I'm Not Cinderella

I'm Not Cinderella
AMFH 55



...ANYEONG MY FUTURE HUSBAND...


^^^By. Lucifer^^^


"Jaraknya lebih dekat lagi, dan jangan lupa tatapan matanya!"


Setelah berhasil mengambil beberapa gambar, akhirnya si fotografer menyampaikan bahwa pemotretan hari itu sudah selesai.


"Aw!" ringisan Rubina mengambil perhatian Sean.


"Kenapa lagi?" tanya Sean yang hanya mendengar ringisan tanpa tahu penyebab ringisan itu.


"Kayaknya aku nginjak sesuatu yang tajem deh," karena kakinya yang terendam air sehingga gadis itu tidak tahu benda tajam apa yang dia injak sampai menyisakan rasa sakit seperti ini.


"Kamu mau becanda lagi kayak tadi?" Sean tersenyum remeh.


"Serius Sean. Emang ada sesuatu yang nusuk kaki aku. Trus kok sekarang jadi perih ya?! Aaww"


asean yang melihat perubahan wajah Rubina segera bertindak.


"Kita jalan ke tepi dan ngecek kaki kamu!" ajak Sean.


"Awww Perih banget Sean. Gimana cara aku bisa jalan ke tepian?"


Tanpa izin, Sean langsung saja menggendong Rubina ala bridal style. Rubina sendiri kaget karena tiba-tiba Sean melakukan itu. Keterkejutan Rubina tidak bertahan lama karena sekarang dia menggantinya dengan raut muka seakan sedang salah tingkah. Rubina menatap wajah Sean lewat angle bawah. Sean benar-benar sangat tampan!


"Berhenti liatin saya sambil senyum kayak gitu!" perhatian Sean memang ke depan tapi dia tahu tentang senyum serta tatapan Rubina yang mengarah ke wajahnya. "Saya bilang berenti liatin saya sambil senyum atau saya bakalan nurunin kamu secara paksa!" ancam Sean.


Sean menurunkan Rubina dari gendongannya menuju ke sebuah kursi berbahan dasar kayu yang letaknya berada tepat di depan vila. Rubina sejauh ini masih meringis merasakan rasa perih yang bersarang di bagian telapak kakinya.


"Perih banget astaga, bahkan lebih perih dari perasaan yang aku dapatin tiap kali kamu bersikap dingin sama aku," tidak cukup hanya mengeluarkan bunyi ringisan, Rubina juga mengeluarkan kalimat yang mempertegas rasa sakitnya.


"Ada apa Mbak?" si fotografer bertanya untuk melenyapkan kebingungan yang dirasakannya melihat aksi Sean yang sebelumnya menggendong Rubina.


"Katanya ada sesuatu yang menusuk telapak kakinya," bukan Rubina yang menjawab. Justru jawaban barusan disampaikan oleh Sean.


"Apa jangan-jangan sesuatu yang menusuk kakinya adalah duri babi?" si fotografer hanya bisa menduga-duga. "Soalnya yang saya tau biasanya bulu babi itu rawan sekali hidup di daerah pesisir pantai."


"Masuk akal juga." Sean menjawab sambil menganggukkan kepalanya.


"Setahu saya jika terkena duri babi harus segera ditangani!" si fotografer menyampaikannya kepada Sean.


"Saya akan menanganinya," Sean yang cukup asing dengan penanganan duri babi mulai mengambil ponselnya untuk mencaritahu tentang penangan yang harus dia lakukan.


"Tunggu bentar, saya ke mobil dulu ngambil kotak P3K."


"Kalau begitu saya juga mau pamit undur diri karena saya masih ada jadwal pemotretan di tempat lain," kata si fotografer sebelum Sean beranjak pergi untuk mengambilkan kotak P3K di mobil.


Sementara si fotografer pergi dengan motornya, Sean mengambil kotak berukuran lumayan dari bagasi mobilnya. Untungnya barang itu selalu ada di sana, sehingga saat situasi genting seperti ini dapat dipergunakan sebagaimana mestinya.


Kembali ke tempat semula Sean menemukan Rubina masih meringis menahan perihnya luka di kaki.


"Masih perih lukanya?" tanpa sadar Sean menanyakan itu. Pertanyaan itu tergulir lewat nada rendah sambil pria itu berjongkok di hadapan Rubina. "Sini biar saya periksa luka di kaki kamu," lembut Sean mengatakannya.


Rubina sendiri cengo memperhatikan Sean yang berkutat dengan sebuah kotak yang diambilnya dari mobil. Rubina tidak mengerti dengan perasaannya saat itu. Dia kaget namun senang disaat yang bersamaan. Jarang sekali dia mendengar kalimat lembut seperti itu dari calon suaminya. Yang mengherankan lagi saat ini hanya ada mereka berdua. Biasanya kan tiap kali hanya mereka berdua maka Sean akan pada kebiasaannya yaitu menjawabnya dengan ketus sambil menatapnya tidak bersahabat.


