I'm Not Cinderella

I'm Not Cinderella
AMFH 15



...ANYEONG MY FUTURE HUSBAND...


^^^By. Lucifer^^^


Rubina masih bingung. Bahkan upayanya memutar otak mencari ide berakhir sia-sia. Yang ada semakin dia banyak berpikir, otaknya malah semakin buntu.



"Awww, shitt!! panas banget." Sean mengeluh lagi. Sumpah demi apa pun dia bahkan jauh lebih rela dipukuli ratusan kali di bagian punggung ketimbang harus merasakan hawa panas yang bersarang di bagian asetnya saat ini. Sewaktu Sean mengeluh sembari mengipasi bagian yang terkena kuah kari itu, Rubina refleks saja maju dan mengulurkan tangannya ke depan.


Dia hendak memberi bantuan namun tangannya keburu mendapatkan cegatan dari Sean.


“Jauhin tangan kamu itu dari aset milik saya, karena saya nggak akan biarin tangan kotor kamu itu nyentuh itu! Dan aahhh... apa kamu pikir kamu bisa dengan mudah ngambil kesempatan dalam kesempitan buat nyentuh aset milik saya?”


“Sorry. Tapi sumpah demi apa pun aku nggak ada niat buat ngambil kesempatan dalam kesempitan. Aku emang Cuma mau ngebantuin kamu aja kok.”


“Apa kamu bilang? Ngebantuin? Yang ada kamu malah terus ngejerumusin saya ke dalam lembah kesialan. Tiap kali ketemu kamu bawaannya bikin emosi saya murka. Sejak kamu SMA sampai sekarang kamu nggak pernah berubah sama sekali. Sebenarnya kamu tuh bodoh atau gimana sih? Bukannya penolakan yang saya kasih udah jelas, ya? Trus kenapa kamu masih ngejar saya. kayak nggak ada cowok lain aja.”


“Emang banyak sih cowok di dunia ini. Tapi cuma kamu yang berhasil buat aku jatuh cinta untuk pertama kalinya. Dan kamu adalah cinta pertama aku. Tapi tunggu bentar..." Rubina memenggal kalimatnya karena otaknya sedang berputar memikirkan sesuatu yang menurutnya janggal. Waktu itu— tepatnya saat di Rumah Sakit Sean bilang dia tidak mengenal Rubina sama sekali. Lalu apa artinya sekarang dia menyinggung hal-hal yang terjadi tujuh tahun lalu saat mereka masih SMA?


"Bentar deh, kemaren pas aku nanya apa kamu masih kenal aku atau nggak, kamu kamu bilang nggak kenal. Tapi kenapa sekarang kamu nyinggung soal kejadian tujuh tahun yang lalu. Hmmm, apa ucapan kamu kemaren Cuma buat ngehindar dari aku?"


'Ckk, sial... pake salah ngomong lagi,' Sean berkeluh kesah lewat batinnya.


Karena kebetulan saat itu dia masih merasa aneh pada bagian asetnya yang baru saja terkena kuah kari. Alhasil dia menjadikan itu saja sebagai alasan untuk menghindar dari pertanyaan Rubina.


"Ck, Urusan kita belum selesai yah." Telunjuknya diarahkan ke depan wajah Rubina sebagai tanda ancaman. "Kalo sampai terjadi sesuatu yang serius sama aset milik saya. Jangan harap kamu bisa bebas. Saya bakalan minta kamu buat tanggung jawaban!"


"Iya... kamu tenang saja. Aku bakalan tanggung jawab. Kalo perlu, aku bakalan jadi istri kamu kalo emang itu yang kamu pengen sebagai bentuk tanggung jawab dari aku."


"Mimpi kamu! Untuk di dunia nyata jangan harap itu bisa kamu dapatin! Saya nggak akan sudi nikah sama cewek jadi-jadian kayak kamu!" tandas Sean.


Secepat kilat dia balik badan. Dengan kaki jenjangnya dia mengambil langkah meninggalkan Rubina sendirian. Sementara Rubina seketika meninggalkan posisi berdirinya untuk memunguti tupperwarenya. Dia memunguti tupperware itu sampai tidak menyadari ada seseorang yang berdiri di dekatnya.


"Kamu nggak kenapa-kenapa, kan?" Marisa Ibu dari Sean ikut berjongkok dan membantu Rubina mengambil tupperwarenya.


