I'm Not Cinderella

I'm Not Cinderella
AMFH 65



...ANYEONG MY FUTURE HUSBAND...


^^^By. Lucifer^^^


Semuanya semakin tidak masuk akal saat Caca mengarahkan perhatiannya kepada layar televisi sebelum kembali menatap kakaknya.


"Apa iya kakak beneran terharu karena nonton TV doang?" Caca bertanya dengan maksud ingin memastikan perkataan kakaknya sebelumnya. Sumpah demi apapun Caca akan benar-benar merasa aneh kalau sampai kakaknya kembali membenarkan tentang alasannya meneteskan air mata karena acara TV.


"Bener. Kakak terharu aja nonton itu."


"Ayolah Kak. Kalo misalnya yang ditampilkan TV saat ini adalah film atau sinetron aku mungkin bisa releate karena kadang aku juga ngelakuin hal yang sama. Kadang memang ada drama atau film yang mengandung bawang alias bikin hati kita sebagai penonton jadi tersentuh hingga tidak sadar meneteskan air mata. Ya, tapi bukan kartun juga dong, Kak!" decak Caca sebal saat kalimatnya tandas.


Agam yang tadinya memberikan alasan nangis karena acara TV pun menoleh ke sana. Dia melihat layar TV sedang menampilkan tayangan kartun. Spongebob Squarepants. Dari tadi memang Agam sedang menonton TV. Hanya saja dia tidak fokus pada apa yang ditampilkan. Dia lebih memikirkan tentang perjuangannya untuk mendapatkan Rubina yang akan berakhir tragis.


"Kok bisa kakak terharu karena nonton kartun. Mana kartunnya Spongebob lagi."


"Memangnya ada aturan orang enggak boleh terharu karena menonton kartun?" tanya Agam.


"Perasaan dari zaman aku masih kecil sampai sekarang aku belum pernah tuh nemu scene yang bikin terharu di kartun Spongebob."


"Ada kok. Barusan kakak nonton."


"Scene yang mana yang bikin kakak terharu?" tanya Caca.


Agam meneguk salivanya. Agam sedang berpikir keras mencari jawaban di kepalanya. "Scene saat Spongebob gangguin si Squidward. Aku kasihan aja sama kehidupannya Squidward yang selalui dikelilingi sama manusia menyebalkan," jawab Agam asal-asalan. Paling tidak dia memiliki jawaban untuk disampaikan kepada adiknya. Ya, walaupun Agam tahu kalau adiknya tidak sebodoh itu untuk mempercayai ucapannya.


Agam yang menemukan adiknya memberi tatapan yang artinya sedang mencurigai memutuskan untuk bangkit sekarang juga. Tidak langsung beranjak. Pria berambut hitam itu lebih dulu menguap― berpura-pura sudah mengantuk.


Setelah itu dia pamit. "Kalau gitu aku ke kamar dulu. Besok aku harus datang pagi-pagi ke kantor jadi harus tidur lebih cepat


***


CACA merasakan debaran jantungnya sendiri ketika melihat Rubina yang turun dari motor yang dikemudikan oleh seorang pria. Caca sudah dari tadi menunggu Rubina di depan gerbang kampus. Syukurlah karena hari ini Rubina datang jadi Caca bisa membahas kembali soal kesalahpahaman yang terjadi waktu itu. Caca berharap masalah itu cepat selesai sehingga dia dan Rubina bisa berteman seperti dulu lagi.


***


"Kak BINA!" Caca tidak membuang waktunya. Begitu pria tampan yang membonceng Rubina telah membawa V4R nya pergi, secepat kilat Caca menghamburkan diri untuk berdiri di hadapan Rubina. Caca memasang senyum terbaiknya.


Ck! Rubina tidak mengatakan apa-apa dia hanya berdecak sebal diikuti oleh bola matanya yang memutar tanda malas.


Caca yang melihat itu menggigit bibir bawahnya selama beberapa saat. "Kak Bina nggak seneng ya liat gue?" tanyanya takut-takut.


"Kata siapa gue nggak seneng liat lo?"


"Soalnya pas gue dateng gue denger decakan sebel. Selain itu kak Bina juga langsung memutar bola mata malas."


"Gue berdecak sebal soalnya lo manggil gue masih dengan embel-embel 'Kak' bukan karena gue nggak mau ngeliat lo lagi. Lagian gue kan udah bilang berkali-kali kalo lo nggak perlu pake embel-embel 'kak' segala. Kita kan kuliahnya di tahun yang sama, ya... terlepas gue lebih tua beberapa tahun dari lo."


"Jadi Kak Bina, eh salah, maksud gue jadi lo berdecak bukan karena kesel ngeliat gue kan?"


"Tentu aja. Emangnya siapa yang bilang kalo gue kesel ngeliat lo?"


