
...Ost. Danger Line - Avenged Sevenfold Guitar Solo Cover...
(cuma reffnya tapi dengerinnya diulang ya.. ngena banget buat Hans soalnya...)
Di Apartment Hans...
Hans berjalan masuk dan langsung melangkah ke arah kamar Azura.
Dia menyalakan lampu kamar itu dan melihat photo-photo Azura, barang-barangnya serta kalung Vicamelia biru cristal liontin kunci, yang selalu dipakainya dan itu adalah salah satu pemberian Hans dan menjadi salah satu aksesoris favoritnya Azura makanya selalu ia pakai kemanapun dia pergi kalung itu selalu ada di lehernya.
Hans pun mengambil kalung itu lalu menggenggamnya erat memejamkan matanya memantapkan hatinya untuk benar-benar melupakannya..
I'm Sorry Ra... I'm Sorry i have to choice and i choice my wife, Nadin...
Dengan tidak sadar Hans pun meneteskan air matanya untuk kedua kalinya, yaitu saat dia kehilangan Azura, dan sekarang saat harus rela melupakan sepenuhnya sosok Azura yang selama ini terus membayanginya.
***
"Jadi siapa yang berani menaruh file surat cerai saya di meja kamu Ryu?!" Saat Meeting sudah selesai Hans langsung menghampiri Ryu.
Memang sebelumnya Hans menyuruh Ryu mencari tahu siapa yang berani mencari masalah dengannya, dengan menyimpan surat cerai yang sudah di tanda tangan atas namanya meja Ryu.
Melihat dari cctv sih dia memakai seragam OB di kantor kita Pak, tapi setelah bertanya siapa pria itu ternyata tidak ada yang mengenalnyan Hrd pun tidak mengenali pria itu.
"Lalu kalau pria itu bukan pegawai disini darimana dia dapat seragam itu?"
" Sebelumnya ada salah satu OB yang melapor kehilangan seragamnya saat dia ganti pakaian di ruang ganti dan sampai sekarang seragamnya belum ketemu."
"Boss... kami menemukan ini di tong sampah di samping kantor..." ucap Dany yang datang kearah mereka dengan berlari.
"Shhiitt!! Ryu kamu stand bye disini takutnya Big Boss perlu bantuanmu, saya ngurus tikus ini!"
"Siap Pak!"
Hans pun beranjak ke ruang cctv dan Dany pun dengan sigap mengikuti bossnya pergi.
***
Di ruang CCTV Hans dan Dany melihat seorang pria dengan memakai topi hitam dan juga masker masuk ke ruang ganti OB lalu keluar dari ruangan itu sudah memakai pakaian OB itu. Tak lama seorang OB yang kehilangan bajunya keluar dan melapor pada atasannya. Tak lama terlihat di cctv lain orang itu dengan lenggang melangkah ke ruangan Hans untuk mencari sesuatu di tumpukan meja Hans. Saat sudah menemukan berkas surat cerai Hans orang itu lalu tersenyum penuh dengan kepuasan karena telah menemukannya.
Wait, kenapa mereka tau orang itu tersenyum? Yup... karena cctv itu berada di belakang kursi Hans tepatnya di atas dindingnya dan orang itu berdiri menghadap kearah cctv, lalu tak lama orang itu melihat kearah cctv lalu mengangkat lengan kanannya kearah keningnya layaknya bawahan memberi hormat kepada komandannya masih menampilkan smirknya. Lalu tak lama pria itu keluar dan meletakkan amplop itu diantara tumpukan berkas lain yang akan dikirim oleh Ryuji.
"****!! Dan, pokonya lo harus cari pria itu sampai dapat, bawa dia ke hadapan saya!" ucap Hans sambil menahan amarahnya. karena dia melihat secara tidak langsung dia menyalakan api pada Hans.
"Baik, Pak!" ucap Dany lalu sedikit membungkuk dan berlalu dari hadapan Hans.
***
Ting!!!
"Pagi!!" sapa Nadin ceria serelah dia tidak masuk seharian kemarin karena memang harus istirahat.
"Heyyy... bumil dateng juga, aku pikir bakalan istirahat lebih lama lagi.." ucap Aquila yang sedang mengecek pakaian di gantungan lemarinya.
"pengennya sih gitu, tapi makin lama berada di rumah malah makin stres, nggak bisa ngapa-ngapain apalagi Kak Althea yang selalu komen nggak boleh begini nggak boleh begitu.. kan aku juga pengen ngelakuin sesuatu ya..." canda Nadin pada Aquila. Aquila hanya terdiam.
"Nad... ke ruangan aku yuk..." ucapnya sambil tersenyum. Nadin pun terdiam melihat ekspresi Aquila yang mulai serius.
Saat mereka ada du ruangan Aquila Nadin pun duduk di depan meja Aquila.
"Nad... kamu hamil, Kak Hans nggak kamu kasih tau? Jujur terakhir waktu di klinik aku maupun Kak Hans shock dengar kehamilan kamu."
