
...ANYEONG MY FUTURE HUSBAND...
^^^By. Lucifer^^^
"SAMPAI DI MANA TADI PEMBICARAAN KITA?" tanya Nino sambil dia kembali dalam posisi duduknya berhadapan dengan Sean.
Tadinya saat mereka berinteraksi verbal mendadak saja Nino dapat telepon dari salah seorang rekan kerjanya. Karena itu percakapan yang berjalan sebelumnya terpaksa harus ditunda dulu. "Ah iya, sebelumnya lo mau bahas soal temen lo itu kan? Emang siapa lagi temen lo selain gue?"
Sebelum membuka sudut bibir memberikan jawaban, lebih dulu Sean menghela napasnya panjang.
"Ck... Adalah, temen di klinik, lo nggak bakalan tau! Jadi ada temen gue. Dia tuh minta saran sama gue soal masalah dia. Tapi jujur gue juga nggak tau harus ngerespon dia kayak gimana."
"Emangnya masalah dia apaan?" Nino mengerutkan keningnya penasaran.
“Jadi gini. Temen gue tuh baru nikah, terus nikahnya tuh bukan karena kemauan mereka berdua. Ya, bisa dibilang temen gue ini sama bininya nikahnya karena dijodohin. Dan dari awal temen gue tuh secara terang-terangan bilang gini ke bininya 'sebuah kemustahilan kalo dia sampe jatuh cinta.' Mereka berdua ngejalanin hubungan itu atas dasar kepura-puraan aja." Nino mengerutkan keningnya.
"Sorry nih kalo gue potong, berarti temen lo ini tetep ngejalani hubungan itu tanpa adanya perasaan saling suka? Terus gimana sama reaksi keluarga mereka?" Nino memasang tampang seakan-akan dia sangat-sangat penasaran dengan lanjutan penjelasan Sean.
"Awalnya keluarga temen gue tau kalo mereka berdua nggak saling cintai dan keluarga mereka percaya kalo suatu hari nanti temen gue sama bininya ini bisa saling cinta. Karena itu temen gue dan istrinya sepakat buat pura-pura ngenjalanin hubungan yang harmonis saat di depan keluarga masing-masing."
"Terus letak permasalahannya di mana? Apa temen lo itu mutusin buat pisah?"
"Nggak," jawab Sean. "Nggak sampe pisah, cuma temen gue tuh kayak nggak ngerti sama perasaannya sendiri. Tiba-tiba dia jadi peduli sama segala hal yang berhubungan sama Bininya itu. Padahal sebelum-sebelumnya dia bahkan nggak pernah peduli. Apa dia sebenarnya diam-diam punya perasaan lebih sama bininya?"
"Maksudnya lo udah punya perasaan lebih ke Bina?” sambung Nino cepat.
"Lah, kenapa tiba-tiba pembahasannya malah ke gue?"
Nino terkekeh pelan. Mungkin Sean tidak tahu tapi sedari awal bercerita Nino sebenarnya sudah tahu kalau Sean bukan sedang bercerita tentang temannya, melainkan menceritakan dirinya sendiri.
Nino hanya terkekeh melihat tingkah sahabatnya itu.
"Gue ini sahabat lo, Sean. Mungkin orang lain bakalan dengan mudah percaya sama cerita lo barusan. Tapi gue pengecualian ya. Gue tau seluk beluk tentang lo, Sean. Yang barusan lo ceritain adalah kisah lo sendiri. Lagian lo nggak punya temen lain selain gue di klinik juga gue tau siapa temen lo, mu dokter umum mu dokter spesialis... Menurut gue aneh banget pas lo bilang ini cerita temen lo."
"hehe... Gitu ya? Pantes aja dari tadi lo senyam senyum nggak jelas pas gue cerita. Ternyata lo udah tau ya kalo yang gue ceritain barusan itu cerita gue sendiri."
