
"Hmmm.... enaknya.. kalian udah ada pasangan!" Felix.
"makanya lo jangan men-maen terus cari cewek yang tepat buat dijadiin istri bukan cuma buat semalem doang!"
"Cih... sialan perasaan gue yang play boy Rafael, kenapa jadi gue juga dibawa-bawa?"
"lo juga sama kali Fel... mau bohongin gue lo?!" tantang Danniel melihat Felix.
"Nope, absolutly No... you're the Boss! by the way Hans, gimana Nadin sekarang? katanya ingatannya udah balik ya? syukur deh..."
"Hm... kalo luka fisik, dia cuma perlu nunggu kering sih, tapi sekarang saya harus konsulin Nadin ke dokter psikiater... hampir tiap malem dia selalu ngigau teriak-teriak mimpiin kejadian itu..." ketiga pria itu terdiam melihat ke arah Hans sedih.
"It's okay... asal dia ada dorongan dari lo, kehadiran lo, orang-orang yang dia sayang yang selalu ada di dekat dia, dia pasti bakal sembuh dari traumanya.
***
"Assalamualaikum..." ucap Hans dan Danniel yang baru saja masuk ke apartmemtnya.
"Waalaikum Sallam..." jawab semua orang yang ada di sana.
"Loh, Papah ke sini?" ucap Rubina yang sedang duduk di lantai sambil menggambar. Sementara Althea dan Emerald sedang duduk di sofa tengah sambil mengobrol dengan Nadin.
"Papah kan mau jemput kalian..." melihat Nadin yang sedang tersenyum melihat Rubina yang sedang digendong oleh Danniel. "Hei, Nad. Gimana sekarang kamu?"
"Baik, Pak. Makasih sebelumnya ya Pak, udah bawain Kak Althea kesini..."
"Anytime, Nad."
"Kamu udah makan, Nad?"
"Udah, Mas. obat juga udah diminum..."
"Ya udah, yuk... kita pulang, biar Aunty Nadin istirahat dulu..."
"Nad, pokonya kalo ada apa-apa kamu telpon saya aja ya..."
"Iya Kak... Kakak tenang aja..."
Setelah mengantarkan Danniel dan keluarganya keluar pintu Nadin dan Hans pun berjalan ke dalam.
"Mas mau mandi dulu apa mau makan dulu, Mas? Tadi aku cuma masak ayam goreng sama sama telor yang ada di kulkas, sayuranya abis... maaf ya..."
"Hmm... ga papa,bsaya makan yang kamu masak aja, tapi saya mau mandi dulu!" ucap Hans singkat tapi nadanya sudah tidak terlalu dingin kayak pertama. Nadin pun tersenyum lalu memeluk Hans secara tiba-tiba. Hans yang melihat kelakuan Nadin pun hanya terdiam kaget lalu dengan ragu membalas pelukan Nadin.
"Are you alright, Nad?!"
"Hmm... aku cuma pengen meluk sama nyium wangi kamu..."
"Hmm.. ada-ada aja kamu, Nad..."
***
"Mas, apa aku harus terus konsul ke dokter psikiater? Sampe kapan?" tanya Nadin saat mereka sudah tiduran di tempat tidur mereka dan Hans masih bekutat dengan laptopnya di samping Nadin.
"Mas, maaf ya... waktu tidur kamu jadi keganggu gara-gara aku..." ucap Nadin menunduk merasa bersalah. Hans yang mendengar ucapan Nadin pun terdiam lalu melwtakan laptopnya di nakas samping tempat tidurnya.
"Hey... kita kan udah janji ga ada kata maaf lagi, kamu mau aku minta maaf lagi? kesalahan saya lebih banyak daripada kamu loh..." Nadin pun menggeleng lalu terdiam menghela napas.
"Kenapa? Apa ada yang kamu pikirkan?"
"Mas, kalo aku kerja lagi boleh?" Hans terdiam berfikir lalu melanjutkan kerjaannya lagi di laptopnya.
"No..." Nadin pun cemberut. "Nad, saya minta kamu di rumah itu karen saya nggak mau kejadian kemarin terulang lagi... lagian kata dokter juga kamu harus istirahat total, Nad..."
"Mas, aku udah ga apa-apa kok, lagian aku tuh bosen dirumah..." Hans menghentikan kerjaannya lagi dan berfikir.
