
...ANYEONG MY FUTURE HUSBAND...
^^^By. Lucifer^^^
"Padahal saya sangat yakin kamu tau rasa susu favorite saya," Sean meninggalkan kalimat seperti itu sebelum membawa langkah kakinya pergi ke kamar untuk bersiap sebelum nantinya dia akan berangkat ke Rumah Sakit.
Kira-kira tiga puluh menit di kamar untuk mandi dan bersiap akhirnya Sean menuju ke meja makan untuk sarapan.
"Apa rotinya sudah siap?"
"Udah kok, By. Aku buat dua jenis, ada roti yang aku olesi cokelat kacang dan satunya lagi pakai selai strawberry. Kamu tinggal pilih sesuai sama selera."
Rubina mendekatkan piring yang berisikan roti hasil racikannya ke hadapan Sean. "Kira-kira kamu pulang jam berapa, By?" tanya Rubina.
"Seperti biasa jam dua siang pulang dari Rumah sakit langsung praktek di klinik. Jadi ya, paling lambat sih jam tujuh malem saya udah sampe apartement kalo ga macet itu juga. Kenapa emangnya?"
"Nggak kenapa-kenapa, By. Cuma aku mau izin keluar. Soalnya bakalan gabut juga kalo aku sendirian di sini. Paling ketemu temen-temen--"
"Geng cabe-cabean kamu lagi?" potong Sean.
"Bukan cabe-cabean By, tapi geng Chili." Rubina mengoreksi.
"Sama aja."
"Beda dong By. Kata Chili lebih berekelas."
"Terserah deh!" jawab Sean rada-rada malas.
"Aku boleh keluar kan By?"
"Kalo soal itu kamu nggak perlu nanya lagi! Sebelum ini saya kan pernah bilang kalo kamu bebas ngelakuin apa aja yang kamu mau tanpa izin dari saya. Yang perlu kamu lakukan hanya kasih kabar ke mana kamu mau pergi sama kamu perginya dengan siapa. Itu aja sih."
"Kalo emang aku jadi keluar, nanti aku bakal kasih informasi ke kamu lewat pesan."
SEAN sudah ada di ruangannya menikmati waktu istirahat ketika telinganya menemukan suara pintu sedang diketuk.
"Iya, Tunggu sebentar," ujar Sean. Pria itu mengurungkan niatan melepas jas putih yang tersemat di tubuhnya, memutar badan dan mendekat ke pintu. Sean membuka pintu itu sehingga didapatinya seorang kurir sedang membawakan makanan.
"Pesanan atas nama Sean Altemose Ahmet, dari Rubina Henney Wiriawan." Pria yang merupakan kurir memberikan makanan untuk Sean. Sejurus kemudian paper bag berisi burger itu sudah diambil alih oleh Sean. Seperti biasa sebelum kurir yang mengantar makanan untuknya berlalu Sean memberinya uang tip.
"Pak Sean nggak perlu bayar makanannya, soalnya udah dibayar sama si pemesan,” ujar kurir yang mengira uang yang diulurkan oleh Sean merupakan uang bayaran makanan.
"Bukan kok Pak, uang ini adalah uang tip buat Bapak," Sean kian mengulurkan tangannya. "Ayo, diambil aja!"
"Wah terima kasih banyak, Pak."
"Sama-sama," sahut Sean dengan senyum ramah.
“Kalau begitu saya pamit.”
Sean menganggukkan kepalanya memperhatikan si kurir memutar badan lalu pergi dengan terburu-buru. Seteleh si kurir mengilang ditelan oleh belokan, barulah Sean memutuskan untuk kembali masuk ke ruangannya. Tidak lupa pintu ruangannya ditutup kembali.
TING!
TING!
[By, Sorry ganggu. Aku cuma mau ngasih tau kalo sekarang aku lagi di Cafe Pelangi. Aku lagi bersama Rara sama Syifa.]
[Aku juga udah ngirim makanan ke Rumah Sakit. Sorry ya By, aku ngirim junk food soalnya aku belum bisa masak buat kamu. Takutnya kal aku masak, kejadiannya malah berakhir kayak kemarin. Tapi aku janji dalam waktu dekat aku bakalan belajar buat masak biar tiap hari bisa masak buat kamu. * emotikon love*]
Sean tidak mengabaikan pesan yang dikirim untuknya itu. Dia terlihat mengetuk layar ponselnya hendak memberikan pesan balasan.
[Ok!] Seperti itulah pesan balasan dari Sean. Sangat singkat, padat, dan jelas!
Di tempat lain namun di waktu yang sama Rubina hanya bisa geleng-geleng kepala melihat respon dingin suaminya. Bukan sikapnya di dunia nyata saja, bahkan isi pesan yang dia kirim pun sama dinginnya.
"Hah... Laki gue bener-bener ya, kaku banget. Kayak kanebo kering,” gumamnya menyematkan gelar 'kaku' kepada suaminya.
