I'm Not Cinderella

I'm Not Cinderella
AMFH 27



...ANYEONG MY FUTURE HUSBAND...


^^^By. Lucifer^^^


Setelah makan malam di meja makan, seluruh anggota keluarga kini berkumpul di ruang keluarga seraya menikmati camilan yang ada di meja.


"Untuk masalah perjodohan ini kan sudah disetujui sama kedua belah pihak. Bagaimana kalau pernikahannya segera kita laksanakan?" ide Altemose yang hampir membuat Sean terbatuk mendengarnya. Perjodohan ini saja sudah bikin kepala Sean auto mumet, sekarang malah ditambah dengan kabar pernikahan yang akan segera dilaksanakan. Sekarang lengkap sudah penderitaan Sean.


“Bagus juga ide tersebut. Lagipula lebih cepat lebih baik kan?” balas Tyo Henney sepakat dengan Altemose untuk mempercepat saja pernikahannya.


"Gimana?" tanya Tyo pada Althea dan Danniel yang dati tadi cemberut dan mendengar perkataan itu semakin cemberut.


"Saya sih setuju-setuju aja Dad..." melirik Danniel.


"Hah... terserah saja!" ucap Danniel tidak rela.


"Kalian Dit?" Altemose.


"Kalo kami sih sangat setuju Yah, apalagi calon menantu kami adalah Rubina..." Aditya melihat Rubina yang menampilkan senyum yang tidak pernah padam.


“Paling tidak kita harus melangsungkan pernikahan cuc-cucu kita dalam waktu dekat. Mungkin sebulan atau mungkin dua bulan dari sekarang. Bagaimana menurutmu Bina? Apakah kamu setuju dengan rencana percepatan pernikahan?" lagi, Altemose melibatkan Rubina sebelum dia mengambil keputusan tentang tanggal pernikahan.


"Kalau aku sih terserah kalian aja para orang tua yang memutuskan. Aku ikut keinginan orangtua aja," jawab Rubina.


"Kalau kamu Sean?" Altemose memicingkan matanya sewaktu memandang ke arah Sean.


"Huh, eu... saya juga ikut aja." Sean sudah malas tapi tetap bersikap seolah baik-baik saja di hadapan orang-orang yang ada di sana.


“Memangnya tidak ada masalah dengan pekerjaanmu?” tanya Aditya lebih lanjut. “Apakah pekerjaanmu tidak padat?”


“Soal itu gampang Yah. Saya bisa ngambil cuti kalau memang itu diperlukan.”


“Baiklah berarti aman yah masalah tanggal?” tanya Altemose.


“Iya,” jawab Sean.


SELURUH anggota keluarga masih berada di ruang keluarga, masih bersenda gurau lebih tepatnya. Dari yang sebelumnya membahas tentang perjodohan... sampai akhirnya pembahasannya berlanjut membahas masa lalu dan beberapa hal lainnya. Rubina masih di sana namun dia tidak begitu fokus. Sejak tadi dia kepikiran soal Sean. Tadinya Sean memilih untuk keluar dengan dengan menjadikan 'mini market' sebagai alasannya. Dan setelah kembali dari mini market pria itu tidak mampir di ruang keluarga, dia langsung menuju ke lantai atas.


"Kamu mau ke mana Bi?" tanya Althea kepada Bina yang baru saja beranjak meninggalkan duduknya. Pertanyaan yang diajukan oleh Althea terhadap Rubina sukses membuat Rubi a menjadi bahan perhatian orang-orang yang ada di ruangan itu.


"Eu... Om, Tante," kata Rubina sambil menampilkan senyuman khas nya. Dia memperhatikan orangtua Sean secara bertahap. "Ada sesuatu yang mau aku omongin sama Sean. Boleh nggak kalo aku nyusul dia ke kamar?"


"No, Bi. Itu nggak sopan Nak!" sergah Daniel tidak setuju.


"Santailah Niel, Boleh kok Bi, kamu boleh nyusul Sean keatas." Aditya dan Marisa pun mengangguk pertanda mengijinkan Rubina untuk ke kamarnya Sean.


Rubina tidak membuang kesempatan, dia buru-buru melimpir meninggalkan ruang keluarga, Rubina menapaki anak tangga penghubung ke lantai dua tempat di mana kamar Sean berada.


"Sean!" panggil Rubina diselingi oleh ketukan di pintu.


