
Braaaakk!!
Nadin membuka ruangan Aquila yang ternyata kosong.
"Loh... Mba Nadin, nyari Bu Aquila?"
"Iya... apa dia udah dateng?"
"Loh... Emangnya Bu. Aquila nggak bilang sama Mbak Nadin kalo 3 hari ini Bu. Aquila ada keperluan di luar kota." Nadin pun langsung memegang perutnya yang kembali sakit.
Nadin pun menelepon Hans, tapi bukan Hans yang menjawab tapi meain otomatis yang menandakan handphonenya Hans sedang tidak aktip.
Shitt!!!
Nadin lalu memanggil nomor Althea sambil menetralkan napas dan suaranya.
"Hallo Nad, kenapa?"
"Hallo, Kak... Apa Mas Hans ada disana?"
"Nggak kok, Nad. Bentar, Yang Hans ada di ruang kerja kamu?" teriak Althea pada suaminya.
"Dia ada tugas ke luar kota selama beberapa hari... emang siapa yang telpon?" Mendengar itu Nadin langsung menutup telponnya memejamkan matanya merasakan sakit di perutnya datang lagi.
"Aakkhh... sshhtt..." Nadin pun berjalan sambil berpegangan ke dinding.
***
Sementara itu di Kota Kalimantan...
Hans dengan lancarnya mempresentasikan kerjaannya agar tender yang dia kerjakan menang melawan perusahaan lain.
Setelah berjam-jam Hans meeting dengan beberapa perusahaan pesaing dan klien akhirnya meeting itu pun selesai.
Saat Hans keluar ruangan ada beberapa perwakilan dari perusahaan pesaing yang saling menyapa dan saling mensuport tak terkecuali Hans, tapi emang dia orangnya lempeng ya... jadi saat sudah beres berbincang Hans pun kembali ke ruangannya untuk mengecek Handphonenya dan ternyata benar handphonennya mati karena kehabisan baterai.
Setelah menyalakan Hanphonenya banyak panggilan tak terjawab dari Danniel, Dany, Nadin juga beberapa klien lainnya.
Hah.. ada apa nih? nelpon serempak begini!
Hans pun menelpon Danniel terlebih dahulu untuk memastikan dan juga melaporkan masalah meeting tadi.
"Ya, Boss!! Apa??? benarkah?? baik Pak saya pulang sekarang juga! Masalah di sini saya akan serahkan pada Rafael." Hans lalu menutup telponnya dan menghubungi Nadin. Tapi sekarang giliran Handphonenya Nadin yang sekarang tidak aktip. Lalu Hans langsung menelpon Dany.
"Dan, kamu tau Nadin dimana?"
"Dia sedang bersama Bastian Boss...."
"What??? ck... ngapain lagi mereka?"
"Sepertinya ada yang memberikan Nona Nadin photo dan juga rekaman anda yang sedang bersama nona Aquila, saat di Club waktu itu Boss! tadi saya niatnya akan mengantar Nona Nadin tapi Nona tidak mau diantar dan malah lebih pergi bersama Bastian boss..."
"Shiitt!!! ck..." ucapnya sambil mengurut keningnya pusing. "cari tahu siapa yang memberikan itu semua... sekarang juga!"
"Baik, Pak!"
Damn it! siapa lagi yang berani berurusan sama saya?!
***
Sementara itu...
Di sebuah cafe favoritnya Nadin dan Bastian...
"Nad, kamu dapet ini dari siapa?!"
"Entahlah, yang jelas tadi pagi amplop itu udah ada di meja aku Tian.. aku harus gimana lagi? aku udah percaya sama Aquila dan Mas Hans tapi nyatanya di belakang aku mereka..." ucapnya terhenti saat merasakan perutnya sakit lagi. Bastian yang melihat raut wajah Nadin yang kesakitan juga pucat makin khawatir. Nadin segera berdiri hmdak ke toilet.
"Nad, are you sure you're okay?"
"Akkhh... Tian..." ucap Nadin sambil melihat di betisnya sudah mengalir darah segar. Bastian yang ikut melihat pun kaget. Saat baru saja Bastian akan menghampirinya, kesadaran Nadin pun hilang badannya limbung. Bastian buru-buru menangkap tubuh Nadin agar tidak jatuh ke lantai.
***
Sementara itu di rumah Keluarga Henney...
"Niel... ini yakin, surat ini dituliskan buat kita?!"
"Pah... sampai kapan kita nggak boleh sekolah?!" tanya Emerald yang baru datang ke arah mereka dengan tenang.