"Kenapa, By?" Syifa adalah orang yang baru saja memberikan pertanyaan itu. Sementara Rara— yang duduk di sebelah Syifa— hanya memasang tampang bingung.
"Laki gue," jawab Rubina.
"kenapa sama dia?"
"Gue udah kirim pesan panjang kali lebar kali tinggi, kalian tau responnya nggak ada romantis-romantisnya sama sekali. Dia cuma bilang 'oke' doang," Rubina menjelaskan.
"Emang sikap dia masih dingin bahkan setelah kalian nikah?" Syifa bertanya.
"Dia masih dingin, tapi kalo dibandingin pas sebelum kita nikah, sikap dinginnya semarang udah agak berkurang sih." Rubina memberikan jawaban kepada sahabatnya.
Sorot mata Syifa terlihat begitu prihatin. “Oh iya, Bi. Gue mau nanya sesuatu sama lo. Tapi kayaknya pertanyaan gue ini udah masuk ke ranah privasi sih." Syifa berucap dengan suara yang begitu rendah. Dia sangat berhati-hati saat menyempurnakan kalimatnya. “Apa kalian udah ngelakuin hubungan suami istri setelah hubungan kalian sah sebagai pasangan? Tapi.... kalo misalnya lo nggak mau jawab juga, nggak apa-apa kok. gue bisa ngerti."
"Gue sama Sean belum pernah ngelakuinnya," tanpa keraguan Rubina memberikan jawaban tentang hubungannya dengan Sean. Dia mengatakannya dengan lugas tanpa keraguan walau itu secuil.
Rara dan Syifa menampilkan tampilan bingung lewat mukanya. Tapi kalau ditanya terkejut, mereka berdua akan bilang tidak terlalu terkejut. Pasalnya memang sedari awal dia tahu kalau Sean dan Rubina memulai hubungan tanpa dasar cinta sama sekali.
"Meskipun dengan kenyataan kita tidur di ranjang yang sama tapi kenyataannya kita belum pernah ngelakuin hubungan suami istri. Kita bahkan tidur dengan bantal guling ditaruh di tengah-tengah. Kata Sean sih bantal guling itu fungsinya buat batas pemisah." Rubina memberikan penjelasan lebih lanjut soal hubungannya dengan sang suami kepada Rara dan Syifa yang sudah dianggapnya sebagai saudari kandungnya sendiri.
“Gue pikir sikap dingin Sean udah runtuh pas malam pertama kalian." Rara angkat suara. Ternyata sikap dia masih sama ya, Bi?"
"Masih sama, Ra!"
"Apa iya di Mr. Snowman nilai lo kurang menantang sampe dia nggak juga mulai apa yang sebenarnya halal buat dia lakuin?" ucap Rara , Zee menerka-nerka.
"Ada banyak kemungkinan sih kenapa Sean masih bersikap dingin sama lo. Bisa aja kan dia emang punya rasa benci yang begitu dalam sama lo, tapi nggak nutup kemungkinan sih kalo dia mungkin udah ada rasa sama lo tapi karena gengsi nuat ngakuin perasaannya, alhasil dia bertindak seolah nggak ada yang terjadi." Syifa berkomentar membagikan kemungkinan yang bisa saja terjadi.
"Kayaknya mustahil deh kalo dia udah punya perasaan ke gue," Rubina membantah tebakan Syifa soal kemungkinan Sean punya perasaan lebih kepadanya.
“Kayaknya gue lebih yakin kalo alasan kenapa kita belum ngeresmiin hubungan ini karena emang dia nggak suka sama gue," ada kekecewaan yang Syifa dapatkan lewat sorot mata Rubina saat mengatakan kalimat seperti itu. Namun Rubina tetaplah Rubina yang akan selalu menampilkan muka ceria apapun yang dirasakannya.
"Gue punya ide Bi. Gue yakin ide gue ini bisa bantu lo. Mungkin setelah ini Sean sendiri yang bakalan bertekuk lutut dan meminta buat ngeesmiin hubungan sama lo,” ada rasa percaya diri yang mendiami diri Rara saat sekelabat ide itu memenuhi ruang di kepalanya.
"Ide apa RA?" tanya Rubina. Selain Rubina, Syifa juga sekiranya penasaran dengan ide Rara.
"Sini deh gue bisikin ke kalian?" Rara lebih dulu menyampaikan idenya itu ke Rubina lalu dilanjutkan dengan membisikkanya ke Syifa. “Gimana sama ide gue? Keren kan?" tanya Rara sambil memperhatikan kedua sahabatnya secara bergantian.
"Kalo gue sih jujur aja agak ragu sama ide lo Ra. Apalagi kita tau sendiri gimana dinginnya sikap SEAN. Bahkan nih ya, Antartika pun akan insecure kalo dibandingin sama sikap dinginnya Sean." Berhenti memperhatikan Rara, kali ini Syifa menoleh sedikit memperhatikan wajah Rubina, "Tapi... nggak ada salahnya sih buat dicoba. Siapa tahu kan setelah itu hubungan lo sama Mr. Snowman bisa berangsur baik."