"Hmmm!" gumaman berat milik Sean terdengar.


Sean pun memberanikan diri membuka pintu kamar. Dia melihat ruangan yang cukup luas itu sedang dalam tidak berpenghuni. Sempat menaruh curiga Sean sedang di kamar mandi namun keraguan itu terjawabkan ketika melihat pintu yang terhubung dengan balkon terbuka lebar. Rubina pun segera melangkahkan kakinya menuju ke balkon.


"Kamu kenapa--" awalnya Rubina ingin bertanya kenapa Sean malah melimpir ke balkon padahal orang-orang sedang berkumpul di lantai bawah. Tapi sesuatu yang dia saksikan dengan bola matanya sendiri membuatnya terkejut. Matanya sudah melebar dengan sangat sempurna.


"APA-APAAN KAMU?" tanya Rubina karena Sean masih pada aktivitasnya tidak memperdulikan Rubina. Rubina pun naik pitam dan akhirnya dia bergerak maju dan mengambil secara paksa sebatang rokok yang terselip diantara sisi bibir milik Sean. Rubina lalu membuang rokok yang masih menyala itu dan menyisakan Sean yang menatapnya bingung.


"Apaan sih lo?" Sean baru saja merespon aksi Rubina yang sudah seenaknya membuang rokoknya. Padahal Sean baru beberapa kali mengisap lalu mengembuskan asapnya ke udara bebas. Tapi lihat saja sekarang apa yang diperbuat oleh Rubina?


"Harusnya aku yang nanya! Ngapain kamu ngerokok?" Rubina memberikan tatapan yang artinya sedang menuntut jawaban.


Rubina begitu kesal karena setahunya Sean bukanlah perokok aktif. Setidaknya Rubina tahu itu dari Marisa alias ibunya Sean. Sebelum Sean datang Marisa sempat menceritakan beberapa hal yang berkaitan dengan Sean.


"Siapa lo? Sampe punya hak buat larang gue ngelakuin sesuatu yang gue suka?" cecar Sean marah. Meskipun sebatang rokoknya telah dibuang ke tanah oleh gadis menyebalkan di sampingnya, namun bukan berarti Sean tidak menemukan jalan keluarnya. Sean merogoh saku mengambil kotak rokok dan juga korek yang dibelinya di mini market tadi. Sean memang jarang bergelut dengan yang namanya rokok. Biasanya dia hanya menghisap rokok ketika otaknya sedang kacau. Seperti sekarang, otaknya sedang memikirkan tentang masa depannya yang akan hidup bersama gadis menyebalkan. Itulah alasan kenapa dia ke mini market dan membeli sekotak rokok.


Rubina yang melihat Sean yang kembali sibuk hendak mengambil sebatang rokok dari dalam kotak pun memilih untuk tidak tinggal diam. Rubina tidak kalah sigap merebut kotak rokok itu dari tangan Sean dan segera membuangnya.


"Are you crazy?!" Sean mulai emosi. Terlihat jelas dari pancaran mukanya serta hembusan napas kasarnya.


"Bukan aku yang gila, tapi kamu yang gila!" balas Rubina membentak. Dia tidak merasakan ketakutan meski itu secuil saja. Padahal Sean telah memasang wajah tidak ramahnya dengan penegasan berupa tatapan tajam yang diikuti oleh rahang yang mulai mengeras. "Ngapain kamu ngerokok?"


"Ini bukan urusan lo!" senyum miring mengikuti ucapan Sean. "Lo ngomong kayak gitu kayak lo punya hak buat ngatur kehidupan gue,"


"Oh? Sejak kapan lo punya hak buat mengatur kehidupan gue? lo pikir lo siapa? lagian emangnya gue ngerugiin lo kalau gue ngerokok?" tanya Sean. "Perlu lo ingat kalo ini adalah kehidupan gue. lo nggak punya hak buat mengaturnya."


"Kata siapa itu nggak ngerugiin. Itu jelas ngerugiin aku Sean," ucap Rubina memotong kalimat Sean yang masih setengah jalan.


"Kenapa lo yang jadi rugi. kan gue yang ngerokok. Otomatis yang rugi ya gue sendiri." heran Sean. Sebenarnya agak penasaran juga dengan jawaban Rubina nanti terkait alasannya yang melabeli dirinya ikut dirugikan dengan Sean yang merokok.


