
...Ost. Yiruma - Love Me...
ost. nya masih dari abang Yiruma ya... semoga suka...
Setelah Seminggu berlalu Hans dan Nadin masih terbaring di ruang ICU, tapi so far kondisi mereka sudah lebih baik dari pertama kali mereka datang ke rumah sakit itu.
Nadin yang pertama membuka matanya menatap langit-langit kamar ICU rumah sakit. Dengan masih memakai Ventilator, Defibrilator (Alat kejut jantung), NGT (Selang makanan), infus, dan kateter. Pokoknya sejumlah peralatan medis ruang ICU di atas dibutuhkan untuk menunjang Nadin agar tetap bertahan hidup dan segera pulih.
Dengan perlahan dan dengan usaha yang cukup besar, akhirnya tangan kanan Nadin yang hanya dipasang pulse Oximeter (alat pantau oksigen dalam tubuh) bisa diangkat keatas dengan melebarkan jari-jarinya. Dia meneliti jari-jarinya dan menggerakannya perlahan. Dari kedua sudut mata Nadin meneteskan setetes air mata.
Ya Allah... aku selamat? aku masih hidup...
Nadin pun memejamkan matanya kembali sambil meneteskan air matanya lagi, lalu dia berusaha menengok kearah sebelah kanannya. Terlihat olehnya seseorang tengah berbaring disampingngnya dengan keadaan yang sama persis dengannya...
Nadin mengerjapkan kedua matanya dengan seksama melihat siapa yang ada di sampingnya yang sedang ikut terbaring bersamanya. Saat kedua mata Nadin sudah fokus dan dengan jelas melihat siapa yang ada disampingnya Nadin terkejut.
Mas Hans??? kenapa dia ada disini? kenapa dia ikut terbaring disini? Apa yang terjadi saat aku tidak sadar? Sampai Mas Hans ikut berada disini?
Lalu tangan Nadin pun berusaha supaya bisa menyentuh tangan Hans. Tapi bukan tangan Hans yang dia raih, malah alat Oximeter yang ada di jarinya malah terjatuh karena tertarik.
No... Mas, kamu harus sadar Mas, banyak yang pengen aku omongin sama kamu, Mas. kamu harus sadar... please!
Nadin masih berusaha untuk meraih jari Hans, dan dengan kegigihan dan keinginan Nadin untuk menggenggam tangan Hans akhirnya Nadin pun behasil meraih jari dan tangan Hans dia genggam terus tangannya tanpa dia lepaskan.
Mas... bangun Mas...
...(ini sebagai contoh aja ya...)...
Tak lama karena masih lemas dan pengaruh obat Nadin pun kembali melemah dan tidak sadarkan diri masih dengan tangan yang masih menggenggam tangan Hans.
Tak lama ada beberapa perawat yang datang karena mereka melihat di monitor tidak ada tanda detak pantau oksigen di layar monitor yang ada di luar. Jadi beberapa orang untuk mengecek kamar Ndin dan juga Hans.
Tapi apa yang mereka lihat? Tangan Nadin dan Hans yang saling bertaut meskipun mereka tengah tertidur.
***
Althea, Danniel sedang duduk saling berpelukan menguatkan diri mereka sambil menunggu di depan ruang ICU Hans juga Nadin, sementara Dany juga sedang duduk di samping Danniel ikut menunggu kondisi Bossnya dan juga Nyonya Nadin nya.
Beberapa perawat terburu-buru masuk ke ruangan Hans juga Nadin. Althea, Danniel juga Dany melihat dengan hati gelisah.
Beberapa menit kemudian...
Salah satu perawat kemablu keluar bergegas memanggil dokter jaga. Althea, Danniel dan Dany pun beranjak dari tempat duduknya dan menunggu di pintu ruang Danniel sampai dokter dan perawat itu datang lagi.
"Dok, Sus, apa yang terjadi?" ucap Althea saat Dokter dan suster itu datang hendak masuk.
"Maaf Nyonya Althea, ijinkan saya untuk memeriksa pasiennya terlebih dahulu, karena saya juga belum tau apa yang terjadi..." jelas dokter.
"Tapi--"
"Udah... sayang... maaf silahkan anda memeriksa mereka, dokter." ucap Danniel sambil menahan Althea untuk bertanya lebih lanjut.
