
"Selamat malam Tuan dan Nyonya Henney..." ucap Bastian menyapa Tyo Henney dan sang istri di mejanya, otomatis semua keluarga yang ada disana menoleh ke arah Bastian.
"Oh, kamu, Tian... mana orang tuamu? sudah lama juga nggak ketemu sama ayahmu..."
"mereka sedang menyapa koleganya yang sedang berada di depan pintu masuk, Tuan... nanti juga pasti mereka kesini untuk menyapa Tuan..." ucapnya ramah lalu melihat kearah orang-orang yang ada di sana.
"Oh... kau sudah kenal dengan anak-anaku kan?"
"Iya, sudah Tuan, malah saya bekerja sama dengan perusahaan Nona Althea..."
"Oh ya?! Bagus kalau begitu..." Lalu melihat Nadin yang berada disampingnya. "Lalu... bukankah ini Nadin? Asistan nya Althea dan juga istri dari Hans.... iya kan?!" ucap Tyo melihat kearah Althea.
"Selamat malam Tuan... iya benar, saya Nadin asistant nya Bu. Althea... tapi sekarang saya sudah resign, Tuan. Dan sekarang saya bekerja sebagai desainer dari Butik Aquila..."
Tyo pun hanya mengangguk.
"Kalau begitu kami permisi dulu Tuan..."
"Ah.. iya, salam sama orang tua kamu ya, Tian.."
"Baik, Tuan." Ucap Bastian mengajak Nadin yang masih melihat kearah Althea dan Danniel.
"Mana Hans? Kenapa istrinya dikasih ijin untuk menemani pria lain?" ucap Tyo Kearah Althea dan Danniel.
Sementara Althea dan Danniel hanya saling pandang tidak menjawab dan tersenyum kecut ke arah Tyo.
Tak lama Hans pun datang kearah Danniel dan Althea untuk menjaga mereka.
"Nah, ini dia orangnya... Hans, kenapa istrimu kamu ijinkan menemani pria lain bukannya pergi denganmu?!" Omel Tyo pada Hans.
Yes absolutely... Tyo Henney adalah tipe orang yang setia, jadi sebisa mungkin dia selalu mengingatkan pada anak-anaknya ataupun orang-orang yang berada disekitarnya harus selalu menjaga, menyayangi, menghormati pasangan masing-masing, tapi yang tidak diketahui oleh Tyo Henney adalah Hans memang dipaksa dan terpaksa menikah karena dan oleh putra dan menantunya sendiri.
Hans hanya tersenyum kecut pada Tyo sambil menunduk.
"Sudahlah Pah, jangan ikut campur urusan Hans..."
"Hah... kau ini!"
Hans pun berdiri di belakang Althea dan Danniel sambil menjaga mereka, tak lama pandangannya tertuju pada sosok Nadin yang sedang tertawa bersama Bastian sedang mengobrol dengan kedua orang tua Bastian dan juga para kolega yang ada disana.
Nadin terlihat bahagia dan sepertinya terlihat tidak ada beban sama sekali... berbeda dengan saat dia bersama saya..
Hans tidak tau saja, kalau saja dia memperlakukan Nadin lebih baik seperti Bastian pada Nadin, Nadin pun pasti akan sangat bahagia dan lemgkap sudah kebahagiaannya.. karena saat kemarin Hans masih berperilaku dingin dan datar saja Nadin sudah sangat bahagia berada di sisi Hans... apalagi ditambah lago kalau Hans mau berubah? Nadin pasti akan jadi satu-satunya orang paling bahagia di dunia ini...
Saat pandangan Hans teralihkan dari sosok Nadin, menjadi memperhatikan gerak-gerik orang-orang di dalam Aula itu. Nadin melirik kearah Hans yang sedang berdiri siaga mengamankan keluarga Henney.
Mas... kayaknya Mas emang ga keliatan kehilangan aku ya... makannya Mas baik-baik aja selama aku ga ada...
"Gimana, Nad... mau?!" ucap Bastian membuyarkan lamunan Nadin.
"Ibu sama Ayah ngajakin liburan bareng, iya kan Yah?!" Nadin hanya tersenyum tanpa menjawab ataupun menyanggah ucapan Bastian.
"Iya, Nad... udah lama juga kan kita nggak refreshing bareng, dulu pas waktu jaman-jamannya kalian masih sekolah sering banget ngajakin liburan bareng..." ucap Ayah Bastian.
"Insya Allah Om, nanti kalau situasinya udah kondusif aku pasti ikut, tapi sekarang aku lagi dalam situasi yang nggak bisa kemana-mana dulu Om..."