"Merokok itu nggak baik buat kesehatan, dan aku pikir profesi kamu selaku seorang dokter tau hal itu. Dan kamu tau di kotak rokok kan ada peringatannya bahaya ngerokok. apa perlu aku ingetin kalo saat ini status kita terikat dalam sebuah perjodohan? Sebentar lagi kita juga akan menikah. Karena kamu yang akan menjadi imam di dalam keluarga kecil aku maka aku nggak akan biarin kamu buat ngerokok. Aku nggak pengen rokok ngerusak kesehatan kamu!"


"Denger ya Rubina Henney Wiriawan! Terlepas dari perjodohan itu terlaksana dan akan segera membuat kita terikat dalam hubungan pernikahan nggak akan merubah kenyataan bahwa gue nggak pernah menaruh perasaan lebih terhadap lo. Jadi berhentilah bersikap seolah lo punya hak buat mengatur kehidupan gue!" setiap kata yang terucap dari bibirnya terdengar penuh ketegasan.


"Ya... Mungkin sekarang kamu masih bisa ngasih penolakan. Tapi maaf, aku bukan tipikal orang yang bisa nyerah gitu aja. Udah sering kali aku bilang sama kamu kalo aku nggak akan menyerah. Apalagi dalam buat kamu jatuh cinta sama aku. Aku pastiin itu akan terjadi!" janji Rubina dengan keyakinan yang sangat penuh."


"Ya, ya, ya, terus aja ngelakuin apa yang lo suka. Tapi akan gue pastiin juga kalo gue nggak akan pernah membalas cinta lo itu."


"Kita liat aja ntar. Karena aku akan pastiin kamu akan bertekuk lutut dan mengakui perasaan kamu sama aku."


"Bermimpilah sesuka lo Rubina karena pada dasarnya mimpi itu nggak dilarang. Hanya bersiap aja dengan kemungkinan terburuk ketika apa yang menjadi impianmu itu nggak bisa terealisasikan sesuai yang lo inginkan," ucap Sean masa bodoh.


Rasanya terlalu mustahil dia bisa memiliki perasaan lebih kepada Rubina. Gadis menyebalkan yang hanya bikin tensinya naik. Terlepas dari pesona kecantikan yang dimiliki oleh Rubina tidak membuat pertahanan Sean jadi runtuh. Sean tidak pernah menaruh perasaan lebih pada Rubina. Bahkan tiap kali melihatnya selalu saja Sean jadi jijik sendiri. Apalagi cara main Rubina yang terlalu terang-terangan dalam menggodanya.


"Kenapa kamu selalu nganggap ini cuma mimpi aku aja? Emangnya kamu nggak sadar kalau kita selalu aja dipertemukan oleh takdir. Pikirin aja sama kamu. Setelah tujuh tahun lamanya kita nggak ketemu akhirnya takdir mempertemukan kita di Rumah sakit milik Grandpa. Bahkan setelah pertemuan itu takdir kembali menyatukan kita dalam sebuah perjodohan. Apa kamu masih berpikir itu hanyalah sebuah kebetulan?" Sean hanyaenghrla napas menetralkan emosinya.


"Ya, menurut saya itu hanyalah sebuah kebetulan. Kamu saja yang terlalu berlebihan."


"Ok, kalau kamu berpikirnya seperti itu. Lagian aku nggak bisa maksa kamu buat ngikutin apa yang aku pikirkan. Tapi aku penasaran, apa sebelumnya kamu ngerokok tanpa sepengetahuan tante Marisa? Soalnya tante Marisa pernah bilang ke aku kalau kamu itu bukan perokok aktif." ucap Rubina dengan senyum smirk mengarah pada Sean.


'Ah sial,' Sean mengumpat lewat batinnya. Dia memang bukan perokok aktif. Tapi terkadang ketika dia sedang banyak pikiran, dia biasanya melampiaskannya dengan mengisap rokok. Seperti yang dilakukannya sekarang. Lantaran pikirannya dipenuhi banyak hal jadinya dia pun melampiaskannya kepada rokok.


Melihat gelagat Sean yang aneh setelah mendengar kalimatnya. Sean pun tidak tinggal diam. Sudut bibirnya telah terbuka menyusul kalimatnya, "Aaahh... Ternyata bener kan dugaan aku. Pasti tante Marisa nggak tau soal kamu yang ngerokok. Wah, aku nggak bisa bayangin sih gimana responnya kalau aku kasih tau hal itu sama tante Marisa."


