
Seperti adanya ribuan kupu-kupu yang berterbangan di dalam perut, sungguh Nadin tidak bisa berhenti tersenyum dan dalam keadaan hati berbunga-bunga. Hans begitu lembut dalam setiap perlakuannya, Nadin merasa begitu diinginkan. Dia seperti barang rapuh yang tidak bisa di perlakukan kasar, takut akan membuat hancur dalam sekejap mata. Apalagi Hans tahu sebelumnya Nadin mengalami trauma kekerasan fisik karena pria brengsek yang hendak akan memperkosanya.
Dan tidak ingin berlama-lama lagi-- sebab waktu Hans terbatas, pria itu membuka sebuah laci nakas di samping tempat tidurnya, mengambil sesuatu di dalam sana kemudian mengenakannya di hadapan Nadin.
Nadin mengernyit bingung, Hans memakai pengaman? Sungguh, hal ini membuat Nadin bersedih. Dia merasa tidak lagi begitu diinginkan. Kenapa harus begini?
"Kamu baik-baik saja?" tanya Hans membuyarkan lamunan Nadin. Dirinya ingin sekali berkata cukup, berhenti saja. Namun apalah daya, Nadin nggak mungkin berani melakukannya. Hans sudah siap, dia akan marah besar jika Nadin menolak di saat seperti ini. Bukan hanya Hans yang kecewa mungkin Allah pun nggak akan memberkahi pernikahan kami dalam setiap langkah kami sebab keburuhan suami tidak dipenuhi.
Nadin mengangguk pelan kendati perasaannya sudah tidak seperti sebelumnya. Kepalanya dipenuhi oleh banyak pertanyaan. Jadi Hans benar-benar tidak menginginkan dirinya? Atau bagaimana...
Disaat mereka berdua hampir melebur menjadi satu, tubuh Nadin berjengkit dengan rasa yang baru dia kenali. Nadin dengan refleks meringis, perih dan sakit semua rasa bercampur. Menyadari respon tubuh Nadin, Hans berhenti sejenak. Mereka saling menatap selama beberapa saat, menunggu Nadin benar-benar siap untuk memulai kembali.
Semua diterima dengan rasa kasih oleh Nadin, meskipun sedikit kepikiran soal pengaman yang sempat mengacaukan pikirannya beberap saat lalu. Tapi karena ini spesial untuk sang suami, Nadin berusaha memberikan yang terbaik. Tidah ingin sampai Hans merasa kecewa,ngin menunjukkan bahwa dirinya mampu menjdi seseorang yang selalu diinginkan oleh Hans.
Nadin mengulas senyum, napasnya terdengar memburu dengan wajah yang tak berhenti merona merah sedari awal menerima sentuhan seorang Hans yang terkenal dingin dimata semua orang. Malu iya karena baru pertama kali melakulan hal ini apalagi dengan pria yang disukainya sejak dulu dan ada juga see sedikit rasa takut karena mengecewakan Hans.
Sebagai penutup, sebelum benar-benar mengakhiri keadaan yang luar biasa ini, Hans kembali mencuri kecupan singkat. "Terima kasih," gumam pria itu pelan. Meski benar-benar keras hatinya, Hans tak lupa mengucapkan rasa terima kasihnya. Nadin sudah berhasil memberikan sensasi yang sangat luar biasa.
"Mas, peluk aku..." Ucap Nadin sambil mengulurkan kedua tangannya kearah Hans. Sebenarnya Nadin adalah termasuk wanita yang manja dan sangat suka diperhatikan dalam hal sekecil apapun, apalagi oleh orang yang dia suka dan sayangi. Nadin yang melihat Hans mengiyakan keinginan kecilnya itu membuat senyum tipis Nadin mengembang lagi, lalu menjadikan dada bidang Hans sebagai bantalan empuk yang begitu hangat. Debaran mereka pun terdengar seperti saling bersahutan merdu.
"Maaf, kalau aku masih terlalu kaku." Nadin menggigit bibir bawahnya, sedikit ragu mengucapkan kalimat itu.
"Tidak. Sudah begitu sempurna, kamu melakukannya dengan baik." Hans tidak tersenyum, tidak pula merasakan kebahagiaan itu menyambanginya. Malah menjadi lamunan singkat, pikirannya kosong seketika. Entah apa yang sedang mengganggunya, Hans bingung sendiri pada dirinya. Tidak hanya Nadin yang cemas ternyata Hans pun demikian. Hanya saja rasa cemas mereka berbeda bentuknya. Semoga saja pilihan Hans ini tidak salah, dia hanya ingin melakukan kewajibannya.
