
AUTHOR POV
Malam Minggu...
pukul 19.00 malam...
Seperti biasa Althea makan malam bersama Angga Wiriawan dan Nesya juga Gracia.
Dan setelah selesai makan malam biasanya Althea suka menyempatkan mengobrol sama Angga sementara Gracia juga Nesya biasanya lebih memilih masuk kamar. Tapi kali ini Althea berusaha untuk ngobrol dan mau mendekatkan diri dengan Gracia karena bagaimana pun juga Gracia adalah saudari satu-satunya meskipun itu cuma saudara tiri.
Tok tok...
"Masuk!!" suara Gracia dari dalam kamar membuka Althea yang sedang diluar kamarnya menarik napas panjang. Saat Althea membuka pintu dan masuk ke kamar Gracia...
"Lo... Ngapain kesini?" Tandas Gracia agak tinggi.
"Bisa nggak kita ngobrol bentar? Girl talk..." Gracia memutar kedua matanya jengah.
"Ada apaan? Gue lagi sibuk nih..."
"Sibuk sama Lauro?" Sindir Althea sambil tersenyum sementara Gracia melihat kearah Althea tajam.
"Tenang aja, gue udah nggak cinta sama Lauro... Gue udah relain dia sama lo, gue juga udah punya Danniel jadi lo jangan khawatir!" Gue jalan ke deket dia dan duduk di tepi kasurnya. Gue liat sekeliling kamar itu... kamar yang dulu gue tempatin yang kini sudah berubah dekorasinya dan sekarang milik Gracia seutuhnya.
"Ada apaan?"
"Hey... Gue mau nanya sama lo.. Kenapa lo nggak suka sama gue? Jujur aja dulu waktu tau lo mau jadi adik gue, gue seneng banget artinya gue jadi punya temen curhat dan bisa sharing... Tapi ini malah sebaliknya.." Gracia langsung liat kearah Althea.
"Mau lo apa sih? nyari masalah ya?!"
"Gue cuma mau tau aja penyebab lo nggak suka sama gue..."
"Lo tau kenapa gue benci lo? Karena lo punya segalanya, hidup lo terlalu sempurna dan gue ngerasa lo terlalu naif..."
"Cuma itu doang?! Tapi kan sekarang lo yang punya segalanya dibanding gue... Lo dapet kasih sayang papah juga kan... Sedangkan gue.. Mamah Nesya aja nggak sayang sama gue, dia benci banget liat gue..."
"Lo mau tau kenapa mamah benci sama lo? Karena lo mirip sama ibu lo dan papah selama ini masih cinta dan sayang sama ibu lo..."
"Ya harusnya mamah Nesya berusaha buat ngeyakinin papah dong supaya paph sayang juga sama dia, ibu kan udah nggak ada, harusnya mamah nggak usah khawatir lagi sama ibu..."
"Lo ngomong kayak gini karena lo nggak tau posisi dan perasaan kita kayak gimana Al..." Althea cuma ngela napas panjang.
"Ok, kalau gitu bisakah kita sekarang baikan?" Gracia seketika liat gue heran.
"Kenapa lo? Sakit? Aneh banget sih..."
"Hmm... Gue cuma mikir aja, percuma kita musuhan, marahan, kita ini keluarga at least ya sekarang, gue pengen aja punya keluarga kayak kebanyakan orang... Papah, mamah Nesya... lo... dan Kalian bisa jadi rumah buat gue pulang kesini dan tempat untuk mengadu keluh kesah gue..." Gracia masih terdiam serius melihat kearah Althea curiga.
"Apaan sih ga jelas lo.. Udah sana gue lagi sibuk.."
"Gracia... Gue tau lo lemah sama urusan laporan sama strategi kan? Gue bisa bantu lo.. Lo yang ngurus klien dan urusan luar kantor, biar di bagian dalam laporan strategi dan semacamnya biar gue yang urus..." Gracia berdecak.
"Ooohhh jadi intinya lo mau masuk ke perusahaan papah kan? Katanya lo nggak perduli sama perusahaan dan nyerahin ke gue... Ternyata lo nggak nyimpen omongan lo ya... Bilang aja lo nggak mau perusahaan papah pindah ke tangan gue kan?" Tandas Gracia agak meninggi.