"Iya, Sean. Gue udah tau. Gue cuma pura-pura aja. Kisah lo itu ga bakalan lupa di memiry gue! Eh by the way, ngomong-ngomong soal yang lo ceritain tadi, bener ga sih kalo lo udah punya perasaan lebih ke Bina?"
"I don't know," jawab Sean diikuti oleh sebuah kedikan bahu. "Akhir-akhir ini gue merasa kalo gue kayak peduli sama Bina. Padahal sebelum itu nggak pernah."
Ada pancaran kebahagiaan yang terlukis di wajah Nino mendengarnya.
“Jujur aja ya, dengar cerita lo barusan kayaknya sih emang bener. Tanpa lo sadari sepertinya lo punya perasaan lebih ke Bina. Syukur deh, gue seneng banget denger kabar ini. Dengan begitu lo sama Bina bakalan segera mutusin sekat yang udah misahin kalian berdua."
"Tapi Gue nggak yakin sih kalo sebenernya gue suka sama dia."
"Namanya juga bertahap," sambung Nino. "Yang penting saat nyari tau perasaan lo ke Bina sebaiknya jangan memperlakukan dia dengan kasar, apalagi sampe ngebentak dia. Ya lo tau sendiri kan di keluarganya dia bak princces yang dimanjain, disayangi sama keluarganya, masa sama lo dibentak-bentak sih.”
"Akhir-akhir ini hubungan gue sama dia berangsur membaik sih. Meskipun kadang-kadang dia masih bikin gue kesel. Dan buat gue jadinya bentak dia."
"Gue turut senang. Gue harap hubungan kalian bakalan berakhir dengan bahagia. Sebagai seorang sahabat gue pasti bakalan terus support lo, Sean."
***
AGAM merasakan getir saat Rubina bersama kedua rekannya sudah hadir dalam acara reuni kecil-kecilan yang dicetuskan oleh ketua kelas saat mereka SMA dulu. Tadinya Agam telah memikirkan tentang ini. Bahkan sebelumnya dia ada niatan untuk tidak menjadi bagian acara itu.
Tapi, sangat disayangkan karena salah satu rekannya malah datang ke rumah menjemputnya sehingga tidak ada alasan lagi bagi Agam untuk memberikan penolakan. Agam terpaksa menjadi bagian dari acara reunian itu.
"Lo sudah izin sama Sean kan, Bi?” bisik Rara kepada Rubina.
"Udah dong."
"Terus dia izinin lo buat dateng?"
"Ofcourse. Makanya gue ada di sini," jawab Rubina.
Suasana di rumah baru itu terlihat ramai. "Boleh gue duduk di sebelah lo?" Rubina mengucapkannya sambil memperhatikan Agam yang lebih dulu duduk di sana.
"Ofcourse, Bi. Anything for you" jawab Agam. Dia tersenyum sekilas di tengah-tengah perasaan caggung yang dirasakannya sesaat setelah Rubina menatapnya. Memang tatapan yang dilayangkan oleh Rubina untuknya biasa-biasa saja, tapi dampak yang diterima oleh Agam cukup terasa. Karena tatapan itu Agam jadi merasakan kembali debaran jantung yang tidak seirama tengah berporos di bagian dada sebelah kirinya.
"Gimana kabar lo?" tanya Rubina berbasa basi begitu dirinya telah duduk di sebelah Agam.
"Better," Agam memberikan jawaban sesingkat itu. Dia sengaja membuang fokusnya ke lain arah. Bukan karena dia sebal. Malah sebaliknya dia merasa kalau kadar sakit hatinya hanya semakin bertambah jika melihat kecantikan orang yang sempat mengisi ruang di dalam hatinya. "Lo sendiri gimana kabarnya?" Agam mengembalikan pertanyaan. Dan dia masih saja membuang fokusnya ke arah lain.
"Gue juga baik kok," jawab Rubina. "Oh ya gimana kabar Caca? Akhir-akhir ini gue jarang ketemu sama dia."
"Caca juga baik-baik aja kok.”