"Oh, aku baik-baik saja kok, Tante. Tapi maaf yah karena aku udah bikin rumah Tante ketumpahan kari ayam."


"Santai saja. Tapi kok kejadiannya bisa kayak begini sih, Nak?" Tanya Marisa lebih ke rasa khawatir.


"Jadi begini Tan. Tadi Ibu nyuruh aku buat bawa kari ini. Tapi pas aku mau ngetuk pintu, tiba-tiba aja Sean buka pintu dan buru-buru keluar. Ya... jadi kayak gini deh, Tan." Rubina menjelaskan apa yang sebelumnya terjadi di tempat ini.


"Oh iya, Tan. Boleh pinjem pel'an ga? Biar aku yang beresin ini semua," tentu saja Rubina merasa dirinya sangat berdosa kalau seandainya dia meninggalkan rumah tetangganya itu dalam keadaan seperti ini.


"Tapi Tan... aku jadi ngerasa enggak enak."


"Udah, enggak apa-apa kok. Nanti biar tante aja yang beresin semuanya. Oh iya, sini duduk dulu!" Marisa mengajak Rubina untuk duduk di kursi yang terdapat di beranda rumah. Setelah duduk berdekatan Marisa lalu berkata, "Tante minta maaf yah!"


Rubina menoleh cepat. Keningnya memperlihatkan kerutan yang begitu dalam.


Bahkan siapa pun yang ada di posisinya saat ini akan merespon yang sama dengan respon Rubina.


Rubina merasa dirinya yang bersalah, tapi ia malah mendengar permintaan maaf dari wanita di hadapannya.


“Loh, Kenapa Tante yang minta maaf? Kan aku yang salah?”


“Tante meminta maaf mewakili anak Tante. Ya, seperti itulah Sean. Dia emang tipikal orang yang irit bicara sama dingin kayak manusia salju. Terutama untuk orang baru. Tapi kalau sudah emosi kayak tadi, maka dia berubah jadi cerewet. Padahal dia yang salah, tapi dia juga yang malah marah-marahin kamu. Sekali lagi tante minta maaf yah atas nama Sean.”


“Its ok! Tan. Aku juga mengerti kok kenapa Sean bisa marah. Mungkin karena dia juga lagi buru-buru makanya emosi karena insiden tadi secara enggak langsung malah menghambat waktunya buat ke Rumah Sakit.”


‘Sepertinya Rubina dan Sean sudah saling mengenal satu sama lain. Syukurlah, pasti tidak akan sesulit itu saat nanti akan membahas tentang perjodohan mereka, sesuai yang diharapkan Papah.’ Marisa membatin.


Ini adalah kali pertamanya bertemu dengan gadis yang hendak dijodohkan oleh Ayahnya dengan putranya, dan Marisa pikir merasa cocok dengan Rubina. Selain cantik tentu saja, di mata Marisa, Rubina itu orangnya apa adanya. Itu sih yang Marisa rasakan pada diri Rubina di hari pertama mereka bertemu.


"Tan. Kalau gitu aku pamit dulu yah! Aku mau ambil kari yang baru di rumah."


"Enggak usah repot-repot, Bi!"


"Enggak kok, Tan. Lagian Ibu juga bikinnya banyak kok. Eh, maaf sebelumnya. Tante kenal sama aku?" Tanya Rubina. Padahal dia dan wanita di hadapannya saat ini belum sempat berjabat tangan saling memperkenalkan diri tapi dia sudah mengenal Rubina. "Apa sebelumnya aku dan Tante udah pernah ketemu?" Rubina menambahkan jumlah pertanyaannya.


"Ini kali pertama kita bertemu kok," Marisa coba menjawab keraguan Rubina. Namun bukannya berkurang, kadar kebingungan yang mendiami diri Rubina kian bertambah saja.


Rubina semakin mengerutkan keningnya.


“Kakek sama Ibu kamu banyak cerita tentang kamu.”


“Ibu?” ulang Rubina


Mendapat anggukan mantap dari Marisa.


“Selain cerita banyak tentang kamu, Ibu kamu juga pernah kirim foto kamu ke Tante. Makanya Tante udah bisa tahu nama kamu di pertemuan perdana kita.”


“Ah... gitu yah, Tan!”