
...ANYEONG MY FUTURE HUSBAND...
^^^By. Lucifer^^^
"SAYA NGGAK NYURUH KAMU BUAT SENYAM-SENYUM KAYAK GITU. AYO BURUAN JAWAB PERTANYAAN SAYA!!!" seru Sean terdengar sudah tidak sabaran menunggu jawaban atas pertanyaannya. “Kamu dapat dari mana foto itu?" Sean mengulang pertanyaan yang sama diiringi sebuah aksi untuk merampas foto yang ada di tangan Rubina. Sangat disayangkan karena Rubina telah membaca pergerakan itu sehingga gadis itu berhasil mengamankan foto yang ada di tangannya.
"Hubby, kamu waktu kecil ternyata cantik juga ya," goda Rubina. Aksinya saat itu berhasil membuat wajah Sean tampak memerah menahan rasa malu dan kesal yang menyerangnya di waktu yang bersamaan.
"Mmhh... Aku sih masih mending ya, waktu kecil perakilan kayak cowok, gedenya jadi cantik kayak gini meskipun hobby masih suka dan warna masih suka item ya..."
"Siapa yang ngasih kamu foto aib saya?" tanya Sean.
"Aku minta foto ini dari Ibu pas kita berdua lagi liat-liat album lama," jawab Rubina. "Oh iya By, kamu masih suka warna pink kan?"
"Berhenti menggoda saya!"
"Okay... Okay ... Tapi kayaknya bakal heboh deh By kalo foto ini aku masukin ke sosial media." Rubina bangkit dan dia berdiri tepat di depan Sean sambil dia memasang senyum terbaik lewat bibirnya. “Gimana menurut kamu? Apa aku harus masukin foto cantikmu ini ke sosial media?"
"Jangan macam-macam ya By," peringat Sean. Meski sedang emosi, namun dia tidak sampai membesarkan volume suaranya karena dia menyadari satu hal. Dia sedang di rumah orangtua Rubina. Tentu saja Sean tidak enak jika dia membuat keributan di sana. Lain hal kalau seandainya dia dan Rubina sedang di apartemen. Mungkin Rubina akan mendapatkan sebuah umpatan dengan volume tinggi dari pria pemilik iris cokelat tersebut.
"Aku cuma bercanda kok. By, nggak usah panik gitu. Aku juga enggak bakal nyebar aib suami kesayangan aku yang pernah didandanin jadi cewek pas masih kecil hahaha..."
"Bisa diam gak?" kesal Sean menatap Rubina. Sementara Rubina tidak memperlihatkan ekspresi takut. Sedikitpun tidak. Sejauh ini gadis itu masih tersenyum seolah dia sangat terhibur dengan aksinya menggoda suaminya menggunakan foto aib yang bahkan Sean pikir foto aibnya itu sudah musnah.
Sean tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya beranjak dan membawa langkah kakinya menuju ke kamar mandi.
Setelah mandi Sean menyadari sesuatu. “Sial, gue lupa bawa anduk lagi ke kamar mandi."
Klik!
Pintu terbuka sedikit, disusul suara Sean yang menyerukan nama istrinya. "Bina!"
"Iya By, kenapa?" Rubina bertanya saat dia sudah berdiri di depan pintu kamar mandi. “Kamu mau ngajakin aku mandi bareng kah?" Rubina menebak-nebak.
"Jangan mimpi kamu!!!"
“Ya, terus kenapa kamu sampe manggil aku kalo bukan buat ngajakin mandi bareng.”
"Saya mau minta tolong."
"Minta tolong apa? Hubby minta tolong disabunin kah?"
"Heh mulutnya astaga. Saya mau minta tolong ambilin anduk. saya lupa bawa tadi."
Rubina mengambil handuk dari meja. Membawa benda itu ke depan kamar mandi.
"Ayo cepet serahin anduknya. Eh, mata kamu jangan ke mana-mana ya, Bi!" Sean terpaksa menarik handuk itu dari tangan Rubina. Setelah itu pintu kembali ditutup rapat-rapat.
Di menit selanjutnya Rubina terhenyak saat pintu kamar mandi terbuka. Rubina masih di tempat yang sama melihat Sean mempertontonkan tubuh bagian atasnya sementara tubuh bagian bawahnya dililiti oleh sebuah handuk putih nan tebal.
"Bi, Matanya bisa nggak ke mana-mana kan?" ujar Sean sambil menutupi bagian perutnya menggunakan telapak tangan. “Baru juga ngeliat perut berotot udah kayak hampir berojol aja tuh mata, gimana kalo disuguhkan dengan sesuatu yang lain?"
"Yang lain? Apa tuh, By?"
"Enggak usah belagak polos deh di hadapan saya. Kamu nggak cocok sama image kayak gitu. Di mata saya kamu itu cewek petakilan yang pikirannya kotor."
"Aku mau nanya, itu otot perut atau papan buat nyuci baju sih, By?"
"Otot perut, tapi kok rada-rada mirip papan penggilasan sih By. Hmm boleh aku sentuh ga? Aku penasaran sama teksturnya kayak gimana."