'Duh kenapa Bina malah duduk di sebelah gue sih?' keluh Agam dalam hatinya. Kalau seandainya Rubina belum resmi jadi bagian dari hidup Sean mungkin Agam akan bersyukur karena kenyataan bisa duduk bersebelahan dengan Rubina. Tapi masalahnya sekarang rasanya sudah berbeda. Bagas justru ingin menghindari Rubina demi untuk menghilangkan perasaannya. 'Kalo gini ceritanya, bakalan butuh waktu yang sangat lama buat gue bisa ngelupain Bina.'
***
“Ck... Padahal dia lagi nggak ada di sini. Harusnya saat ini gue ngerasa seneng dong, karena si pengganggu itu lagi keluar. Tapi kenapa gue terus mikirin dia ya?” gumam Sean.
Yang tadinya berbaring di kasur empuknya sekarang memilih untuk duduk di tepian ranjangnya.
Detik selanjutnya Sean telah meninggalkan ranjang. Dia ke ruang keluarga dan menyalakan TV yang ada di sana. Memang, saat itu dia sedang menonton TV tapi pikirannya malah ke tempat lain. Apalagi saat otaknya berhasil menyimpulkan sesuatu yang belum tentu kebenarannya memang seperti itu.
Sean mengambil ponselnya yang dia letakkan di meja setibanya di ruangan ini. Sean mengecek pesan singkat yang sebelumnya di kirim oleh Rubina saat dia di perjalanan pulang dari klinik.
[By, maaf ganggu. Aku mau ngasih tahu kalo sore ini aku ada janji ketemu sama temen-temen SMA aku. Ada reuni kecil-kecilan gitu. Trus aku kayaknya pulang agak maleman. Trus di meja makan ada makanan buat makan malam. Tadi aku minta tolong sama Ibu buat masak makanan kesukaan kamu.]
seperti itulah bunyi pesan yang dikirimkan oleh Rubina.
"Bukannya Bina satu kelas sama cowok yang namanya si Agam Agam itu ya?” akal Sean baru saja merangkai sesuatu. "Gimana kalo pas di sana si Agam nyoba buat ngegoda Bina? Ck... Ah, biarin ajalah. Bukan urusan gue juga," belum genap semenit dia mengatakan itu dan sekarang dia berkata, "Tapi kok gue nggak bisa tenang ya mikirinnya?"
Sean masih terjebak di dalam perasaan bingungnya. Di satu sisi dia berujar penuh keyakinan bahwa dirinya tidak merasakan kecemburuan, namun di sisi lain hatinya justru merasakan itu. Hatinya panas hanya karena memikirkan soal Rubina yang datang ke acara reunian dan bertemu dengan Agam.
"Nggak. Gue bukannya jealous. Kayaknya gue kesel aja sama si Agam itu makanya perasaan gue jadi nggak tenang gini pas tau Bina dateng ke acara reunian." Sean membuang jauh-jauh soal kecemburuannya dengan alibi bahwa dia semarah itu karena dia benci sama Agam.
"Apa gue telpon Bina aja ya buat nyari tau apa dia lagi sama Agam atau nggak?" gumam Sean. Dia hampir mencari kontak Rubina di ponselnya saat tiba-tiba dia berubah pikiran dengan sangat cepat, "Nggak usah, lah, nanti yang ada Bina malah berpikir kalo gue lagi jeolous sama si Agam. Padahal kan gue cuma kesel doang sama si Agam."
***
ACARA reuni kecil-kecilan itu pun berakhir disaat jam telah menunjukkan pukul sebelas malam. Satu persatu dari mereka pamit untuk pulang. Tak terkecuali Rubina bersama kedua sahabatnya yang sedang berjalan meninggalkan tempat reuni itu.
"Lo yakin nggak mau pulang bareng gue?" Rara kembali menanyakan hal yang sama dengan yang dia tanyakan tadi sewaktu masih di dalam. "Ini udah malam banget loh, Bi. Yuk pulang bareng gue aja!" imbuhnya.
