
...ANYEONG MY FUTURE HUSBAND...
^^^By. Lucifer^^^
"Bi!" Emerald memanggil adiknya menggunakan nada rendah. Emerald memanfaatkan keadaan mobilnya yang berhenti lantaran lampu lalu lintas sedang mempelihatkan warna merah. Merasa aneh karena adiknya tidak merespon, Emerald pun menolehkan muka ke samping. Ditemukannya sang adik yang sedang mengarahkan titik fokus penglihatan ke satu titik. Bukan itu saja yang dijumpai oleh Emerald. Pria dengan setelan kantor itu juga menemukan adiknya sedang tersenyum simpul.
"Bina!" panggilan Emerald kali ini dibarengi oleh gerakan tangan menyentuh bahu adiknya.
Rubina menyentak kaget. di dalam imajinya runtuh seketika. Sejurus kemudian dia mengarahkan fokus ke kakaknya dan keduanya pun saling mengadu pandangan.
"Kenapa Kak?" Rubina menatap dengan tatapan yang begitu intens.
"Dari tadi lo ngelamun sambil senyum-senyum terus. Sampe panggilan gue yang pertama nggak lo respon. Lo lagi mikirin apa sih, Bi?" Emerald bertanya. Cukup penasaran mendengar jawaban yang akan disampaikan oleh adiknya nanti. Dan juga, Enerald jarang atau bahkan tidak pernah melihat adiknya melamun sambil senyum-senyum seperti tadi.
"Nggak kok Kak. Fue cuma lagi mikirin masalah kuliah aja," Rubina memilih untuk berbohong, Rubina tidak ingin membagikan bahwa Sean sedang memenuhi ruang dalam imajinya, sampai gadis itu tersenyum tanpa sadar.
"Kuliah? lo nyoba bohongin gue yah, Bi? Gue kenal banget, lo nggak bakal senyum-senyum kayak gitu cuma hal sepele. Apalagi masalah kuliah, mustahil banget lo kalo cuma karena itu!" Emerald menyampaikan keraguannya pada jawaban Rubina. Emerald merasa ada yang ganjil dengan jawaban, juga dengan gelagat Adiknya yang semakin menambah kadar keyakinan Emerald bahwa adiknya sedang mencoba membohonginya.
Karena lampu lalu lintas masih memperlihatkan warna merah, membuat Rubina mencoba mencaritahu sendiri perihal yang membuat adiknya sampai mesem-mesem seperti tadi. Emerald memperhatikan tas berisikan laptop yang sedang dalam pelukan adiknya. "Oh, gue paham sekarang," Emerald membuat kepalanya mengangguk. Baru saja dia berhasil merangkai hal yang sekiranya cukup masuk akal untuk dijadikan sebuah alasan. "Lo senyum-Senyum sambil ngelamun kayak tadi karena bentar lagi... Lo akan ketemu sama Sean kan?" Emerald semakin menyipitkan matanya tanda mencurigai.
Sementara itu Rubina yang wajahnya dijadikan pusat perhatian oleh sang kakak jadi gugup sendiri. Sampai-sampai Rubina meneguk ludahnya kasar.
"Eh, Kak, lampunya udah ijo tuh," beruntung lampu lalu lintas berubah warna jadi hijau Rubina memiliki alasan untuk menghindari ucapan kakaknya. Emerald merespon yang Rubina katakan. Emerald mengalihkan fokusnya dari wajah adiknya menuju ke jalan depan, lalu melajukan kembali mobilnya. Namun tidak berangsur, beberapa saat kemudian Emerald kembali menanyakan hal yang serupa. "Lo belum sempat jawab pertanyaan gue. Benar kan dugaan gue kalo lo senyum-senyum soalnya bentar lagi lo mau ketemu sama Sean?"
Rubina memilih untuk membungkam. Meski begitu kebungkaman Rubina saat itu diartikan oleh Emerald sebagai tanda bahwa adiknya mengiyakan pertanyaannya. "Lo sebahagia itu yah Bi bisa dijodohin sama Sean?" tanya Emerald.
"Hmmm, iya Kak. Gue sebahagia itu buat dijodohin dengannya," Rubina mengakui perasaan dia yang sebenarnya kepada sang Kakak.