"Nggak. Kamu pikir saya cowok apaan mau kamu sentuh seenaknya aja," tolak Sean atas permintaan gila Rubina.
"Semenit aja deh nyentuhnya," janji Rubina, suaranya sarat akan memohon.
"Nggak," singkat Sean memberikan jawaban.
"Lima detik aja kalo gitu,” Rubina mencoba bernegosiasi soal waktu dengan suaminya.
"Nggak. Pokoknya saya nggak bakal ngebiarin kamu buat nyentuh badan saya. Emangnya kamu mau saya laporin ke kantor polisi atas tuduhan pelecahan seksual?" tolak Sean atas permintaan Rubina, tidak lupa mengikutkan ancaman di akhir kalimatnya. Rubina tertawa.
"Apa yang lucu?" tanya Sean. Dia pikir Rubina akan memperlihatkan raut takut setelah mendengar ancamannya, namun ternyata ancaman itu tidak berefek sama dengan yang diharapkan oleh Sean. Sebaliknya Rubina memperlihatkan raut muka bahagia dengan sebuah penegasan berupa tawa.
"Ancaman kamu yang lucu By."
"Dari segi mana kamu menganggapnya lucu?"
"Hubby, kamu yakin mau laporin aku ke kantor polisi? Emangnya kamu mau bilang apa pas sampe di kantor polisi?"
"Saya bakalan bilang kalo kamu hendak melecehkan saya. Jangan salah ya, tindakan menyentuh perut tanpa izin udah masuk ke ranah pelecehan,” Sean menjelaskan.
"Coba deh By bayangin. Gimana reaksi orang-orang di kantor polisi pas kamu bikin laporan pelecehan seksual mengatasnamakan aku. Aku sendiri sih udah bisa ngebayangin mereka akan ngetawain kamu By."
"Kenapa kamu pikir kayak gitu? Kenapa juga polisinya harus ketawa dengar laporan saya? Kamu jangan meremehkan kasus pelecehan seksual!"
"Bukan meremehkan By. Tapi kan aku ini istri kamu. Emang sih aslinya kamu nggak pernah nyentuh aku. Tapi kan secara agama dan Negara kita ini sah sebagai pasangan. Pasti orang-orang bakalan nganggep kamu sudah gila karena ngelaporin istri sendiri ke kantor polisi. Yang ada kamu cuma bikin malu diri sendiri di sana."
'Iya juga ya?' pikir Sean dalam hatinya. Namun bukan Sean namanya kalau dia akan mengalah dan mengakui kesalahannya. "Kamu nggak usah terlalu serius nanggepin ucapan saya. Saya juga tau soal itu kok. Minggir!"
Rubina menggeser tubuhnya memberikan akses kepada suaminya untuk jalan.
Sementara Sean segera melangkahkan kakinya menuju ke depan lemari hitam yang ada di kamar Rubina.
Sean memperhatikan wajahnya sekilas lewat cermin menempel di lemari. Setelah itu dia ke meja untuk mengambil paper bag berisi dalaman, celana jeans selutut, kaos putih, deodorant, dan juga parfum yang dibawanya dari apartemen tadi.
Sambil dia mengenakan deodorant di tempat semestinya, Sean turut serta mengarahkan fokus matanya ke Rubina yang masih di tempat yang sama dan masih memperhatikannya. Sean berdecak. Tentu saja demikian karena dia sedang ingin mengenakan pakaian tapi di waktu yang bersamaan dia menyadari kehadiran Rubina.
"Kenapa ngeliatin aku By?"
"Harusnya saya yang nanya pertanyaan itu sana kamu! Kenapa kamu terus ngeliatin saya. Saya lagi mau ganti baju. Cepet keluar dulu supaya saya bisa ganti baju dengan tenang!"
"Emangnya kenapa kalo aku di sini? Malu ya By?"
"Pake nanya lagi. Cepet buruan ke balkon sementara saya mau ganti baju di sini!"
"Okay, By."
"Awas ya kalo kamu sampai ngintip. saya sumpahin mata kamu auto bintitan kalo kamu ngelakuin itu," Sean mengeluarkan sumpah serapah kala istrinya sudah dalam posisi membelakangi dan membawa langkah kakinya ke balkon seperti yang Sean titahkan.
"Aku enggak bakal ngintip kok. Lagian suatu hari nanti aku nggak cuma liat badan kamu aja, bahkan bisa lebih dari itu, aku pasti bisa menyentuhnya. Jadi buat saat ini aku cuma perlu sedikit bersabar sebelum itu benar-benar udah kejadian." Rubina mengatakannya dengan penuh percaya diri.
Walaupun saat ini Rubina sudah ada di balkon, namun Sean tetap tidak tenang. Pria itu kurang percaya dengan Rubina, takutnya gadis itu malah mengambil kesempatan dengan diam-diam mengintip.
Kenyataannya di luar sana Rubina sedang memperhatikan bintang yang menghiasi langit malam. Cukup terhibur dengan pemandangan itu hingga dia tidak sadar telah menerbitkan senyum di bibirnya.