I'm Not Cinderella

I'm Not Cinderella
Ekstra Part 38 Kisah Hans



"Niel... gimana? kok bisa ada yang lolos sampai depan rumah di serang pakai gas air mata? kamu udah hubungin Hans kan?"


"Hm.. Hans menambahkan personil di depan rumah kita, Yang... anak-anak gimana?"


"anak-anak udah tidur, dijagain Bibi... dan bodyguard di depan pintu kamar mereka..."


"Selama tender di kalimantan ini belum ada yang menang, serangan-serangan kayak gini pasti nggak bakalan berenti!"


"Trus gimana Rafael disana?"


"Panas! untungnya presentasi perusahan kita udah diseleaaikan sama Hans!"


"Oh iya gimana kabarnya Hans?! Nadin baik-baik aja kan?!"


"Entahlah, Hans belum ngasih kabar lagi selama dua hari kemarin tentang Nadin, dia hanya ngasih tau tentang para penyerang dan bodyguard yang ditambahkannya buat jaga disini, selain itu dia nggak Ngomong apa-apa lagi..."


"Dia bareng sama Dany kan?!" Danniel hanya mengangguk lalu menarik tubuh Althea untuk dipeluknya, terlihat sekali dia sangat lelah dengan permasalahan yang selalu datang apabila perusahaannya sedang mengikuti tender.


***


Sementara itu...


Di Apartment Hans...


Sesekali Nadin meringis karena perutnya masih merasakan nyeri.


Hah... ini gue kok masih ngerasain mules-mules sih? obat dari dokter kan gue selalu minum... apa karena tadi makan padang ladanya kebanyakan ya?


Nadin pun merebahkan badannya sambil berfikir apa yang akan dilakukan ke depannya, tidak mungkin juga kan dia akan mengandalkan Hans, meskipun Hans sudah pasti tidak keberatan kalau Nadin hanya di rumah, tetap saja Nadin tidak enak apalagi dari awal Nadin sudah biasa bekerja dan biasa bolak balik keluar rumah.


kadang orang yang tiap harinya terbiasa keluar rumah untuk bekerja sekalinya berhenti pasti merasa ada yang hilang dari kehidupannya.


***


Hans sedang berkutat dengan teleponnya menelpon orang-orang kepercayaannya menanyakan kabar di kalimantan dan orang yang sedang berjaga di rumah juga perusahnnya. Sudah tiga hari kemarin ini Danniel maupun Althea tidak masuk k perusahaan karena demi keselamatan mereka. Dan hari ini karena ada yang harus diselesaikan oleh Danniel di perusahaan dan tidak bisa diwakilkan jadi dengan berat hati Danniel pergi ke perusahaan dengan ditemani tiga bodyguard tim alpha. Sementara itu Hans berjaga di rumah Danniel karena Althea, Rubina dan Emerald masih ada di rumah.


"Hans... gimana kondisinya sekarang?! Laki gue baik-baik aja kan di sana?!" ucao Althea saat dia datang ke ruang keluarga sambil membawa wedang jahe buat Hans dan kopi buatnya.


"Nih wedang jahe.. Sorry ya gara-gara masalah Danniel lo jadi sibuk disini daripada di apartment lo..." Hans melihat ke arah Althea.


"Thanks Al, tapi ini emang udah jadi tugas saya buat ngelindungin Boss Danniel dari orang-orang yang ingin menyakitinya juga keluarganya.."


"Daddy gimana?"


"Saya sudah meminta Assistant Tuan Tyo untuk memperketat penjagaan di mansion maupun di rumah sakit." Althea mengangguk sambil menggigit jarinya sambil masih memikirkan sesuatu.


"Apa ada lagi yang dikhawatirkan Al?!" ucap Hans saat dia melihat gelagat Althea yang masih khawatir.


