
...ANYEONG MY FUTURE HUSBAND...
^^^By. Lucifer^^^
DAG DIG DUG......
Kalau dijelaskan dengan kata-kata mungkin seperti itulah bunyi hentakan jantung Rubina.
Situasi itu membuat Rubina bisa merasakan dentuman yang berporos di jantungnya sendiri. Dipeluk oleh Sean tidak pernah dia bayangkan akan terjadi dalam waktu dekat. Rubina kira adegan seperti ini akan dia dapatkan mungkin setahun atau dua tahun setelah mereka resmi jadi sepasang suami istri. Itupun kalau dia berhasil membuat Sean jatuh cinta padanya. Tapi memang yah, rejeki enggak ada yang tahu, meski tidak terduga namun inilah rejeki yang Rubina dapatkan.
Di satu sisi jantung Rubina berhasil dibuat berdebar-debar tak keruan oleh pelukan Sean tapi di sisi yang lain Rubina tetap merasakan kecemasan. Mungkin kalau dia tidak mendengar cerita tentang phobia Sean dengan gelap, mungkin Rubina tidak akan merasakan cemas itu. Tapi karena dia tahu, makanya mau tidak mau akhirnya dia ikut khawatir.
"Saya minta maaf karena udah meluk kamu seenaknya, tapi saya beneran takut sama yang namanya gelap." Sean mengatakan tanpa mengendurkan pelukannya pada gadis yang sebenarnya sah-sah saja untuk dia sentuh mengingat statusnya yang merupakan istrinya sendiri. "Saya janji saya bakalan ngelepasin pelukan saya dari badan kamu pas lampunya udah nyala," janji Sean.
'Fiuuuhh... Syukur deh' Rubina membatin ketika ruangan itu kembali dibungkus cahaya setelah lampu di langit-langit kembali menyala. Karena keadaan sudah kembali normal, Rubina memutuskan untuk menghentikan pelukan itu. Karena baginya pelukan yang diberikan oleh Sean terlalu kuat dan membuatnya agak kesulitan dalam bernapas.
"Jangan.... Saya mohon jangan lepasin tangan saya. saya mohon. Nanti kalo lampunya udah nyala saya bakalan lepasin pelukannya!" ucap Sean.
Rubina mendongakkan kepalanya. Dia melihat Sean masih memejamkan matanya. Pantas saja pria itu mengira suasana ruangannya masih gelap.
"Mmhh... Masalahnya lampunya udah nyala, By. Tapi kalo kamu nikmatin pelukannya, kamu bisa langsung memintanya kapan pun kamu mau."
Sean membuka matanya perlahan-lahan. Saat dia menemukan ruangan kembali terang benderang seperti sedia kala dia lantas melepaskan tangannya yang melingkari tubuh mungil Rubina. Pria itu melanjutkan dengan langkah mundur membentangkan jarak dengan Rubina.
Suasana jadi canggung. Baik Rubina maupun Sean merasakan kecanggungan itu. Namun di antara mereka berdua justru yang paling kelihatan kecanggungannya adalah Sean. Sean sudah kehilangan keberanian untuk balas menatap Rubina setelah kejadian dia memeluk gadis itu mendadak. Ya, walaupun Sean punya alasan kuat kenapa melakukan itu tapi tetap saja dia tidak bisa menghilangkan itu.
"Lampunya padahal udah nyala dari tadi loh, tapi kamu masih meluk aku? Aku pikir kamu nikmatin meluk aku..."
"Saya capek. Kayaknya saya harus istirahat sekarang." Sean mengambil barang-barangnya lalu berjalan menuju ke kamarnya.
Sudah jelas yang dia sampaikan pada Rubina saat itu hanyalah sebuah alasan untuk menghindar.
Rubina tersenyum dan segera mengipasi pipinya yang memanas karena sedari tadi dia memang merasakan perasaan canggung, hanya saja dia berusaha untuk menahannya karena tidak ingin memperlihatkan itu di depan Sean.
"Definisi rejeki nggak terduga."
Rubina diam di tempat menenangkan hatinya dengan menghela napas singkat beberapa kali. Setelah merasa sudah agak baikan. Gadis itu menyusul Sean tanpa lupa serta koper-kopernya ke kamar.
Saat pintu kamar terbuka terlihat Sean yang tidak jadi membuka kaos yang melekat di tubuhnya. Pria itu menatap bingung. Sejurus kemudian sebuah pertanyaan diungkapkannya.
"Ngapain kamu ke sini?"
Rubina hanya menatap dengan bingung merespon pertanyaan yang diajukan oleh Sean.
"Kamu nggak punya mulut buat jawab pertanyaan saya?" Sean bertanya lagi merespon kebungkaman Rubina. "Saya tanya ngapain kamu di sini?" ulangnya.
"Aku nggak ngerti maksud pertanyaan kamu, Bi."
