
...ANYEONG MY FUTURE HUSBAND...
^^^By. Lucifer^^^
SEAN membuang susu yang tersimpan di mulutnya pada westafel dapur apartemennya.
"Lah kok asin?" gumamnya sambil memandangi segelas susu di tangannya.
Sebelumnya Sean memang hendak menambah sedikit gula pada susunya yang kurang manis. Sayangnya dia sepertinya salah mengira garam sebagai gula. Alhasil susu di gelasnya bukannya tambah manis, malah terasa asin.
"Ck... Nggak mungkin kan gara-gara kepikiran ciuman sama cowok yang ada di wallpaper HP Bina, gue jadi banyak ngelakuin kesalahan. di Rumah Sakit maupun di Klinik, What is wrong with me?" Sean membawa tangannya yang bebas untuk memijit bagian pelipisnya.
Sean baru saja pulang dari klinik saat jam menunjukkan pukul setengah sepuluh malam, tadi dia sempat berbicara dengan pasien yang merupakan kenalannya saat kuliah dulu sampai dia lupa waktu. Pun setibanya dia di rumah dia tidak langsung mandi melainkan menghilangkan dahaganya dengan segelas susu. Namun karena keteledorannya sendiri sampai mood minum susunya jadi raib digantikan oleh perasaan kesal.
"Loh, By udah dari tadi pulangnya?"
Sean balik badan. Memperhatikan istrinya dalam balutan hoodie berwarna Abu.
"Hmmm, mau ke mana kamu, pakai hoodie malam-malam kayak gini?"
"Mau ke minimarket By," jawab Rubina. "Ada yang mau aku beli di sana."
Sean ber 'Oh' sambil dia menganggukkan kepalanya perlahan.
"Kenapa By? Kamu mau nitip sesuatu?" tanya Rubina. Barangkali Sean ingin membeli sesuatu.
"Nggak. Saya pengen cepet istirahat!"
"Ya udah, kalo gitu aku pergi ya."
"Tunggu!"
Rubina yang sudah telanjur balik badan kembali mengarahkan fokusnya pada sang suami. Sebelah alis milik Rubina terlihat terangkat.
"Kenapa lagi, By?"
"Mau saya temenin nggak?" Sean dengan ragu-ragu menawarkan dirinya.
"Hah?" kaget Rubina karena tumben-tumbenan Sean sampai menawarkan dirinya untuk ikut pergi bersamanya. Biasanya justru dia ogah-ogahan saat Rubina mengajaknya keluar. "Loh bukanya kamu capek mu istirahat cepet?!"
"Ya, kalo kamu mau ditemenin sih--"
"Serius kamu mau nemenin aku ke mini market?"
“Kamu kan istri saya, kalo ada apa-apa sama kamu otomatis saya juga yang kena masalah. Tapi saya mau ke kamar mandi dulu soalnya badan aku udah lengket parah. kamu mau nunggu? Kamu nggak buru-buru kan?"
"Mmhh... Nggak sih..."
"Ya udah, saya mandi dulu."
Sementara Rubina sedang duduk cantik di ruang keluarga, Sean sendiri sedang berkutat menanggalkan pakaiannya. Belum sempat Sean menyalakan shower saat sumber penerangan di ruangan kecil itu padam. Sean yang tidak bisa melihat sedikit pun cahaya jadi auto panik. Kakinya yang memijak lantai kamar mandi langsung bergetar.
“BINA! Nyalain lampunya!” suruhnya dengan suaranya yang agak parau. Sean mengira kalau lampu di ruangan itu mati karena ulah Rubina. "Nyalakan nggak lampunya BINA! Sumpah demi apapun ini nggak ada lucunya sama sekali!"
Semtara itu...
"Loh, kok mati lampu?" ujar Rubina spontan sambil flash ponselnya. Awalnya dia biasa-biasa saja, sampai ketika dia mengingat soal fobia Sean. "Shiittt!! Gawat. Sean kan punya fobia sama gelap," Rubina bangkit dari duduknya. Dia berlari menuju ke kamar. "By.. Hubby, kamu di mana By?"
"Saya di kamar mandi. Cepat nyalain lampunya! Bercanda kamu nggak lucu," teriak Sean dari kamar mandi.
"Bukan aku yang matiin lampunya By."
