
...ANYEONG MY FUTURE HUSBAND...
^^^By. Lucifer^^^
"Walaupun agak canggung, tapi hubungan kita baik-baik aja kok, Tan," bohong Rubina pada akhirnya. Dia tidak tega berbicara jujur pada Marisa soal sikap dingin Sean padanya. Rubina takut Marisa akan merasa kecewa jika tahu yang sebenarnya.
"Astaga, Tante lupa, masih ada brownis di dalam oven," panik Marisa menyampaikannya. "Tunggu di sini sebentar ya, Bi. Tante ke dalam dulu." Marisa beranjak dan mempercepat langkahnya kembali ke dalam.
Begitu menghilang dari pandangan, saat itu juga rasa bersalah mendiami diri Rubina. Rubina menghela napas panjang,
"Maaf yah Tan. Aku kepaksa bihong soal sikap Sean yang sebenarnya. Aku nggak mau tante merasa kecewa kalo denger perlakuan dingin Sean sama Bina."
Meong!
Rubina refleks mengedarkan pandangannya. "Kok ada suara kucing yah. Apa cuma firasat gue aja?"
Meong!
Suara itu kembali terdengar. Rubina beranjak mencoba mencari sumber suara itu.
"Kayaknya itu suaranya Lion. Kucing kesayangannya Sean. Dia di mana ya? Kok ada suara tapi nggak ada gambar."
Rubina diam menerawang sumber suara itu berasal, lambat laun Rubina semakin yakin. Suara ngeongan itu asalnya dari got. Benar saja, saat mengeceknya dia melihat Lion ada di sana.
***
"****!" umpatan itu tersampaikan lewat nada rendah saat Sean membuka helm dan menemukan Rubina duduk anteng di kursi taman depan rumahnya. Saat itu Rubina sedang duduk memangku Lion.
"Baru aja pulang, udah ketemu sama cewek nyebelin," ucap pria berahang kukuh tersebut. Dia kemudian bangkit usai meletakkan helmnya di atas spion.
Sean mungkin akan berpura-pura tidak melihat Rubina, sumber rasa kesalnya kalau seandainya Lion tidak sedang bersama gadis itu. Tapi karena berhubung Sean melihat binatang peliharannya ada bersamanya sehingga tidak ada pilihan selain menghampirinya.
"Siapa yang nyuruh kamu buat gendong Lion?"
"Nggak ada."
"Saya paling nggak suka ya, saat orang lain nyentuh sesuatu milik saya."
"Oh..."
"Oh?" ulang Sean.
"Tapi kan aku bukan orang lain. Jadi nggak ada salahnya dong kalo aku nyentuh Lion. Kalau lupa aku bakalan ingetin kalo aku itu calon istri kamu."
"Lion, come on!"
"Tuh liat, Lion aja enggak mau pergi sama kamu. Siapa suruh kamu galak!"
"****! bisa diem nggak!" emosi Sean kepada Rubina yang mencoba mengejeknya saat Lion tidak ingin ikut dengannya. "Akkhhh Aaakkkhh... sakit, sakit," Sean meringis kesakitan. Dia refleks balik badan. Ternyata orang yang baru saja menjewer daun telinganya adalah ibunya sendiri. "Ibu?! Apaan sih?" protes Sean. Segera dia memegangi telinganya yang memerah.
"Harusnya Ibu yang nanya, kenapa kamu kasar banget sama calon mantu Ibu? Siapa yang ngajarin kamu ngomong kayak gitu?"
"Bercanda kok, Bu."
"Asal kamu tahu aja yah. Kalo enggak ada Bina, mungkin saat pulang kerja kamu akan melihat hewan peliharaanmu itu mati tenggelam," jelas Marisa. "Untung aja ada Bina. Coba kalau enggak?! Lagian kamu bukannya bilang makasih, malah nyuruh calon menantu ibu buat diem!"
"Hah? Kok bisa Bu, Lion hampir tenggelam?" kaget Sean.
