
...ANYEONG MY FUTURE HUSBAND...
^^^By. Lucifer^^^
"Kamu nggak lupa bawa barang yang saya suruh kan?" Sean belum menyalakan mesin mobil yang hendak dikemudikannya karena dia punya alasan. Lebih dulu dia ingin memastikan persiapan Rubina sebelum ke pantai. Dari pada nanti akhirnya jadi ribet sendiri kalau ternyata Rubina malah melupakan barang yang seharusnya dia bawa.
"Maksud kamu pakaian warna putih itu kan?" Rubina bertanya memastikan apa yang dimaksud oleh Sean sama dengan yang dia maksud.
"Iya. Kamu bawa itu kan?" tanya Sean sekali lagi.
"Iya Aku bawa kok. Aku simpan semuanya di dalam ransel ini." Sambil mengangkat ransel yang ada kini berada di pangkuannya.
"Coba periksa sekali lagi. Siapa tau kamu lupa masukin ke dalam ransel kamu itu!"
"Astaga Sean! Kamu ini nggak percayaan amat sih sama calon istri," ucap Rubina lalu geleng-geleng kepala. Untuk meyakinkan pria itu Rubina terpaksa harus membongkar kembali isi ranselnya. Dia mengeluarkan segala sesuatu yang ada di sana. "Ini kan yang pengen kamu liat," sambil memperlihatkan baju putih yang nantinya akan dia kenakan saat pemotretan nanti. Sean hanya menganggukkan kepalanya. Sehabis itu dia pun menyalakan mesin mobil.
"Aku mau tanya sama kamu. Kok sekarang kita berangkat ke pantai pakai mobil kamu? Biasanya juga kan ke mana-mana pake motor kesayangan kamu?."
"Emangnya kenapa kalo hari ini saya milih ngegunain mobil dari pada pake motor?" Sean bertanya balik.
"Ya... nggak kenapa-napa sih. Cuma menurut aku sih lebih enakan berangkat pake V4R kamu dari pada pake mobil."
"Apa alasan kamu lebih suka naik V4R?"
"Kalo naik V4R kan bisa ngehindarin macet." Rubina memberikan jawabannya.
"Jam enam pagi kayak gini jarang ada macet," balas Sean.
"Hmmm... tapi kan kalo naek motor kita lebih bisa nikmatin perjalanannya."
"Menikmati perjalanan?" tanya Sean disertai senyum sinis. "Hmmmh... Pastilah kamu suka naek motor itu soalnya kan kalo kita naik motor, otomatis kamu bakalan dengan leluasa dapetin keinginan kamu. Kamu bisa meluk saya dengan alasan takut jatoh. Itu kan maksud perkataan kamu menikmati perjalanannya?"
Rubina menatap si pengemudi dengan takjub. "Wuaaaahhh... Nggak heran kenapa kamu bisa jadi dokter. Ternyata kamu emang bener-bener cerdas. Kamu bahkan jago dalam urusan membaca pikiran aku. Ngomong-ngomong gimana kamu bisa nebak semua isi pikiran aku Sean? Jangan-jangan kamu ini mantan paranormal ya?"
"Mudah aja. Toh, hal-hal yang ngisi ruang di kepala kamu kan emang cuma hal-hal kayak begitu. Kamu cuma mikirin sesuatu yang kotor-kotor."
"Tunggu bentar deh. Jadi maksudnya kamu itu kotor? Soalnya kan cuma kamu yang hampir setiap saat ngisi ruang di dalam pikiran aku."
Niat hati Sean adalah mengeluarkan sebuah kalimat yang menyudutkan Rubina. Tapi Rubina ternyata cukup cerdas dalam memberikan balasan. Sekarang malah Sean yang merasa tersudutkan.
Setelah itu tidak ada lagi percakapan yang berjalan. Sean menyalakan musik sementara Rubina memilih untuk membuang perhatiannya ke luar jendela. Rubina menikmati perjalanan menuju ke pantai. Apalagi perginya sama ayang. Nikmat apalagi yang coba Rubina dustakan?
Perjalanan ke pantai tempatnya akan melangsungkan pemotretan buat prewedding membutuhkan waktu selama kurang lebih lima belas menit. Usai memarkirkan mobil Sean dan Rubina segera bergegas menuju ke sebuah vila yang telah disewa oleh Sean.
"Apa kamu nggak ada niat buat sekalian bawain ransel aku juga?" kata Rubina saat dia dan Sean menuju ke vila. "Ini sangat berat loh." Rubina mengeluh.
"Nggak usah manja. Kamu bisa bawa sendiri barang-barang kamu. Sebaiknya jangan libatin saya sama urusan kamu. Kamu bawa sendiri barang milik kamu, dan saya juga bakalan membawa sendiri barang milik saya sendiri."
"Ngomong-ngomong kenapa fotografernya belum dateng juga." Sean memgedikkan bahu acuh.
"Mungkin mereka udah di jalan saat ini." Sambil berjalan Sean mengangkat tangan memperhatikan arlojinya. "Sekarang udah hampir jam tujuh. Pasti bentar lagi juga mereka bakalan sampe di sini."