"Cepat bawain senter atau apapun itu. Ayo cepat!"
"By buka pintu kamar mandinya!" suruh Rubina.
"Langsung dorong saja, pintunya nggak di kunci!"
Tepat saat Rubina mendorong pintu kamar mandi saat itu juga listrik kembali menyala. Lampu kamar mandi yang tadinya dalam keadaan mati kembali menyala.
"Shiiitttt!!! Nggak usah liat ke arah aset saya Bina!” panik Sean mencoba untuk menutup asetnya menggunakan telapak tangan. Namun terlambat karena Rubina tanpa unsur sengaja telah melihat barang berharga itu. Bahkan bisa dilihat dari pancaran muka Rubina kalau dia masih menyimpan perasaan shock setelah menemukan barang berharga punya suaminya untuk kali pertama.
"GEDE YA?" Alam bawah sadar yang membuat Rubina spontan mengucapkan kalimat itu setelah manik matanya menyaksikan apa yang dianggap oleh Sean sebagai sesuatu paling berharganya. Niat hati datang untuk menolong Sean yang punya fobia dengan gelap berbuah manis.
Tuhan ternyata menitipkan sebuah jackpot untuk Rubina. Malam itu Rubina melihat masa depan yang cerah.
"Udah saya peringatin ya Bi, jangan liat, keluar sana!" Titah Sean pada Rubina untuk segera meninggalkan kamar mandi karena dia akan segera mandi dan berganti pakaian. Terlebih lagi karena dia sudah janji akan menemani Rubina ke minimarket.
"Emang kamu nggak mau gitu aku bantu dalam urusan lain?" goda Rubina sebelum benar-benar keluar dari kamar Sean.
"BINAAAA," Sean berujar tegas menyerukan nama istrinya.
"Hahahaha.. Iya-iya Aku keluar." teriak Rubina saat sudah diluar kamar Sean.
Setelah Rubina keluar dari kamar mandi, Sean lantas menutup pintu dan tidak lupa menguncinya rapat-rapat. Helaan napas panjang dia persembahkan mengingat kejadian memalukan tadi.
'Kira-kira Biba ngeliat aset gue gak ya?' pikirnya. "Tapi kalo memang dia nggak sempet liat, terus apa maksud ucapan dia yang sebelumnya yang bilang gede? Maksudnya apa yang gede? Ah, persetan sama kenyataan ini," sekarang tangan Sean sudah tidak menempel pada asetnya. Tangan itu telah mengudara dan mendarat tepat di bagian kepalanya. Tangan itu dialihfungsikan sebagai alat untuk mengacak-acak rambutnya.
Setelah mandi Sean bersiap untuk menepati janjinya menemani Rubina ke minimarket. Dia mengenakan kemeja berwarna gelap yang dipadukannya dengan jeans selutut. Saat di perjalanan ke minimarket belum ada percakapan yang berjalan.
Rubina terlalu memokuskan perhatiannya kepada ponsel di tangan, dia terlihat mengetuk layar ponselnya membalas pesan yang dikirimkan oleh teman-temannya.
Sementara di sebelah Rubina terlihat Sean yang diam-diam melirik ke arah Rubina lewat ekor matanya. Sean cukup penasaran kenapa Rubina begitu khidmat memperhatikan layar ponselnya. Bahkan karena itu Sean jadi bertanya-tanya kepada dirinya sendiri. Apakah mungkin kalau Rubina sudah tidak memiliki ketertarikan lagi padanya?
Sean berpikir seperti itu karena biasanya setiap kali berjalan berdua dengannya Rubina akan selalu memulai topik pembicaraan dengannya. Tapi kali ini Rubina bahkan hampir tidak memperdulikan kehadirannya.
‘Tumben banget dia mainin hapenya padahal kita lagi jalan berdua. Tunggu bentar, apa jangan-jangan dia lagi saling balas chat sama cowok yang dijadiin wallpaper di hapenya?' pikir Sean sambil dia terus berjalan dan tentu saja dia masih diam-diam melirik Rubina lewat ekor matanya.
Sean yang terus berusaha membuat pikirannya jadi positif menjadi sia-sia ketika dia mendengar tawa Rubina saat membaca pesan di ponselnya. Karena itu Sean jadi tidak tahan untuk tetap membungkam. Paling tidak dia harus menanyakan apa yang terjadi sampai Rubina tertawa.
