
...ANYEONG MY FUTURE HUSBAND...
^^^By. Lucifer^^^
Sean keluar dari kamar dengan setelan yang begitu rapi. Mengenakan kemeja dengan celana bahan berwarna hitam. Rambutnya juga sudah klimis karena sebelumnya dia telah mengolesinya dengan gel dilanjutkan dengan merapikannya menggunakan sela-sela jari.
"No, Lo liat hape gue nggak?" tanyanya kepada Nino yang sedang bersantai menonton kartun di ruang tengah.
"Ini?" Nino mengais sopa di sebelahnya mengambil ponsel milik Sean dari sana. "Tadi ada telepon. Gue panggil lo tapi lo nya nggak denger. Kayaknya lo masih di kamar mandi pas gue manggil nama lo."
"Telepon dari siapa? Dari nyokap ya?" Sean menebak.
"Bukan tuh. Tadi gue liat namanya, Sarah. Siapa dia, Kok gue nggak kenal?"
Sean meneguk salivanya. "Ooh, dia cuma salah satu perawat baru di klinik tempat gue praktek, bukan di rumaj sakit, dan lo emang pasti ga tau!" jawabnya cepat.
"Kirain pacar lo?" tebak Nino menaikan satu halisnya.
"Ck... Pacar?! Bukanlah. Dia bukan pacar gue. Mmhh... Kayaknya ada pasien sito makanya dia telpon," jawab Sean direspon anggukan oleh Nino.
"Ya udah kalo gitu gue balik dukuan ya! Takut kena semprot Bang Dimas" Sean pun bergegas pergi meninggalkan apartemen. Dia beneran takut kena semprot kakaknya kalau sampai telat sampai rumah.
Setibanya dia di pelataran rumah. Sean langsung membuka helmnya. Helm yang sempat membungkus sebagian kepalanya berakhir menutup spion kanannya. Lalu Sean tentu saja kembali merapikan rambutnya dengan bantuan sela-sela jarinya sebelum akhirnya dia membawa langkahnya menuju ke meja makan.
Sean masih di ruang tamu saat itu tetapi dia sudah mampu mendengar suara yang asalnya dari meja makan. Dan benar saja, di meja makan sedang ramai. Semua orang langsung menjadikan Sean sumber perhatian ketika dia menampakkan batang hidungnya di sana.
'Ck... Kenapa dia juga ada di sana sih? Bukannya tadi siang pas Ibu nelpon katanya cuma acara keluarga? Apa sekarang dia juga udah jadi bagian dari keluarga?' pikir Sean.
SUMPAH demi apapun, yang Sean pikirkan saat dia tiba di meja makan dia hanya akan menemukan orangtua, juga kakak dan adiknya yang baru datang dari Bali sejak tadi sore. Tapi kini diluar ekspektasinya Sean juga ternyata menemukan Rubina juga menjadi bagian dari acara makan malam yang disiapkan oleh ibunya. Dan ya, selain Rubina, Sean juga menemukan dua orang baru yang menjadi bagian dari acara makan malam tersebut dan tentu saja yang Sean kenal dan hapal jelas mereka adalah Althea, Daniel, lalu satu lagi sosok yang sangat dia kenal, Tyo Henney yang sedang berbincang dengan kakeknya.
"Tunggu apa lagi?" Dimas mengajukan pertanyaan kepada Sean yang masih bergeming— larut ke dalam bayangan yang dibuat oleh imajinya sendiri. "Kita udah nunggu kamu loh dari tadi, Sean, sebaiknya kamu bergegas sekarang! Kita semua udah lapar," lanjut Dimas. Bahkan adik laki-lakinya baru datang dan Dimas mulai menggodanya.
Sean bergegas, agak buru-buru menghampiri Kedua orang tua dan Kakeknya untuk memberi salim, lalu menuju Tyo Henney yang juga memberi salim kemudian disusul pada kedua orang tua Rubina. Sejurus kemudian dia duduk di kursi kosong berdekatan dengan kakak laki-lakinya yang kebetulan posisi duduknya juga berhadapan dengan Rubina. Sesaat mata Sean dan Rubina beradu. Sean menemukan Rubina sedang mengumbar senyum yang hanya membuat Sean merasa kesal saja saat melihatnya.
Rubina bisa merasakan kekesalan pada diri Sean sewaktu tidak sengaja matanya beradu dalam waktu beberapa sekon. Meski hanya sebentar namun Rubina sudah bisa membaca perasaan Sean saat itu. Kekesalan begitu mendominasi dirinya. Rubina juga bisa mengerti alasan dibalik kekesalan itu karena kehadirannya menjadi bagian dari acara makan malam ini.
Kata 'penting' yang menyelip di antara kalimat ayahnya sudah cukup untuk Sean jadikan sebuah clue. Ditambah lagi dengan kenyataan bahwa Rubina dan juga keluarganya juga ikut andil jadi bagian dari acara makan malam ini. Bukankah sekarang semuanya sudah jelas?
'Pasti Kakek bakalan ngomongin masalah perjodohan itu,' kesal Sean. Entah kenapa dia merasa sedang dijebak.
