I'm Not Cinderella

I'm Not Cinderella
AMFH 88



...ANYEONG MY FUTURE HUSBAND...


^^^By. Lucifer^^^


Sean yang sudah merasakan kepanikan di detik awal saat melihat darah segar itu, kini semakin panik saja saat melihat Rubina mengulum jari tangannya.


"Emangnya kenapa By? Aku sering kok ngelakuin ini kalo tangan aku luka."


"Jangan dibiasain buat mengulum tangan kamu kalo lagi luka. Soalnya nggak semua hal yang kita pikir baik bakalan selamanya baik. Bisa jadi tindakan kamu tadi bakalan buat luka di tangan kamu makin parah. Bukannya nakut-nakutin, tapi luka kecil itu takutnya bakalan berakhir jadi luka parah karena infeksi."


Sean tanpa memikirkan lagi yang namanya gengsi menggenggam kuat tangan milik istrinya menuju ke westafel. Setibanya di sana Sean mencuci luka di tangan Rubina dengan air mengalir.


"Tunggu di sini bentar," ucap Sean sambil dia memutar keran sehingga air tidak lagi mengalir. "Saya mau ambil kotak P3K di kamar. Ingat, jangan dikulum lagi lukanya!” Sean memperingatkan sebelum dia berlari-lari kecil menuju kamar.


Sean kembali dengan sebuah kotak. Tanpa banyak membuang waktu Sean mulai mengobati luka di tangan Rubina. Padahal luka di telunjuk Rubina menyisakan rasa perih tapi anehnya gadis itu malah tersenyum. Tentu saja alasan tersenyum bukan karena luka, melainkan karena perhatian yang didapatkan dari suaminya.


"Nah udah selesai!" ucap Sean setelah selesai membantu membalut dengan plaster luka di tangan istrinya.


"Makasih By. Bersyukur banget aku punya suami dokter.”


"Hmmm."


"Kalau begitu aku lanjutin lagi motong kentang dan wortelnya ya," Rubina baru hendak angkat kaki saat Sean mencegatnya.


"Nggak usah," ucap Sean. "Mendingan kamu duduk aja!"


"Tapi By, tugas aku kan blum selese, gegara insiden tadi kerjaan aku kan jadi ketunda."


"Udah, biar saya aja yang selesein.”


"Tapi By."


"Kamu duduk aja!" Sean menekankan. “Emangnya belum puas setelah sebelumnya kamu ngelukain tangan kamu? Nasib baik cuma teriris dikit aja." Sean tidak punya pilihan. Dia mendaratkan kedua tangannya di pundak milik istrinya sambil dia menuntun gadis itu ke meja makan yang letaknya masih di ruangan yang sama tempat dia memasak. Tak sampai di situ saja Sean membuat gadis itu terduduk menggunakan tenaganya. "Nah gitu kan lebih bagus. Oh ya, hari ini bukannya kamu ke kampus? Bolos ya?" tuduh Sean.


"Aku nggak bolos By. Dosennya emang lagi ada urusan ngedadak makanya nggak ada jadwal kuliah buat hari ini. Kamu sendiri hari ini nggak masuk kerja?" Rubina balik bertanya sembari membuat kepalanya mendongak memperhatikan wajah suaminya.


"Masuk kok, cuma saya emang udah pesen sama perawat di rumah sakit juga klinik kalo hari ini saya masuknya bakalan sedikit telat."


***


RUBINA membungkuk dengan kedua telapak tangan menyentuh bagian tempurung lutut. Sungguh, dia benar-benar sangat lelah sampai-sampai dia masih bisa merasakan pompa jantungnya. Rubina masih mencoba untuk menetralkan perasaannya setelah berolahraga. Ya, walaupun sebenarnya berolahraga bukan passion Rubina tapi karena dia ingin menikmati quality time nya dengan Sean sehingga dengan terpaksa dia ada di sini.


Ya, hari ini Sean pulang cepat dari Rumah Sakit karena Klinik tempat dia praktek hari ini tutup. Mumpung masih sore dan Sean yang saat itu lagi bosan di apartemen sehingga tercetuslah sebuah ide di dalam kepalanya untuk berolahraga di sekitar apartemen. Itung-itung buat bakar kalori.


"Kenapa? Capek?" tanya Sean. Belum juga mendengar jawaban dari Rubina dan dia melanjutkan, "Kan udah saya bilang kamu nggak usah ikut segala, di apartemen aja sama Lion. Tapi saking bebalnya kamu kalo dibilangin," Sean turut serta memperlihatkan gelengan kepala memperdengarkan decakan. Sementara matanya terus memperhatikan Rubina yang telah meninggalkan posisi berbungkuk memegangi kedua tempurung lutut. Kini gadis itu sudah berdiri dengan tegak.


"Pulang yuk By? Aku udah capek nih setelah lari!”