"Lo beneran cinta sama Sean, atau lo cuma tertarik aja sama dia cuma karena dia seorang dokter?" Emerald masih menatap ke depan. Dia tidak ingin membuang fokusnya ke arah lain karena sedang mengemudi. Baginya tidak ada yang paling penting selain yang namanya keselamatan. Apalagi dia juga sedang besama dengan adiknya.
"Kak Eme pikir gue cewek apaaan?" Emerald pun hanya tertawa mendengar cotehan sang adik.
"Ah iya, kita kembali ke topik awal, soal pertanyaan Kak Eme tadi, gue nggak setuju sama sekali. Gue suka sama Sean bukan karena profesinya sebagai seorang dokter."
"Kan gue udah bilang kalo gue udah kenal Sean pas gue lagi SMA dan dia lagi magNg coas. Waktu itu Sean adalah Ketua coas dan itu pertemuan pertama kita."
"Koreksi kalau gue salah, tapi gue malah lihat Sean ngasih reaksi yang sebaliknya sama lo. Gue liat Sean kayak nggak punya perasaan lebih kayak yang lo miliki."
"Emang Iya. Sejak gue masih SMA aja sampe sekarang Sean emang belum punya perasaan lebih sama gue. Bahkan bisa dibilang kalo cinta gue bertepuk sebelah tangan. Tapi karena dia cowok pertama yang buat jantung gue deg-degan, maka gue nggak mau nyerah. Buktinya sekarang gue dan dia sedang dalam tahap perjodohan. Gue yakin banget, kalo gue dan Sean emang ditakdirin buat bersama."
"Hah... Bi... Bi... Asal lo seneng gue dukung deh... Eh by the way nih, Ngomong-ngomong lo tahu lokasi apartemennya ga?"
"Ah iya," Rubina merogoh sakunya, mengambil secarik kertas yang sebelumnya diberikan oleh tante Marisa. Lalu kertas tersebut diarahkan di depan wajah kakaknya. "Nih alamat apartemennya Sean, tante Marisa yang ngasih sebelum kita berangkat."
"Oia, gue hampir lupa ngomong sama lo. Hari ini gue ada rapat sama investor. Jadi gue harus cepet-cepet ke kantor. Lo nggak bakalan lama kan pas di apartemennya Sean?"
"Ck.. Duh... Takutnya kalo gue bilang enggak lama, tapi tar malah lama. Atau gini aja, Kak. Kak Eme langsung berangkat aja ke kantor pas udah nurunin gue di depan apartemennya Sean. Ntar gue bisa naik taksi online atau mungkin ojek online pas ke kampus. Lagian jarak kampus sama apartemennya Sean udah nggak seberapa kok Kak."
"Ok kalo gitu. Udah nurunin lo di apartemennya Sean, gue lamgsung cabut ke kantor buat ketemu investor."
***
Rubina memutuskan untuk segera masuk ke gedung apartemen sesuai dengan alamat yang tertera pada secarik kertas pemberian tante Marisa. Seperti kesepakatan mereka sewaktu masih di mobil tadi, Emerald memutuskan untuk langsung bergegas ke kantor usai menurunkan adiknya di depan lobi apartemen.
Ting!
Rubina memasuki lift dengan senyum yang semakin merekah. Seakan dia tidak bisa bersabar untuk segera berkunjung ke apartemennya Sean. Senyum yang menggambarkan keceriaan terus dia perlihatkan.
"Duh, kok gue jadi deg-degan gini yah," gumam Rubina. Telapak tangannya ditempelkan di depan dada, merasakan debaran di sana.
Saat tiba di depan pintu apartemen milik Sean, perasaan itu semakin terasa, membuat pompa jantung Rubina semakin tidak seirama saja. Rubina gugup dan dia segera mengembuskan napasnya sebagai cara untuk meredam perasaan anehnya. Sesaat setelah merasa agak enakan tangannya pun terulur menekan bel.
Rubina sempat beberapa kali menekan bel sebelum akhirnya pintu itu terbuka menampilkan sosok pria tampan yang selalu saja membuat Rubina jatuh cinta tiap kali melihatnya.