I'm Not Cinderella

I'm Not Cinderella
AMFH 115



...ANYEONG MY FUTURE HUSBAND...


^^^By. Lucifer^^^


KECANGGUNGAN saat ini sedang dirasakan oleh Rubina yang sedang berada di dalam kamar berdua dengan Sean. Jika biasanya dia selalu mengharapkan adanya momen-momen seperti ini, sekarang dia malah malas bahkan untuk sesederhana melihat suaminya itu. Pun sedari awal masuk ke ruangan kamarnya ini Rubina hanya menyibukkan diri membaca novel-novel lamanya dalam posisi duduk di tepian ranjang tentu saja dia melakukan ini semata-mata agar dia bisa menghindari Sean saja.


BRUKKK!


Suara itu terdengar dan sukses membuat Rubina menyentakkan badan. Meninggalkan novel yang ada di tangannya, Rubina membawa tatapannya pada Sean yang sedang dalam posisi membungkuk.


"Suara apa sih itu, By?" tanya Rubina. Matanya menyipit menunggu pertanyaannya dijawab oleh Sean.


Sejenak Sean berhenti pada aktivitasnya, dia menatap istrinya dengan perasaan bersalah, “Maaf ya, saya udah bikin kamu kaget ya?! Saya nggak sengaja ngejatuhin sesuatu." Setelah mengatakan itu Sean lanjut untuk merapikan apa yang dia jatuhkan.


Rubina menurunkan pandangan memperhatikan kotak yang dijatuhkan oleh Sean.


"Hmmm... Itu kan kotak yang isinya.... Holly ****!" gumam Rubina, "Ck... Duh! Jangan sampe Sean liat isi kotak itu."


Rubina membulatkan matanya melihat Sean yang hendak membuka kotak rahasia yang disimpan oleh Rubina selama bertahun-tahun. Tidak, pokoknya nggak boleh Sean melihat isi dari kotak itu. Rubina tidak dapat membayangkan betapa malunya dia kalau Sean membukanya.


Rubina meletakkan buku bacaannya begitu saja.


"Tunggu By!" cegat Rubina lewat kalimatnya. Alhasil tangan milik Sean yang hendak difungsikan sebagai alat untuk membuka kotak pun berakhir mengudara. "Jangan dibuka By, itu kotak punya aku!" Rubina membungkukkan badan dan menarik kotak itu dengan cepat.


Sayang, karena terlalu excited, sehingga kotak yang rencananya akan dia amankan kembali terjatuh. Dan sialnya lagi, kotak itu jatuh dalam keadaan terbuka sehingga kertas-kertas yang merupakan isi dari kotak itu berserakan di lantai. "Ah... Shiiit... Nggak dukung banget sih ni kotak!!!" Rubina memukul jidatnya frustrasi melihat Sean yang sedang memperhatikan gambar yang ada di sana.


"Loh... Kok ada banyak foto-foto saya di situ, Bi?" Sean menatap gambar dirinya yang berserakan di lantai. Beberapa gambar itu diambil tanpa sepengetahuan Sean. Ada gambar yang diambil saat Sean sedang ikut berolahraga di lapangan SMA nya Bina saat Sean sedang Praktek di SMA nya Rubina, ada juga yang diambil ketika Sean sedang memarkirkan motornya, Sean yang sedang memeriksa kesehatan beberapa siswa dan bahkan ada pula gambar saat Sean sedang duduk di kantin bersama dengan teman-temannya. Sean segera mengarahkan mata menyipitnya kepada istrinya.


"Kamu yah yang ngambil semua gambar ini tanpa sepengetahuan saya?"


Rubina meneguk salivanya. Ketakutan sedang dia rasakan melihat tatapan suaminya yang begitu serius kepadanya. “Eu... Aku bisa jelasin, By" ujar Rubina agak kikuk. "Emang bener aku yang ngambil semua gambar ini," Rubina mengakuinya. Sekali lagi dia meneguk salivanya di akhir kalimatnya.


"Kenapa kamu ngelakuin itu?" Sean mengajukan pertanyaan lain. "Apa tujuan kamu ngambil gambar saya diem-diem?" pun sampai sekarang Sean juga masih menilikkan matanya, dia penasaran kenapa Rubina sampai mengambil fotonya diam-diam dan menyimpannya di dalam kotak segala.


"Itu, eu..." Rubina tidak melanjutkan kalimatnya karena Sean keburu tertawa dan membuat Rubina penasaran.


"Kenapa kamu ketawa sih? Emangnya ada yang lucu ya." desis Rubina sambil menajamkan matanya pada Sean.