"Bagaimana sama Nadin Hans?! Gue tuh kepikiran sama dia, saat dia masih kerja di perusahaan gue masih tenang, sekarang dia udah nggak bisa gue jangkau lagi, bahkan kejadian kemaren aja gue nggak tau, Hans..."


"Tenang, Al... Nadin baik-baik aja..."


"Baik-baik apaan kemaren aja hampir kehilangan bayinya. deuh kalo keadaan ga lagi begini gue langsung ke rumah sakit buat liat Nadin..." Mendengar cerocosan Althea Hans hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, lalu melihat message yang masuk ke handphonenya dari anak buah yang dipercaya untuk menjaga Nadin di Apartment nya.


Hans melihat ada photo Bastian yang menjenguk ke Apartmentnya membawa satu bungkus kresek besar terlihat seperti makanan yang bermerk rec.....ss.


Hah.. baru aja ditinggal sehari...


Hans pun menekan nomor di Handphone nya.


"Hallo Nad, udah makan? Mau saya antarkan makan?"


"Mas, baru aja aku mau telpon... nggak apa-apa kannBastian datang ke sini? Aku kesepian Mas nggaknada temen.. kebetulan Bastian santai jadi mampir ke sini sekalian bawain makanan buat aku..."


"Eh Mas... hari ini pulang ke apartment ga?"


"Mmhh... liat nanti, disini belum beres!"


"ya udah..." terdengar nada kecewa dari suara Nadin dari sebrang telponnya.


"Saya kabari kalau saya akan pulang!" tak lama Hans pun menutup Handphonenya.


Althea yang mendengarnya pun hanya tersenyum.


"Gitu dong... lembut ama istri, perhatian sama istri... apa susahnya sih..."


***


Danniel yang baru saja sampai di rumahnya berjaln buru-buru ke dalam sambil meneriakan nama Istrinya dan kedua putra putrinya.


"Sayang.... Rubinaaaa... Emerald..."


Althea dan kedua putra putrinya pun berjalan ke ruang tengah.


"Papah..." teriak Rubina sambil berlari minta dipangku Danniel. Dan Danniel pun memangku Rubina dengan entengnya.


"Apa sih Yang... teriak-teriak..."


"Mulai besok kalian boleh keluar rumah lagi semua udah aman, tender yang di kalimantan udah dimenangkan sama Papah, jadi nggak ada lagi yang bisa dan berani nyerang keluarga kita, pelaku yang kemarin udah di tangkap dan diserahin ke kantor polisi. Hans.... Thank you... kamu bisa pulang dan istirahat..."


"Tapi Boss..."


"No... tapi-tapi... biarkan para bodyguard yang jaga disini kalau kamu masih belum tenang..."


"Betul... pulanglah, kasian Nadin di Apartment sendirian..."


Hans pun mengangguk.


***


Saya pulang sekarang!


Hanya tiga kata yang di kirim oleh Hans pada Nadin, tapi sudah membuat Ndin kegirangan.


Nadin buru-buru memasak makanan kesukaan Hans, membersihkan Apartment juga dirinya, ceritanya mau menyambut kepulangan sang suami setelah beberapa hari suaminya tak kunjung pulang ke Apartment.


Mas Hans kok jam segini belum nyampe apartment ya?!


Setelah selesai mandi dan memakai pakaian, Nadin pun beranjak ke nakas melihat handphonenya yang menyala menandakan ada telpon masuk. Dan saat dilihat ada nama Hans.


"Ya... Mas... Mas masih dimana? Kok belum nyampe? Apa??? Kok bisa? Ii-iya, baik Pak... saya akan kesana sekarang!"


Nadin pun segera menutup teleponnya dan bergegas mengganti baju lalu bersiap-siap untuk pergi.


***


Hayooo.... siapa yang telepon Nadin???


Sampe nerima telepon terbata-bata gitu dan sedikit shock...


Apa yang terjadi? mau kemanakah Nadin?


Siapakah yang dipanggil pak oleh Nadin???