
Dirumah sakit... Di ruang VVIP...
Pukul 19.00 malam...
Althea akhirnya dirawat dan di infus atas perintah Danniel...
Danniel pun duduk menunggu Althea yang sedang tertidur karena pengaruh obat.
Toookk.. Toookkk...
Seseorang membuka pintu kamar Althea dan seorang pria paruh baya masuk ke kamar Althea, Danniel yang melihat ke arah pria itu kaget.
"Dad?!" Ucapnya beranjak menghampiri Ayahnya.
"Niel..." ucapnya tersenyum ikut berjalan menghampiri Danniel dan mereka pun berpelukan.
"kau tidak apa-apa kan? Hans tadi bilang katanya kamu terlibat masalah lagi..."
"I'am fine Dad.. biasalah saingan bisnis, nggak rela karena saya mutusin kerjasama sepihak dengan perusahaannya.." Jelas Danniel.
Lalu Ayah Danniel melihat kearah Althea yang terbaring.
"Dia... wanita yang membuatmu rela meninggalkan Klien penting di Singapore dan balik ke Indonesia hanya untuk menyelamatkannya, hmh?!"
Danniel hanya tersenyum.
"I don't know Dad... dia berbeda dari cewek lain yang pernah saya temui, and I just want to protect her..."
"kau melakukan hal yang benar Niel... aku hanya bisa mendukungmu... if you serious in your relationship!"
"Dad... bisa jangan beritahu Mom dulu masalah Althea? karena saya belum menyatakan perasaan saya sama dia... dia terlalu susah untuk didekati Dad... dia selalu masang perisainya, dan nggak pernah menganggap saya laki-laki... dia selalu menganggap saya atasannya" Ayah Danniel tertawa.
"hebat sekali dia tidak tertarik sama pesona seorang Danniel Henney... cepatlah, kalau nggak nanti ada yang merebutnya darimu!"
Danniel hanya mengangguk dan tersenyum.
"Uncle...." Teriak Alpha dari luar berlari ke dalam kamar Althea.
Danniel dan Ayahnya pun terkejut dengan kedatangan Alpha...
"Alpha?" tandas Ayah Danniel.
"Hey Boy... sama siapa kamu kesini?" menggendong Alpha.
"Cih... kau ini... bilang dong kalau ada masalah..." Ucap Reyandra yang baru masuk ke kamar.
"kau..."
Tak lama Althea terbangun karena kehadiran dari keluarga Henney.
"Uugghh..." Althea lalu beringsut duduk sambil memegang keningnya yang masih pusing.
Danniel pun menghampiri Althea.
"Hey... kamu udah bangun?" sambil membanty Althea untyk dudukndan membenarkan rambut Althea yang menutupi wajahnya.
"euh.. im fine Niel.." Ucap Althea lalu kaget melihat kearah Tyo, Reyandra dan Alpha.
Sementara Reyandra dan Ayahnya tersenyum melihat sikap Danniel pada Althea yang sangat lembut.
"Al... kenalin dia Daddy saya dan Kakak saya, lalu si pengacau ini Alpha dia anaknya.." Ucap Danniel menunjuk Reyandra.
"Dia akan jadi Aunty Alpha Uncle?" ucap Alpha dengan polos. Althea pun kaget dengan pertanyaan Alpha.
"Sebentar lagi, okay Boy!..." ucap Danniel menggendong Alpha untuk duduk disamping Althea.
"hallo Aunty..."
"hay jagoan..." ucap Althea tersenyum gemas melihat sikap Alpha yang menurutnya sangat imut.
"baiklah kalau begitu Dad kembali ke ruangan dulu.. Al cepet sembuh ya..."
"Iya Tuan, terima kasih.." ucap Althea menunduk.
"Oh No! panggil Om saja atau Dad?!" melirik kearah Danniel.
"Alpha ayo.. jangan ganggu Uncle sama Aunty... mereka akan membuat adegan yang tidak pantas untukmu..." Ucap Reyandra bercanda.
"Hyung..."
"Araso... Araso.. come on boy..." Reyandra pun mengangkat Alpha dan menggendongnya lalu keluar mengikuti Ayahnya. Danniel hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Reyandra.
"Kok saya disini Niel?"
"Tadi kamu pingsan, dan kata dokter kamu tidak makan dan dari kemaren.."
