I'm Not Cinderella

I'm Not Cinderella
AMFH 58



...ANYEONG MY FUTURE HUSBAND...


^^^By. Lucifer^^^


Bunyi klakson membuyarkan lamunan Rubina. Dengan jarak yang tidak begitu jauh terlihat Sean yang sedang menunggangi V4R nya.


"Ayo, buruan!" ucap Sean terkesan tidak sabaran. Rubina dengan senyuman manisnya datang mendekat.


"Nggak usah senyam-senyum. Cepet ambil helmnya nih, cepet naek ke motor."


Rubina menyambut helm yang diberikan Sean, segera dia memasangnya.


"Kamu nggak keberatan kan kalau saya ngajak kamu mampir ke suatu tempat?" tanya Sean begitu Rubina sedang sibuk dengan helmnya.


"Nggak dong, aku bakalan ikut calon suami!" jawab Rubina. Dalam hati gadis itu merasa sangat senang karena imajinya sedang membayangkan akan diajak ke suatu tempat romantis mendengar ucapan Sean sebelumnya.


Begitu Rubina sudah terduduk di belakangnya, Sean pun membawa motornya itu membelah jalanan yang lumayan padat sore itu. Kira-kira lima menit kemudian Sean sudah memarkirkan motornya di depan sebuah gedung.


Keantusiasan Rubina raib. Begitu pun dengan bayangan indah di imajinya seketika menghilang saat dia tersadar di tempat apa Sean mampir. Bukan sebuah restauran atau pun sebuah kafe, Rubina melihat tulisan yang terdapat di gedung.


'Gue pikir dia bakalan bawa gue buat makan, ternyata dia minta gue buat mampir ke petshop,' ucap Rubina dalam hati.


Kecewa? Ya, Rubina mengakuinya.


"Kamu tunggu di sini aja!"


"Enggak mau. Aku mau ikut ke dalem." Rubina membalas cepat.


"Ck... udah nggak usah nheyel, kamu di sini aja! Lagian saya nggak akan lama kok, udah beli sesuatu, saya bakalan langsung pergi kok."


"Pokoknya aku mau ikut sama kamu ke dalem." Rubina mengurung tangan Sean.


"Ck... Lepasin nggak tangan kamu dari tangan saya!" Sean memerintahkan. Pandangan tidak suka dia arahkan pada bagian tangannya yang digenggam kuat oleh Rubina. Helaan napas gusar juga terdengar dari pria berahang kukuh itu.


"Aku nggak akan ngelepasin kalo kamu nggak nyuruh aku buat ikut sama kamu ke dalem!" ancam Rubina. Bahkan tatapan tajam yang diberikan oleh Sean tidak membuatnya takut. Rubina turut serta memasang tampang menantang nya, meskipun jatuhnya malah cute saat dia yang melakukannya.


"Ya udah, lepasin tangannya, saya bakalan ngijinin kamu buat ikut sama saya ke dalam petshop."


Rubina melepaskan tangannya dari pergelangan milik Sean.


Sean berjalan duluan. Rubina mengikuti pria itu dari belakang sambil memperhatikan punggung lebar pria itu. Karena tidak ingin melewatkan momen yang sayang untuk dilewatkan itu, Rubina diam-diam merogoh sakunya mengambil ponselnya dari dalam sana. Secara diam-diam Rubin memotret tubuh Sean dari belakang. Tanpa membuang banyak waktu hasil bidikan kamera ponselnya itu segera dia jadikan wallpaper.


Sean menyusuri rak demi rak yang berisikan banyak sekali jenis makanan kucing. Sean mencari makanan kucing seperti yang selama ini dia berikan kepada Lion. Walaupun agak sulit mencarinya tapi pada akhirnya dia menemukannya.


"SEAN!" panggil Rubina.


"Hmmm," Sean bergumam sebagai balasannya.


"Kenapa kamu beli yang itu, emangnya yang ini enggak cocok sama Lion?" Rubina memperlihatkan makanan kucing dengan kemasan warna pink yang diambilnya secara acak dari rak.


"Bukannya enggak bagus, tapi Lion udah biasa makan makanan merk yang ini."


"Tapi menurut aku sih yang merk ini juga sangat bagus, cuma... sayang aja--"


"Sayang, kenapa?" tanya Sean sambil menaikan satu halisnya.


"Enggak kenapa-kenapa kok sayang," jawab Rubina. Gadis itu berakhir mesem-mesem karena mendapatkan apa yang dia inginkan, yaitu sebuah panggilan 'sayang' dari Sean.


"Shiiitt!" umpat Sean lewat nada rendah saat baru tersadar kalau dirinya baru saja jatuh ke dalam jebakan yang Rubina buat.


"Oh ya sayang, eh sorry, maksudnya Sean," ucap Rubina sebenarnya dia sengaja memancing keributan dengan pura-pura salah menyebut. "Kamu nggak mau nanya soal kondisi kaki aku?" tanyanya.


"Sorry, tapi saya nggak tertarik buat nanya. Sedikit pun enggak. Lagian saya nggak sekurang kerjaan itu buat nanyain kondisi kamu segala. Emangnya kamu pikir kamu siapa? Ariana Grande? Taylor Swift?"


