I'm Not Cinderella

I'm Not Cinderella
Ekstra Part 29 Kisah Hans



Triingg...


"Quilll!!!" sapa Nadin dengan sumeringah. Aquila yang sedang duduk di depan meja kasir menghitung income profit dari hasil butiknyael melihat ke arah Nadin terdiam sejenak, lalu tak lama mengembangkan senyumnya.


"Hai Nad... tumben mampir kesini? perasaan aku ga minta desain sekarang deh..."


"Aku kesini karena kewajiban aja, aku kan masih karyawan disini... nggak enak kali sama karyawan lain, tar disangknya aku di anak emasin sama kamu..."


"Hm... jadi kamu mau tiap hari dateng ke butik lagi?!" Nadin pun mengangguk. Aquila terdiam sejenak, tiba-tiba Nadin berubah pikiran dan sangat ceria hari ini.


***


"Lo, bukanya mikir malah mabok bawa Aquila ke Apartment lo lagi... gimana Nadin ga minta cerai sama Lo?!" ucap Danniel kesal kearah Hans. Sementara Hans terdiam menunduk tidak heran dari siapa Boss nya itu tau apa yang dilakukannya tadi malam


"Maaf Boss!"


"Biarkan Nadin hidup bahagia..."


"But, Sir.."


***


"Shiiitt... Mana surat cerai itu? kemarin perasaan saya taruh disini?!" Ucap Hans sambil mengacak-ngacak meja kerjanya.


"Woy... kenapa lo? panik gitu kayak kebakaran jenggot." ucap Rafael yang baru saja datang ke mejanya diikuti Sekretaris setianya Danniel yaitu Ryuji.


"Gue lagi nyari amplop coklat yang kemaren-kemaren disimpen diatas meja." jawab Hans yang masih mengacak-ngacak mejanya. Sementara Ryuji mengerutkan keningnya.


"Maksud Pak Hans berkas perceraian Bapak sama Nadin?" ucap Ryuji baru ingat. Hans pun melihat Ryuji kaget.


"Kamu tau dimana itu?"


"Saya kirim kembali berkasnya, saya pikir itu sudah siap kirim soalnya setelah saya cek dan melihat berkasnya sudah Bapak tanda tangani. Dan itu tadi pagi sudah disimpan di berkas yang memang siap kirim."


"What??? kamu nggak salah Ryu? Saya belum tanda tangan berkas itu..."


"Saya mana berani bohong kalau masalah ini Pak, dan saya yakin itu tanda tangan Bapak sendiri, kalau tanda tangan orang lain saya pasti tahu..." Hans pun terdiam kaget, karena jujur saja Hans merasa belum pernah menandatangani surat cerainya dengan Nadin.


"Kau yakin itu tanda tangan saya, Ryu?"


"Sangat yakin, Pak! karena saya tau tanda tangan Bapak dan tidak ada yang bisa meniru ataupun berani menjiplak tanda tangan Bapak!"


"Ini... ada apa sih? Hans---" ucap Rafael yang terpotong karena Hans langsung beranjak berlari keluar ruangan.


"Wait.. Hans?! Iihhh kenapa sih? Ryu, bisa kamu ceritakan?!"


"Hans.. loh, kalian ngapain di depan mejanya Hans? trus Hans mana?" ucap Danniel yang baru saja melongok dari pintu ruangannya melihat Rafael dan Ryuji yang sedang berdiri di depan meja Hans.


***


Tingg!! Suara lonceng dari pintu butik milik Aquila berbunyi tanda tamu masuk.


"Selamat datang..."


"Permisi saya dari G.Ekspress ada kiriman untuk Ibu Nadin..."


"Ah.. Iya saya sendiri..." ucap Nadin lalu menghampiri kurir itu.


"Bisa minta tolong tanda tangan Bu..."


"Ah.. iya.." Nadin pun menerima paket itu dan menandatangani penerimanya.


"makasih ya, Mas..." ucap Nadin. sebelum si tukang kurir berlalu dari hadapannya.


"Ada apaan sih? rame banget! Nad, makan yuk.. laper nih.." ucap Aquila manja menggandeng lengan Nadin, lalu melirik ke arah amplop cokelat itu tersenyum smirk.


"Bentar ya Quil, aku liat dulu berkas ini... aku ke ruangan aku dulu ya..." Ucap Nadin lalu berlalu dari hadapan Aquila.


Setiba diruangannya Nadin langsung duduk di kursinya dan membuka berkas itu. Nadin tahu persis kalau isi di dalam amplop itu adalah surat cerainya yang dia kirim untuk Hans. Dan sekarang amplop itu kembali padanya. Jujur Nadin deg degan saat membuka amplop itu.