"Kamu nyoba ngancam saya?"


"nggak tuh, aku nggak ngancam kamu kok," Rubina berkilah. "Mana mungkin aku melayangkan sebuah ancaman sama kamu."


"Awas aja yah kalo kamu berani-berani ngaduin tentang kejadian ini sama ibu. Saya nggak akan segan-segan buat ngasih kamu pelajaran kalau kamu sampai melakukannya!" ancam Sean. Dia tidak sedang main-main dengan ucapannya saat ini.


"Aah, dan pasti saat ini kamu lagi seneng banget kan?"


Dengan kening yang sudah mengkerut karena bingung Rubina memberikan jawaban. "Seneng? Maksudnya?" ulang Rubina.


"Bukannya ini yang kamu inginkan?"


"Maksudnya?" Rubina masih tidak mengerti.


"Dari dulu kamu emang pengen diri saya kan? Saya pikir sekarang kamu pasti lagi seneng dengan kenyataan kamu yang udah dijodohkan dengan saya. Belum lagi dengan kabar tentang pernikahan kita akan segera dilaksanakan."


"Mungkin terlalu naif kalau aku bilang nggak seneng. Benar dugaan kamu. Aku emang seneng banget sama kenyataan ini. Dengan begitu aku bisa terus ada di samping kamu."


"Saya heran yah sama kamu dari dulu. Padahal waktu kamu SMA banyak sekali pria yang terang-terangan mengakui perasaannya sama kamu, tapi kenapa kamu masih aja ngejar saya yang jelas-jelas nggak pernah ngasih kamu lampu hijau. Kamu ini bodoh atau gimana sih?" gelengan bertempo lambat tak luput hadir mengakhiri ucapan Sean.


"Terserah kamu menganggapnya bagaimana yang jelas kamu adalah orang pertama yang berhasil buat jantung aku berdebar di hari pertama kita bertemu. Bahkan sejak pertemuan perdana kita itu aku udah menyimpan keyakinan bahwa takdir punya alasan mempertemukan kita. Seperti yang terjadi hari ini, walaupun perasaan kamu masih sama seperti tujuh tahun yang lalu, tapi setidaknya sudah ada titik terang. Rupanya keyakinan aku dibenarkan oleh takdir. Tugas aku hanya sedikit berusaha untuk membuat kamu ngerasain hal yang sama dengan yang aku rasakan."


"Sudah ceramahnya?" sambung Sean setelah Rubina bercerita panjang lebar.


Rubina diam.


"Kalo emang nggak ada lagi yang mau kamu katakan, sebaiknya tinggalkan kamar saya sekarang!" perintah Sean dalam artian sedang mengusir Rubina.


"Baiklah aku akan segera pergi. Tapi satu hal yang harus kamu tahu," di detik awal usai mengatakannya Rubina melihat pria dengan brewok tipis itu sedang menatapnya lewat mata meredup khas sedang mencurigai. Karena Rubina tidak ingin membuat Sean larut dalam rasa penasaran, dia pun melanjutkan kalimatnya yang telanjur bikin lawan bicaranya jadi penasaran. "sikap kamu itu sangat keterlaluan, Sean."


"Apa maksud kamu mengatai saya sangat keterlaluan!" sambung Sean cepat.


"Kamu mungkin nggak sadar ya, tapi buat aku kamu itu keterlaluan banget."


"Dalam hal apa kamu melabeli saya sudah sangat keterlaluan?" tanya Sean. Paling tidak dia ingin mendengar jawaban yang masuk akal terkait dengan ucapan Rubina.


"Dalam hal visual, kamu itu beneran sangat keterlaluan. Seiring berjalannya waktu semakin kesini kamu makin tampan dan semakin buat aku jatuh cinta," setelah mengatakan itu Rubina memutuskan untuk balik badan. Dia kemudian mempercepat langkahnya meninggalkan Sean yang masih menatap punggungnya dengan bingung.


"Apakah barusan dia sedang mencoba buat saya melting sama gombalan dia?" Sean bermonolog. Namun selang beberapa detik kemudian pria dengan brewok tipis-tipis itu mengedikkan bahunya dengan jijik.


Hayoooo... ga sadar udah 2000 kata aja...