
...ANYEONG MY FUTURE HUSBAND...
^^^By. Lucifer^^^
"MAN... SERIUS? ANAK YANG NAMANYA SHERAN ITU EMANG BUKAN DARAH DAGING LO ?" sampai detik ini Nino masih menjadikan wajah Sean sebagai tempat tertanamnya fokus matanya. Mengetahui kalau ternyata anak yang bernama Sheran itu bukanlah darah daging Sean membuat Nino senang namun disaat yang bersamaan Nino jadi sedih. Tentu saja rasa sedih Nino karena mengetahui bahwa selama ini sahabatnya itu sedang terjebak dalam sebuah hubungan di mana hubungan itu seharusnya tidak dia lakukan. Sebuah hubungan di mana sebenarnya ada kebohongan di dalamnya.
"Lo lihat aja nih hasilnya,"
Sean memberikan secarik kertas yang ada di tangannya kepada Nino yang menyambutnya dengan gerakan yang teramat cepat. Nino mengalihkan pandangannya dari kertas yang masih ada di tangannya. Nino memperhatikan salah satu tangan Sean yang mengudara dan berakhir di area pelipis, memijitnya perlahan.
"Trus gimana langkah lo ke depannya?"
"Ya apalagi kalo bukan cerai. Sepertinya cuma itu satu-satunya jalan yang tepat," Sean menekankan itu tanpa banyak membuang waktu dalam memikirkannya. "Dari awal sampe sekarang gue juga nggak punya perasaan lebih buat dia. Malah kalo bukan karena dia nggak ngaku hamil anak gue, gue pasti nggak bakalan sampe nikahin dia secara siri."
"Trus gimana sama Bina?" Nino mengalihkan topik.
"Setelah gue cerai sama Sarah, gue bakalan ngejelasin semuanya sama Bina. Ya meskipun belum tentu juga dia bisa nerima kenyataan gue yang udah bohongin dia. Meskipun dalam artian gue juga dibohongin sama Sarah, tapi hal itu nggak bakalan ngubah kenyataan kalo gue juga sudah ngebohongin Bina."
"Apapun nanti hasilnya lo nggak perlu terlalu larut sampe mikirinnya. Kita juga harus ngerti gimana sulitnya posisi Bina. Emang pada dasarnya dia punya perasaan lebih sama lo. Tapi kan dalam kasus ini dia nggak tau soal lo yang udah punya istri sama anak. Menurut gue kalo kita memposisikan diri sebagai Bina, pastinya kita juga bakalan ngelakuin tindakan yang sama."
"Bener kata lo No. Apapun nanti keputusan Bina gue bakalan nerima dengan lapang dada. Tapi gue juga nggak bakalan nyerah gitu aja. Gue bakalan ngebuktiin sama Bina kalau gue benaran sayang sama dia."
Nino bisa melihat dengan mata kepalanya sendiri ketulusan pada diri Sean saat menyinggung perihal hubungannya dengan Rubina. Nino bahkan jarang menyaksikan Sean seemosional ini. Nino yakin, Sean benar-benar mencintai Rubina dengan sepenuh hati. Sampai Nino melihat Sean yang begitu ketakutan membayangkan dirinya ditinggal oleh Rubina.
"Gue cuma bisa bantu doa Bro. Gue harap ending permasalahan ini bakalan berakhir seperti apa yang lo harepin!" tangan Nino terulur ke depan difungsikan sebagai alat untuk menepuk-nepuk punggung lebar milik Sean.
"Thanks ya, No, by the way lo udah sangat bantu gue banget dengan hasil tes DNA ini. Dengan ini beban di kepala gue sedikit berkurang. Setelah mengurus perpisahan gue sama Sarah maka gue bakalan lebih fokus aja buat perjuangin hubungan gue sama Bina."
"Ngomongin soal Sarah kok bisa dia mikir kalau Sheran itu anak lo. Padahal kan kalian berhubungannya cuma sekali. Itu pun karena nggak sengaja kan karena lo lagi mabuk waktu itu."