Yup... hanya dia yang tenang dengan keadaangenting ini, bukan apa-apa karena dia juga Bina sudah terbiasa dengan situasi seperti ini, penculikan, penyerangan pada keluarganya seperti sudah jadi makanan sehari-hari, keluarga yang terkenal dan juga banyak musuh terselubungnya itu.
"Eme sayang, sabar ya... Papah lagi nyari orang yang ngancemnya, kamu mending ajak maen adekmu biar dia nggak bosan di rumah ya... Eme kan anak pintar... Ibu minta tolong sama kamu buat jagain Bina ya..." jelas Bina sambil menghampiri Emerald. Emerald pun menghela napas sambil mengangguk lalu kembali meninggalkan ruangan itu.
"Dan, Hans gimana?!"
"Boss Hans udah sampai Pak, sebentar lagi sampai disini."
Althea terdiam berfikir.
"Niel... ini bukan pancingan kan?" Danniel menautkan kedua halis melihat Althea.
"maksud kamu ini cuma pengalihan? tapi siapa?"
"Entahlah, saya hanya punya firasat buruk soal ini..."
"Dan, penjagaan Daddy aman kan?"
"Saya sudah memberitahu Assistant Tuan Besar untuk berjaga-jaga dan Bodyguardnya sudah diperketat Boss, begitupun penjagaan di rumah ini... kali ini tidak ada yang akan lolos dari pengawasan Tim Inti untuk melindungi Anda dan keluarga, Boss."
Beberapa menit kemudian Hans datang dan menghampiri Althea dan Danniel di ruang keluarga.
"Sir... kenapa ini bisa terjadi?"
"Hans... ini sangat aneh selain surat kaleng yang entah dari mana sampai sekarang tidak ada pergerakan sama sekali."
"Jangan lengah, terus perketat penjagaan jangan ada siapapun yang lolos dari pengawasan. Bagaimana anak-anak?!" ucapnya melihat serius pada Dany.
"Anak-anak ada di kamarnya, Hans. Tapi saya nggak yakin mereka menargetkan kita..." Hans terdiam. Lalu dia berjalan ke ruang kerja membuka laptop milik hans lalu melihat cctv di sekitar rumah Danniel. Diikuti Danniel dan Dany. Sementara Althea berjalan ke kamar anak-anak hendak menenangkan anak-anak.
"Hans, menurutmu siapa yang berani melakukan ini pada keluarga saya?! apa saingan dari perusahaan?"
Hans tidak menjawab hanya memperhatikan orang yang mencurigakan yang berada tak jauh di sekitar rumah Danniel. Hans memperhatikan sosok pria yang memakai serba hitam dengan cermat.
Dany yang ikut memperhatikan juga merasa kenal dengan pria itu.
"Boss, bukannya itu..."
"****!!! Dany cari tau dimana Nadin berada!"
Danniel yang awalnya tidak mengerti sekarang jadi tau apalagi dia mengingat ucapan firasat Althea tadi.
"Hans, ambil orang lebih banyak untuk mencari keberadaan Nadin dan menjaga Nadin. kamu fokus ke Istrimu saja, disini masih ada orang yang berjaga! Dan, kamu temani Hans!"
"Tapi Boss..."
"Target mereka bukan keluarga kami Hans, tapi istrimu!"
Hans pun bergegas keluar dari rumah Danniel diikuti Dany.
***
"Gimana keadaan Nadin, Dok?!" Tanya Bastian saat dokter baru saja keluar dari ruang resusitasi. Dia yakin Nadin tidak baik-baik saja setelah mereka sampai para suster dan dokter yang ada di igd langsung ditindak karena keadaannya yang sudah memburuk terlihat dari darah yang mengucur dari kedua kaki Nadin.
"Alhamdulillah, janinnya masih bisa diselamatkan Pak, hanya saja kondisi sang ibu sangat lemah, kami akan memindahkan pasien ke ruang rawat inap dan mengkonsulkan pasien ke dokter spesialis kandungan... tapi, ada yang janggal dari yang saya periksa dari darah sang ibu... ada kandungan cytotec..."
"Maksudnya?!"
"Ada kandungan obat penyebab hampir terjadi keguguran... apa sang ibu tidak menginginkan janin yang dikandungnya atau..."
"Nggak mungkin, Nadin sangat mwnginginkan bayinya... dia tidak mungkin mengonsumsi obat penggugur kandungan dok..."
"Untuk itu, silahkan anda diskusikan dengan pasien, tapi aaya tekankan jangan membuat pasien shock dan juga stress..."
"Baik dok, saya mengerti! terima kasih.."
Bastian lagi-lagi terdiam kaget dengan apa yang dikatakan dokter yang memeriksa Nadin.