"Ohh... Iya terakhir saya makan sarapan yang kamu buat..."
"Ooh emang yang di restoran sama mantan kamu itu kamu nggak makan?"
"Hah.,." ucap Althea heran. Sementara Danniel menunggu penjelasan dari Althea sambil menyilangkan kedua tangannya di dadanya.
"eu... dia ngajak ketemuan soalnya dia mau minta maaf atas kejadian malam itu... dan saya juga udah bilang sama dia kalo dia harus terima Gracia karena bagaimana pun juga diantara kita udah nggak ada lagi yang bisa dipertahanin..." Danniel pun cuma ngangguk-ngangguk.
"lagian ngapain juga saya jelasin ini sama bapak..." Tak lama Saat Danniel akan mendekat kearah Althea tiba-tiba pintu kamar Althea dibuka dan Angga masuk berjalan kearah Althea khawatir.
"Sayang... bagaimana bisa??"
"I'am alright Pah... yang ketembak justru Danniel, soalnya dia jadi tameng pelurunya Reqi..." Angga melihat kearah Danniel.
"Terima kasih nak..."
"Mamah Nesya mana Pah?"
"Dia lagi nyari baju pertunangan Gracia, minggu depan acara pertunangan mereka akan dilaksanakan sayang..." Althea terdiam lalu tersenyum kearah Angga.
"Akhirnya Lauro menerimanya..." ucap Althea dalam hati.
"kalau begitu saya tinggal dulu Om..."
"Ah iya sekali lagi terima kasih Danniel... kau juga istirahatlah..."
**
2 hari Althea menginap di rumah sakit, Danniel pun bekerja seperti biasa Angga pun menemani Althea selama dia dirawat di rumah sakit.
**
ALTHEA POV
pukul 08.00 pagi... gue yang udah sehat kembali ke rutinitas seperti biasa, gue juga udah ngehubungin group wa kantor dan juga Danniel dan Hans kalo hari ini gue masuk.
hah... saat ini gue masih bingung ama sikap bos yang terlalu baik sama gue, nggak habis pikir gue, gue berusaha neken perasaan gue saat berdua sama si boss karena emang dari awal gue udah diwanti-wanti buat nggak macem-macem ama Big Boss dan selama setaun ini gue aman, cuma akhir-akhir ini aja si boss terlalu perhatian ama gue sampe kejadian kemaren yang nggak habis pikir sama gue... dia di Singapore harusnya 3 hari dan mereka klien penting loh.. tapi kenapa cuma karena gue dia bela-belain nge cancel jadwal dan buru-buru balik... nggak mungkin kan kalo dia suka ama gue???
"Hey Al..."
"Pak Rafael?"
"Hmm.. sorry ya kemaren saya nggak sempet nengokin kamu di RS..."
"Oh nggak papa pak.. orang saya juga udah sehat kok..."
"Syukurlah... tapi gimana nih hubungan sama boss kayaknya udah deket banget tuh..." Canda Rafael.
"Idiihh apaan nggak ada pak... cuma sebatas pacar pura-pura aja biar cewek yang ngerubunin Big Boss menjauh..." Rafael cuma nyengir.
"Kasian anak gadis orang cuma dijadiin pacar boongan... haaah kelakuannya mafia bener"
"Ya.... bapak juga sama aja kan kelakuannya sama Big Boss, anak perawan orang cuma dibikin pacar satu malem doang." Gue liat Rafael senyum-senyum mesem.
"Kata siapa?"
"Yaa...keliatanlah pak... nih ya pak disini cowok yang bener cuma Hans doang.."
"Kenapa?"
"Ya karena dia nggak punya waktu buat macem-macem ama cewek... dimana ada Big Boss disitu ada Hans.. kadang kasian juga liat dia.. nggak tau rasanya jatuh cinta, pacaran.. sibuk terus ama Big Boss..." Rafael ketawa ngakak.
"Dasar kamu ini, di ralat ya.. saya nggak pernah satu malem, minimal 3 bulan lah.. itu pun cuma saya grepein nggak pernah masuk.." Hadeuh dasar Boss nggak ada ahlak... Pagi-pagi udah bahas grepe-grepe.
"Ya Ampun paaaakk.. Masih mending Big Boss kemana-mana kalo gitu.. Dia cuma ngindarin cewek-cewek doang.."
