I'm Not Cinderella

I'm Not Cinderella
Ekstra Part 32 Kisah Hans



"Aquila kemana sih? kok lama? Laper nih..."


"Duuuhh kasian bumil yang lagi lapar... nih deh khusus buat bumil akunksih pedesnagak banyak tapi nggaknsebanyak biasanya ya.. yang penting ada rasa pedesnya kan???" Ucap Aquila sambil memberikan mangkuk buat Nadin, Bastian dan juga buat dirinya.


"Yes, makasih ya Quil, you are the best..." ucap Nadin. Dan tanpa menunggu waktu lagi Nadin langsung memakan bubur itu dengan lahap. Bastian yang melihat Nadin pun hanya bisa tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.


***


Di hari persidangan...


Baik Hans maupun Nadin hadir di dalam ruangan itu dengan di temani oleh Danniel juga Althea.


Hans dan Nadin duduk di depan sang Hakin bersama pengacara Nadin juga Hans, sementara Danniel dan Althea duduk di kursi belakng menjadi saksi masing-masing.


"Niel... gimana nih? Masa iya Nadin jadi janda saat lagi hamil? Jujur aja ya, saya nggak setuju sama keputusan egoisnya Nadin. Mungkin karena kehamilannya jadi emosinya nggak stabil, Niel.. saya takut Nadin menyesal dengan keputusannya nanti...." bisik Althea disamping Danniel.


"Tenang, Sayang... Saya pernah dalam situasi seperti ini, saya juga yakin Hans tau yang terbaik untuk Nadin, kita percaya aja sama Hans... lagian proses perceraian tidak semudah yang kamu lihat Sayang, semua ada prosesnya... saya juga yakin Hans akan merubah sikapnya... Hans mulai mencintai Nadin..."


"Ck.. telat! cinta saat Nadin udah ngambil keputusan cerai! Kenapa nggak dari kemaren-kemaren pas Nadin ngasih kesempatan buat dia berubah?"


"Udah dong sayang.. jangan marah-marah... saya yakin kok mereka pasti ngambil jalan yang terbaik... ya... nggak usah cemberut gitu dong... kalo kamu cemberut malam ini nggak ada kata istirahat ya..." ucap Danniel disertai seringainya ke arah Althea.


"Iihh.. malah menjurus kesitu lagi! dasar cabul!"


"Cabul ke istri kan sah sayang... emang mau saya cabul ke orang lain?!"


"Oohh minta di gampar ya..." ucap Althea melirik Danniel dengan tajam. Sementara Danniel hanya nyengir ke arah Althea.


***


Dan nakhirnya sidang pertama sudah diputuskan agar Hans dan Nadin memikirkan lagi lebih matang lagi dengan keputusan mereka.


Hakim memutuskan itu karena melihat Hans yang ingin memperbaiki hubungannya dengan Nadin, dan juga memikirkan anak yang ada di dalam rahim Nadin sekarang. Juga keinginan Hans yang tidak mau bercerai dengan Nadin.


Dengan berat hati Nadin menerima keputusan Hakim, dan dengan mencoba mediasi lagi dengan Hans.


Plakkk!!!


Seseorang menampar pipi Nadin saat Nadin sedang berdiri di pintu masuk pengadilan.


"Apa kamu sudah tidak waras?! bagaimana bisa kamu memutuskan hal sepenting ini tanpa bicara dengan kami?!" ucap seorang oria paruhbbaya dengan lantang sampai orang lain pun melihat kearah mereka.


"hey... what are you doing?!" sarkas Hans tak kalah tegas. saat tau siapa yang menampar Nadin tadi Hans pun terdiam.


"Ayah, Bunda?!" Ucap Nadin.


"Jangan panggil kami dengan sebutan itu! kamu tidak pantasenyebut kami dengan sebutan itu! kamu membuat kami malu! sini kamu!" ucap Sang Ayah sambil menarik lengan Nadin dengan keras.


Tak lama Hans mencekal lengan Ayahnya Nadin dengan tatapan dingin.


"Saya tau kalian orang tua Nadin, tapi sekarang Nadin menjadi tanggung jawab saya, jadi saya minta tolong agar kalian tidak mencampuri urusan rumah tangga kami, insya allah kami tidak akan mempermalukan nama baik keluarga anda Pak..."


"Kamu saja tidak menjaga baik Nadin sampai Nadin meminta cerai denganmu..."