"Tapi gue nggak yakin kalo malem itu gue ngabisin waktu sama Sarah. Bayangin aja, malam itu adalah kali pertama dan terakhir kali bagi gue tidur sama dia. Dan ini..." Sean mengangkat amplop itu lagi, "Di sini udah jelas tertera kalau Sheran bukan darah daging gue."
"Berarti kejadian malam itu cuma jebakan dia dong berarti. Wah, gila sih si Sarah. Kayaknya tu orang emang udah nggak waras. Tapi waktu pas lo cerita soal dia yang rela nikah siri sama lo dan asal lo nanggung duit bulannya, sebenarnya itu juga udah nggak masuk akal sih menurut gue. Tapi ya udahlah, seenggaknya sekarang kebenarannya udah terungkap."
"Besok gue mau ke kampung buat ngakhirin semuanya. Gue juga bakalan nyari tau kenapa Sarah bisa sampe ngelakuin hal itu. Ah sial, seandainya dari awal gue lebih terbuka dan nggak nyembunyiin masalah gue sama Sarah dari orang-orang terdekat gue, mungkin ceritanya nggak bakalan serumit ini." Sean menjambaki rambutnya sampai rasa sakit dia dapatkan.
"Jangan nyiksa diri sendiri kayak gitu, Bro," Nino bersuara, Kan emang tujuan dari penyesalan emang hadirnya belakangan. Kalo datang di depan mah itu bukan penyesalan namanya, tapi permulaan. Udah ah, enggak usah jambak-jambak rambut segala soalnya lo tuh bukan emak-emak komplek yang hobinya berantem sambil jambak-jambakan," seloroh Nino. "Oh iya, soal ini apa lo bakalan langsung ngasih tau sama Bina?"
"Belum. Gue mau ke kampung dulu buat nyelesein hubungan gue sama Sarah. Setelah itu baru gue ngomongin ini dengan Bina."
***
SESUAI yang dia katakan. Besoknya Sean langsung bergegas ke kampung mengendarai motornya yang tentu saja tujuan kenapa dia ke kampung adalah untuk menyelesaikan permasalahannya dengan Sarah. Karena waktu yang diberikan Rubina sudah tidak banyak makanya Sean buru-buru untuk menyudahi permasalahan pelik ini dan lanjut pada usahanya untuk mempertahankan hubungan dengan Rubina.
Karena masalah ini Sean terpaksa cuti masuk klinik juga Rumah Sakit.
"Ck, Sarah ke mana sih?" desis Sean sambil sesekali memperhatikan kepada arlojinya. Sudah hampir setengah jam Sean duduk di beranda rumah sederhana milik Sarah yang saat itu dalam keadaan tertutup rapat. Sean mencoba menghubungi Sarah via telepon namun yang ada Sean hanya bertambah kesal lantaran nomor istri sirinya itu dalam keadaan tidak aktif.
Syukurlah karena tidak lama setelah itu, Sarah muncul.
"Eh, Mas Sean," senyum di bibir Sarah mengembang dengan sempurna saat indra penglihatannya menemukan suaminya sedang duduk pada kursi rotan dengan satu kakinya bertumpu pada satu kakinya yang lain. "Sejak kapan Mas Sean dateng?" tanya Sarah berbasa-basi.
"Belum lama, cuma setengah jam nungguin kamu di sini," sarkas Sean. "Kamu ke mana aja? Kenapa pas dihubungin hp kamu nggak aktif." Imbuh Sean dengan kekesalan yang mendominasinya.
"Kenapa kamu sendirian? Mana Sheran? Kenapa dia nggak kamu bawa?” meskipun saat ini Sean sudah tahu bahwa Sheran bukanlah darah dagingnya tapi bukan berarti dia tidak peduli.
Bagaimana pun juga Sheran hanyalah anak kecil yang tidak tahu apa-apa.
"Ooh... Sheran lagi maen Mas sama anak tetangga. Aku balik ke rumah sebenarnya karena pengen bikinin dia susu," Sarah memberikan penjelasan sambil dia membuka pintu rumah. "Ayo, Mas, kita masuk."
