I'm Not Cinderella

I'm Not Cinderella
Ekstra Part 9 Kisah Hans



Ketika cahaya matahari dengan gagah menembus setiap celah gorden, burung-burung berkicauan di luar sana bak alunan melodi yang indah, Nadin lebih dulu bangun dari tidurnya. Menarik napas, lalu menghembuskannya perlahan. Mengusap pipi, sembari mengumpulkan nyawa.


Semalaman dia tidur hampir jam setengah 3 pagi. Setelah makan bersama Hans, Nadin juga memijat kepala, bahu dan kaki pria itu untuk mengurangi sedikit rasa lelahnya. Nadin sangat tau jika suaminya sangat sibuk dengan pekerjaannya, jadi dia tidak tega.


Saat nyawa mulai terkumpul, Nadin mengernyit bingung. Kemudian terlonjak menyadari posisi tidurnya. Nadin berada di dalam pelukannya Hans, memposisikan kepalanya pada lengan pria itu sebagai bantalan empuk yang menyenangkan.


Karena melakukan pergerakan secara tiba-tiba, Hans yang selalu peka terhadap gerakan sekecil apapun, langsung bangun dari tidurnya. Nadin merutuki diri, Hans harusnya tetap beristirahat.


"Hmm... maaf, Mas. Aku nggak sengaja, kaget." Nadin jujur dengan posisi tidak berani menatap ke arah Hans. Dia lebih memilih menjga jarak lagi, kembali pada posisi biasanya. kasian kan bantalnya Nadin dianggurin begitu aja?


Hans menghela napas panjang, memijat pangkal hidungnya. Tanpa banyak bicara, Hans menyikap selimut, melangkah menuju kamar mandi.


Seperginya Hans, Nadin memegangi permukaan dadanya. pagi-pagi sudah sport jantung, dia benar-bemar dalam keadaan yang nggak menentu.


Setiap berada dalam jarak terdekat dengan Hans, debaran dadanya tak bisa di kondisikan.


Tak mau pusing dan mematung, Nadin mengenyahkan segala pemikirannya. Melangkah menuju dapur dengan menggulung asal rambutnya. Sepanhang langkahnya, Nadin mengusap mata dan sesekali menggaruk leher.


"Pagi Mba Nadin..." sapaan itu membuat Nadin terlonjak seketika, hampir saja dia berteriak. Lalu melihat kearah Orang yang menyapanya itu sambil membawa sapu dan alat pel nya.


Aahhh shitt!! gila hampir aja jantungan gue... dia pasti bibi yang beres-beres di Apartment nya Hans setiap seminggu sekali.


"Maaf Mba, kaget ya... saya Ratih yang suka bersih-bersih disini setiap seminggu sekali..."


"Ahh.. iya, Bi... Maaf saya juga kaget tiba-tiba bibi udah ada disini kayak jelangkung.." ucap Nadin bercanda sambil terkekeh. "eh, tapi kenapa Bibi kenapa baru sekarang kesini lagi?"


"Eu... itu karena bibi tau kalau Tuan muda Hans akan menikah, dan bibi yakin seminggu pertama menikah kalian pasti tidak ingin di ganggu kan?!" Nadin hanya terdiam sambil tersenyum kecut, mengingat bagaimana hari dimana mereka menikah.. Hans sudah kembali bekerja di kediaman Danniel Henney.


"Apa mbak Mau bikin teh buat Tuan Hans?" tanyanya dengan sopan. "Mbak... apa boleh bibi masak untuk hari ini?"


"Iya, boleh Bi. Bibi mau masak apa emangnya?" tanya Nadin sambil membuat teh hangat untuk Hans. Mengambil dua potong roti, mengolesi dengan selai cokelat ditambah parutan keju sedikit. Nadin tidak tahu apa Hans akan menyukainya atau tidak, tapi menurut kata hatinya Hans lebih menyukai selai cokelat daripada kacang.


"Tumis sayuran hijau, omelet dan sereal. Apa ada tambaan lagi, Mba?" tanya Bibi Ratih. Nadin tersenyum kearah Bibi Ratih.


"Nggak, Bi. untuk sarapan pagi ini cukup itu aja!" Bibi Ratih mengangguk paham.


"Ya udah, aku ke kamar dulu ya Bi..."


Nadin membawa nampan kecil berisi segelas teh hangat dan roti yang sudah dia buatkan tadi.


Hans baru saja selesai mandi. Nadin segera menghampirinya. "Mas Hans hari ini mau pakai stelan yang mana? nanti aku siapin!" ucap Nadin sambil ikut masuk ke ruang pakaian. Di sana terlihat deretan pakaian Hans, dominan warna hitam pada bagian jas. Sementara kemejanya lebih ke warna putih.


"Biar saya sendiri saja!" dengan nada datar sepeeti biasanya, Hans menjawab tanpa menoleh.


Nadin tetap berusaha mengambilkan semua kebutuhan Hans. "Mas mau pakai dasi yang ini?" tanya Nadin sambil mengambilkan sebuah dasi. Hans hanya mengangguk mengiyakannya, tidak ingin banyak bicara.