"Nggak usah Ra," Rubina kembali memberikan penolakan." Kita kan enggak searah."
"Gue bakalan nganterin kok," paksa Rara.
"Nggak usah, Ra. Lo pulang duluan aja."
"Terus lo pulang sama siapa Bi?" pertanyaan barusan bukan berasal dari Rara, melainkan dari Syifa. "Kalo lo nggak mau pulang sama Rara mending sama gue aja yuk. Lo enggak usah mikirin soal rumah gue yang nggak searah dengan apartemen lo. Gue bakalan anterin lo kok."
"Nggak usah, nanti Sean bakalan dateng jemput gue," Rubina terpaksa berbohong karena dia tidak enak nebeng sama sahabatnya yang tidak searah dengannya.
"Lo yakin dia bakalan dateng jemput lo?” tanya Syifa untuk memastikan sebelum akhirnya dia pamit pulang duluan.
"Iya Sean bakalan dateng kok, mungkin sekarang dia udah ada di jalan," Rubina menyertakan senyum.
" Ya udah, Gue pamit kalo gitu. Dah, see you next time," ucap Syifa diikuti oleh Rara yang ikutan pamit dan pergi meninggalkan Rubina sendiri.
Beberapa menit selanjutnya- saat kedua sahabatnya telah pergi, Rubina pun bergegas ke pinggir jalan yang cukup sepi sambil dia merogoh mengambil ponselnya dari saku. "Astaga," ucapnya kontan saat menyadari ponselnya dalam keadaan lowbat.
"Duh gimana cara gue mesen taksi online kalk gini?" kesalnya diikuti kakinya yang dihentakkan.
Piiiip.
"Eh ayam," latah Rubina saat mendengar suara klakson. Mengangkat dagu dan memandang lurus ke depan dia melihat mobil silver sudah terparkir di hadapannya. Tak lama, kaca pun turun dan memperlihatkan Agam yang sedang duduk di depan kemudi.
"Mau gue anterin?"
"Nggak usah, gue naik taksi aja."
"Malam-malam gini susah loh nyari taksi di daerah sini," jawab Agam. "Ayo, ikut aja sama gue! Gue bakalan nganterin lo pulang." Setelah itu Agam turun. Dia mengelilingi mobil membuka pintu dan mempersilakan Rubina untuk naik. "Ayo!" ajaknya.
Rubina akhirnya mengangguk sekali dan bergerak naik ke mobil. Agam menutup kembali pintu dan kembali ke tempat duduknya.
Setelah Agam bertanya alamat dan Rubina memberikan jawaban secara detail, kini tidak ada lagi interaksi verbal yang berjalan di antara mereka. Yang terdengar hanyalah alunan musik yang asalnya dari pengeras suara di mobil.
Karena jalanan begitu lenggang sehingga Agam melajukan mobilnya dengan cukup kencang. Sejujurnya Agam sudah tidak tahan untuk duduk berdua seperti ini dengan Rubina. Pun tadi sebenarnya dia ada niatan untuk tidak memedulikan Rubina yang berdiri di tepi jalan. Tapi karena Agam tidak bisa sejahat itu makanya dia mengajak Rubina untuk pulang bersamanya.
Lima belas menit adalah waktu yang diperlukan sebelum mobil yang dikemudikan oleh Agam berhenti di depan apartemen.
"Udah sampe."
"Thank's ya Gam, lo udah nganterin gue pulang."
"Sama-sama, Bi."
Rubina turun dari mobil, tidak lupa dia menutupnya kembali. Setelah itu terdengar bunyi klakson dan mobil yang dikendarai oleh Agam pun berlalu.
"Ehem!" suara dehaman dibuat-buat terdengar. Rubina memutar badannya dan menemukan Sean sedang mendekat sambil melipat kedua tangannya depan dada. Tatapannya terlihat mengintimidasi.
"Gimana rasanya dianterin pulang sama cowok yang ngejar-ngejar cinta kamu sejak SMA?" tanya Sean.