"Ck... Lain kali kamu nggak usah gengsi kalo seandainya kamu kangen sama aku. Dan kamu juga nggak perlu pake perantara kalo kamu emang penasaran sama kondisi aku, kamu bisa nanyain langsung sana aku."


"Kamu ngomongin apa sih? Perantara apa?"


"Nggak usah pura-pura bodoh di hadapan aku Sean. Aku tahu kok yang sebenernya."


"Ok, Fine! aku bakalan bantu kamu ngingetin. Semalam kamu nge chat Kak Eme kan? Dan yang aku tahu kamu ngechat dia buat nanyain kondisi aku kan? Udahlah Sean, ngaku aja kalo sebenernya kamu tuh sangat peduli sama aku, kamu cuma terlalu gengsi buat ngakuin itu. Iya, kan?" Sean meneguk salivanya. Dia gugup namun di waktu yang bersamaan dia ingin terlihat biasa-biasa saja.


Kalau sampai Rubina menyadari kegugupannya, maka gadis itu akan terus menggoda Sean tanpa ampun.


"Mungkin sekarang kamu nggak sadar tapi kepedulian kamu sama aku bisa jadi merupakan awal di mana cinta akan terbentuk. Seperti janjiku, aku nggak akan nyerah buat bantu kamu punya perasaan lebih sama aku."


"Kamu ini ngomong apa sih. Dari pada terus ngomong nggak jelas mendingan kita pulang sekarang. Masih banyak hal yang harus saya urus pas pulang ke rumah," Sean meninggalkan Rubina. Pria itu melangkah dengan gagah menuju ke meja kasir untuk membayar belanjaannya.


Setelah melakukan transaksi, Rubina dan Sean kembali ke tempat dimana motornya diparkir tadi.


"Sean!"


"Apaan?!"


"Kamu tau nggak bedanya kamu sama kucing?"


Sean menghirup oksigen di sekitar lalu menggantinya dengan karbon monoksida. Mendengar pertanyaannya saja Sean sudah bisa menebak ke mana arahnya.


Pastinya Rubina sedang mencoba untuk memberikan gombalan.


"Sean, Kamu tahu enggak?"


"Enggak," jawab Sean malas.


"Kalo kucing nyarinya tikus, tapi kalau kamu nyarinya aku."


"Apa sih!nggak jelas banget!"


"Mmmhh... Nggak lucu ya?" tanya Rubina.


"Sama sekali nggak," jawab Sean singkat.


"Coba kamu yang gombalin aku!" pinta Rubina.


"Kamu tau enggak bedanya kamu sama kucing?"


"Kalau kucing kan imut, kalau aku cantik," jawab Rubina berbinar.


"Bukan itu jawabannya."


"Terus apa dong?"


"Nggak ada bedanya. Kamu sama kucing sama-sama nyebelin."


"Nyebelin juga tapi tetep kan kamu perhatiin? Kamu juga sering nyiumin Lion terlepas dari ucapan kamu yang bilang kalau kucing itu nyebelin. Apa jangan-jangan sebentar lagi kamu juga bakalan nyiumin aku, kayak yang kamu lakuin ke Lion?"


"Mimpi!"


****


RUBINA menikmati momen ini saat di mana dia sedang duduk di belakang Sean yang tugasnya adalah mengemudi. Apalagi sambil memeluk ayang seperti ini. Rasanya seperti dunia milik berdua, dan yang lainnya cuma ngontrak. Namun belum lebih jauh Rubina menikmati momen manis ini dan sekarang timbul masalah yang mengandung tanda tanya besar.


"Ada apa?" pertanyaan itu tersampaikan dari bibir Rubina menyusul motor yang dikemudikan oleh Rubina mendadak berhenti. Rubi a juga melihat sekitarnya. Lokasi ini masih sangat jauh dari komplek rumah mereka. "Kenapa berenti di sini?"


"Turun dulu!" suruh Sean.


'Kayaknya ada masalah sama motor gue.'


Setelah Rubina turun dari boncengan, Sean mengecek kemungkinan-kemungkinan kenapa mesin motornya mati secara mendadak. Rubina memperhatikan si calon suami tengah mengotak-atik segalanya.


"Jangan-jangan bensinnya habis, lagi?" Rubina berkomentar.


"Bisa jadi," sambung Sean. Sean saat itu juga mengecek tangki bensin. Benar saja dugaan Rubina, alasan kenapa mesin V4R Sean mati secara mendadak disebabkan oleh habisnya bahan bakar.


"Ah sial! Ternyata emang bensinnya abis," umpat Sean pada kenyataan sembari memukul-mukul kepalanya- menyesal karena dia tidak mampir dulu ke pom bensin. "Mana di daerah sini sangat minim yang jual bensin eceran lagi."


Karena tidak punya opsi lain, Sean pun terpaksa mendorong motornya menuju ke rumah. Sementara Rubina berjalan di sebelahnya sambil membantu membawa kresek berisikan makanan kucing yang dibeli di petshop tadi.