
...ANYEONG MY FUTURE HUSBAND...
^^^By. Lucifer^^^
Tak lama berselang Sean datang dan berdiri di sebelahnya.
“Anteng banget," Sean yang sudah dalam balutan kaos putih dengan celana selutut mengatakan kalimat itu.
"Hmmm... tempat ini tuh favorit aku kalo lagi galau, pemandangannya indah ngedukung banget!" jawab Rubina. Senyum pada bibir gadis itu semakin merekah memperhatikan wajah pria di sebelahnya.
Sean sedang memandang ke depan, namun entah kenapa dia merasa seperti sedang diperhatikan. Sean lalu menoleh ke kanan ditemukannya Rubina yang memang sedang menaruh fokus di wajahnya.
"Kenapa kamu ngeliatin saya lagi. Saya kan lagi bahas soal pemandangannya."
"Hmm... Emang bener pemandangan malam ini indah banget," Rubina mendongak menatap sekilas langit malam yang menyuguhkan bintang, dan mengakhiri pandangannya itu kembali ke wajah Sean, "Tapi... wajah kamu jauh lebih bagus buat dipandangin. Apalagi kalo kamu lagi senyum, beuh, malah tambah cakep. Coba senyum By!" goda Rubina.
"Apa sih!" respon Sean ketus. Detik selanjutnya Sean membuang muka dan tersenyum sekilas.
"Kamu kenapa buang muka? kamu diem-diem lagi senyum kan?"
Sean mengontrol mukanya agar terlihat kesal. Dia mengarahkan mukanya kembali ke arah Rubina. "Siapa juga yang senyum," elak Sean.
"Terus kenapa tiba-tiba buang muka kayak tadi?"
"Terserah saya dong!"
"YAKIN KITA BISA TIDUR BERDUA DI TEMPAT INI?" Sean kembali menanyakan hal yang serupa. Kali ini dia menanyakannya sembari memperhatikan ke ranjang yang ada di kamar Rubina. Ukuran ranjang itu lumayan kecil. Karena itu Sean jadi ragu bisa berbagi tempat tidur dengan Rubina.
"Bisa-bisa aja sih, By. Kita berdua berbagi tempat tidur. Yang penting nggak ada guling yang membatasi kita. Dengan begitu ranjang ini akan muat buat kita tempati berdua."
Sean tampak berpikir. Dia kurang yakin bisa tidur dalam keadaan tanpa disekati oleh sebuah bantal guling. Sean takut Rubina memeluknya saat dia sedang tidur. Bisa menang banyak gadis itu!
“Gimana kalo kamu tidur di bawah aja, biar aku yang tidur di ranjang," ucap Sean seenaknya. Padahal jelas-jelas sekarang dia sedang di kamar Rubina, tapi Sean malah membuat aturan yang merugikan Rubina sebagai si empunya.
"Ini kamar aku loh By, harusnya aku yang ngomong gitu sama kamu."
"Soalnya ini kamar kamu, mendingan kamu ngalah aja deh sama saya! Biarin saya yang tidur di ranjang ini. Kamu tidur di bawah saja!" suruhnya.
Rubina yang sudah mengganti setelannya dengan sebuah piyama berwarna krem menyegerakan untuk mengambil posisi berbaring mendahului Sean.
"Pokoknya aku tetep bakalan tidur di sini.” Rubina mencoba untuk bersikap tegas dalam mengambil keputusan.
"Besok saya udah masuk kerja. Kalo saya tidur di lantai takutnya saya malah kedinginan dan berakhir sakit. Pada akhirnya kan saya harus nambah cuti lagi."
"Terus kalau aku yang tidur di lantai emangnya aku nggak bakalan kedinginan dan berakhir sakit, By. Kamu ini ada-ada aja. Udahlah By, sebenarnya ini bukan masalah besar tau, tapi kamu malah membesar-besarkannya." Rubina menepuk-nepuk sisi kasur yang ada di sebelahnya. "Kamu bisa tidur sama aku di sini. Muat kok untuk kita tidur berdua."
Sean bergeming di tempatnya. Sepertinya pria itu masih berpikir apakah dia harus menerima tawaran Rubina untuk tidur berdekatan tanpa sekat pemisah, atau justru dia akan menolak dengan catatan dia harus siap risiko tidur di lantai.
"By mau tidur di dekat aku atau kamu mau pengin tidur di lantai?" tanya Rubina, membuyarkan lamunan yang dibangun oleh imaji Sean.
Dengan setengah hati Sean mengembuskan napas panjang kemudian memberikan jawaban.
