
...ANYEONG MY FUTURE HUSBAND...
^^^By. Lucifer^^^
“did you see that, By?," ucap Rubina bersemangat.
"Yeah.." Sean mati-matian untuk bersikap biasa saja padahal hatinya jangan ditanya lagi. Sean merasakan kegugupan yang sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata.
"Terus gimana dengan omongan kamu tadi?"
"Kita pulang sekarang ya," Sean mengalihkan pembicaraan. "Saya udah banyak keringat nih dan kayaknya saya harus mandi sekarang," Sean meneguk salivanya dan segera berjalan meninggalkan Rubina. Rubina berlari-lari kecil menyamakan jaraknya dengan Sean.
"Kok tingkah kamu aneh banget, By?” tanya Rubina.
"Aneh gimana? Perasaan kamu aja mungkin." Sean memberikan jawaban tanpa menghentikan langkah kakinya. Sean semakin mempercepat langkah kakinya karena sudah tidak tahan lama-lama di dekat Rubina. Sean takut disodorkan pertanyaan yang merujuk kepada kejadian tadi. Ralat, bukan takut sih, lebih kepada Sean tidak ingin memperlihatkan kecanggungan yang sedang dirasakannya.
***
JAM menunjukkan pukul enam sore ketika Sean masih dengan setelan yang sama dengan yang dia kenakan saat olahraga sore tadi. Langit di luar sana sudah semakin gelap. Alasan kenapa Sean belum mandi dan mengganti pakaiannya dengan setelan baru karena sebelumnya saat dia hendak mandi, Rubina justru meminta izin mandi duluan. Oleh karena itu sambil menunggu Rubina selesai mandi, Sean memilih untuk ke dapur saja membuat santapan malam. Berdasarkan bahan persedian yang ada di dapur Sean memutuskan untuk membuat makanan yang paling sederhana. Sean berencana untuk membuat ayam goreng dan juga sup. Sebelum membuat ayam goreng sekiranya lebih dulu dia memotong-motong bentuk dadu wortel dan kentang yang hendak dibuat sup.
Usai menyiapkan sup, kali ini Sean menyiapkan wajan yang diberinya minyak. Sambil menunggu sampai minyak gorengnya panas Sean meniriskan ayam yang sudah dimarinasi.
"Ah sial, kenapa saya harus bilang kayak gitu sih?" Sean mengakhiri ucapannya dengan kedikan bahu. Kembali bayangan tentang kejadian tadi sore berputar bak film di dalam imaji Sean. Bahkan setelah berjam-jam berlalu pria itu masih saja menyimpan sesal di dalam hatinya.
Sean baru saja memasukkan potongan ayam ke dalam minyak panas. Entah dia yang memang kurang berhati-hati atau karena pikirannya yang memang sedang bercabang karena kejadian tadi sore. Sean terkena percikan minyak panas yang sontak membuatnya mengadu kesakitan,
"Aw, ****!! pakek kena minyak panas lagi!"
"Apa?" Rubina yang baru saja memijakkan kakinya di dapur otomatis langsung panik. Secepat kilat gadis dengan setelan piyama merah muda itu mendekat. "Kok bisa sih By tangan kamu sampe kena minyak panas," panik Rubina.
"Ini tadi pas saya masukin ayamnya tangan saya langsung kena cipratan minyak. Mana minyaknya udah panas banget lagi," Sean mengeluh.
"Ya sudah By. Masaknya dilanjutin ntar aja, sekarang kita urus tangan kamu dulu yang kena cipratan minyak terlebih dahulu!”
"Nggak usah. Nanti juga bakalan sembuh sendiri."
"Padahal baru tadi pagi loh, kamu bilang ke aku buat jangan ngeremehin luka, sekecil apapun itu. Ya walaupun tangan kamu nggak sampe berdarah kayak tangan aku tadi pagi sih, tapi kan bukan berarti harus diabaikan," Rubina tidak meminta izin Sean saat tangannya terulur memutar tuas kompor. "Sini, By duduk dulu," Rubina menarik tangan Sean membawanya untuk duduk di kursi. "Tunggu bentar ya By, aku mau ke kamar ambilin kotak P3K."
"Kotak P3K-nya ada di sana. Lupa aku balikin ke kamar."Sean menunjuk meja di sudut ruangan.
Rubina mengambil kotak di meja dan membawanya ke hadapan suaminya. "Di sini ada banyak By. Ngomong-ngomong pakai yang mana buat kulit yang terkena minyak panas?” tanya Rubina sebelum nantinya dia mengambil obat yang salah.
"Itu di sana ada salep luka yang kemasannya warna putih."
"Yang ini By?" Rubina memperlihatkan barang yang barusan diambilnya dari dalam kotak.
"Iya, itu salep buat diolesin ke luka," Sean mengambil salep dari tangan Rubina. Dia hendak membuka tutup salepnya namun salep itu keburu direbut kembali oleh Rubi a. Karena aksi Rubina, Sean jadi menampilkan muka cengo kaget dengan aksi yang tidak terprediksi itu.
"Kenapa kamu malah rebut salepnya sih? Saya kan belum sempat ngegunainnya.” Kesal Sean yang terlihat dari intonasi dan juga caranya menatap Rubina. “BINA! Saya lagi nanya loh, kok nggak di jawab? Itu kenapa kamu ngambil salep dari tangan saya."