Lalu dokter dan perawat itu pun masuk ke ruang icu.
"Niel, gimana kalo ada apa-apa sama mereka berdua?"
***
"Nyonya Althea, Tuan Danniel..." panggil dokter jaga saat keluar dari ruang ICU menghampiri Althea, Danniel dan Dany.
"Bagaimana keadaan mereka, dok?" Althea.
"Kalian bisa masuk dan melihat keadaannya saya akan menjelaskannya di dalam..." Ucap dokter itu sambil memoersilahkan Althea dan Danniel masuk.
Danniel dan Althea pun hendak masuk tapi dia melihat ke arah Dany yang masih berdiri sambil terdiam.
"Dok, apa satu orang lagi untuk masuk?! Dany... dia keluarga dari Hans."
"Baik, Pak.. Anda juga bisa masuk, dan tolong memakai pakaian steril khusus untuk masuk ke ruang icu..."
"Baik, Dok... Terima kasih Tuan.."
"It's okay, Dan..."
Saat mereka bertiga masuk ke ruang ICU dan melihat tangan Nadin dan Hans saling bertautan.
"Oh my---" pekik Althea tertahan karena tidak percaya apa yang dilihatnya.
"Niel..."
"Sepertinya tadi sudah ada pergerakan dari Nona Nadin, kami melihat di monitor kalau ada yang tidak jalan dan itu adalah pulse Oximeter (alat pantau oksigen dalam tubuh) punya Nona Nadin, dan itu kami temukan di bawah ranjangnya, lalu kami periksa alat vital juga kondisi seluruh tubuhnya juga sudah mulai normal dan saat kami cek ke cctv ternyata benar, Nona Nadin sempat sadar dan mengangkat tangan kanannya lalu menengok ke sebelah kanan lalu dia berusaha untuk meraih tangan dari Hans." Jelasnya sambil memperlihatkan cctv di komputer yang ada disana mereka yang ada di sana pun melihat dengan takjub sampai terlihat Nadin telihat tidak sadarkan diri maaihvmenggenggam tangan Hans.
"Lalu bagaimana dengan Hans?" Danniel meihat reaksi Hans yang tidak bergerak sama sekali.
"Untuk Pak Hans memang saat itu tidak ada pergerakan sama sekali, tapi sesaat setelah kejadian itu kondisi Pak Hans juga sudah mulai ada peningkatan, secara garis besar... mudah-mudahan dengan adanya kejadian ini kondisi mereka yang saling menguatkan ini bisa menjadi baik bagi kondisi keduanya."
"Ya... mudah-mudahan, saja..." ucap Danniel sangat bersyukur dengan kejadian ini. begitu oun denfan Althea dan Dany.
Tadinya mereka cemas, tapi setelah melihat dan mendengar penjelasan dari dokter mereka akhirnya bisa bernapas dengan lega.
***
"Dan, kamu urus Aquila di kantor polisi, buat dia menerima akibatnya, jangan sampai dia bebas dari penjara, apapun caranya!" ucap Danniel dingin dengan tatapannya yang tajam.
"Baik, Pak!"
"Kamu nggak usah pikirin Hans, saya akan selalu ada di sini jagain dia... kamu pokonya urus urusan di kantor polisi!"
"Siap, Pak!" ucaonya sambil memberi hormat pada Danniel lalu pergi dari hadapan Althea dan Danniel.
"Sayang... Kamu sudah telpon anak-anak?!"
"Udah Yang, di rumah juga ada Daddy sama Mommy, mereka nginep di rumah kita sama Alpha..."
"Hmm... baguslah! saya juga udah urus pwkwrjaan saya sama Rafael, mungkin swbwlum kesini dia besok mampir dulu buat liat keadaan Hans.
Althea hanya mengangguk sambil menghela napas panjang.
Syukurlah ini udah berakhir dan penjahatnya sudah ditangkap meskipun ada begitu banyak pertumpahan darah, termasuk Nadin yang kehilangan Bayinya dan ada kemungkinan tidak bisa hamil lagi, juga Hans yang terluka dengan dua tusukan, dan satu di tempat yang fatal, makanya Hans bisa sampai koma dan sampai sekarang tidak sadarkan diri.