"Maaf, Dengan pak Sean Altemose Ahmet?" seorang pria berambut hitam dengan kulit sawo matang menyambut mereka.
Sean yang diberikan perhatian oleh pria itu segera menggerakkan kepalanya memberikan anggukan. "Benar, Pak. Saya adalah Sean Altemose Ahmet."
"Baiklah kalau begitu. Ini adalah kunci vilanya. Anda bisa langsung menghubungi saya kalau Anda sudah akan meninggalkan vila ini," jelasnya. Setelah itu pria berambut hitam tersebut pamit undur diri.
Sekarang hanya menyisakan Rubina dengan Sean saja.
"Kamu aja yang mikir kayak gitu."
"Oh ya, gimana kalo sambil nunggu fotografernya dateng kita ke pantai sekarang aja?"
"Ya, emang saya rencana mau ke sana."
"Ya udah ayo, kita pergi sekarang. Mumpung pantainya lagi sepi."
Sean membiarkan gadis itu jalan duluan. Sean berjalan di belakang memperhatikan Rubina yang melompat kegirangan. Rubina tampak seperti bocah usia lima tahunan saat menginjak pasir pantai. Melupakan bahwa umurnya tidak muda lagi untuk bertingkah layaknya bocah. Untungnya keadaan pantai hari ini terbilang sepi. Coba kalau enggak, orang-orang pasti akan mencapnya aneh!
"Kayak dia baru nginjek pantai aja?!" cebik Sean sambil menggelengkan kepalanya. Sean meraba-raba sakunya tempat dia meletakkan ponsel sebelumnya, Sean mengambil benda berbentuk pipih itu dari dalam sana. Tanpa banyak ba, bi, bu, Sean segera menekan tombol hijau dan menempelkan benda tersebut tepat di depan telinga kanannya.
"Halo."
"Halo, ini saya Pak. Fotografer yang akan membantu foto prewedding Anda. Begini Pak, kami sepertinya ada sedikit kendala sehingga dengan terpaksa kami meminta keringanan waktu sedikit. Kami mungkin baru bisa datang ke lokasi pemotretan kira-kira dua jam dari sekarang."
"Oh, nggak masalah. Yang penting pemotretan untuk prewedding itu harus dilaksanakan hari ini juga, soalnya takutnya kalau besok atau lusa saya dan calon istri saya ada halangan."
"Sebelumnya kami ucapkan terima kasih atas pengertian Anda. Insya Allah dua jam dari sekarang kami akan segera tiba di lokasi pemotretannya."
Setelah sambungan telepon terputus Sean mengembalikan benda itu ke tempat semula. Sean baru saja melihat ke depan namun Rubina tidak terjangkau lagi.
"Lah.. Bina ke mana? Kok ngilang. Perasaan tadi dia lagi main di depan sana? Ck... apa jangan-jangan dia digondol ikan hiu?" pikir Sean mulai mengada-ngada. "Tapi kayaknya nggak mungkin. Hiu juga pasti mikir seribu kali sebelum nyantap Bina. Bina kan nyebelin."
Sean berjalan-jalan menyisiri lembutnya pasir pantai. Dari jarak kejauhan sepasang bola matanya menjumpai Rubina yang sedang berdiri di ujung sebuah dermaga.
Sean yang sedikit penasaran mencoba mendekat. "Kamu kehabisan obat atau gimana sih? Teriak-teriak gak jelas kayak orang gila aja."
"Enak loh teriak kayak gini. Anggap aja kita lagi ngilangin stress."
"Enggak ah! Saya masih waras. Cukup kamu aja yang stress, jangan libatin saya," tolak Sean.
"Aku liat kamu tadi nerima telpon. Dari siapa?" kepo Rubina.
"Dari fotografer," jawab Sean.
"Apa kata fotografernya. Apa bentar lagi mereka bakalan sampe di sini? Kalo gitu kita balik lagi aja ke vila dan ganti baju."
"Ganti bajunya ntar aja. Soalnya fotografernya lagi ada sedikit kendala."
"Kendala?"
"Dia bilang lewat telepon katanya mereka baru akan tiba di sini sekitar dua jam lagi dari sekarang."
"Hah? Dua jam? Kok lama banget?"
"Ya mau gimana lagi. Udah telanjur juga kan janji sama dia. Kalo misalnya saya reschedule ulang bisa-bisa butuh waktu lama lagi, sementara kamu juga tahu sendiri kalo waktu yang kita punya mepet banget."
"Ya tapi kan tetep aja nunggu dua jam itu lama banget." gerutu Rubina sambil memajukan bibirnya. "Atau gini aja, gimana kalo kita berenang?" ide Rubina. "Kalo berenang kan waktu nunggu dua jam nggak akan kerasa lama."
"Sorry, saya nggak tertarik sama ide gila kamu itu."
"Tapi seru tau!"
"Kalo kamu nganggap itu seru, kenapa kamu nggak renang sendirian aja?" Sean mengeluarkan kembali ponselnya dari dalam saku. Pria itu memainkan ponselnya.