I'm Not Cinderella

I'm Not Cinderella
AMFH 76



...ANYEONG MY FUTURE HUSBAND...


^^^By. Lucifer^^^


"Kenapa kalian bernapas kayak begitu? Kalian habis ngapain sih?" Marisa meredupkan matanya menduga-duga. Sampai akhirnya dia menyadari satu hal dan membuatnya tersenyum tipis-tipis khas sedang menggoda.


"Ah iya, ibu hampir lupa," dengan gerakan pelan Marisa memukul bagian dahinya. "Kalian berdua kan pengantin baru. Ibu sampai lupa. Maaf ya bukannya Ibu mau ganggu olahraga pagi kalian. Ibu datang ke sini karena ibu mau bawa ini buat kalian," Marisa memperlihatkan tapperware makanan yang dibawanya dari rumah.


"Oh iya, semalam kenapa kalian langsung pulang sih? Ibu pikir kalian bakalan mampir dulu ke rumah."


"Itu Bu, udah kemaleman juga. Makanya saya sama Bina langsung ke apartemen. Sorry yah Bu."


"Enggak apa-apa. Oh iya kalau begitu Ibu langsung pulang ya."


"Saya anterin ya, Bu?" tawar Sean.


"Mau anterin Ibu pake apa?" tanya Marisa kepada putranya.


"Ya pake motorlah, Bu."


"Motor kamu kan ada di rumah. Kamu kan berangkat ke vila start-nya dari rumah."


"Ah iya, sorry Bu. Saya lupa soal itu."


"Nggak masalah. Ibu bisa naik taksi kok pulangnya. Kalian berdua lanjutin aja olahraga paginya. Oh iya ini makanannya."


Rubina menyambut makanan yang diberikan oleh ibu mertuanya. "Makasih ya Bu."


"Sama-sama sayang. Ibu pamit yah, Dah."


Rubina masih di tempat yang sama setelah ibu mertuanya telah pergi meninggalkannya.


"Kenapa diem di sini?" tanya Sean bingung melihat istrinya yang masih diam di tempat bukannya langsung menuju dapur untuk memindahkan makanan yang ada di rantang ke piring.


"Aku penasaran By sama omongan Ibu."


"Omongan yang mana sih?"


"Soal olahraga pagi. Aku sama sekali nggak ngerti maksudnya."


"Aku nggak yakin kalo kamu nggak tau soal itu. Nggak usah pura-pura polos di hadapan saya. Saya nggak akan percaya. Udahlah, mendingan kita nikmatin aja sarapannya sekarang. Saya udah sangat lapar. Oh iya nanti sore kita ke mall. Saya mau beli beberapa barang."


"Demi apa? Kita ngedate? Wuaaaahhh.. By... Aku seneng banget dengernya."


"Bukan ngedate."


"Terserah kalo kamu nggak setuju buat nganggepnya nge-date. Yang penting kita perginya berdua jadi aku seneng banget."


"Semerdeka kamu aja deh."


"Tunggu bentar deh By," cegat Rubina saat suaminya hendak balik badan. "Aku baru inget. Apa jangan-jangan maksud olahraga pagi yang Ibu bilang itu merujuk ke hal-hal S** yah?" Rubina melebarkan matanya di detik-detik akhir saat kalimatnya hampir tandas.


"Astaga perempuan satu ini. Harus berapa kali sih saya bilangin supaya kamu tuh ngomongnya jangan terlalu frontal. Untung cuma ada kita berdua di sini, nggak ada orang lain yang bisa denger. Ingat ya, ke depannya jangan begini lagi pas kamu sama saya. Apalagi nanti kamu bakalan ikut sama saya ke mall. Kalo itu sampe kejadian maka saya nggak akan segan buat nyentil bibir kamu."


"Iya sayang, Aku nggak akan ngulangin lagi kesalahan yang sama kok."


***


"CK," Sean membunyikan sebuah decakan sebal. Belum genap semenit setelah mengeluarkan bunyi itu, sekarang dia melanjutkan dengan sebuah kalimat. "Astaga kenapa lama banget sih?" saat ini Sean masih duduk di sofa ruang tamu apartemennya. Seperti janjinya tadi pagi dia dan Rubina akan berangkat ke mall karena ingin membeli sesuatu.


Sean melirik jam yang melingkar di tangannya. Terhitung saat ini sudah hampir setengah jam dia menunggu Rubina.


Katanya dia masih bersiap. "Kita liat aja nanti bakalan secantik apa dia sampe ngebuthib waktu selama ini."


Kemarahan Sean seperti sedang tertahan di kerongkongan. Padahal dia sudah bersiap untuk mengeluarkan umpatan kepada Rubina yang berhasil membuatnya kesal karena menunggunya cukup lama. Namun siapa sangka, kehadiran Rubina menemui suaminya di ruang tamu justru membuat Sean salah fokus. Bahkan pria itu sampai mengucek matanya.



"Kenapa By, kamu takjub sama kecantikan aku ya?" pede Rubina. Padahal tanpa dia katakan sekalipun orang-orang sudah tahu kalau dia memang memiliki visual yang cantik.


"Emangnya kenapa By? Ada yang salah ya sama baju aku?" Rubina bertanya sambil melirik bagian bawah tubuhnya.


