
...ANYEONG MY FUTURE HUSBAND...
^^^By. Lucifer^^^
Sementara Rubina sudah ke dapur, Sean justru menutup pintu apartemennya lebih dulu, baru setelah itu dia mengikuti Rubina ke dapur. Sesampai di sana Sean duduk di kursi memperhatikan Rubina yang sudah sibuk menyiapkan makanan di meja makan.
"Tumben Makananny kok banyak banget, kayaknya enak. Siapa yang buat?" kepo Sean. Pria itu membawa fokus matanya ke wajah Rubina.
"Aku yang buat!" bohong Rubina.
"Mustahil banget itu mah. Masak air panas saja kamu nggak bisa, gimana ceritanya bisa bikin makanan sebanyak ini." Sean geleng-geleng kepala.
"Makanan ini dari Ibu aku." Rubina mengakuinya.
"Ibu sempet ke sini?" tanya Sean.
"Iya." Rubina menjawab singkat.
"Lama?"
Rubina menggeleng, “Nggak. Ibu cuma mampir ngasih makanan aja. Udah itu Ibu pamit pergi."
"Kok kedengarannya buru-buru banget."
"Iya, soalnya Ibu langsung ke rumah sakit."
"Siapa yang sakit?" ada kepanikan di diri Sean saat itu. Bagaimana pun juga terlepas dari hubungan pernikahannya dengan Rubina yang dijalani tanpa dasar cinta, tapi Sean sangat menghormati keluarga Rubina seperti halnya dia menghormati anggota keluarganya sendiri. “Ibu sama Papah baik-baik aja kan, Bi?"
"Mereka baik-baik aja kok," jawab Rubina.
"Kalo gitu kenapa mereka ke rumah sakit?" Sean bertanya lebih lanjut meskipun dia baru saja tahu tentang kondisi mertuanya yang baik-baik saja.
"Temen Ibu ada yang baru aja dioperasi. Karena itu Ibu minta ditemenin sama Papah ke rumah sakit."
"Aahh... gitu ya..." Sean menganggukkan kepalanya paham dengan penjelasan Rubina.
"Mendengar reaksi kamu aku yakin banget kalau kamu sangat sayang ama keluarga aku.”
"Tentu aja. Walaupun saya belum bisa nerima kamu sebagai istri sepenuhnya, tapi buat urusan keluarga kamu saya sangat menyanyangi dan menghormati mereka seperti keluarga saya sendiri."
"Makasih ya, By. Kalopun kamu belum punya rasa sama aku tapi aku seneng soalnya kamu nganggep keluarga aku sebagai keluarga kamu sendiri."
"Nggak perlu ada terima kasih. Sudah kewajiban saya buat melakukan itu!"
"Oh iya By. Gimana makanannya? Enak kan?"
"Enak, soalnya Ibu yang buat makanan ini. Coba kalo kamu yang buat, pasti bakalan sangat jauh dari kata enak. Dan juga, sejak awal saya udah yakin sih kalo kamu nggak mungkin buat makanan ini."
"Sekarang kamu mungkin masih bisa ngetawain aku tapi dalam waktu dekat aku bakalan belajar masak. Kalo perlu aku ikut kursus masak supaya aku bisa bikinin bekal buat kamu, ya itung-itung supaya kamu hidup sehat."
***
Rubina mengedikkan bahu menatap lingerie merah terang yang dibeli tadi saat ke mall bareng Rara. Seharusnya saat ini Rubina telah menyematkan pakaian haram itu di tubuhnya supaya pada saat nanti Sean masuk ke kamar dia bisa melihatnya dalam balutan pakaian yang super seksi itu. Setidaknya seperti itulah ide yang dicetuskan oleh Rara sewaktu masih di kafe tadi.
Cukup lama Rubina berdiam diri dalam posisi duduknya di tepi ranjang. Dia berpikir apakah dia akan melakukan aksi konyol itu atau tidak.
"Sebaiknya gue nggak ngelakuin ini. Walaupun kenyataannya Sean udah jadi suami gue tapi tetep aja menurut gue ini sangat nggak pantes buat gue lakuin." Gumam Rubina. "Ntar yang ada Sean malah makin tambah ilfeel lagi sama Gue," lanjut Rubina berusaha untuk memikirkan kemungkinan apa saja yang akan terjadi kedepannya.
Tidak butuh waktu lama bagi Rubina untuk mengembalikan pakaian haram itu kembali ke paper bag. Rubina memutuskan untuk mundur dan tidak melanjutkan aksi gilanya seperti yang disarankan oleh Rara.
Pintu kamar dibuka oleh Sean yang baru saja datang.
"Kamu mau ke mana, By?" tanya Rubina ketika sedang melihat Sean masuk dan mengambil jaket dari meja.