"Kenapa?" Tanya Sean singkat. Dia lebih dulu berhenti melangkah sebelum Rubina melakukan hal yang sama.
"Kenapa apanya, By?" Rubina yang bingung dengan yang Sean bicarakan pun mengembalikan dengan sebuah pertanyaan.
"Kenapa kamu barusan ketawa?" tanya Sean. Posisi tangannya saat itu telah terangkat dan terlipat di depan bagian dadanya. Matanya menyipit menunggu pertanyaannya dijawab.
"Aku ketawa soalnya lagi baca pesan lucu."
"Pesan dari siapa? Saya perhatiin dari tadi terus sibuk sama ponsel kamu. Kamu lagi chat'an sama siapa?" sejauh ini Sean masih saja meredupkan matanya menatap dengan penuh kecurigaan istrinya.
"By, Kamu aneh banget sumpah. Kenapa kamu jadi kepo gini sih? Biasanya juga kamu nggak peduli sama urusan aku."
"Bukan kepo, lebih tepatnya pengen tau aja."
"Sama aja, By."
"Beda. Dari yang saya tau kepo itu adalah rasa ingin tahu yang berlebih. Sementara saya cuma sekedar pengen tau aja sama siapa kamu chat-'an sampe ketawa kayak tadi," Tentu saja masih ada gengsi yang dirasakan sampai dia tidak berbicara jujur saja kalau sebenarnya dia sangat-sangat penasaran dengan siapa istrinya sedang berbalas pesan.
"Aneh banget sih menurut aku karena kamu tiba-tiba aja jadi pengen tau. Tapi karena aku baik, jadi aku bakalan jelasin kalo aku itu lagi chat'an sama Rara."
"Yakin sama Rara?" tanya Sean yang arahnya sedang meragukan jawaban yang dia dengar langsung dari bibir Rubina.
"Iya, By. Aku lagi chatan sama Rara, nih buktinya,” Rubina sampai menunjukkan bukti chatnya dengan Rara demi untuk membuktikan kebenaran omongannya.
"Enggak kenapa-kenapa. saya cuma nanya doang kok. By the way salah ya kalau saya nanya kamu chatan sama siapa?" sebelah alisnya terangkat begitu pertanyaan diucapkannya.
"Salah sih nggak, lagian kan kamu suami aku. Cuma aku ngerasa aneh karena bertanya seperti ini bukanlah kebiasaan kamu, By."
"Oh iya, saya juga mau bahas sesuatu sama kamu. Soal gambar cowok yang ada di ponsel kamu. Siapa dia?"
"Gambar cowok? Di ponsel aku? Maksud kamu, By?" cecar Rubina melalui tiga buah pertanyaan. Di wajahnya tersirat kebingungan yang semakin kentara seiring berjalannya waktu. "Aku nggak mengerti. Gambar cowok mana sih maksud kamu?"
Sean menghela napasnya singkat lalu berdecak sebal. "Kamu jangan pura-pura nggak tau, By. Kamu pasti tau gambar mana yang saya maksud!"
Rubi a memelas, “Ya gimana aku bisa tau, By. Kamu aja nggak jelasin gambar mana yang kamu maksud."
"Itu loh, gambar yang kamu jadiin wallpaper. Siapa dia? Saya nggak bisa liat wajahnya soalnya posisinya lagi balik ke kebalakang," jelas Sean sementara Rubina mengecek wallpaper di ponselnya. "Siapa pria yang ada di ponsel kamu itu?”
Rubina berhenti memandang layar ponselnya. Dia membawa fokusnya itu ke wajah suaminya.
“Tunggu bentar, kenapa kamu penasaran sama cowok yang ada di wallpaper aku?"
"saya lagi nanya kamu, By. Sebaiknya langsung kamu jawab. Jangan mengubah topik pembicaraan!" seru Sean. Dia bisa melihat senyum tipis-tipis yang tengah diperlihatkan oleh Rubina.
Ucapan dan tatapan tajam yang diperlihatkan oleh Sean tidak lantas membuat Rubina takut. Malah sebaliknya. Senyum di bibirnya semakin mengembang melebihi yang sebelumnya.