"Untuk urusan ngolesin salepnya biar aku saja By."
"Saya bisa sendiri."
"Aku juga tahu kalo kamu bisa melakukannya sendiri. Tapi buat saat ini biarin aku aja yang bantu kamu buat ngolesin salepnya. Anggep aja aku lagi balas budi karena tadi pagi kan kamu udah bantu aku pas tangan aku luka. Sekarang giliran aku yang bantu kamu By."
"Udah deh By. Serahin aja sama aku tugas ini. Lagian kamu kok aneh gini. Kamu kayak nyoba ngehindarin aku. Ada apa By?"
"Cepet olesin aja nggak usah bahas hal-hal yang nggak penting," begitulah jawaban Sean karena sebenarnya dia malas untuk membahas tentang kejadian sore hari tadi. Makanya sebelum Rubi a memulai pembahasan itu Sean segera menyuruh gadis itu untuk buru-buru mengoleskan salep pada tempat yang sebelumnya terkena percikan minyak panas.
Terlihat Rubina yang mulai membuka kemasan salep.
"Pelan-pelan ya!"
"Iya, By. Aku bakalan ngelakuinnya sepelan mungkin. Oh ya, di mana aja bagian yang terkena minyak panas?” tanya Rubina dan Sean segera menunjukkan bagian mana saja yang terkena percikan. Gerakan Rubina teramat lembut memberikan perhatian sampai selama beberapa saat Sean meneguk salivanya merasakan kelembutan tangan Rubina saat menyentuh kulitnya.
"Lain kali hati-hati By, kalo lagi masak. Nasib baik cuma kecipratan dikit."
"Iya, iya."
Sambil memasukkan kembali salep itu ke kotak P3K Rubina jadi kepikiran soal kejadian di lapangan basket tadi. Lagian mana bisa dia lupa momen bersejarah karena dia mendapatkan yang bisa meminta sesuatu dari Sean.
"Saya akan lanjut memasak.” Sean hendak bangkit tapi keburu ditahan oleh Rubina.
"Tunggu bentar By!" seperti itulah yang Rubina katakan sehingga Sean terpaksa merapatkan kembali bokongnya di kursi.
'Perasaan gue kok enggak enak ya,' batin Sean.
"Ada apa?” meski sudah bisa menebak-nebak yang akan terjadi di menit selanjutnya, tetapi Sean masih saja berharap tebakannya tidak sejalan dengan apa yang akan terjadi.
"Soal di lapangan tadi!" ucap Rubina memberikan clue mengenai pokok pembicaraan yang akan dia bahas dengan Sean. "Kamu serius kan sama janji yang akan menuruti permintaan aku?" tanya Rubina.
"Tuh kan bener dugaan gue, ternyata dia emang bakalan ngebahas soal kejadian di lapangan basket tadi' rutuk Sean dalam batinnya. "Selama permintaan kamu enggak aneh-aneh saya akan menyanggupinya. lagian saya udah berjanji kan?”
"Oh bagus deh kalo emang kamu nggam lupa sama janji itu. Aku pikir kamu nggak bakalan menyanggupinya."
"Saya ini laki-laki. Dan laki-laki itu akan selalu menepati janjinya. Dan Ayah udah ngajarin saya dari kecil kalau janji itu adalah hutang, dan yang kita tau kalo hutang itu wajib hukumnya buat dibayar. Karena itu kamu tenang aja. Saya pasti bakalan nepatin janji saya."
Rubina tidak memberikan jawaban. Hanya menganggukkan kepalanya dengan tempo lambat.
"Ngomongin soal janji itu, emangnya kamu ingin minta apa dari saya?" penasaran Sean.
"Untuk saat ini aku belum kepikiran sih mau minta apa sama kamu. Hmmm, tapi boleh enggak sih By kalo permintaan aku di keep dulu. Nanti aku bakalan kasih tau permintaan aku kalo memang aku udah mikirinnya."
"Terserah sih, asalkan permintaan kamu jangan yang aneh-aneh saya bakalan menyanggupinya."
"Enggak pakai limit waktu kan By?"
"Maksudnya?"
"Permintaan aku boleh kapan aja kan? Misalnya sebulan atau mungkin setahun dari sekarang."
"Boleh.” Sean mengangguk sambil memberikan jawabannya. "Kalo udah nggak ada lagi yang mau kamu bahas mendingan saya lanjutin ngegoreng ayamnya." Sean sudah bangkit hendak melangkahkan kakinya saat Rubina kembali bersuara.
"Masih ada satu lagi By. Soal bonus ciuman yang mau kamu kasih? Gimana dengan itu By? Kamu mau ngasih atau nggam?" tanya Rubina yang kesannya sedang menagih Sean soal janji ciuman yang diucapkan saat mereka masih di lapangan basket.
***
Sean kembali meneguk salivanya ketika pertanyaan yang merujuk kepada insiden itu ditanyakan oleh Rubina. Bahkan seandainya istilah ‘tarik pesan' ada di dunia nyata, maka sudah dipastikan bahwa dia akan menempuh cara itu demi untuk menghilangkan kecanggungan yang membelenggu dirinya.