"Gracia... bisa dengerin gue dulu nggak? gue emang nggak perduli itu perusahaan pindah ke tangan lo... Lo juga anak papah dan lo juga berhak dapetin itu... dan gue tau lo nggak mau kalo perusahaan papah terus mandeg kayak gini kan? Selama ini gue perhatiin perusahaan papah sama sekali nggak ada kemajuan dan stuck disitu terus. Gue cuma mau bantuin lo... gue bakalan ngisi posisi kosong itu biar perusahaan papah maju."
"Lo ngomong gini bukan cuma mau majuin Perusahaan papah kan? Jawab jujur..." Tandas Gracia mulai kesal.
"Gue butuh status..." Gracia terdiam melihat Althea bingung.
"Gue tau, selama ini gue naif, selama ini gue percaya kalo status nggak berarti apa-apa... Tapi ternyata gue salah, bagi sebagian orang ternyata status derajat itu sangat penting... sebenernya gue oengen ngehapus soal status tahta dan bla bla bla..." Gue diem sejenak ngeredam emosi gue, because nonesense banget sama itu.. buat gue itu nggak ada artinya! atitude lo cuma butuh sekolah dan ga mandah silsilah keluarga karena dengan sekolah pun kita pastu beljar banyak ilmu maupun Atitude yang mereka pandang tunggi itu.
" Dan lo tau kan kenapa hubungan gue sama Lauro stuck dan nggak bisa dipertahanin? Karena gue percaya kalo status gue sebagai orang biasa-biasa aja bisa diterima di keluarga Lauro... Tapi ternyata gue salah dan kesalahan gue yang dulu nggak mau terulang lagi untuk kedua kalianya..." Althea terdiam menarik napas berat.
"Gue sayang sama Danniel dan gue cinta sama dia... Dia udah berusaha berjuang buat gue... Sekarang gue yang berjuang buat dia, gue mau nunjukin kalo gue emang pantes buat Danniel, gue nggak mau nyerah buat ngelepas Danniel, dan itu bukan karena kekayaan dia tapi karena kita saling sayang dan saling cinta..."
"Kalo lo nggak perduli sama kekayaan, kenapa nggak lo suruh Danniel buat bawa lo pergi dari sini dan ninggalin semua yang ngalangin kalian??"
"Karena gue nggak mau ngerusak hubungan dia sama keluarga nya Ci... Gue nggak mau gara-gara gue Danniel jadi ngelawan Ibunya dan jauh dari keluarganya... Maka dari itu kalau ibunya Danniel butuh status, gue bisa berusaha dengan cara bergabung dengan Perusahaan papah... Karena gue anak dari Angga Wiriawan... Dan gue yakin Ci.. Kalau kita bisa bekerja sama.. kita bisa majuin Perusahaan papah..." Ucao gue ngeyakinin Gracia.
"Ya ya ya.. boleh gue gabung disana... Please..." Lanjut Althea menyampingkan egonya dan harga dirinya sampai memelas pada Gracia.
"Gue pikir-pikir dulu.. Dan gue akan bicarain dulu sama papah..." Althea tersenyum kearah Gracia, setidaknya dia punya harapan buat mempertahankan hubungannya dengan Danniel.
**
"Selamat pagi Pak..." ucap Althea yang sudah berada di mejanya, dan Danniel juga Hans yang baru datang hanya melewati Althea tanpa menjawab salam Althea dan masuk ke dalam ruangannya.
"Iiihh tu orang kenapa sih? Rese deh pagi-pagi udah bikin bad mood... Hah, sabar Al.. gitu-gitu juga dia boss lo... Sabar ya... bentar lagi." Gumam Althea menenangkan dirinya.
Saat Althea membereskan berkasnya untuk dibawa ke meja Danniel Hans yang baru keluar dari ruangannya berjalan ke meja Althea.
"Al... Big Boss butuh sarapan..."
"Emang dia belum makan? Ya udah gue pesenin dulu makan deh..."