"Mas..."


"Kemarin mungkin memang kesalahan saya karena saya tidak bisa apa yang Nadin inginkan, tapi sekarang saya akan berusaha untuk menjadi suami yang diinginkan Nadin... Jadi tolong jangan campuri lagi keluarga kami Pak..."


"Nadin... Sayang pulang yuk! di rumah lebih baik daripada kamu harus pindah-pindah rumah..." ucap Sang Ibu membujuk Nadin.


Tanpa menunggu waktu Ayahnya Nadin pun melangkah melewati Hans yang berada di depan Nadin lalu menarik Nadin sampai Nadin kehilangan keseimbangan dan terjatuh ke lantai.


"Aakhhh..."


"Nadin!!" ucap Sang Ibu khawatir. Sementara Hans yang melihat Ndin disakiti apalagi oleh ayahnya sendiri mulai naik pitam. Dia langsung mencengkram kerah kemeja Ayahnya Nadin dengan tatapan tajam kearah Ayahnya.


"Jangan pernah memperlakukan Nadin seperti ini lagi Tuan.. saya bisa saja bersikap kasar pada anda, tapi saya menghargai anda karena anda ayahnya Nadin... jadi saya mohon lepaskan Nadin, Nadin sudah bukan tanggung jawab anda lagi! kalau anda terap bersikeras seperti ini, saya bisaelaporkan anda pada polisi... Tuan..." ucapnya sambil melepaskan cengkraman tangannya pada kerah ayahnya Nadin.


"Kamu nggak apa-apa kan? i'm sorry..." Ucap Hans sambil berjongkok di samping Nadin yang sedang menggelengkan kepalanya. Hans pun menggendong tubuh Nadin yang masih terduduk di lantai lalu mendekati Kedua orang tua Nadin yang masih shock.


"Asal kalian tau, Nadin sedang mengandung anak kami, kalau terjadi apa-apa dengannya saya yang akan datang pada kalian..." ucap Hans dengan dingin bagaikan berhadapan dengan musuh.


Hans pun berjalan sambil menggendong Nadin meninggalkan kedua orang tua Nadin yang masih terdiam karena tidak percaya apa yang mereka dengar.


Sementara tanpa mereka sadari Althea dan Danniel berdiri tak jauh dari mereka memperhatikan drama keluarga Nadin.


"Hmm... kayaknya Hans udah mulai bisa melindungi Nadin..."


"Hhmmhmmm... dan yang pasti Hans memang berusaha untuk berubah..."


***


Sekarang Hans dan Nadin duduk di hadapan Danniel dan Althea di sebuah restoran.


"Jujur Nad, Hans... saya harap hubungan kalian jangan sampai seperti saya dulu jangan sampai ada kata cerai..."


"Nad, tadi kamu sempet jatoh, kamu nggak apa-apa kan?!"


"Iya, Kak... aku nggak apa-apa..." Ucapnya sambil menunduk. Hans yang memperhatikan pipi Nadin yang masih merah pun segera meminta pelayan untuk mengambil es batu.


"Ini.. biar pipi kamu nggak bengkak!" ucap Hans setelah pelayan itu memberikannya es batu lalu Hans segera membungkusnya dengan saputangannya.


Althea pun hanya tersenyum melihat sikap Hans.


"So, Nad.. apa kamu masih pada pendirian kamu untuk berpisah dari Hans?? atau masih mau melakukan mediasi dengan memberi Hans kesempatan lagi, setelah mrlihay sikapnya tadi?!" jelas Althea.


Nadin masih terdiam berfikir sambil mengompres pipinya yang bekas ditampar ayahnya tadi.


Tak lama Nadin melihat ke arah Hans yang masih terdiam tanpa ada senyum sedikitpun di wajahnya. Lalu Nadin pun mengangguk.


"Ini terakhir kali aku ngasih kesempatan buat kamu, Mas. Tapi kalau Mas buat aku kecewa lagi, tolong lepaskan aku Mas..."


"Jadi kamu mau pulang ke Apartment lagi?!" Nadin hanya mengangguk sambil menunduk.


Althea dan Danniel pun menghela napas dengan lega sambil tersenyum ke arah Hans dan juga Nadin. Lalu Danniel pun merangkul pinggang Althea menikmati suasana yang sedikit romantis melihat kedua anak buahnya bisa akur lagi.