"Kenapa malah nanya sama Ibu, kan kamu yang kasih makan tadi pagi. Kamu mungkin yang lupa ngunci kandangnya. Trus tadi, Bina nemuin Lion sudah hampir mati tenggelam di selokan yang lagi penuh air."
"Hah? Serius Bu?"
"Seriuslah, masa Ibu bohongin kamu. Setelah kecebur di got, Bina yang bersiin tubuhnya Lion. Coba deh inget lagi, pas selesai ngasih makan, pintu kandangnya kamu kunci lagi nggak?"
"Iya, saya lupa. soalnya saya tadi pergi buru-buru trus lupa deh ngunci kandangnya."
Sean kembali menatap Rubina. "Oh iya, kamu ya, yang mengirim burger ke Rumah Sakit?"
"Hari ini Aku nggak mengirim apapun ke rumah sakit," Rubina geleng-geleng kepala.
"Burger itu Ibu yang ngirim, soalnya ibu tahu dari Bina kalo kamu sangat suka dengan burger itu." Sambung Marisa. "Enak ya burger pemberian Ibu?" Sean meneguk salivanya kasar. Burger yang dia pikir berasal dari Rubina ternyata dikirim oleh ibunya. Karena mengira dari Rubinq sehingga Sean memutuskan untuk tidak memakannya.
"Enak kok," bohong Sean.
'Astaga naga ternyata burger itu dari Ibu, sumpah gue pikir itu dari Bina. Kira-kira kalau Ibu tahu gue nggak makan burger itu bakalan kena kutukan jadi batu nggak ya? kayak malin kundang? Emang bener ya Bina tuh bikin bawaannya bikin sial mulu!' pikir Sean dalam hati.
****
Sean cukup kaget sewaktu membuka apartemen dan menemukan Nino juga ternyata ada di sana.
Nino hanya memperhatikan sekilas ke arah pintu, mengecek siapa yang datang, setelah itu perhatiannya kembali kepada layar televisi yang menampilkan acara kartun yang akhir-akhir ini menjadi tontonan kegemarannya.
"Hah... pasti lo ada masalah lagi sama Salsa?" Sean memberikan pertanyaan rasa tuduhan setelah duduk dan menyenderkan punggungnya di sandaran sofa. Wajar Sean berpikiran seperti itu karena kebiasanya Nino akan berdiam diri di apartemennya tiap kali ada masalah dengan kekasihnya.
"Enggak tuh. Hubungan gue sama Salsa alhamdulillah baik-baik aja." Nino memberikan jawaban masih menatap layar televisi. "Kenapa lo mikir ada masalah di antara kita?" kali ini tatapan Nino berpindah dari layar televisi menuju ke wajah Sean yang telah duduk di sisi kanannya. Dia memberikan pandangan mata menyipit khas sedang mencurigai.
"Oh, Syukur deh kalo baik-baik aja. Gur pikir kalian ada masalah lagi soalnya lo kesini. Biasanya kan siklusnya kayak gitu. Setiap kali lo punya masalah sama pacar lo, pasti larinya kesini."
"Hah... Entahlah akhir-akhir ini gue lagi suka menyendiri aja. Kayak lebih nyaman aja!" jawab Nino yang baru menyadari bahwa dia membutuhkan yang namanya kesendirian untuk mendapatkan ketenangan terlepas dari ada atau tidaknya masalah yang dia hadapi.
Nino sebenarnya ingin bertanya sesuatu pada Sean. Dan sebenarnya dia bisa saja langsung menelpon. Akan tetapi Nino menganggap bahwa sesuatu yang hendak dia bicarakan ini sudah merujuk ke ranah privasi. Maka akan lebih baik jika dibicarakan secara langsung dengannya. Setidaknya dengan begitu Nino tidak akan takut dengan risiko orang lain bisa mendengar percakapan mereka. "Sean, ada yang mau gue bahas sama lo! Ini menyangkut Bina."
"Bina?" ulang Sean. Keningnya mengerut mendengar nama Rubina diloloskan bibir Nino.