"Jaga kondisi kamu, Nad... jangan terlalu sibuk sama kerjaan kamu..." ucap Ibu Bstian ramah dan perhatian pada Nadin.
"Aku nggak terlalu sibuk kok, Tante cuma ngedesain pakaian, tapi ya itu idenya yang bikin aku nggak kondusif..." ucap Nadin tertawa kecil. Lalu Bastian dan kedua orang tuanya pun ikut tertawa.
Ada rasa aneh yang Nadin rasakan saat bertemu lagi dengan kedua orang tua Bastian. Memang dari dulu kedua orang tua Bastian sangat welcome padanya, hanya saja keadaan Bastian yang mengharuskan untuk melanjutkan studinya di luar negeri dan otomatis hubungan mereka pun mau tidak mau harus berpisah.
Bahkan kedua orang tua Bastian pun menyayangkan karena mereka sudah menyukai Nadin dan sudah menganggap seperti anak mereka sendiri.
***
Pukul satu pagi... Hans yang baru saja masuk ke loby apartment nya ditahan oleh security yang sedang berjaga disana.
"Pak. Hans, maaf ini ada surat buat Bapak tadi siang sampai disini..." ucap Security sambil menyerahkan amplop itu pada Hans. Hans yang sangat lelah dan pakaiannya yang sedikit berantakan pun mau tidak mau menerima amplop tersebut. Hans membaca sekilas si pengirim amplop tersebut yaitu Nadin Aruna Wijaya.
"Hmm... Makasih, Pak!" ucap Hans yang langsung berjalan ke arah lift dengan gontai.
***
Saat masuk ke dalam Apartmentnya Hans langsung membuka pakaiannya berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Tas dan juga amplop yang diterima tadi dia simpan di ruang kerjanya tanpa dibuka terlebih dahulu.
Tumben kan? biasanya setelah pulang dia langsung membuka tas kerjanya mengeluarkan tablet dan langsung bekerja lagi, tapi malam ini Hans seperti tidak bersemangat bahkan langkahnya yang biasanya masih tegap pun terlihat gontai.
Setengah jam Hans berendam sambil menjernihkan pikirannya yang kalut.
Saat Hans membuka lemari pakaiannya, dia melihat tidak terlihat pakaian Nadin di dalam lemari itu, padahal dua hari kemarin dia masih melihat pakaian Nadin yang masih terlipat rapih dan berjejer di lemarinya, tapi malam ini dia tidak melihat satu pakaian pun di lemarinya, lalu Hans pun melihat di wardrobe barang-barang milik Nadin sudah tidak ada kecuali barang-barang pemberian dari Hans, ada tas, sepatu yang sengaja dibelikan oleh Hans juga tidak dibawa oleh Nadin, bahkan perhiasan pun tidak dibawanya.
Hans menghela napas sedikit kesal apalagi saat mengingat keakraban Nadin dengan Bastian di acara charity event tadi malam, Hans pun secara tidak sadar mengepalkan tangannya.
***
Entahlah Hans tidur jam berapa, tapi pagi ini Hans bangun tepat pukul lima pagi... matanya mengerjap lalu melihat ke arah sampingnya.
Sepi sangat dirasakan oleh Hans selama hampir sebulan semenjak kepergian Nadin dari Apartment nya, biasanya saat bangun Hans pasti sedikitnya melihat sosok Nadin yang masih tidur di sampingnya sambil masih memeluknya, atau Nadin yang sedang berada didapur untuk menyiapkan sarapan dan kopi untuknya.
Sekarang boro-boro, Hans selalu sarapan instan kalo tidak energen yang dia seduh sendiri, atau cococrunch yang hanya cuma dituang susu putih. makan pun dia pasti sempatkan di rumah Althea atau tidak di luar karena dia benar-benar tidak ada waktu untuk memasak.
Setelah Hans sudah siap dengan pakaian kerjanya, Hans juga menyiapkan sarapan instant nya, pagi ini dia memilih energen karena dia ga mau membuat lagi kopi ataupun teh jadi biar sekalian maksudnya...
Setelah selesai membuat sarapan, Hans pun membawanya ke ruang kerjanya. mengambil tablet di tasnya dan menyalakannya sambil meminum energennya.
Setelah selesai mengerjakan pekerjannya, mata Hans melirik kearah amplop coklat yang ada disebelah tasnya. Hans pun akhirnya mengambil amplop itu dan membuka amplop cokelatnya, ada selembar keras kecil yang terjatuh di dalam amplop itu saat Hans membukanya.
Haaaaiii haaiii... karena masuk hari kerja jadwal kembali ke awal ya... Sehari sekali.
Hans Nadin up lagi selasa, kamis, sabtu ya...
don't miss us ya...