Dan saat dia melihat berkas yang sudah ditanda tangan oleh Hans Nadin badan Nadin pun merosot lemas...


Hah... Ya... cukup sampai disini aku bertahan... Mas Hans juga nggak ada upaya buat mempertahankan pernikahan ini... mudah-mudahan ini yang terbaik!


***


"Kenapa sih Nad? kayaknya lemes banget!" ucap Aquila saat mereka berdua sedang makan di salah satu cafe favorit Aquila.


"Hmm.. nggak Quil, aku lagi---"


"Maaf ini pesanannya..." ucap pelayan sambil menyimpan makanan pesanan mereka di depan Nadin, saat melihat dan mencium makanan yang ada di depannya Nadin langsung menutup mulut dan hidungnya, tiba-tiba mual yang tadinya sudah reda kembali muncul lagi.


Nadin pun langsung berlari ke toilet yang ada di cafe itu.


"Nad.. mau kemana??" teriak Aquila saat Nadin sudah hilang dari pandangannya lalu cemberut.


"Quil... Mana Nadin? Katanya kalian sedang makan siang!" tembak Hans yang baru saja sampai kedekat meja Aquila.


"Loh, Kak Hans?!"


"Tolong jangan sembunyikan Nadin lagi, Quil... Saya perlu bicara sama Nadin!" pinta Hans memohon.


"Hah.. Sebenernya yang minta diumpetin tuh Nadin sendiri, dia nggak mau ketemu sama Kakak..."


"Ada hal penting yang harus saya bicarakan..."


"Hah... Ya udah duduk dulu deh.. Nadin lagi ke toilet bentar.." ucapnya sambil menyantap makanannya.


Sementara Hans duduk di depan Aquila dengan cemas.


Lima menit Nadin tidak kunjung datang ke meja mereka.


"Quil kamu yakin Nadin masih disini? dia nggal kabur kan?"


"Ya nggaklah Kak, orang tadi Nadin tuh ke toilet, mukanya emang sedikit pucet sih pas menu ini datang." Aquila dan Nadin pun saling pandang.


Akhirnya Aquila menyusul ke toilet itu, dan Saat Aquula masuk ke dalam toilet itu betapa terkejutnya dia melihat Nadin yang pingsan di dalam toilet.


"Ya ampun, Nadin?! Kak Hans!!"


***


Saat di klinik Nadin terbaring di ranjang sedangkan Aquila dan Hans duduk di ruang tunggu dengan cemas.


Sementara dokter yang memeriksa Nadin pun keluar dari ruang tindakan.


"Bagaimana keadaan teman saya, Dok?!" ucap Aquila cemas buru-buru menghampiri dokter itu. Hans pun ikut mendekati Dokter itu.


"Keadannya baik-baik saja, dan keadaan janinnya juga sehat, hanya saja ibunya terlalu capek, jadi tolong sebisa mungkin ibunya jangan terlalu stres atau kecapean ya... terlalu riskan untuk trisemester pertama kalau Ibunya stres atau pun terlalu capek..." Jelas Dokter yang baru memeriksa Nadin.


Dan bagai disambar petir Aquila dan Hans hanya terdiam saat mendengar penjelasan Dokter itu.


Nadin... Hamil??


"Maaf, Nadin Hamil Dok?!"


"Iya, maaf kalau boleh saya tau anda temannya juga?"


"Saya syaminya, Dok!"


"Oh, begitu Bapak memangnya tidak tau kalau istrinya sedang hamil? kandungannya baru berusia 2 bulan loh Pak..."


"Aahh.. mungkin Nadin ingin memberi kejutan sama Kak Hans.." jeas Aquila sambil tersenyum pada Dokter itu.


"Baiklah, ini resepnya untuk vitamin dan penguat janinnya, jangan lupa makan makanan sehat dan juga buah-buahan, susu ibu hamilnya sudah ada kan? terus diminum ya..."


"Aahh.. iya, baik dok..." ucap Aquila terbata-bata antara mimpi dan kenyataan... jujur saat ini Aquila sangat shock mendengar bahwa Nadin sedang mengandung dan pastinya itu adalah anak dari Hans. Aquila melihat kearah Hans yang masih terdiam.


"Sini, Kak... biar aku aja yang ngambil obat, kakak memding tunggu Nadin siuman."


"Aahh.. iya, maksih ya Quil!" ucap Hans terbata-mata. Jujur baru kali ini pikiran Hans tidak fokus.


Aquila pun mengambil resep yang diberikan dokter lalu menebusnya ke farmasi terdekat.