Anggukan Hans menerbitkan senyum di bibir Nadin. Dia begitu bersemangat soal memilihkan apa yang sangat pas dikenakan suaminya. Selain dasi, Nadin juga menyiapkan jam tangan, ikat pinggang dan sepatu.


"Aku bantuin pasangin dasinya boleh?!" tanya Nadin malu-malu, pipinya sudah merona.


Hans kembali mengiyakannya saja, belum sama sekali membuka suara.


Karena tinggi tubuh Hans jauh diatas Nadin, membuat wanita itu kesulitan harus berjinjit. Hans akhirnya mengangkat tubuh ramping itu untuk duduk diatas lemari jam tangan. Kini tinggi keduanya tidak jauh berbeda.


Nadin terkikik kaku sudah diangkat Hams layaknya anak kecil, "sudah selesai!" Dengan binar terang, mata itu mengerjap beberapa kali. Senang sebab berhasil memasangkan dasi dengan rapi.


Sudah siap dengan pakaiannya, Hans keluar dari ruang pakaian. Nadin menyuruh pria itu duduk sebentar meminum teh dan memakan rotinya. aku nggak tau Mas sukanya selai kacang apa cokelat. Tapi ini aku buatkan yang cokelat ditambah sedikit parutan keju."


Hans menaikan sebelah alisnya. Menu pembuka di pagi hari ini mengingatkan Hans pada kekasihnya dulu. Wanita itu selalu menyiapkan roti selai cokelat ditambah sedikit parutan keju. Apa cuman kebetulan?


"Saya memakan kedua selai itu. Tapi lebih suka yang seperti ini." Hans memakan lahap roti itu, kedua bibir Nadin kembali mencetak sebuah senyuman.


Nadin akan mengingatnya. Besok dia akan membuat roti selai cokelat ditambah parutan keju lagi.


"Mas, Hans nanti mau aku siapin bekal makan siang? Nanti biar aku antarkan kesana."


Hans menatap Nadin beberapa saat. Kenapa wanita itu masih saja bersikap sangat perhatian padahal Hans tak menunjukkan respon yang baik?


"Tidak perlu. Saya nanti siang ada di luar untuk mengecek tempat lokasi proyek."


"Baik, Mas!" Nadin paham.


Cukup itu saja, Hans tidak berniat menciptakan obrolan yang lebih panjang. Hans tidak terlalu tertarik, takut juga semakin runyam hubungan mereka pada akhirnya.


Tidak tau ini sudah benar atau bagaimana, Hans tidak nyaman dalam kondisi seperti ini. Yup! Saat berduaan dengan Nadin, wanita itu sangat bersemangat sekali, tatapan yang diberikan masih sama seperti pertemuan pertama kali. penuh kagum dan sangat tulus. Hans bahkan berkali-kali mencoba menghindari bersitatap dengan Nadin.


Entah apa yang sudah Nadin lakukan kepadanya, Hans hanya tahu satu yang pasti dalam dirinya.


'Dia tidak tega terus-terusan menolak perlakuan manis Nadin.'


Yaahh wanita baik hati yang begitu malang, kenapa dia harus jatuh hati pada si beku Hans?


***


Setelah bergelut dengan pekerjaannya mendampingi Althea kemana-mana, akhirnya Nadin bisa duduk dan menyandarkan badannya di sandaran kursi tempatnya bekerja. belum selesai dengan notulen yang harus dia kerjakan hasil kerjaanya tadi Nadin lebih memilih mengistirahatkan otaknya sejenak, sambil menggerakan kursi menyerong ke kanan dan ke kiri dengan pikiran begelut dengan satu keadaan.


Ya... sudah hampir menginjak 3 minggu pernikahannya bersama Hans, tapi Nadin sama sekali tidak mendapatkan perhatian lebih dari Hans. Masih saja sedatar dan sedingin di awal, Hans tak mengalami perubahan sama sekali. Percaya atau tidak, bahkan Hans tidak pernah lagi menyentuh Nadin pada hari itu.


Nadin sudah mencoba memberikan sinyal kearah sana, tapi Hans selalu berusaha menolaknya dan malah memilih menghindari Nadin lebih jauh. Mendiamkannya, sibuk menghabiskan waktu di ruang kerja jika di rumah.


Tok..Tok...


Suara ketukan di depannya membuyarkan lamunannya.


"Tian?!"


"Hei... hari ini saya ada pertemuan sama Bu Althea, setelah urusan ini kamu ikut saya makan siang ya.. jangan di tolak lagi loh!" Nadin hanya mnghela napas panjang.


"Hm.. okay Tian... aku temenin kmu makan siang tapi dengan syarat, jangan minta macem-macem saat proyek berjalan ya..."


"Bu. Althea ada di dalam kan?!"


"Hmm.. bentar..." Nadin pun menghubungi Althea dengan Iphone nya dan memberitahu bahwa Bastian sudah datang. "anda ditunggu di ruangannya Pak Tian..."


"Siyap bu boss.. kamu segera kerjakan kerjaanmu, lalu setelah ini kita makan!"


"Iya... bawel!" ucap Nadin sambil tersenyum kearah Bastian.