"Kamu belum tau aja dulu kehidupan dia kayak gimana sebelum kayak sekarang..."
Iyalah kehidupan orang kaya lu semua pasti nggak jauh dari pesta dan sex.
Gue cuma nyengir ngebayangin ni Big Boss yang selama ini gue hargain dalam sekejap nggak ada harganya banget di mata gue.. hahaha...
"Udah kalo kamu nggak mau sama Big Boss sama saya mau?" Makin ngelantur aja nih omongannya.
"Ogah... Pesona kalian semua nggak akan ngaruh sama saya pak.... Astaga..."
"Nyoba dulu kenapa... Test drive 1 tahun mau? Dijamin nggak akan nyesel.. pasti puas dan ketagihan..." Dia ketawa ngakak gue pun sama ngakaknya karena denger ocehan recehnya.
"Siapa yang test drive 1 tahun?" Danniel datang diikuti Hans.
"Nih Pak... masa saya ditawarin test drive 1 tahun sama Pak Rafael..." Ucap gue sambil liat Rafael yang ngasih kode supaya nggak ngomong sama Big Boss. Danniel langsung liat Rafael serius.
"El... Lu beneran sekurang ajar itu?" gue liat Danniel karena nada ngomongnya udah diatas 1 oktap.
"Nggak, cuma bercanda doang Niel.. Althea juga tau kalo gue becanda iya kan Al?" dia liat gue minta dibela.
"Eu.. Iya, tadi kita cuma bercanda doang kok pak.."
"Iihh pagi-pagi candaan kalian berdua udah kayak gini..." dia masuk ke ruangan diikuti Hans yang sebelum masuk liat gue sama Rafael geleng-geleng kepala..
"Kamu sih... pake bilang-bilang tadi kan saya kasih kode supaya nggak bilang masih aja ngadu... udah tau dia nganggep kamu cewek benerannya..." gue cuma senyum doang liat Rafael nggak komen lagi. Karena nggak mungkinlah, orang dia udah bilang kalo cuma pura-pura doang...
Nggak lama gue siapin berkas yang tadi udah disetorin per divisi dan gue udah sortir, gue langsung masuk ke ruangan dia nyerahin berkas yang mau dia review sama di tandatangan sekalian gue kasih berkas Desain yang mau dikontrak ama klien luar.
"pak, mau makan dulu apa...."
"kita tadi udah makan..." ok gue cuma ngangguk doang aman brarti.
Hans coba kamu cek ke bagian keuangan dana yang mereka minta udah saya acc." Hans pun ngangguk langsung pergi dari ruangan. Gue masih diem. Danniel langsung tanda tangan sebelum review laporan.
"Tadi Rafael ngomong beneran apa bercanda?" Ya ampun masih aja dibahas ya ...
"Astaga becanda pak.... Ya Allah udah berapa kali sih saya bilang..."
"Serius kalo dia macem-macem sama kamu bilang sama saya..." Gue cuma ngangguk. Kita pun diem lagi nggak ada pembahasan juga soalnya.
"Emang lagi ngebahas apa kok bisa sampe ke statement kayak gitu..." Sumpah ini kepo sangat tingkat tinggi nih.. Dan gue pun jelasin awal mula ketika dia merhatiin sikap Big Boss yang beda banget sama gue. Ya gue bilang aja kalo kita sama-sama saling memanfaatkan gue jadi pacar Boss biar bisa ngusir cewek yang nempel sama dia dan dia jadi pacar pura-pura biar mantan gue mau ngawinin Gracia dan percaya kalo gue udah move on dan bla bla bla....
"Ya udah pak.. saya balik lagi ke meja ya..." Ucap gue seketika kabur karena takut di Introgasi lebih jauh lagi ama Big Boss. Dan saat gue mau nutup pintu.
"Al..." Teriak Big Boss. Dan otomatis gue pun balik lagi nengok ke dia.
"Kenapa Pak?"
"Kamu nggak sakit hati dibilang pacar bohongan saya?"
"Ya nggaklah kan nolongin temen, bapak juga udah beberapa kali nolongin saya dari mantan pacar saya kan... jadi ya... anggep aja saya balas budi. emang kenapa pak?"
"nggak apa-apa..."
"ya udah saya balik ya pak..." gue nutup pintu Big Boss.