"Ya tentu aja salah. Apalagi kan kamu jalan sama saya. Oke lah kalo misalnya nggak sama saya, tapi saya juga ada di sana nanti. Saya nggak mau tau pokoknya kamu cepet ganti lagi baju kamu itu. Jangan pake celana di atas lutut kayak gitu!" titah Sean. Namun perintahnya tidak langsung direalisasikan oleh Rubina. Rubina masih di tempatnya tersipu malu. "Kenapa senyum-senyum kayak gitu? Ada yang lucu?"


"Kamu nyuruh aku ganti baju karena kamu nggak mau kan kalo aku jadi bahan perhatian orang lain?"


"Ck... Kata siapa? Jangan sembarangan kalo ngomong!"


"Aku nggak sembarangan ngomong By. Aku sampe nyimpulin kayak gitu soalnya kamu sendiri yang nggak ngebiarin aku pake baju ini. Ya, kalo bukan karena kamu nggak mau aku jadi bahan perhatian cowok lain, trus apa alasan kamu sampe nyuruh aku buat ganti baju?"


"Hah... Terlepas dari hubungan kita yang nggak berjalan harmonis nggak akan ngubah kenyataan kalo kamu itu istri saya. Ya tentu aja saya nyuruh kamu ganti baju kamu. Nanti yang ada saya dikira lagi jalan sama cabe-cabean karena baju kamu itu! Ayo buruan ganti, saya kasih waktu lima menit."


Lima menit lebih beberapa detik Rubina muncul. Sekarang dia tidak lagi mengenakan pakaian minim bahan. Kali ini dia sudah dalam balutan sebuah sweater putih dengan celana jeans dan dipadukan dengan topi warna navy.



"Gimana sekarang?" tanya Rubina. Dia berputar untuk mendapatkan penilaian dari sang suami.


"Cantik kok." Sean menjawab.


"Siapa yang cantik? Aku?" Rubina begitu bersemangat menunjuk dirinya sendiri ketika suaminya memberikan jawaban dengan satu kata; yaitu 'cantik'.


"Bukan kamu, tapi bajunya." Jawab Sean memperjelas membuat Rubina memelas dan mendengus secara bersamaan. Ayo kita berangkat sekarang."


"By, besok kamu masih libur kan?" tanya Rubina kepada pria di sebelahnya ketika mereka baru saja keluar dari lift apartemen.


"Besok masih libur. Mungkin lusa baru saya balik kerja. Kenapa kamu nanya soal jadwal saya?"


"Enggak kenapa-kenapa. Aku cuma penasaran aja."


"Trus gimana sama kamu. Kapan kuliah lagi?"


"Dua hari lagi, By. Oh iya, pas tar pas kamu masuk kerja kan aku nggak ada jadwal kuliah tuh. Boleh nggak sih kalo misalnya aku keluar? Hangout sama temen-temen aku. Itung-itung biar aku enggak bosen kalo harus tinggal di apartemen kamu sendirian."


"Kayaknya buat urusan itu kamu nggak perlu minta izin dari saya!"


"Loh, kenapa? Kamu kan suami aku, By. Kalo ngambil keputusan tentu aja aku harus ngelibatin kamu. Kalo kamu ngasih aku izin, ya aku bakalan pergi, tapi kalau tidak..."


"Udah saya bilang nggak perlu berlebihan. Kamu bisa ngelakuin apa aja yang kamu sukai tanpa sebuah izin dari saya. Begitu pun saya. Saya nggak butuh izin dari kamu buat ngelakuin apa aja yang saya sukai."


"Mmmhh... Gitu ya Mas. Jadi aku nggak perlu minta izin kalo misalkan aku mau keluar?"


"Iya, cukup kabari aja kalo kamu pergi ke mana dan sama siapa. Saya bukannya posesif, takutnya nanti keluarga saya atau keluarga kamu nyariin. Ya, itung-itung supaya saya bisa ngasih jawaban ke mereka."


"Okay kalo emang kayak gitu maunya kamu."


"BY, MAKAN DULU YUK! AKU UDAH LAPAR BANGET NIH!" Rubina mengeluh sambil memegangi perutnya. Sedari tadi dia dan suaminya banyak berkeliling membeli beberapa alat keperluan rumah tangga. Ya, mungkin karena sudah ada Rubina yang tinggal bersamanya di apartemen sehingga Sean berpikir untuk menghindari makan makanan fast food lagi.


"Okay," Sean menyetujui apa yang istrinya inginkan. Bukan tanpa alasan, dia juga sedari tadi sedang menahan lapar.


Berhubung Rubina juga merasakan hal yang sama sehingga mereka pun sepakat untuk mengganjal perut dulu sebelum melanjutkan aktivitas.


"Kamu mau makan apa?" tanya Sean. Barangkali Rubina ingin makan sesuatu.


"Terserah kamu aja."


"Harus terserah jawabnya?"


"Ya terserah kamu aja, By."


"Gimana kalo kita makan burger aja?" Ide Sean.


"Boleh."


"Ya udah, kalo gitu kita makan burger di Burger Queen aja. Kebetulan di mall ini ada cabangnya."