"Saya tanya sama kamu, ngapain kamu ada di sini, di kamar saya?" Sean kembali bertanya, hanya saja kali ini dia sedikit memperjelas pertanyaannya.
"Ya karena aku bakalan tidur di kamar ini sama kamu."
"Terus kalo aku nggak tidur di kamar ini, aku tidur di mana?"
"Di sebelah ada kamar tamu. Kamar itu biasanya ditempati sama Nino kalo dia nginep di sini. Kamar itu juga udah dibersihin jadi kamu bisa langsung tidur di sana malam ini. Ah iya sama satu lagi, di sana ada lemari yang bisa kamu gunain buat nyimpen pakaian kamu itu." Sean menunjuk menggunakan dagu koper yang Rubina bawa.
Rubina memelas mendengar ucapan Sean. "Kok gitu sih, Bi. Kenapa kita harus pisah kamar. Aku kan nggak bisa hidup tanpa kamu."
"Enggak usah lebay!"
"Bukannya lebay, tapi serius kenapa pakai acara pisah kamar sih? Kan waktu kita di vila kita juga berbagi kasur. Dan waktu itu kan aku nggak macem-macem, aku nggak *****-***** kamu kan?!"
"Kalau ngomong bisa gak sih pake filter?"
"Lagian kamu sih Bi, pakek pisah kamar segala."
"Mendingan kamu pergi dari kamar saya sekarang. Saya mau istirahat."
"Tapi By..."
"Mau tidur di kamar sebelah atau kamu tidur di luar?"
"Iya, iya, aku tidur di kamar sebelah. Tapi awas aja ya kalau sampe kamu kangen sama aku. Aku nggak bakalan dateng nyamperin kamu."
"Itu nggak akan kejadian lagi. Udah, mendingan kamu cepet pergi soalnya saya nggak tahan liat wajah kamu !" usir Sean.
"Kamu ini bener-bener ya, By. Tadi aja waktu lampunya mati kamu melukin aku sampe aku ngerasa sesek napas. Tapi giliran sekarang lampunya udah nyala kamu malah nyuruh aku buat tidur di kamar sebelah."
"Udah ngebacotnya? Kalo udah mendingan kamu keluar sekarang juga! Saya ngantuk dan pengen istirahat."
Dengan perasaan dongkol Rubina balik badan. Dia pergi dengan sengaja menyentak-nyetakkan kakinya agar memperjelas tentang suasana hatinya saat itu kepada Sean.
"RUBINA!!!" panggilan itu dibarengi oleh gedoran di pintu. "BINA ayo bangun!" Sean kembali menyusulkan gedoran pintu saat melanjutkan ucapannya.
Rubina yang baru bangun seketika bangkit dari ranjang menuju ke pintu kamar.
"Ck... Ada apa sih By? Heboh bener pagi-pagi?" tanya Rubina sambil mengucek-ngucek matanya. "Kamu kayak baru ketemu hantu saja!"
"Di depan ada Ibu saya, ayo mendingan kita bersihin kamar ini. Takutnya Ibu masuk ke kamar ini dan ngeliat kamarnya berantakan. Saya enggak mau ibu tau kalo saya nyuruh kamu tidur pisah kamar."
"Lah kan kenyataannya emang gitu. Salah ya kalo ibu tahu soal kamu yang menyuruh aku tidur di kamar lain?"
"Kalo ibu tau soal itu dia pasti bakalan marahin saya habis-habisan. Ayo cepet bantu saya rapihin kamar ini!" suruh Sean. Dia bergerak duluan memasuki kamar yang menjadi tempat beristirahat Rubina semalaman. "Ini kamar atau kandang sapi sih? Berantakan amat," keluh Sean melihat kamar sudah sangat berantakan padahal belum genap dua puluh empat jam yang lalu dibersihkan oleh jasa kebersihan. "Jangan cuma liatin aja, bantuin saya! Di luar ibu udah nungguin loh!"
"Bantu kamu buat apa? Bantu kamu buat jatuh cinta sama aku?"
"BINA," ucap Sean menekankan. "Sekarang bukan waktunya buat bercanda. cepet bantuin saya!"
Rubina berhenti untuk mengungkapkan kalimat candaan. Sekarang dia dengan gerakan buru-buru merapikan kamar mengikut suaminya. Setelah semuanya beres keduanya bergegas menuju ke pintu utama. Sean adalah orang yang membuka pintu.
"Ibu pikir kalian berdua lagi nggak ada di apartemen. Soalnya dari tadi Ibu ngetuk-ngetuk pintu tapi nggak ada jawaban. Ibu hampir aja pulang kalau kamu telat beberapa detik buka pintunya," setelah mengatakan itu Marisa menyadari adanya sesuatu yang janggal pada diri putra dan juga menantunya. Dia melihat Sean, begitu pun dengan Rubina sedang memperlihatkan dada kembang kempis seperti keduanya baru saja mengikuti ajang lari maraton.