
...ANYEONG MY FUTURE HUSBAND...
^^^By. Lucifer^^^
Rubina terus saja tersenyum saat Sean meletakkan secangkir susu hangat di hadapannya.
"Rasanya kayak mimpi deh," ucap Rubina begitu Sean duduk di sofa kosong di hadapannya. "Padahal kemaren-kemaren aku masih nyoba nyari tau kamu. Trus sekarang aku malah dibuatin susu hangat. Bukan itu aja, sebentar lagi kita juga akan segera menikah."
Sean tidak ingin merespon. Sean hanya duduk dan mengarahkan fokusnya ke layar ponsel. Sean berpura-pura sedang sibuk demi untuk menghindari interaksi verbal dengan Rubina. Sean berpikir bahwa diam adalah langkah yang tepat agar Rubina tidak membuatnya kesal.
"Wah, susunya enak banget!" puji Rubina setelah menyesap susu buatan Sean. "Dokter Sean emang handal banget dalam urusan susu," lanjut Rubina tanpa ampun.
Notifikasi tanda telpon terdengar. Sean yang memang sedang mengarahkan fokus ke layar ponsel melihat nama Emerald tertera di layar. Tanpa pikir panjang Sean menggeser tombol berwarna hijau. Ponsel itu bertaut dengan telinga kanannya.
"Halo, Iya Kak Eme." Mendengar Sean menyinggung perihal Emerald, Rubina lantas meresponnya dengan kening mengkerut. Rubina diam-diam sedang mencoba menebak-nebak. Kira-kira alasan apa yang membuat kakaknya sampai menelpon Sean.
Karena Sean tidak me-loudspeaker panggilan tersebut, alhasil Rubina cuma bisa menebak-nebak apa yang saudaranya katakan kepada Sean.
"Iya, Kak, kebetulan banget dia masih di sini. Dan soal itu, Kak Eme nggak perlu khawatir, nanti biar saya aja yang meng-handle-nya," ucap Sean diperuntukkan pada Emerald.
"Kak Eme bilang apa?" kepo Rubina. Dia langsung menanyakannya begitu dia melihat Sean yang berhenti menautkan ponsel di telinga. "Apa dia ngomong yang aneh-aneh tentang aku?"
"Bukan hal yang penting Oh iya, cepetin abisin susunya, saya anter kamu ke kampus."
"Wah, demi apa? Hari ini kamu akan nganterin aku ke kampus?" takjub Rubina antara kaget dan kelew t senang dengan kenyataan akan diantar sama calon suami ke kampus.
"Hhmmmhh," sahut Sean terdengar agak malas. "Tapi sekali lagi saya ingetin supaya kamu jangan berpikir kejauhan. Saya tegasin kalo saya nganter kamu ke kampus bukan karena keinginan saya. Saya ngelakuin ini atas perintah dari Kak Eme."
"Emang Kak Eme nelpon cuma nyuruh kamu buat nganterin aku ke kampus?"
"Hmmhh, Kak Eme minta tolong sama saya buat nganter kamu ke kampus. Tungguin bentar, saya siap-siap dulu baru nganterin kamu."
Selepas Sean pergi Rubina seketika memekik dengan gemas. Rubina sangat senang lantaran Emerald membantunya untuk selangkah lebih dekat dengan calon suami,
"Pas pulang nanti gue kudu say thanks nih ama Kak Eme. Enggak sia-sia gue curhat sama dia pas di mobil tadi. Kak Eme beneran bantu gue banget buat deket sama Sean."
Setelah Sean bersiap sebentar, pria tampan itu akhirnya muncul menghampiri Rubina di ruang tamu.
"Kamu udah abisin susunya?"
"Susu yang mana?"
"Cih... nyebelin banget sih kamu Bi! Susu yang tadi saya buatin lah, emangnya susu yang mana lagi? Dasar otak cabul!"
"Ooohhh.. Ya kaliii... Aku pikir kamu lagi bahas susu lain. Makanya aku nanya dulu," Rubina nyengir setelahnya. "Oh ya, kapan kita akan berangkat ke kampus?"
"Tahun depan," jawab Sean dengan nada tidak bersahabat. "Ya, sekarang lah. Makanya buruan."
Rubina mengangguk sambil meninggalkan posisi duduknya.
"By the way kamu nganterin aku pake motor kamu?" tanya Rubina.
"Emangnya kenapa? Kamu nggak suka naik motor? Kamu takut kulit kamu kenakar sinar matahari?" cecar Sean. Suaranya agak ketus. Padahal Rubina belum mengungkapkan alasan kenapa dia bertanya, tapi Sean sudah mengambil kesimpulan berdasarkan pemikirannya.