"Saya bakalan tidur di sebelah kamu. Dari pada nanti saya malah sakit kalo maksain tidur di lantai."
"Emangnya kamu yakin bakalan tidur di sebelah aku? kamu yakin nggak akan khilaf?" sebelah alis Rubina terangkat menantikan jawaban. "Ah iya, apalagi 'kan enggak ada bantal guling yang jadi pembatasnya."
"Ada baiknya kamu tanyain pertanyaan itu buat diri kamu sendiri!" seru Sean.
"Kan kamu yang selama ini terang-terangan ngejar-ngejar cinta saya."
"Kamu bicara seolah-olah mustahil kamu juga bisa khilaf."
Rubina memperhatikan suaminya yang sedang menghela napas panjang saat berhasil mengubah posisinya jadi berbaring.
"Emangnya kenapa aku nggak masuk ke dalam list perempuan idaman kamu, By? Apa aku kurang cantik? Atau kurang seksi? Apa kamu sukanya sama perempuan yang dada sama bokongnya gede? Kalau emang itu alasannya nanti aku izin operasi aja biar kamu bisa cinta sama aku," ucap Rubina rada ceplos-ceplos.
"Kita pulang naik V4R kamu kan By?"
“Nggak. Besok kita pulangnya harus minjem karpetnya Aladin," ketus Sean memberikan jawaban. "Udah tau jawabannya kenapa juga masih nanya?"
"Siapa tau kan kamu pengennya balik ke rumah naik taksi kayak pas kita berangkat ke sini."
"Nggak. Kita balik ke apartemen pakai motor. Besok cepat bangun ya!" titah Sean.
"Tenang aja. Aku bakalan cepet bangun kok, By. Oh iya mumpung kita lagi berdua, aku mau ngomong sesuatu ke kamu. Ini soal perasaan aku."
"Udah tujuh tahun sejak aku jatuh cinta pada pandangan pertama sama kamu dan sampe sekarang nggak ada yang berkurang. Perasaan aku ke kamu bahkan semakin bertambah. Tapi sayang yah kamy belum punya perasaan lebih sama aku," fokus mata Rubina terjebak di langit-langit kamar saat mengatakannya.
"Aku inget, dan bahkan mungkin hari itu nggak akan pernah aku lupain. Hari di mana untuk pertama kalinya kamu membuat jantung aku berdebar kencang," ujar Rubina lagi.
Tidak ada respon dari Sean bahkan setelah Rubina telah berbicara panjang kali lebar menyinggung soal masa lalu.
"By?" panggil Rubina. Namun belum ada jawaban juga dari yang bersangkutan. "Hubby," Rubina memanggil sekali lagi tapi panggilannya kali ini pun belum mendapatkan sebuah jawaban.
Rubina pun menoleh dan akhirnya menemukan Sean yang terlelap dengan mulut terbuka. Dadanya kembang kempis bertempo lambat, "Astaga... ternyata aku ngomong sama orang yang lagi tidur. Hubby, dasar kamu ya... baru aja kepalanya nyentuh bantal udah tidur aja.”
Selalu saja keadaan saat Sean sedang tertidur menjadi sesuatu yang sangat sayang untuk Rubina lewatkan.
"Saat tidur seperti ini kamu tambah ganteng By."
***
Rubina dan Sean baru saja sampai di apartemen setelah semalam mereka nginap di rumah orangtua Rubina.
“Kamu mau langsung siap-siap ke rumah sakit kah?" tanya Rubina begitu sang suami membuka pintu apartemen.
Sambil melangkah masuk
Sean menjawab, "Iya, kalo bisa kamu jangan ke kamar dulu ya, soalnya aku mau mandi dan langsung ganti baju.”
"Kenapa? kamu malu buat ngenalin aku sama Sean Junior?" canda Rubina.
Sean menggelengkan kepalanya. Dia hendak melanjutkan langkahnya pergi ke kamar saat Rubina mencegatnya.
"Tunggu bentar By!"
"kenapa?" tanya Sean.
"Aku bikinin roti ya?"
"Hm, boleh."
"Gimana sama susu? Apa kamu juga mau?"
"Boleh."
"kamu maunya susu apa?" Rubina tersenyum tipis-tipis.
"Masih pagi tapi pikiran kamu udah travelling aja," Sean geleng-geleng kepala.
"Pikiran kamu kali By yang lagi travelling. Orang aku cuma nanya susu apa yang kamu penginin kok. Soalnya kan di freezer ada dua macam susu. Ada yang putih dan ada juga yang cokelat. Makanya aku nanyain susu mana yang kamu pengenin."
"Pintar amat ngelesnya."