"Sebelum gue bahas soal Bina gue mau muji akting lo dulu. Menurut gue akting lo sama Bina jempolan banget, gue kasih lima bintang buat kalian. Sedikit aja kerja keras lagi maka akting kalian akan bawa lo menangin piala oscar," seloroh Nino.
"Akting? Apa yang lo maksud? Gue nggak ngerti!"
"Ya itu, Waktu di acaranya si Rendi, Gue ngeliat akting lo sama Bina tuh udah kayak aktor profesional. Kalau gue nggak tau hubungan kalian yang sebenernya mungkin gue juga bakalan ketipu kayak temen-temen yang lain. Mengira hubungan lo sama Bina berjalan harmonis."
"Oh ternyata soal itu. Tapi sebenarnya gue nggak pernah minta dia buat manggil gue sayang loh selama di sana. Semua itu murni hasil kreasi dia sendiri."
"Tanpa penjelasan gue juga udah bisa nilai itu bro. Gue bisa lihat reaksi kaget lo pas tiba-tiba Bina manggil lo sayang ditambah aktivitas bersiin sisa makan di sudut bibir lo."
"Ternyata lo juga nyadar ya."
"Lewat tatapan lo, gue juga bisa liat kalli kalo lo sangat nggak nyaman berada di dekat Bina. Padahal gue pikir kalian berdua serasi banget loh pas barengan. Lo yang punya sikap dingin sementara Bina yang punya sifat ceria. Kalo kalian berdua sampe nikah, pasti bakalan sangat serasi dan menyenangkan. Kehidupan pernikahan kalian pasti bakalan jauh lebih berwarna."
"Soal itu gue nggak yakin, No. Apalagi lo tau banget kalo gue bawaannya kesel mulu pas barengan sama cewek tengil itu. Karena tingkah absurd nya gue kadang sampe ngumpat terus sama dia, padahal lo tau sendiri kan kalo ngumpat itu bukan kebiasaan gue."
"Ayolah Sean, pikirin itu dari sekarang! Gue sebenarnya kasian sama Bina.
Perjuangannya tuh sangat-sangat extra buat dapetin lo. Setelah ketemu sama dia di acara malam itu gue bisa rasain kalo cinta dia ke lo tuh sangat tulus. Paling enggak kalo misalnya lo belum punya perasaan lebih sama dia, jangan bikin dia sakit hati sama umpatan lo. Kasian woy.. anak orang itu. Apalagi kalo Bapaknya tau anak ceweknya digituin sama lo, udah abis lo! Bina juga punya hati dan perasaan. Apalagi bentar lagi dia bakalan resmi jadi istri lo." Sean terdiam berfikir, ada benarnya juga omongan sahabatnya itu.
"Hah... Gue bakalan nyoba buat bersikap baik sama dia, ya walaupun pasti bakalan sulit soalnya kadar nyebelin di dirinya tuh melewati ambang batas kewajaran! Bawaannya gue pengen marah-marah terus pas di dekat dia."
"Emang nggak mudah, tapi lo harus nyoba!" Nino baru saja tersadar bahwa saat itu Sean sedang berpakaian rapi. "Eh, Lo mu ke mana rapi bener?!"
"Ke kliniklah, Rumah Sakit kan udah beres jam segini kayak ga tau jadwal gue aja. Gue tuh balik kesini soalnya ada berkas medis yang harus gue ambil di kamar, jadi gue mampir ke sini buat ngambil."
"Terus gimana sama persiapan nikahan lo sama Bina? Apa itu terus berlanjut?"
"HhmmmH. Kayaknya hanya keajaiban yang bisa menghentikannya."
"Apa lo yakin bisa jalani kehidupan sama Bina kalo seandainya kalian beneran nikah?"
"Kalau lo tanyain soal itu sama gue jujur aja gue nggak yakin, dan gue juga nggak bisa nebak apa yang akan terjadi karena sedari awal gue emang nggak punya perasaan lebih buat dia. Pembahasan ini dilanjutin tar aja yah, No. Gue soalnya cuma mau ngambil berkas sebelum berangkat ke klinik."
"Hah... Ok!"