"Bukannya gitu. Aku nggak peduli mau kebakar panas sinar matahari. Dan kalo kamu nanya apa aku suka dibonceng pake motor, so jawaban aku tergantung. Kalo orang lain yang nyetir motornya mungkin aku bakalan nolak, tapi kalo kamu yang nyupirin motornya ya aku nggak bakalan nolaklah. Kan aku bisa meluk kamu dari belakang." Rubina tersipu malu.
"Saya nggak punya waktu liat tingkah gila kamu! Ayo cepetin!"
"Apa lagi?"
"Aku nggak bawa helm loh, kan tadi aku berangkatnya bareng sama kak Eme pakai mobil."
"Saya punya helm cadangan. Kamu nggak usah khawatir!"
"Emang definisi calon suami idaman. Kamu bahkan udah mikirin apa yang mau dipake sama calon istri kamu ini," balas Rubina menyertakan dua jempol yang mengudara di hadapan Sean.
"SEAN!" cegat Rubina ketika dia sudah tiba di depan kampus. Rubina yang baru saja menautkan telapaknya di pergelangan Sean seketika menurunkannya ketika Sean menatap ke arah tangannya itu dengan pandangan tidak suka.
"Apa lagi?" jawab Sean ketus. "blum puas setelah kamu meluk saya di sepanjang perjalanan tadi, sekarang apa lagi yang kamu mau lagi dari saya!"
"Aku cuma mau bilang hati-hati di jalan. Ah iya, hampir aja lupa. Aku juga mau ngucapin makasih soalnya kamu udah nganterin sampe kampus."
"Jangan lupa. saya nganter kamu ke kampus kan disuruh kak Eme. Kalo saya jujur aja nggak sudi nganter kamu. Jangankan mengantar, liatin kamu aja saya udah muak."
"Tunggu sampe akhirnya kamu menaruh perasaan lebih sama aku!"
"Kamu terlalu percaya diri!"
"Hati-hati di jalan calon suami. Semangat yah ngumpulin duit buat masa depan kita yang cerah," Rubina mengiringi Sean yang mulai menjalankan V4R hitamnya dengan kalimat manis. Tentu saja Sean cuma bisa geleng-geleng kepala dengan ke absurd an seorang Rubina.
Rubina benar-benar baru meninggalkan tempat itu saat Sean sudah tidak terjangkau lagi oleh netranya. Rubina menuju ke kelas meskipun dia sadar bahwa kelas akan dimulai sekitar sejam lagi dari sekarang.
Setibanya Rubina di kelas dia langsung mengerutkan keningnya melihat sahabatnya, Caca, sedang menaruh sesuatu di tempat di mana biasanya dia duduk. Rubina yang melihat itu tentu saja merasa bingung. Karena Rubina tidak ingin larut dalam rasa penasaran membuatnya menghampiri sahabatnya untuk mencaritahu.
"Lo lagi ngapain, Ca?" tanya Rubina. Volume suaranya masih dapat dikategorikan sebagai suara rendah namun sukses membuat lawan bicaranya tersentak kaget.
"Sorry Ca. gue nggak ada maksud bikin lo kaget."
"Enggak apa-apa kok, Kak."
"Ca, sudah berapa kali sih gue ingetin lo. Jangan panggil gue Kak. Gue berasa tua banget pas lo panggil begitu. Oh iya, lo lagi ngapain sih? Dan kotak apa yang baru lo taro di atas meja?"
Caca meneguk salivanya kasar. "Anu, itu, tadi gue enggak sengaja nemuin kotak ini pas masuk ke ruangan. Sorry yah Bi, gue cuma nyari nama pengirimnya aja kok, gue nggak berniat buat ngambil kotak milik lo kok."
"Emangnya di kotak itu tertulis buat gue, Ca?"
Caca mengangguk. "Kayak biasanya aja, hadiah itu dari orang yang sama. Si pengagum rahasia."
"Ya sudah, hadiah itu buat lo aja deh," ucap Rubina dengan mudahnya.
"Jangan."
"Ambil saja, Ca. gue yang ngasih buat lo."
"Tapi si pemberinya kan pengen lo yang pake." Rubina menilikkan matanya mencurigai.
"Maksudnya? Lo tau siapa pengirimnya?"
Caca meneguk salivanya saat Rubina menatapnya dengan pandangan mencurigai.
"G, gue, gue belum tau siapa sosok pria yang jadi pengagum rahasia lo itu. gue bilang gitu soalnya hadiahnya kayaknya bagus, bahkan ada pitanya. Makanya gue pikir kalo sosok pengagum rahasia lo itu benar-benar pengen ngasih hadiah ini buat lo."
"gue cuma becanda Ca, lo nggak perlu tegang gitu. Okay, hadiah ini bakalan gue bawa pulang aja."