"Saya ngerasa senang aja. Ternyata selama ini kamu benar-benar sangat terobsesi sama saya tapi dengan bodohnya saya selalu aja ngehindarin kamu. Maafin sikap saya selama ini yang buat kamu sakit hati ya, tapi untuk sekarang dan kedepannya saya bakalan selalu mencintai kamu Bi."


Janji yang terucap dari bibir Sean, sempat membuat perasaan Rubina jadi tidak menentu. Walau pun bibirnya senantiasa menegaskan bahwa dia sudah tidak ada cinta lagi dengan Sean, namun hati kecilnya seperti memberi penolakan dengan itu. Dirasakannya suhu pada pipinya yang menghangat, namun sebelum bercak merah telah hadir pada kedua sisi pipinya Rubina langsung berkata, "Telat By. Sekarang kamu udah nggak perlu cinta lagi sama aku. Aku sudah hilang rasa sama kamu." Rubina mengatakannya tanpa melakukan kontak mata dengan suaminya.


"Kenapa kamu bilang tanpa melakukan kontak mata sama saya? Kalo emang kamu udah nggak punya perasaan apa-apa buat saya, coba untuk bilang sambil tatap mata saya!" Sean sudah tidak dalam keadaan berjongkok. Pria itu telah bangkit, berdiri di hadapan Rubina. "Kenapa? Kamu nggak berani ngelakuinnya kan? Itu artinya kamu belum bisa ngelupain saya, Bi."


"Apa sih, kamu ngomongnya ngaco banget.” Sebelum akhirnya Rubina larut dalam perasaan itu dia akhirnya memilih untuk mengalihkan pokok pembicaraan. "Sekarang udah malem. Besok aku ada kuliah pagi. Dan kamu juga masuk kerja kan."


"Benar kata kamu," Sean tanpa pikir panjang langsung merebahkan badannya di kasur yang ada di ruangan itu.


"Eh kok malah tidur di situ sih?" Rubina langsung mengajukan protes menemukan suaminya dengan seenaknya tidur di ranjangnya.


"Lah, kalo saya nggak tidur di sini, terus saya harus tidur di mana dong?" bingung Sean.


"Terserah," balas Rubina dingin.


"Oke lah, kalau di apartemen kan ada di dua kamar jadi kita bisa tidur pisah kamar. Tapi sekarang kan kita ada di rumah kamu. Dan saya ingatin ya kalo kamu minta saya buat ngeliatin seolah hubungan kita harmonis di depan papah, Ibu dan Grandpa. Kalo saya tidur di ruang tamu atau di ruang keluarga, bisa-bisa mereka akan menaruh curiga. Emangnya itu yang kamu mau?”


"Ck... Bener juga," gumam Rubina kemudian dia memaksa otaknya untuk berpikir. "Oh iya, kamu kan bisa tetep di ruangan ini tapi tidurnya bukan di ranjang,” ide Rubina.


"Maksudnya kamu nyuruh saya tidur di bawah?" tanya Sean.


Rubina menggangguk dengan mantap. "Bener. Kan kamar ini punya aku, jadi... yang berhak buat tidur di ranjang cuma aku."


"Kenapa nggak berdua aja sih? Kok ribet banget pake ada yang tidur di lantai segala."


"Ya kamu kan liat sendiri kalo ukuran ranjang ini nggak terlalu gede, nggak kayak ranjang yang ada di apartemen."


"Waktu itu muat kok, saya sama kamu kan pernah tidur di ranjang ini."


"Nggak mau," tolak Sean.


"Ih, kok begitu sih."


"Aku tetep bakalan tidur di sini," keras Sean tidak mau tahu.


"Tapi aku nggak mau tidur seranjang sama kamu."


"Kalo kamu nggak mau tidur seranjang sama aku, kamu boleh tidur di bawah."


"Enak aja!"


"Ya udah kalo gitu, ayo tidur di sebelah saya aja!” ajak Sean sembari menepuk-nepuk sisi kasur di sebelahnya. Dia melihat ada gerakan bahu mengedik yang dilakukan oleh Rubina. "Kamu aja, saya nggak bakalan macem-macemin kamu kok. Yang ada saya takutnya kamu yang macem-macemin saya pas saya lagi tidur," canda Sean.


"Ih enak aja. kamu kali tuh yang kemungkinan modusin aku pas lagi tidur. Aku mah nggak bakalan ngelakuin itu,” Rubina mengakhiri ucapannya masih dengan gerakan mengedikkan bahunya.


"Ya udah kalo begitu kamu tidur aja di sebelah saya.”


"Pokoknya nggak mau."


"Kenapa kamu nggak mau tidur di sebelah saya? Kamu takut khilaf dan akhirnya bakalan ngelakuin hal yang macem-macem sama saya?" ujar Sean menuduh.