"Quil, aku emang sengaja nggak ngasih tau kehamilan aku sama Mas Hans karena aku tau Mas Hans nggak bakalan peduli, dan malah mungkin dia nyuruh aku gugurin kandungan aku... aku nggak mau Quil, hanya dia satu-satunya keluargaku yang aku punya sekarang, yang akan jadi bagian hidup aku.."
"Tapi Kak Hans nggak mungkin kayak gitu, Nad... kamu harus denger penjelasannya dulu, kemarin kamu hanya keluarin unek-unek kamu kan tanpa kamu kasih kesempatan Kak Hans buat bicara?!" Nadin melihat ke arah Aquila lalu tersenyum perih.
Jadi Mas Hans cerita semuanya ke Aquila? Sementara ke aku... aku nanya aja jawabnya seperlunya... mana mau Mas Hans ngobrol sama aku...
"Kamu yakin, Nad?!"
"Quil... hati Mas Hans belum sepenuhnya melupakan kakak kamu, dan aku udah memberi banyak waktu untuknya supaya---" Nadin menghentukan ucapannya karena tidak enak dengan Aquila.
"Supaya Kak Hans bisa berpaling dari Kak Azura dan mencintai kamu?! It's okay Nad.. aku tau karena suatu hari Kak Hans emang harus melupakan Kak Azura. Tapi..."
"Quil, aku sudah memantapkan hati aku buat pisah dari Mas Hans, jadi... bisakah kamu untuk nggak membahas dia lagi?!" Aquila hanya menghela napas pasrah menatap Nadin.
Tok... Tok...
"Ya.. masuk!"
"Bu, ada Pak Bastian di depan..." Nadin dan Aquila saling pandang.
"Kenapa pagi-pagi dia ke sini? Emang dia nggak ke kantor apa?" gerutu Aquila. Nadin hanya mengangkat kedua bahunya.
"Suruh dia untuk ke ruangan..." perintah Aquila.
"Baik Bu..." ucap salah satu pegawainya. lalu pergi dari hadapan Aquila dan Nadin.
Tak lama...
"Hai girls..." sapa Bastian yang membawa beberapa kresek berisi bubur ayam.
"Wooow... apaan tuh? bawa sarapan buat kita??"
"Yupz... katanya ada yang lagi hamil..." melihat ke arah Nadin sambil tersenyum perih.
"So... jadi aku bawain bubur... Nad.. kamu nggak mual sama bubur kan?"
"Asal ada pedasnya, aku sekarang nggak bisa makan kalau nggak pake pedes, bawaannya mual kayak makan sop buat orang sakit, jadi apapun makanannya aku makan asal pake pedes.. ah.. sama minum aku nggak bisa air mineral.. harus yang berasa..." jelas Nadin.
"Dasar, bumil aneh..." ucap Aquila pada Nadin. "Tian duduklah temenin bumil yang mau jadi janda ini, biar aku yang nyiapin buburnya di pantry..." Ucap Aquila sambil membawa kresek yang dipegang Bastian. Sementara Bastian terdiam mendengar ucapan terakhir Aquila yang menerangkan status Nadin.
"Nad.. apa itu benar?"
"Apaan?!"
"Pernyataan Aquila tadi tentang..."
"Janda?!" melihat Bastian yang sedang melihat serius ke arah Nadin. "Ya, aku bakalan jadi bumil tanpa suami Tian, aku dan Mas Hans udah menandatangani surat cerai kami, dan sekarang sedang diurus sama pengacara, kita tinggal ketemu di ruang sidang buat ketuk palu."
"Nad... ini serius.. kamu benerannya?!"
"Emang kenapa sih? kok kayaknya heran banget aku cerai sama Mas hans.."
"Ya heran aja, secara kamu cinta smdan sayang banget sama dia dan hubungan pernikahan kamu juga nggak sebentar Nad..."
"Justru itu, udah lama banget aku ngasih kesempatan Mas Hans buat berubah dan ngutamain aku yang jelas-jelas ada di sampingnya jadi istrinya... Hah... aku, egois ya Tian?" sesaat terdiam.
"Ya... tapi kalau itu buat kamu lega, aku cuma bisa dukung kamu... berarti aku masih ada kesempatan kan?!" ucapnya tersenyum.
"Apaan sih?!"
Sementara itu di Pantry...
Aquila yang sudah menumpahkan bubur itu ke mangkuk masih menunggu dengan gugup.
Tok Tok...
Aquila yang sedang berdiri pun membuka pintu pantry.
"Ini... Nona..." ucap seorang pria misterius dengan memakai pakaian serba hitam dan juga memakai kacamata dan topi hitam menyerahkan beberapa bungkus obat, entah obat apa yang diberikan oleh pria misterius itu.
"Mmh.. Makasih, untuk sekarang ini kamu tidak usah muncul dihadapan saya ataupun di hadapan orang banyak dulu... Uang yang saya kasih masih cukup kan?"
"Masih Nona anda tidak usah khawatir." ucap pria itu lalu pergi setelah bungkusan itu di terima oleh Aquila.