"Ke mini market."
"Buat apa By ke minimarket malam-malam gini?"
"Mau beli alat cukur. Kebetulan alat cukur saya ketinggalan di rumah Ayah."
"Enggak usah! Kamu di rumah aja. Lagian minimarketnya deket kok dari sini. Nggak sampai sepuluh menit saya udah balik lagi ke apartemen."
"Ayo lah, By. Aku juga mau ikut." Rubina bangkit menghampiri Sean. Tanpa pikir panjang gadis itu menggamit lengan milik suaminya sambil menampilkan raut muka memelas. "Ikut yah, By?"
"Kamu di rumah saja sama Lion!"
"Aku mau ikut, By!" paksa Rubina tidak mau mendengarkan saran dikatakan oleh suaminya.
Sean mengembuskan napas kasar. "Ya sudah, kamu boleh ikut. Tapi jangan malu-maluin pas sampe di sana!"
"Iya, By. Lagian malu-maluin gimana sih.."
"Janji?"
"Ck... Kamu pikir aku anak kecil yang akan ngerengek kalau enggak dibeliin cokelat. Ya udah ayo nggak usah pakai janji-janji segala ah!" Rubina tanpa meminta izin langsung menarik pergelangan tangan suaminya meninggalkan kamar.
BERHUBUNG jarak dari apartemen ke minimarket bisa dikatakan tidak terlalu jauh, alhasil Rubina dan Sean memutuskan untuk ke sana sambil jalan saja. Ya, itung-itung olahraga juga. Tidak ada percakapan yang dilakukan oleh keduanya di sepanjang jalan ke minimarket. Sean terus saja memperhatikan ponselnya sementara Rubina sedang menikmati suasana dinginnya malam sambil menyembunyikan kedua tangannya di saku jacket tebalnya.
Dan akhirnya keduanya pun tiba di minimarket. Sean langsung pada tujuannya yaitu mencari alat cukur. Berhubung merk alat cukur yang biasa dibeli sedang habis sehingga Sean mengambil beberapa alat cukur dari rak sambil dia berpikir akan membeli yang mana.
"Hubby."
Berhenti menatap alat cukur di hadapannya Sean menoleh ke kanan, "Hmmm?"
"Aku boleh beli sesuatu nggak?"
"Kenapa kamu nanya sama saya. Kalo mau beli ya tinggal beli aja lah."
"Tapi masalahnya aku lagi nggak bawa dompet, By. Makanya aku bilang sama kamu. Ngomong-ngomong boleh kan kalo kamu yang bayarin belanjaan aku nanti?" tanya Rubina.
"Boleh. Tapi nanti diganti ya pas sampe di apartemen."
Rahang bawah milik Rubina jatuh mendengar jawaban dari suaminya. Sungguh, Rubina tidak berpikir akan mendapatkan jawaban seperti itu dari Sean.
“Ck... Pelit amat sih By sama istri sendiri. Masa harus diganti segala. Kan uang suami uang istri juga."
"Saya cuma bercanda. Beli
aja apa yang kamu mau, ntar saya yang bayar."
"Bayar pakai uang Kamu?"
"Ya iyalah, masa bayar pakai uang pengunjung lain. Kamu ini ada-ada aja," Sean sampai geleng-geleng kepala mendengar pertanyaan Rubina.
"Yey, kalo gitu aku ambil keranjang dulu. Gapapa kan By kalau aku beli cemilan banyak-banyak?" Rubina bertanya lagi lebih untuk memastikan sebelum dia mengambil tindakan.
"Buat apa beli camilan banyak-banyak?"
"Ya buat dimakan lah By, masa buat dijadiin pajangan doang.”
"saya juga tahu itu."
"Terus kenapa nanya kalo emang kamu udah tahu.”
"Maksud saya kenapa kamu sampe beli banyak-banyak. Emangnya nggak bisa beli satuan aja ya?"
"Aku maunya banyak-banyak, By."
"Terserah kamu aja."
"Tapi ingat ya By, kamu harus bayar camilan yang aku beli. Anggap aja sebagai bayaran karena kamu minta aku ke minimarket nemenin nyari alat cukur."
"Apa kata kamu barusan?" sambung Sean cepat. “Saya yang minta kamu ikut sama saya? Perasaan saya nggak ada nyuruh kamu buat nemenin saya." Sean tertawa pelan. "Saya ingetin ya, pada saat di apartemen tadi kamu sendiri yang ngerengek minta ikut. Kamu bahkan modus-modus pegang tangan daya demi buat ikut ke minimarket, dan sekarang kamu malah playing victim bertingkah seolah-olah saya lah yang ngajak kamu ke sini. Ada-ada aja!"