan ditanya lagi saat itu Rubina merasa pasokan oksigen yang ada di dalam dirinya semakin menipis seiring waktu berjalan. Keagresifannya seketika raib. Tidak tahu kenapa, bahkan Rubina tidak memiliki keberanian lebih untuk balas menatap iris kecoklatan yang selama ini dia rindukan.
Rubina semakin tidak dapat mengontrol dirinya ketika bibir Sean bertaut dengan bibirnya. Memang singkat saja kecupan yang diberikan oleh pria tampan itu. Namun damagenya tidak dapat disepelekan begitu saja. Rasanya seperti ada kupu-kupu yang terbang diperut Rubina.
"Apa cuma ini yang bisa aku dapatkan? Kayaknya nggak adil deh, mengingat aku yang udah nantiin momen ini sejak lama. Dan kamu bahkan udah ngelepasin bibir kamu sebelum aku ngerasain lebih lama," protes Rubina di tengah-tengah perasaan tidak keruan yang dirasakannya. Rubina maju. Gilirannya yang ingin melakukan hal yang sama kepada Sean.
"BINA!!! Woi ngelamun Mulu, kesambet baru tau rasa Lo!"
"Eme... Kok ngomongnya kayak gitu ke Ade nya?" Sarat Althea memperingatkan kata-kata Emerald. Rubina pun terkesiap saat anggota keluarganya sedang mengobrol di meja makan.
‘Shiittt!!! Persetan sama mimpi gue pagi ini, gue pikir gue beneran ngelakuin itu sama Sean,’ batin Rubina sementara bibirnya saat itu sedang menggambarkan perasaan kesal. Baru saja dia mengerucutkan bibir. Dan di detik selanjutnya dia menggunakan kedua tangannya sebagai alat untuk mengacak-acak mukanya. Tentu saja Rubina merasa sebal karena kejadian yang selama ini dia idam-idamkan hanyalah sebuah mimpi.
"Gimana kondisi kaki kamu, sayang. Apa masih sakit?" Ucap Danniel pada saat sedang sarapan.
"Tau, lagian tumben banget sih Lo berani masuk ke rumah sakit? Biasanya juga Lo kan ogah-ogahan apalagi kalo udah liat jarum suntik..." Rubina hanya memberi delikan pada sang Kakak yang memang usil untuk menjahilinya dengan kata-kata sarkas.
“Iya, kamu tau nggak, Bi. Papah kamu tuh tiba-tiba aja nelpon Ibu pas Ibu lagi Rapat udah gitu maksa banget lagi nyuruh Ibu buat buru-buru nyusul kamu ke Rumah Sakit. Untung aja Grandpa kamu telpon buat ngejelasin semuanya.”
“Ya gimana mau nggak panik, anak buah saya laporan kalo Bina ketabrak...”
“Iya udah gitu tanpa nunggu penjelasan dari anak buah kamu langsung maen tutup aja! Buat panik semua orang aja!”
"lagian Papah nih, Overprotected banget sama aku, aku kan udah gede."
“Udah gede tapi kelakuan masih kayak bocah!” Emerald menimpali perkataan Rubina dengan kekehan kecil.
Bina mendesis mendelik ke arah Emerald.
"Trus apa kata dokter, Grandpa juga belum ngasih kabar kita mengenai pemeriksaan kamu..." Althea menengahi.
"Ya udah kalo gitu Papah telpon dokter Kevin aja ya, biar dokternya kesini."
"Jangan Pah," Rubina kalang kabut memberikan penolakan. Pokoknya itu enggak boleh terjadi. Apapun alasannya Rubina harus ganti perban di rumah sakit kliniknya dokter Sean.
Sementara Althea, Danniel dan Emerald melihat ke arah Rubina heran.
"Iihh, enggak perlu nelpon dokter Kevin segala, Pah. Aku bisa kok ke rumah sakit sendiri, lagian kan kalo ada apa-apa Bina bisa telpon Grandpa, kan Grandpa ada disana."
"Tapi kan kaki kamu masih sakit, Bi," ujar Althea. “lagian kenapa sih nggak mau banget dianterin dokter Kevin? Dokter Kevin tuh baik loh Bi... ganteng lagi!”
Hmm... Hmm... Danniel berdehem tidak terima ketika sang istri memuji pria lain meskipun pria itu cocok untuk menjadi menantunya.
“Iya iya... Papah yang ter the best!” lanjutnya sambil tersenyum geli. Heran dengan sikap suaminya itu yang masih saja cemburuan.
“Apaan sih, Dokter Kevin emang ganteng tapi aku nggak suka Bu, lagian aku udah punya orang yang aku suka.”
“Siapa? Kok Papah nggak tau?!”
“Iyalah orang aku baru ketemu lagi kemaren...”
“Temen SMA kamu Bi?”
"Hah... ya... bisa dibilang gitu, tapi nggak juga! Udah... Ibu sama papah enggak usah khawatir. Trus aku berangkat dianterin sama bang Eme. Iya, kan Abangku tersayang yang paling ganteng sedunia?!" Rubina menoleh ke sebelah kiri, tempat kakaknya sedang duduk menyantap sarapan roti berselai nanas hasil racikannya sendiri.
"Ciih... ada maunya aja baik-baikin!” Emerald menunjuk dirinya sendiri.
"Terus aku berangkat sama siapa kalau bukan Kakak yang nganterin? Kaki aku kan masih sakit belum bisa naek mobil sendiri."
"Iya, iya deh, aku yang anterin ke rumah sakit."
"Ikhlas?"
"Ikhlas," jawab Emerald.
"Kalau ikhlas, senyum dong!? Katanya ikhlas tapi malah cemberut.” Emerald memasang senyum yang jatuhnya sedang dilebih-lebihkan.
“Gimana? Puas?”
“Banget! jawab Rubina cekikikan melihat reaksi sang kakak yang kesal.
******************
Seperti janji yang diucapkannya. Setelah sarapan Emerald memutuskan untuk segera membawa adiknya ke rumah sakit. Namun sebelum itu Rubina memilih untuk mampir dulu ke sebuah kedai makanan cepat saji. Rubina membeli beberapa burger untuk diberikannya kepada Sean karena Rubina tau kalau Sean senang sekali makanan junk food itu. Selain burger, Rubina juga membeli minuman kopi untuk dirinya sendiri. Dan tentu saja Rubina tidak perlu merogoh kocek karena yang membayar semuanya adalah Emerald.
"Abang tunggu di sini aja ya! Enggak usah masuk!" perintah Rubina kepada kakaknya tepat setelah mobil sudah terparkir di pelataran rumah sakit milik kakek mereka. Rubina berjalan pelan-pelan menghampiri seseorang di loket pendaftaran rawat jalan.
"Permisi, saya Rubina pasien yang kemaren ditangani oleh dokter Sean. Hari ini jadwal saya untuk mengganti perban."
"Oh, Nona Bina?! Silakan langsung aja tunggu di depan ruangan dokter Sean!"
“Baiklah!”