"Kamu duluan saja," titah Sean.


"Loh, emangnya kamu nggak mau pulang?”


Terlihat Sean menyambut bola basket yang tergeletak. "Eh, kenapa kamu kesini? Bukannya kamu mau pulang?"


"Enggak jadi By. Males kalo pulang sendiri. Mending di sini bareng kamu."


"Ya udah terserah kamu saja," ujar pria dengan singlet putih tersebut.


"Kamu emangnya jago main basket?"


"Kamu lagi ngeraguin skill main basket saya"


"Bukannya ngeraguin, By. Tapi aku nggak pernah liat kamu main basket. Hmmm seingat aku sih gitu, By. Oh iya, By. Aku nonton kamu di tribun aja ya, soalnya aku males main basket. Dulu aja waktu SMA kepaksa soalnya wajib pas pelajaran olahraga.” Rubina balik badan menuju ke tribun.


Merasa sangat terhibur karena Rubina menyaksikan suami tampannya sedang memasukkan bola ke keranjang. Sean berulang kali memasukkan bola ke keranjang dan semua percobaannya berhasil sampai akhirnya bola itu menggelinding menghampiri Rubina di tribun. Tolong lempar bolanya ke sini!" perintah Sean.


Rubina meninggalkan duduknya. Rubina memunguti bola basket tersebut. "By, kira-kira kalo aku lempar dari sini bakalan masuk ke keranjang nggak?" tanya Rubina membesarkan volume suaranya mengingat jaraknya dengan Sean cukup jauh.


"Nggak mungkin lah, jarak dari sana terlalu jauh. Bahkan dengan kamu berdiri di sini aja nggak bakalan masuk bolanya ke keranjang." Sean membawa bibirnya ke samping tersenyum miring khas sedang meremehkan istrinya.


"Begini saja By. Kalo bolanya masuk ke keranjang pas aku lempar dari sini, maka kamu harus nurutin semua permintaan aku! Gimana? Deal?"


"Ok, deal! Tapi permintaan kamu jangan yang macem-macem ya!"


"Ok," setuju Rubina.


"Tunggu bentar. Karena menurut saya itu sangat mustahil, maka saya bakalan ngasih ciuman bibir kalo kamu berhasil masukin bola itu ke keranjang." Sean menganggap itu terlalu mustahil sehingga sebuah janji pun terucap dengan mudah dari bibirnya.


Rubina melebarkan matanya.


"Yakin By? Berarti selain aku bisa minta sesuatu sama kamu, aku juga bakal dicium?"


"Emang itu kan yang kamu mau?" Sean geleng-geleng kepala. "Sebaiknya kamu jangan seneng dulu. Belum tentu kamu bisa ngedapetin ciuman dari saya karena saya yakin seratus persen kamu nggak bakalan mungkin bisa masukkin bolanya ke dalam keranjang sana!"


"Kita liat aja!" Rubina dengan semangat empat lima mengarahkan atensinya kepada tempat dia harus memasukkan bola. Meskipun dia sendiri menyimpan keraguan bisa melakukannya atau tidak, tapi hal itu tidak menyulutkan semangatnya.


Rubina mengeker targer dengan bola yang diangkat di depan wajahnya, lalu melakukan shooting dengan percaya diri. Bola pun mengudara dengan kecepatan yang lumayan. "i get you baby" gumam Rubina sambil tersenyum miring dengan sorot mata yang mengikuti bola basket, dan...


"Yes!" Rubina bersidekap sombong melihat ke arah Sean saat bola yang dilemparnya berhasil masuk ke keranjang.


Sementara Sean merubah raut wajahnya dengan segera. Kini tidak ada lagi raut meremehkan yang dia tampilkan seperti sebelumnya, sekarang justru digantikan oleh raut muka kaget. Saking tidak percayanya Sean dengan apa yang barusan dia lihat sampai pria itu mengucek matanya hingga matanya itu tampak memerah.


Alasan paling tepat Sean menampilkan raut muka seperti itu bukan karena Rubina yang berhasil memasukkan bolanya ke keranjang. Sean sampai memperlihatkan muka panik karena dia teringat dengan janji yang terucap dari bibirnya semenit yang lalu.


"Shittt, pake masuk segala lagi bolanya. Mana saya udah telanjur bikin janji akan menciumnya," gumam Sean. Ada sesal yang dia rasakan karena sebelumnya dia terlalu jumawa tapi pada akhirnya dia merugikan dirinya sendiri.


"Hubby... Aku cuma bilang males pas maen basket loh, bukan ga bisa maen basket. Ya.. kalo dipaksa buat maen sih aku bisa-bisa aja, dan... cuma ngingetin aja ya By, dalam bidang olah raga aku jagonya nilai aku diatas rata-rata..." ucap Rubina sambil menepuk pundak Sean sambil tersenyum puas.