Saat Hans memilih diam, Nadin pun bingung ingin membuka suara lagi. Merasakan hembusan napas Hans pada puncak kepalanya, Nadin pun ikit memejamkan matanya. Doa tringat kembali saat Hans membatasi dirinya.
***
Nadin menyiapkan menu makanan untuk Hans sebelum pria itu kembali bekerja. Katanya hari ini Hans masuk kantor dan melakukan tugasnya di keluarga Danniel Henney. Entahlah, tapi yang pasti Nadin sedikit sedih. Hans sama sekali tidak mengambil cuti, padahal ini masa-masa hangat mereka berdua dalam sebuah pernikahan. Mereka pengantin loh, harusnya kan menggabiskan waktu bersama di rumah. Kalau untuk bulan madu ke suatu tempat, Nadin paham sekali jika keadaan Hans memang tidak memungkinkan.
Bahkan jejak sisa kemesraan mereka masih ada di seprei, belum sempat Nadin ganti sebab terlalu mengutamakan keperluan Hans. Malahan kewanitaannya juga masih sedikit terasa nyeri, sama sekali Hans tidak menunjukan keperdulikannya. Pria itu sangat cuek dan dingin, Nadin sungguh sedih. ketoka Nadin pikir mereka akan betmesraan dulu setelah bercinta--berpelukan, atau bercerita singkat tentang hal yang manis, nyatanya tidak sama sekali. Begitu oun dengan Hans yang tidak mengajak Nadin mandi bareng seperti layaknya pasangan yang ada di film romansa. Dan Ya... Nadin memang selalu menghayalkan sesuatu secara berlebihan. Dan ini sangat tidak baik untuk kesehatan hatinya, buktinya sekarang dia menggenggam harapan fana.
"Hm.."
"kamu mau dibikinin apa pas pulang nanti?"
Hans yang tengah sibuk memilah berkas terdiam sejenak sebelym menjawab pertanyaan Nadin.
"Terserah."
"Hem.. kira-kira Mas pulangnya jam berapa ya? biar aku bisa sesuain waktu pulang aku mulai sekarang..."
"Malam."
"Mas, lembur di kantor?"
Seketika Hans memperlihatkan ekspresi tidak senang karena Nadin terlalu banyak bertanya. Pria itu sampai pusing " saya balik dari kantor sore, kemudian langsung pulang ke rumah utama Boss Danniel."
Dari sorot matanya hati Nadin teriris, tapu Nadin asalah wanita yang kuat, dia akan terus berusaha mengambil hatinya Hans. "Sebelum jam makan malam, apa Mas udah bisa pulang kesini?"
"Nad, saya sibuk. jadi kalau saya pulang terlambat kamu bisa makan malam sendirian tanpa harus menunggu. Jangan manja, sejak awal kamu tahu kan pekerjaan saya kayak apa?!" sahut Hans dengan menatap tajam, buat Nadin bungkam seketika. Lalu Hans pun langsung berangkat tanpa memberikan kecupan pada keningnya Nadin. Rupanya Hans sudah terlanjur kesal dengan perdebatan ini.
Seperginya Hans, Nadin hanya bisa menghela napas sabar dengan sikap Hans dan lebih mengalah. Lalu berjalan ke dalam kamarnya untuk mrmbersikannya dan mencuci sprei yang terkena darah. Sungguh ngilu ketika membayangkan penyatuan mereka tadi. ternyata seperti itu rasanya bercinta.
Mengingat semua itu, Nadin tersadar satu hal, dengan segera dia bercermin di depan meja rias, melihat dan menepuk-nepuk permukaan perutnya yang terdapat beberapa tanda kepemilikan Hans di sana. Yang menjadi pertanyaan besar adalah kenapa Hans memakai pengaman saat berhubungan dengannya? Apa pria itu benar-benar tidak menginginkan adanya seorang anak dalam pernikahan mereka?
Sekali lagi Nadin terluka untuk kesekian kalinya, kali ini rasanya sulit untuk di jelaskan dengan ucapan. Nadin padahal sudah sangat ingin memiliki malaikat kecil yang dengan ceria nanti memanggil dirinya Bunda. Mendengarkan banyak cerita manisnya, menemani saat bermain, begitu pun dengan membacakan cerita dongeng pengantar tidur. Sungguh, itu adalah impian paling ingun Nadin usahakan dengan segera setelah menikah. Tapi... lagi-lagi kenyataannya tak sesuai harapan.
Nadin harus kembali melatih diri agar tidak selalu menggantungkan harap pada sesuatu yang beum pasti, atau dia akan terluka sendirian lagi.
Bangun bahagia sendiri, itukan yang sejak dulu selalu Nadin lakukan? Lantas kenapa sekarang nampak berbelok haluan?