"Okay... Okay... Aku bakalan jawab pertanyaan dari kamu. Tapi sebelum itu aku mau nanya kenapa kamu sampe sepenasaran itu sama sosok laki-laki yang ada di ponsel aku?"
Seketika itu juga Sean menegang di tempat. Sean tidak tahu harus menjawab seperti apa. Sejujurnya dia tidak menyiapkan kalimat di otaknya saat Rubina menanyakan soal alasan kenapa dirinya sangat ingin tahu soal sosok laki-laki itu.
"Kamu nggak lagi cemburu kan, By?" tanya Rubina namun dianggap sebagai tuduhan oleh orang yang bersangkutan.
"Nggak kok," Sean menjawab dengan sangat cepat meski sebetulnya dia menyimpan keraguan di dalam hatinya. Sean kurang yakin dia tidak cemburu karena yang dia rasakan saat ini adalah tanda-tanda dia memang sedang cemburu. “Saya nggak cemburu," Dia menambahkan untuk menambah keyakinan Rubina kalau dia sedang tidak cemburu.
"Aku pikir kamu lagi cemburu sampe nanyain soal cowok yang ada di wallpaper ponsel aku."
"Nggak kok. Aku tanya karena takutnya ada orang yang ngeliat wallpaper kamu pake foto orang lain. Ya nggak enak kan kalo ada yang tahu soal itu, lebih lagi karena orang taunya kan saya sebagai suami kamu."
"Orang-orang nggak bakalan tau, By. Lagian cowok yang jadi wallpaper ponsel aku posisinya ngebelakangin jadi enggak ada orang yang bakalan sadar."
"Tetap aja saya ngerasa keganggu sama itu. Mendingan kamu ganti saja wallpapernya!”
"Kam tenang aja, By. Orang yang kamu cemburui adalah...."
"Saya enggak cemburu."
"Iya, iya, terserah kamu deh, kalo emang nggak mau ngakuin. Tapi yang pasti kamu nggak perlu nyuruh aku buat ganti wallpapernya soalnya orang yang ada di hp itu nggak lain dan tidak bukan adalah kamu sendiri."
"Hah? Gimana maksudnya?"
"Iya By. Mungkin kamu udah lupa. Foto itu aku ambil pas kita lagi ke minimarket. Aku ngambil gambar diam-diam tanpa sepengetahuan kamj. Soalnya kalau aku bilang-bilang dulu pasti nggak bakal dibolehin. Jadi kamu nggak perlu khawatir atau mungkin cemburu sama diri sendiri kayak tadi. Soalnya cowok yang ada di wallpaper itu adalah ya kamu sendiri."
Tidak tahu kenapa tapi ada setitik kebahagiaan yang Sean rasakan mendengar fakta yang dibeberkan oleh Rubina terkait dengan sosok pria di wallpapernya itu. Selain setitik kebahagiaan Sean juga merasa lega karena dugaannya tentang Rubina yang memiliki pria idaman baru hanyalah ketakutannya saja.
"BY, KAMU NGGAK MAU BELI SESUATU GITU?" Rubina bertanya sambil dia memeriksa keranjangnya yang sudah penuh dengan camilan dengan berbagai jenis merek. "Kamu mau beli camilan lain mungkin."
"Nggak usah. Nanti saya makan camilan yang kamu beli aja."
"Persediaan susu masih ada nggak sih, By?" Rubina bertanya kepada Sean soalnya diantara keduanya cuma Sean yang suka minum susu. "Kalo emang udah abis atau kurang mending kita beli susu juga.”
"Saya liat persediaan susu di freezer masih banyak. Nanti aja beli susunya. samaan sama belanja bulanan."
“Okay. Jadi belinya pas belanja bulanan aja ya.."
"Udah nggak ada lagi kan yang mau kamu beli?” Sean bertanya. “Kalo emang sudah nggak ada mendingan kita ke kasir sekarang. Biar kita cepet sampe ke apartemen."
Rubina menganggukkan kepalanya setelah itu dia yang jalan duluan menuju kasir untuk membayar belanjaannya. "By, nggak ada niatan buat bantuin aku? Ini berat loh, By. Seberat cinta aku sama kamu," goda Rubina sambil berjalan pelan-pelan lurus ke kasir.
Sean berhenti berjalan. Secara kontan Rubina juga melakukan hal yang serupa.