Tadi siang ibunya menelpon memberitahukan acara makan keluarga. Yang ada di pikiran Sean acara makan malam itu hanya dihadiri oleh anggota keluarga saja.
"Jadi begini, kami sengaja mengatur acara makan malam ini karena sekalian kami ingin membahas soal perjodohan yang sudah kami persiapkan sejak jauh-jauh hari," ucap Tyo Henney.
Ternyata dugaan Sean memang benar. Makan malam yang direncanakan oleh Sang kakek juga kedua orang tuanya hanya sebatas alibi untuk membahas masalah perjodohan ini. Sean benar-benar merasa bodoh karena tidak berpikir sampai sejauh itu. Coba saja dia berpikir sampai sejauh itu mungkin saat ini dia tidak menjadi bagian dari acara ini. Sean mungkin akan mencari alasan untuk menghindarinya.
"Benar, Sean... Bina... Jadi dulu Kakek sama Kakekmu Tyo sudah merencanakan perjodohan anak-anak kami, tapi dikarenakan anak-anak kami semuanya laki-laki jadi kami mengurungkan niatan perjodohan itu. Dan sekarang karena kebetulan cucunya Tyo adalah perempuan dan cucu laki-lakiku juga ada yang belum menikah dan momennya ini sangat pas kan, jadi kami sepakat untuk menjodohkan Sean dan Bina."
"Wah, itu adalah ide yang sangat bagus, Yah," antusias Dimas. "Tapi kira-kira Bina mau nggak ya sama pria kayak Sean? Dia itu kalo tidur suka ngorok loh Bi, Sifatnya juga ga bagus-bagus amat!" ujar Dimas di hadapan orang banyak. Lalu setelah itu dia mengerling memperhatikan adiknya yang tampak tenang seolah tidak terusik sama sekali dengan yang kakaknya katakan.
"Kamu ini yah, bisa-bisanya ngegodain adik kamu kayak gitu," Dian sang istri yang duduk di sebelah kiri Dimas segera menyikut lengan kekar milik suaminya itu.
"Oh ya, bagaimana sama kamu Bi? kamu keberatan nggak sama perjodohan ini?" Aditya Ayah dari Sean mengajukan pertanyaan kepada Rubina.
Bahkan sebelum Sean mendengar jawaban gadis itu secara langsung, hatinya sudah menyimpan jawaban. Sean sudah bisa menebak jawaban yang akan diberikan oleh Rubina atas pertanyaan yang ayahnya berikan.
“Kalau aku setuju kok, Om,” jawab Rubina. Jawabannya persis dengan dugaan Sean sebelumnya. Sean sama sekali tidak terkejut. Toh, selama ini Rubina memang mengejar-ngejarnya. Bukankah ini yang diinginkan oleh gadis itu.
“Oh ya, terus bagaimana denganmu Sean? Kamu keberatan kan dengan perjodohan ini?” Daniel ikut bertanya dengan tatapan tajamnya dan berharap kalau jawaban dari pria itu keberatan dengan perjodohan yang dibuat ayahnya.
“Apa yang harus saya jawab, Ya Om,” Dia tidak mengiyakan dan juga tidak memberikan penolakan atas perjodohan itu. Dengan bertanya dengan nada dan pertanyaan seperti itu, Sean tahu Daniel kalau dia tidak setuju dengan perjodohan itu. Tapi dengan kekukuhan kedua orang tua yang ada dihadapannya itu pasti akan melakukan apa saja demi bisa dan untuk tetap melanjutkan perjodohan itu.
“Jujur saya sendiri bingung dan tidak tau harus menanggapinya seperti apa, karena saya juga belum memiliki perasaan apa-apa terhadap putri Om. Bagaimana seseorang bisa menerima perjodohan tanpa dasar saling cinta?"
Daniel pun tersenyum samar mendengar bahwa pria yang akan dijodohkan dengan putrinya itu tidak setuju.
"Bisa kok. Ayah sama Ibu juga dijodohkan tapi pada akhirnya hubungan itu berakhir dengan indah seiring berjalannya waktu." Aditya
"Tapi Yah."
"Selain ayah dan ibu, Kakakmu dan kakak iparmu juga dijodohkan. Sama seperti ayah dan ibu, mereka juga menikah tanpa dasar cinta karena sebelumnya mereka belum pernah bertemu satu sama lain. Tapi lihat saja, hubungan kami yang menikah lewat jalur perjodohan semuanya baik-baik saja kan?"
Sekarang Sean merasa dirinya tidak punya celah untuk memberikan penolakan lagi. Ayahnya juga semua orang seolah sangat menginginkan perjodohan ini dilaksanakan bagaimana pun caranya kecuali Ayahnya Rubina Danniel Henney. Sean pun menganggapnya tidak masalah, yang terpenting seluruh anggota keluarga tahu bahwa untuk saat ini dia belum memiliki perasaan apa-apa kepada Rubina.
"Kakek anggap kamu juga setuju dengan perjodohan ini." Altemose angkat suara mengambil kesimpulan berbekal apa yang disaksikan. Tyo Henney pun hanya mengangguk-ngangguk tanda setuju. Sementara Rubina hanya tersenyum karena didukung oleh semua orang.