"Bukan sarapan beneran tapi 'SA..RA..PAN' setelah 2 hari nggak liat dan ketemu lo... You think???" Hans pun berjalan ke arah lift dan pergi dari hadapan Althea.
Althea pun bergegas ke ruangan Danniel sambil membawa berkas. Saat Althea baru membuka pintu Danniel yang sudah di belakang pintu ruangannya langsung menarik tangan Althea sehingga berkas yang dibawanya tercecer ke lantai, tidak memperdulikan hal itu Danniel pun menarik tengkuk Althea hingga dengan mudah mencium bibir Althea.
"Kenapa kemarin kamu nggak pulang langsung?" Ucap Danniel setelah selesai berciuman dan merapatkan keningnya ke kening Althea.
"Sebelum itu bisa kan kamu bantu saya membereskan berkas ini?" ucap Althea kesal lalu membereskan berkas yang tercecer tadi. Danniel hanya tersenyum.
"Saya pikir saya punya salah lagi sama kamu makanya tadi kamu nggak bales salam saya ..."
"Sorry itu karena saya pengen buru-buru masuk dan ngusir Hans keluar biar kamu cepet masuk kesini... Kamu tau... Saya kangen sama kamu Al..." d
Dia mulai memeluk Althea dan mengikuti Althea berjalan menyimpan berkas dimeja Danniel.
"H.m... saya juga kangen sama kamu Niel..." Melepas pelukan Danniel.
"Dan ada yang ingin saya omongin sama kamu..."
"Apa?" ucap Danniel duduk di kursi kebesarannya sambil menarik Althea dan mendudukan Althea di pangkuannya.
"Saya ingin bantu kamu..." Danniel melihat Althea serius sambil mengerutkan halisnya.
"Maksudnya??"
"Yaaa... saya pengen bantu kamu biar Ibu kamu mengakui saya sebagai wanita yang pas dan tepat buat kamu..."
"Caranya?" Dia nautin kedua halisnya liat serius kearah Althea.
"Kemarin saya nginep di rumah Papah karena saya ingin bicara sama Gracia... Saya meminta bantuan... Dan kalau dia setuju saya akan membantunya di Perusahaan Papah... dan otomatis saya akan Resign dari sini..."
"Apa? Tapi apa nggak ada cara lain?"
"Niel, Ibu kamu harus tau kalau saya dari keluarga Wiriawan dan tentu saja derajat kita harus sama kan... Maaf Niel buka maksud saya buat nge judge ibu kamu.. tapi..."
"Saya tau Al dan saya ngerti..." Danniel langsung terdiam pasrah dan memang ada benernya juga ide Althea buat gabung di peeusahaan Wiriawan seenggaknya dia sejajar sama saya meakioun memang perusahaannya masih berada di bawah perusahaan Danniel.
"Setelah saya bergabung sama Gracia, saya baru berani dan mau dikenalkan ke ibu kamu sebagai pacar kamu..." Danniel menghela napas berat.
"Apa kita harus pisah? Sampai kapan?"
"Sampai ibu kamu yakin sama saya... Dan kalau saya sudah pantas jadi pendamping kamu..." Danniel melihat kearah Althea serius lalu tersenyum.
"Agak berat juga sih buat jalanin hari tanpa kamu Al... Tapi makasih ya.. Kamu udah mau berjuang sama saya..."
"Karena sayang kamu Niel, dan saya nggak mau gagal untuk yang kedua kalinya... Kamu juga kan?"
"Jadi kapan kamu mulai kerja di perusahan papah kamu?"
"Setelah Gracia setuju..."
"Kamu nggak apa-apa kan setelah bicara sama Gracia.. Kamu kan punya hubungan buruk sama dia..."
"Hhmmmhh... saya pikir ini lebih baik... saya juga jadi lega setelah bicara dan meminta maaf dan menjelaskan semua kesalah pahaman kita... and certainly the lesson is that I am not Cinderella anymore..."
"Siap-siap kamu harus nyari pengganti saya Niel..."
Danniel pun menghela bapas berat ketika harus mencari pengganti Althea.