"Kamu mau saya bikinin butik?" mata Nadin pun terbelalak kaget. Hans pun mematikan laptopnya dan menyimpannya kembali ke atas nakas di samping tempat tidurnya.
"Hah? Mas, aku tuh serius..."
"Memang saya keliatan ga serius? Saya akan minta bantuan Althea buat promosiin butik kamu ke koleganya, sama bantu-bantu kamu buat desain dekorasi butiknya, saya juga akan minta bantuan Boss Danniel sama Rafael buat nyari tempat yang strategis..." Nadin hanya melihat kearah Hans kaget tanpa berkedip.
"Mas, kamu yakin?"
"Kenapa, nggak percaya? Lagian istrinya Rafael kan model, dia bisalah bantuin kamu buat jadi model bajunya..." Hans tersenyum kearah Nadin. "Asal---" Nadin mengernyitkan kedua halisnya.
"Asal apa?" Hans pun mendekatkan wajahnya ke arah Nadin lalu mengecup bibir Nadin yang dari kemarin selalu membuatnya penasaran.
"Apa ini masih sakit?!" ucap Hans sambil mengelus bekas luka di perut Nadin. Nadin pun tersenyum dengan muka yang memerah lalu Nadin pun menggelengan kepalanya.
"So... bisakah saya---" Ucap Hans tertahan lalu Nadin pun mengangguk.
Tanpa menunggu lagi Hans pun langsung mengecup lagi bibir Nadin lebih lama dan lebih dalam. Dengan perlahan Nadin pun dibaringkan oleh Hans secara perlahan.
"Makasih, Nad." ucap Hans setelah menjalani rutinitas malamnya sambil mengecup kepala Nadin.
"Hmm... semoga aku dikasih kesempatan dan kepercayaan lagi sama Allah ya, Mas. Mas, waktu aku koma aku kan pernah cerita kalau ada seorang anak perempuan yang pamitan sama aku?! Dia mirip banget sama kamu, Mas. Awalnya aku nggak ngeh kalo itu adalah bayi kita, aku--" Hans pun terdiam.
"Shuuutt... nggak usah banyak pikiran, Nad. Kamu pasti dikasih kepercayaan lagi sama Allah... kita berdoa aja ya..." ucapnya menenangkan Nadin sambil memeluk Nadin erat.
Ya... Hans lupa bahwa faktanya Nadin tidak bisa lagi memberikan keturunan untuknya lagi, itu adalah kesempatan pertama dan terakhir yang bisa Nadin berikan untuk Hans, tapi Hans tudak bisa menjaganya dengan baik. Malahan awalnya dia kan tidak menginginkan anak dari Nadin, karena dia masih mencintai Azura, yapi sekarang berbeda, Hans sudah menerima Nadin dan sudah menyayangi Nadin sebagai istrinya...
Dan ketika Hans sudah benar-benar ingin serius dan menjalani rumah tangga bersama Nadin selayaknya seperti pasangan lain, masalah ini adalah masalah yang paling Hans takutkan.
Jujur dia bingung bagaimana dan dengan cara apa Hans menyampaikan berita ini... dan ini adalah hal yang sangat sensitive bagi wanita apalagi dengan keadaan Nadin yang belum stabil.
***
Saya akan melindungimu apapun yang terjadi saya akan melindungi kamu, Nad.
Membayangkan kata-kata itu saja sudah membuat Nadin senyum-senyum sendiri. Bayangkan saja seorang Hans yang tipenya selalu besikap dingin padanya, sekarang jadi berbandibg terbalik, malah saat berhubungan Hans bersikap sangat romantis, dia bermain dengan perlahan karena melihat luka di perut Nadin, kecupan di kepala Ndin saat sudah bermain, juga pelukan pengantar tidur ubtuk membuat tidur Nadin nyaman, meskipun masih bermimpi kejadian itu tapi karena ada pelukan dari Hans membuat Nadin tenang dan tidak sehisteris pertama kali. Dan yang pasti membuat Nadin sangat bahagia adalah saat mereka bermain, Hans tidak memakai pengaman lagi...
Nadin melihat cingcin yang tersemt di jari manisnya sambil tersenyum.
"I Love You, Mas Hans!" gumamnya saat sudah membereskan Apartmentnya.