“Kau butuh bantuan saya?" Sean bertanya sambil mengangkat sebelah alis tebalnya.
Rubina manggut-manggut. Tidak cukup hanya menggerakkan kepalanya naik-turun dia juga membuka sudut bibirnya, "Iya Mas."
"Kenapa kamu nggam bilang dari tadi kalo butuh bantuan saya?” tanya Sean.
"Aku nunggu kamu peka tapi kenyataannya kepekaan kamu nggak semudah yang aku bayangin."
"Padahal tinggal bilang doang. Apakah sesulit itu?" tanpa didahului oleh sebuah izin Sean Rubina mengambil keranjang dari tangan istrinya. Sean menenteng keranjang yang lumayan berat itu.
"Lain kali kalo kamu butuh bantuan saya mendingan langsung bilang aja. Enggak perlu pakai tunggu peka segala karena saya bukan cenayang yang bisa baca pikiran!" Sean berjalan duluan menuju ke Dia memindahkan barang belanjaan Rubina dari keranjang ke meja.
Orang yang bertugas di meja kasir segera melakukan tugasnya memasukkan belanjaan Rubina ke dalam kresek. "Totalnya dua ratus lima puluh ribu."
Rubina mulai membuka dompet yang diambilnya dari saku hoodie. Dia belum sempat menarik lembaran rupiah dari dalam sana saat Sean lebih dulu menyodorkan lembaran rupiah.
"Nih Mbak uangnya,” ujar Sean yang membuat Rubina menoleh bingung kepadanya. Sean menyerahkan uang tiga ratus ribu lalu berkata, Kembaliannya buat donasi aja!” ujar Sean mendahului perempuan di meja kasir―yang sebenarnya baru akan mengatakan soal donasi. Lalu setelah itu Sean menyambut kresek dan pergi.
"Hibby!" panggil Rubina.
Keduanya sudah keluar dari minimarket kala itu.
"Hmmm ..?" Sean menjawab hanya dengan deheman, tanpa berhenti melangkahkan kakinya.
"Kamu kenapa bayarin camilan aku, tadi?"
"Emangnya nggak boleh?" Sean bukannya menjawab malah mengembalikan sebuah pertanyaan.
"Bukan nggak boleh..." belum sempat Rubina menyudahi kalimatnya saat Sean berhenti menggeluti langkahnya. Alhasil Rubina juga ikut menghentikan langkah kakinya, begitu pun dengan bibirnya yang terkatup rapat.
"Di mana-mana orang yang ditraktir tuh bakalan seneng, eh kamu malah bertingkah kayak gitu. Nggak ada syukurnya tau nggak."
"Bukan nggak bersyukur, By. Tapi sumpah tingkah kamu tuh aneh banget."
"Aneh? Maksudnya gimana? Bisa kamu kasih penjelasan yang detail supaya saya ngerti kenapa kamu melabeli saya aneh?"
"Ya.. Tiba-tiba aja kamu jadi baik sama aku."
"Tunggu sebentar. Maksud kamu kelakukan saya selama ini kayak monster?"
"Bukan kayak monster lagi, By tapi bahkan perlakuan kamu ke aku tuh udah melebihi monster." Rubina berujar frontal. Bahkan karena ucapannya itu membuat rahang lawan bicaranya auto jatuh. "Tapi kok aneh ya kamu tiba-tiba jadi baik sama aku. Atau jangan-jangan ini berkaitan sama insiden mati lampu tadi.”
"Kenapa topiknya tiba-tiba kembali ke insiden mati lampu sih?" bingung Sean.
"Ya ... Soalnya kan pas lampunya nyala tadi aku nggak sengaja ngeliat kamu bugil. Masuk akal kan kalo misalnya kamu sampe bela-belain ngerogoh kocek buat beliin aku camilan demi buat nutup mulut aku biar aib kamu nggak kesebar."
"Kamu liat semuanya pas di kamar mandi tadi?" walaupun sudah ada kecurigaan tentang Rubina yang melihat asetnya namun saat ini Sean masih berharap Rubina memberikan jawaban tidak.
"Iya, By. Aku ngeliat punya kamu yang ngegantung ge...." Rubina menyumpal mulutnya menggunakan telapak tangannya sendiri. "Ee... Maksudnya aku sempet ngeliat semuanya pas di kamar mandi tadi."
WTF....