Sean menyentuh kaki mulus Rubina. Rubina tersentak pelan.


"Kayaknya luka ini emang penyebabnya karena duri babi." Sean memberikan kesimpulan setelah melihat luka di area telapak kaki gadis itu.


"Dari tadi kamu dan si fotografer itu terus aja ngomongin duri babi. Aku pikir kamu cuma bercanda. Emangnya babi juga ada yang hidup di laut ya? Aku pikir babi cuma ada di daratan doang."


"Bukan babi yang itu. Ini mah beda lagi. Duri babi itu hewan laut warnanya hitam. kayak namanya, duri babi punya banyak duri. Dari yang saya tau ujung dari duri babi ini mengandung racun."


"Racun?" ulang Rubina. Nadanya meninggi. Seketika itu pula terjadi perubahan signifikan di wajahnya. Sekarang wajahnya memperlihatkan kepanikan merespon tentang kandungan racun yang terdapat pada ujung duri babi.


"Kamu lagi bercanda kan, Sean?" sebelah alisnya terangkat. Sorot mata Rubina penuh harap, dia berharap Sean akan mengatakan kalau dia cuma bercanda.


"Untuk apa saya becanda? Saya serius. Durinya emang beneran mengandung racun."


"Apa racun yang ada sama duri babi itu bakalan mengakibatkan kematian?" Rubina takut-takut menyempurnakan kalimat tanyanya. Sean menyadari itu, dia bisa melihat ketakutan di diri Rubina, terlebih saat gadis itu meneguk salivanya kasar begitu ucapannya telah disempurnakan.


"Maybe," singkat saja ucapan balasan Sean dan Rubina langsung membulatkan mata dan bibirnya.


"Trus bagaimana? Apa ada cara buat ngeluarin racun duri babi sialan itu dari tubuh aku? Beneran, aku nggak mau kehilangan nyawa aku. Aku bahkan belum nikah sama kamu. Masa aku harus mati sekarang?" Rubina yang sebenarnya takut mulai berbicara ngelantur.


Rubina yang takut membayangkan efek samping dari racun duri babi tersebut menjadi kesal lantaran Sean memilih untuk diam saja.


"Sean kok kamu diem aja?" Sean berdecak. "Terus saya harus gimana?"


"Ya, Bantuin kek cari solusinya. Emangnya kamu nggak panik?"


"Kenapa saya harus panik?"


"Kan katanya duri babi itu mengandung racun. Emangnya kamu nggak takut bakalan kehilangan aku? Gimana kalo aku meninggal karena efek samping setelah tertusuk duri babi? Emang kamu rela kalo harus kehilangan calon istri cantik kayak aku," Rubina sempat-sempatnya memuji dirinya sendiri di tengah ketakutan yang dia rasakan.


Sean memilih untuk tidak meladeni Rubina dari pada akhirnya dia semakin kesal dibuatnya. Dari dalam kotak Sean mengeluarkan sebuah pinset. Dengan benda itu Sean akan mengeluarkan duri yang tertinggal di sana.


"Tahan ya! Kayaknya ini bakalan kerasa sakit soalnya saya ngeluarin duri yang menancap di kaki kamu."


"Sakit banget ya?" tanya Rubina.


"Kayaknya." jawab Sean sambil mengedikkan kedua bahunya.


"Emangnya nggak ada cara lain ya? Maksud aku nggak bisa kah dibius dulu supaya aku nggak ngerasain sakit pas kamu ngeluarin durinya."


"Ngasih anastesi atau obat bius juga bakalan tetep sakit soalnya kan saya bakalan masukin cairannya pake alat suntik. Lagian nggak ada anastesi di dalam kotak P3K ini. Jadi gimana? Mau saya keluarin duri ini sekarang, atau kamu mau saya antarin ke klinik terdekat buat dapetin anastesi?"


"Sama kamu saja deh. Tapi pelan-pelan ya pas ngeluarin durinya!"


"Iya, saya bakalan berusaha buat ngelakuinnya selembut mungkin."


"Awww!"


"Aku belum ngelakuin tindakan apa-apa, jadi jangan berteriak dulu!" ujar Sean.


"Awww, sakit!" desah Rubina.


"Bisa nggam kamu berenti mendesah?" tanya Sean sebal. Sean sadar, keadaan tempat itu sangatlah sepi namun terlepas dari itu Sean tentu saja merasa was-was, kalau ada yang mendengar suara ******* Rubina, nanti yang ada orang itu akan berpikir yang tidak-tidak. Padahal kan Sean hanya membantu mengeluarkan duri yang menancap di kaki gadis itu, bukannya melakukan sesuatu yang sifatnya 'aneh-aneh.'


"Maaf, aku suka keceplosan!" kata Rubina. Sama sekali tidak ada raut penyesalan di wajahnya. Dia justru hanya tersenyum tipis-tipis.


"Dasar otak mesum!" umpat Sean padanya.