"Ya.. Gue takutnya setelah kejadian kemaren lo jadi ngehindarin gue. Apalagi setelah kemarin lo nggak masuk kampus jadi gue mikirnya lo sengaja ngehindarin gue. Oh iya, gue mau jelasin soal kejadian kemarin--"


"Terus kenapa kemarin lo nggak masuk kuliah?"


"Kemarin gue sibuk ngurusin beberapa hal. Oh iya, gue hampir aja lupa," Rubina merogoh tas yang dia bawa. Sebuah undangan dikeluarkan dari dalam sana. "Pokoknya lo jangan lupa buat dateng!" Rubina menekankan sambil memberikan undangan yang ada di tangannya.


"Undangan nikahan?" Caca bereaksi dengan kaget menerima undangan pernikahan dari Rubina. Apalagi sebelum-sebelum ini dia tidak mendengar rumor tentang itu. "Demi apa?" gadis itu masih tidak percaya.


"Iya. Sebentar lagi gue bakalan nikah. Orang yang tadi nganterin gue adalah calon duami gue."


"Si ganteng tadi?"


"Ho-oh."


"Selamat ya, Bi. Gue turut seneng dengernya," di antara perasaan bahagianya terselip memori yang terjadi semalam.


Mendadak saja Caca jadi kepikiran soal kakaknya yang menangis tersentuh karena film kartun. Tapi sekarang Caca sudah punya jawabannya. Kartun hanyalah sebuah alibi. Tentu saja Caca mengerti alasan terbesar kenapa kakaknya sampai meneteskan air mata.


'Sepertinya kak Agam udah tau soal ini, makanya dia bertingkah aneh semalam,' batin Caca.


***




Sudah hampir Setengah jam baik Danniel maupun Sean tidak ada yang berbicara duluan.


Ya, Danniel memang sengaja menghubungi Sean untuk bertemu empat mata sebelum terselenggaranya Ijab kabul antara putri kesayangannya dan Sean.


selama hampir setengah jam itu baik Daniel juga Sean tidak ada yang buka suara lebih dulu.


"Sean..."


"Ya, Om..." ucapnya gugup.


"Saya tau kamu nggak cinta sama putri saya! saya juga tau hanya Bina yang mengejar-ngejar cinta kamu dari dulu sampai sekarang. Dan sekarang kenapa kamu mau menerima perjodohan dari Kakek kamu, selain alasan tidak enak dengan kakek kamu atau apa itu namanya berbakti pada kakek dan kedua orang tua kamu.... it is Bulshit!" ucap ya mempertegas kata terakhirnya pada Sean. "Kalau kamu memang tidak ingin, saya bisa menolaknya sebelum hari itu tiba, apapun caranya saya bisa menggagalkannya meskipun harus berhadapan dengan ayah saya! Saya hanya tidak mau Bina menyesal dengan keputusannya... Meskipun kamu adalah kebahagiaan bagi Bina tapi kalau kamu bersikap kasar atau seenaknya pada putri saya saya tidak bisa terima, jadi sebelum ijab kabul terjadi saya akan bertanya sama kamu. Kenapa kamu menerima tawaran dari Kakek Kamu kalau kamu sendiri tidak menyukainya, atau mencintainya!?"


Sean terdiam sejenak dan menghela napas berat.


"Maaf Om sebelumnya, jujur saya memang tidak menyukai Bina apalagi mencintai Bina, saya memang menyetujui perjodohan ini karena Kakek juga Prof. Tyo, tapi disamping itu, saya menyetujui juga karena ada yang bilang cinta dan sayang bisa hadir setelah pernikahan dilangsungkan, setelah kita terbiasa dengan kehadiran seseorang disamping kita, dan itu juga harapan saya Om, saya juga menginginkan pernikahan hanya sekali dalam hidup saya..." Daniel terdiam menilik kesungguhan dari ucapan Sean.


"Apa kamu ada perjanjian dengan Ayah saya?"


Glek...


"Nggak kok Om, nggak ada perjanjian khusus dengan Prof. Tyo... Apalagi bersangkutan dengan Bina. Mana mungkin Prof. Tyo melakukan itu untuk cucu kesayangannya."


Huft... gue nggak bohong loh, emang beneran ga ada perjanjian apapun, Prof. Tyo emang ngejanjiin gue jadi Ka. SMF Bedah kalo setuju sama perjodohan itu, tapi beliau bilang juga tanpa gue setuju juga gue terep bakalan dijadiin Ka. SMF Bedah kok, ya karena sepak terjang gue dalam hal medislah.. beliau juga pasti liat dan denger dari sana sini kali.. *bukannya gue kepedean tapi emang itulah gue dimata orang-orang. banyak juga senior yang iri sama keahlian gue juga otak gue yang encer ini.


"Insya Allah Om, Saya akan menjaga Bina dan bahagiain Bina*..."