Sean ikut omongan Sarah. Toh, tidak enak juga sama tetangga sekitar kalau Sean tetap memilih untuk duduk di beranda rumah dan membahas soal tes DNA itu di sana. Kembali ke tujuan awal, Sean datang untuk menyelesaikan masalah, bukan untuk menambah masalah.
"Aku ke dapur dulu ya Mas?" tawar Sarah begitu suaminya sudah duduk di sofa ruang tamu.
"Mau ngapain?"
"Aku mau bikin minuman hangat buat kamu, mas."
"Oh... Nggak usah repot-repot.”
"Aku nggak....”
“Kalo saya bilang nggak, ya nggak." Sean memberikan jawaban dengan penuh penekanan. "Lagian saya emnggak bakalan lama kok di sini. Bentar lagi saya juga bakalan balik ke kota."
Sarah langsung membatalkan rencananya ke dapur untuk membuat minuman hangat. Dia memilih untuk duduk di sebelah Sean.
"Kayaknya ada hal penting yang mau Mas Sean bahas sama aku sampe Mas Sean datang pagi-pagi gini. Hari ini kan seharusnya mas Sean masuk kerja."
"Bener. Ada sesuatu yang sangat penting yang mau saya bahas sama kamu."
Sarah menyampirkan anak rambutnya ke atas daun telinga. "Kebetulan banget Mas. Aku juga mau bahas sesuatu yang sangat penting sama kamu, mas. Sebelum mas ngomongin yang mau disampein, boleh nggak kalo aku yang duluan?"
"Hah.... Ok, Fine! Baiklah, apa yang mau kamu sampaikan!" titah Sean mempersilakan kepada Sarah untuk lebih dulu mengatakan apa yang hendak dia sampaikan sebelum akhirnya tiba giliran Sean untuk membongkar kebusukan wanita itu.
"Jadi gini Mas, aku mau meninjau ulang soal janji yang udah kita sepakati sebelum pernikahan siri kita.”
“Janji yang mana ya, Sar?” tanya Sean karena sebenarnya ada banyak janji yang dia buat sebelum pernikahan siri dengan Sarah terlaksana.
"Semuanya Mas. Pokoknya aku minta ke kamu supaya nggak ada lagi batasan di antara kita.”
"Maksud kamu gimana ya?"
"Iya Mas. Pokoknya dalam waktu dekat aku ingin diperkenalkan sama keluarga kamu sebagai seorang istri, ingat ya Mas, sebagai seorang istri. Aku nggak peduli sama hubungan kamu dengan Rubina akan seperti apa yang jelas aku dan Sheran ingin ada di posisi Rubina di mana dia bisa bebas untuk ketemu sama kamu dan keluarga kamu."
Hahahaha.... ni cewek gila juga! bisa-bisanya dia ngomong kayak gitu?! batin Sean.
"Maaf Sar, saya nggak bisa melakukan itu. Permintaan kamu terlalu sulit buat saya lakukan."
"Tapi kenapa Mas? Apa karena Rubina?" tuduh Sarah melibatkan Rubina dalam permasalahan ini. “Aku tau kalau di awal kita memutuskan untuk menikah siri aku rela untuk menuruti perintah kamu untuk menutupi hubungan ini dari keluarga kamu, tapi seiring berjalannya waktu aku merasa kalau hubungan ini nggak perlu lagi pakek ditutup tutupin segala," jelas Sarah menuntut itu dari pria yang sah sebagai suaminya. "Mas juga harus tahu kalau Sheran semakin hari semakin tumbuh. Memangnya mas Sean rela dia tumbuh tanpa sosok ayah yang selalu ada bersamanya. Mas Sean saja jarang menemui kami. Beda cerita kalau aku sama Sheran diperkenalkan kepada keluarga mas Sean. Dengan begitu aku dan Sheran bisa segera meninggalkan tempat ini untuk segera ke kota. Saran aku juga sebaiknya ceraikan saja si Rubina itu. Dia hanya bisa jadi benalu dalam rumah tangga kita."
Ada emosi yang mendiami diri Sean saat mendengar arahan dari Sarah yang memintanya untuk bercerai dengan Rubina.