I'm Not Cinderella

I'm Not Cinderella
Ekstra Part 4 Kisah Hans



Pria itu benar-benar merasa beberapa bagian tubuhnya sakit, dia kurang istirahat. Bukan hanya lelah dalam pekerjaannya, Hans juga merasa penuh isi kepalanya. Pernikahan ini membuat Hans merasa bersalah dalam beberapa hal, cemas kalau ini pilihan yang tidak tepat.


Hans menyeruput cokelat hangatnya, kemudian merasakan pijitan pelan dari kedua jemari lentik istrinya. Dimulai dari bagian bahu dan daerah leher bagian belakang Hans, kemudian turun ke lengan atas kiri dan kanan.


Jujur saja, Hans merasa rileks, apalagi pijatan itu begitu berasa sehingga membatu meredakan sedikit pegalnya.


"Mas mau dipijitin di kepala juga?" segala sesuatunya, Nadin selalu izin terlebih dahulu. Dia takut Hans menganggap Nadin tidak sopan, meski seluruh bagian diri Hans adalah hak Nadin-- begitupun sebaliknya, mereka sudah menikah, sah secara agama maupun hukum negara. Hanya saja masih begitu sungkan, jika nanti keadaan sudah menjadi lebih baik, mungkin tidak terlihat lagi sungkannya.


"Iya." Hans mengangguk singkat, lalu memejamkan kembali kedua matanya menikmati rasa nyaman yang ditimbulkan oleh pijatan itu.


"Lain kali kalau Mas ngerasa udah sangat lelah, istirahat aja. Pekerjaan masih bisa dikerjakan nanti, sementara kesehatan Mas nggak bisa ditakar dan ditunda-tunda kapan mau jatuh sakit." Hans hanya bergumam pelan untuk menjawab, selanjutnya kembali memilih diam adalah jurus andalannya.


Usai memijat beberapa bagian tubuh Hans, pria itu melahap sereal yang dibikinkan Nadin tadi. satu mangkuk kecilnya habis tanpa tersisa, begitupun dengan cangkir cokelat hangatnya. Hanya hal sekecil ini, Nadin sangat bahagia.


"Mas mau mandi sekarang?" tanya Nadin kemudian. Menyadarkan Hans dalam lamunannya saat tengan duduk santai setelah menghabiskan sereal.


"Hmm... sebentar lagi!" Hans mengambil tablet miliknya menyalakan layar benda pipih dan canggih tersebut untuk memeriksa email yang masuk. Tadi sekretaris Danniel yaitu Ryuji menghubungi katanya dia akan mengirimkan file hasil rapat kemaren. Hans akan memeriksa dan merevisi kembali jika masih terdapat beberapa kesalahan dan kekurangannya.


"Jangan pakai pakaian itu kalau keluar ruangan." tanpa menoleh dan terlihat begitu santai, Hans kembali membuka suara.


"Tadi.. aku beres-beres apartmen, masak dan nyuci, semua di ruangan kok!"


"Tadi kamu sempat ke balkon apartmen kan?" buset tau darimana lagian aku nggak sadar juga kalo ke balkon, ngapain ya aku tadi ke balkon? aaahh.. bukain pintu doang biar matahari masuk ke dalam rumah.


Hans akhirnya menoleh kearah Nadin menatap malas. "kamu nggak sadar kalau di depan balkon, atas, bawah samping kiri kanan itu ada orang yang mungkin aja berpenghuni laki-laki." Nadin mengerutkan kening masih tidak mengerti dengan perkataan Hans. "Di kamar aja kalau kamu mau berpakaian seperti itu. mengerti?!" ulangnya setelah membaca raut wajah Nadin.


Beberapa saat baru memahami, Nadin akhirnya mengangguk mengerti. "Ya, aku akan pakai di dalam kamar aja, Mas!"


Hans kemudian mengalihkan tatapannya dari Nadin. Membuka celana dan kemeja, memasukkannya ke dalam keranjang pakaian kotor.


Nadin yang melihat pemandangan itu hanya merapatkan kedua bibirnya. Dia tidak tahu harus melakukan apa, ini benar-benar sangat terlihat jelas.


Tubuh besar dan kekar Hans hanya ditutupi oleh celana ketat pendek berwarna hitam.


"Pagi ini bisa?"


"Melayani saya."


Mulut Nadin terbuka tidak menyangka Hans akan menagih haknya sekarang. Dada Nadin langsung berdebar kencang, berpacu tak terkontrol.


"S- sekarang?" Hans mengangguk pelan. Sangat berbanding terbalik dengan perasaan Nadin yang seperti terdapat petasan di dalamnya, Hans justru terlihat tidak terbebani sama sekali.