"Kata siapa alasan aku kayak gitu?"


"Kalau emang kamu nggak takut khilaf, berarti kamu nggak bakalan takut buat tidur di sebelah saya. Ya... kecuali emang kalo kamu takut khilaf sih." Sean tersenyum. Senyum itu senyum yang mengejek lawan bicaranya.


"Aku enggak takut kok. Siapa juga yang bakalan khilaf. Okey, malam ini aku bakalan tidur di sebelah kamu," tidak butuh waktu lama bagi Rubina untuk segera mengubah posisinya jadi tertidur di sebelah Sean.


Karena memang ukuran ranjang itu sejatinya tidak terlalu besar, akhirnya Rubina tidur sambil merasakan tangannya yang saling bertaut dengan tangan pria yang ada di sebelahnya. “Ingat ya, jangan coba buat macem-macem sama aku!" peringat Rubina.


***


SEAN sudah terbangun sekitar lima belas menit yang lalu. Dia bahkan menyadari kalau sekarang jam sudah menunjukkan pukul enam pagi. Pun alasan kenapa dia masih dalam posisi berbaring itu karena suatu alasan. Dan alasan itu karena Rubina yang tidur di sebelahnya masih dalam keadaan mata yang terpejam dengan embusan napas pelan.


Saat itu posisi salah satu tangan dan juga kaki Rubina berada tepat di atas tubuh Sean. Mungkin gadis itu mengira bahwa yang sedang dia peluk saat ini bantal guling, bukan tubuh suaminya sendiri.


Keadaan di luar masih mendung. Hujan dari semalam bahkan baru berhenti mengguyur sekitar tiga jam yang lalu. Ya, walaupun keadaan cuaca yang tidak bersahabat dan membuat suhu jadi dingin, namun semalaman Sean merasa tubuhnya sangat hangat. Bukan karena selimut pastinya, tapi karena tubuhnya yang dipeluk oleh Rubina dari samping.


'Katanya enggak bakalan nyentuh-nyentuh saya, tapi sekarang aja kamu melukin saya. Tapi saya juga bersyukur sih, seenggaknya saya masih bisa merasakan sentuhan penuh kehangatan ini.' Sean berujar dalam hati. Sungguh, tiada lagi selain syukur yang dia panjatkan karena perempuan yang dicintainya masih ada bersamanya.


Tidak berselang lama Sean merasakan ada gerakan pada gadis cantik di sebelahnya. Mata terpejam Rubina perlahan terbuka. Betapa kagetnya Rubina saat itu menemukan tangannya bertaut di bagian dada bidang milik suaminya. Kakinya juga bertaut dengan kaki suaminya.


Rubina langsung kalang kabut meninggalkan posisinya itu sambil dia menggambarkan tampilan muka yang terkejut.


"By, kamu modus banget sih astaga?" heran Rubina. Dia bahkan langsung menatap suaminya itu dengan tajam. "Kamu ngapain sih pegang-pegang aku segala?" tuntut Rubina.


Sean bangkit dari posisi berbaringnya. "Kok playing victim sih. Kan kamu yang megang-megang saya. Kenapa sekarang kamu malah nyalahin saya? Coba kalau ada CCTV pasti udah ketahuan kalo semalaman tuh kamu yang melukin saya kayak tadi.”


Rubina menyadari bahwa pas bangun tadi memang tangan dan kakinya sedang berada di tubuh Sean. Bahkan sekarang Rubina telah merasakan sesal lantaran dirinya yang malah playing victim padahal jelas-jelas dia yang melakukan itu kepada Sean.


"Ma..." Rubina memainkan buku jarinya. Entah kenapa kata maaf sangat sukar untuk diungkapkannya.


"Kamu mau ngomong apa? Kok kamu kelihatan gugup gitu?"


"Aku mau minta...."


"Minta apa?" kening Sean semakin mengkerut, membuat lipatan-lipatan di dahinya nampak semakin kentara saat ini. "Minta uang?"


"Bukan uang."


"Terus kamu mau minta apa sama saya?"


"Aku mau minta maaf," tepat setelah mengatakan itu Rubina langsung menghindari suaminya. Rubina masuk ke kamar mandi dan menyisakan Sean di tepian ranjang sedang tersenyum simpul setelah sebelumnya dia melihat istrinya tampak malu-malu untuk meminta maaf atas kesalahannya.


"Padahal kamu nggak perlu minta maaf segala, Bi. karena sebenarnya saya juga seneng semalam kamu ngasih saya pelukan hangat di tengah-tengah cuaca yang kebetulan lagi dingin," Sean mengatakannya dengan nada paling rendah.