"Saya akan kembali ke kediaman Henney setelah ini dan ke kantor juga. Malam saya baru pulang ke apartment dan ingin segera istirahat." Tidak tau ini ide yang tepat atau tidak. Hans Hanya merasa semakin bersalah jika tidak memenuhi kebutuhan yang satu ini sementara Nadin sudah menjadi istrinya. Wanita itu pasti akan bersedih dan merasa begitu diabaikan. "kalau nggak---"


"Iya!" jawab Nadin mengangguk cepat. "terserah Mas Hans aja, soalnya kan semua yang ada pada diri aku udah jadi miliknya Mas. A- aku nurut aja!" Dengan perasaan tak menentu, Nadin akhirnya mengiyakannya. Persetan sama langit yang udah berubah terang, kapan aja waktunya akan terasa sama istimewa.


Hans menginginkan dirinya, nggak mungkin juga kan Nadin menolaknya. "Hmm... tapi Mas, aku belum mandi..." ucapnya ragu menghentikan Hans yang memajukan wajahnya ingin mengecupnya.


Hans nggak memperdulikan ucapan Nadin, lalu terus mengecup kening juga puncak kepala wanita itu. "tetap wangi." Pujian singkat dan masih terdengar dingin itu buktinya mampu membentuk senyuman di bibir Nadin. Hans membalik tubuh Nadin agar membelakanginya, melingkarkan lengannya perlahan pada perut wanita itu. Hans memeluk hangat, Nadin merasakannya dengan penuh cinta. Mengusap lengan Hans, memanjat doa pada Allah swt agar hubungan mereka segera membaik setelah hari ini.


Nadin semakin tidak karuan rasa, saat dia telah merasakan hembusan napas hangat dari Hans yang mulai menerpa daerah leher dan punggung bagian atasnya. kecupan demi kecupan singkat Hans daratkan di sana. Mulai dari daerah leher bagian belakang, punggung dan kedua bahu Nadin. Bulu kuduk Nadin meremang seketika, dadanya seakan ada yang ingin meledak, rasanya sangat sulit diartikan. Ini benar-benar menakjubkan dan hal baru untuk seorang Nadin.


Sudah puas dengan daerah belakangnya, Hans memutar tubuh Nadin untuk menghadap padanya. Pipi Nadin berubah menjadi merona merah, dia langsung menunduk sebab malu yang teramat dalam.


Tubuh Nadin mendadak kaku saat Hans mengikis jarak diantara mereka, memberikan kecupan singkat di keningnya lagi. Jantung Nadin berdebar tidak terkendali, sebelumnya tidak pernah terbayang sedikit pun jika rasanya akan semendebarkan ini. Ketika perlahan bibir Hans menyentuh permukaan wajahnya-- kedua pipi, dagu dan ujung hidung, Nadin sampai menahan napas, benar-benar tidak tahu lagi bagaimana menggambarkan perasaannya. Ini hal baru yang menimbulkan sensasi asing, berusaha menikmati walau begitu canggung dan kaku.


Hans mengangkat dagu Nadin, menatapnya beberapa saat. Ketika Hans akan memajukan wajahnya ingin menyentuh bibir Nadin, reflek wanita itu menjauhkan wajahnya. Kemudian berjengkit, melebarkan mata dan langsung merasa bersalah. "Mas.. aku nggak bermaksud--"


"Ini yang pertama bagi kamu?" tanya Hans.


Ragu, Nadin menganggukan kepalanya. Kendati sudah menginjak usia dua puluh tujuh tahun, tetapi Nadin benar-benar tak pernah melakukannya. Ini yang pertama kali baginya, bersama Hans seseorang yang dari dulu Nadin sukai. Nadin sangat bangga sekali saat berada di masa ini, dimana saat dia bisa menyerahkan harta dan mahkota paling berharga kepada seorang yang seharusnya milik kita, yaitu Suami.


Hans sedikit terkejut. Benarkah dia yang menjadi pertama baginya? Allah sedang menunjukan kebaikanNya. Jujur Hans bukan pria baik--sangat jauh dari kata itu, mungkin dia selama menjadi anak buah Danniel Hans tidak pernah menyentuh wanita karena tentu saja agar bisa menjaga Danniel, tapi sebelum mengenal Danniel, Hans adalah seorang pria buruk yang setiap harinya selalu bermalam dan gonta gantii wanita untuk memuaskan hasratnya, mabuk-mabukan malah pernah pecandu obat. Tapi lihatlah sekarang...


Allah swt hadirkan Hans wanita seperti Nadin, dengan tubuh yang tidak pernah terjamah oleh pria lain sebelumnya.


"Rileks," gumam Hans sebelum benar-benar meraih bibir Nadin. Dan untuk pertama kalinya Hans metasa bersyukur sekali.


Asal kalian tahu terutama wanita, dalam sejarah para pria, meskipun pergaulan dan dunia mereka nampak gelap... percayalah setiap pria menginginkan wanita baik-baik untuk menjadi calon ibu dari anak-anaknya kelak.