
...ANYEONG MY FUTURE HUSBAND...
^^^By. Lucifer^^^
"Thank's ya Bi, gue ngerasa bersyukur punya sahabat kayak lo sama Syifa. Kalian selalu ada di dekat gue saat gue butuhkan teman ngobrol."
"Ck... Udahlah, nggak perlu mendramatisir. Lo juga kan selalu ada buat gue dan Syifa. Ya, anggap aja simbiosis mutualisme. Eh, tumben otak gue cerdas," Rubina tidak melewatkan kesempatan dalam memuji dirinya sendiri cuma masalah perkara 'simbiosis mutualisme' yang lolos dari bibirnya.
"Oh ya, Bi. Gue masih ada kerjaan yang deadlinenya besok pagi. Kalo gitu gue udahin dulu yah teleponnya, Bye." Setelah sambungan telepon dengan sahabatnya berakhir, Rubina pun memutuskan untuk keluar ke balkon. Kebetulan Rubina belum mengantuk sehingga saat itu juga terbesit niatan untuk duduk santai menikmati angin malam di balkon.
Saat pertama kali membuka pintu penghubung kamar dengan balkon, saat itu juga bibirnya meloloskan decakan takjub merespon indra penglihatannya menemukan pria tampan sedang duduk manis memainkan ་ ponselnya di balkon sebelah. 'nggak sia-sia gue ke balkon. Ternyata di seberang sana Sean juga lagi nyantai.'
"Stop natap ke arah saya!" perintah Sean yang sudah tahu bahwa Rubina sedang memperhatikan ke arahnya. Sean meloloskan kalimat seperti itu dengan fokus yang masih berada. pada layar ponselnya. Sean sama sekali tidak membalas tatapan Rubina untuknya. Manik matanya terus menjamah layar ponselnya.
"Dih... Kenapa dokter malah nyalahin aku?" tuntut Rubina. Gadis itu menghampiri ujung balkon miliknya demi untuk mendekatkan jaraknya dengan Sean yang masih duduk anteng di kursi.
"Terus siapa yang harus disalahin?" Sean mengabaikan ponselnya. Kali ini kepalanya terangkat sedikit. Rubina sudah bisa melihat tatapan tajam yang dipersembahkan oleh pria itu. "Bukannya udah jelas yang harus disalahin adalah sepasang bola mata kamu itu?" lanjut Sean.
"Dokter yang harusnya disalahin, bukannya aku," Rubina mengembalikan tuduhan kepada Sean.
"Lah, kenapa malah jadi saya yang salah?" bingung Sean.
"Ya, dokter terus aja nyalahin mata aku, tapi dokter nggak sadar kalo alesan kenapa aku terus ngarahin perhatian aku ke dokter itu, ya karena dokter punya wajah tampan yang sayang aja buat dilewatin!"
Sean kembali ke mode pendiam dengan merapatkan kedua sisi bibirnya.
“Sean!” panggil Rubina. Tapi panggilannya itu sengaja diabaikan oleh Sean.
Rubina yang tidak kenal dengan kata menyerah kembali mencoba peruntungannya dengan menyerukan nama Sean sekali lagi, berharap panggilannya yang kali ini berhasil dijawab oleh yang bersangkutan.
“Sean Altemose Ahmet!” panggilnya lengkap.
“Hmmm.” Sean merespon dengan tidak tertarik. Bukti bahwa dia tidak tertarik untuk berinteraksi dengan Rubina bisa dilihat dari tatapannya yang masih terpaku pada layar ponsel, dan juga respon singkatnya yang hanya berupa gumaman.
"Gimana kondisi asset kamu setelah tadi pagi kena kuah kari?" tanya Rubina dengan lancar tanpa hambatan saat menanyakannya.
Uhuk! Sean dibuat batuk oleh tegukan salivanya sendiri. Sean tentu saja tidak mengira kalau Rubina akan sefrontal itu dalam memberikan pertanyaan.
'Apa urat malunya emang udah putus? Bisa-bisanya dia ngasih pertanyaan macam itu?' batin Sean.
"Dokter belum jawab pertanyaan aku loh. Soal—"
"Dia baik-baik aja," tutur Sean yang dengan tegas. "Maksudnya, asset saya nggak bermasalah setelah kena kuah kari kamu." Sean melanjutkan, lebih kepada memperjelas kalimatnya yang pertama. Semoga dengan begitu Rubina berhenti menanyakan tentang keadaan asetnya.
"Hmmm."
"Apa gumaman itu pertanda kalo kamu udah maafin aku?" Tanya Rubina.
"Hmmm," jawaban Sean masih sama, masih bergumam.
****
"KAMU SENGAJA NGIKUTIN SAYA YA? IYA KAN?" Sean lebih dulu balik badan sebelum pertanyaan itu dia lepaskan sambil bertolok pinggang. Niat Sean untuk berolahraga di hari libur terganggu lantaran sejak tadi Rubina mengikutinya dari belakang. Awalanya Alvin mencoba untuk tidak menghiraukannya tapi lama kelamaan perasaan kesal seketika menghujaninya di detik itu juga.
"Enggak kok. Aku ke sini emang aku pengen olahraga kok," kilah Rubina, padahal olahraga pagi seperti ini jelas bukan kebiasaannya. Setidaknya saat ini dia memberikan jawaban dusta. Alasan terbesar kenapa Rubina ada di tempat ini adalah memang untuk menghabiskan waktu dengan Sean. Tidak peduli bahwa pria itu terus saja menyikapinya dengan sikap dingin. Yang penting bagi Rubina adalah berada di dekat pria yang sebentar lagi akan menjadi suaminya itu.
"Jangan bohong!" Sean rupanya tahu kalau saat ini Rubina sedang mencoba membohonginya. Mudah saja bagi Sean untuk tahu tentang itu. Rubina baru saja menghindari kontak mata dengannya. Padahal biasanya gadis itu selalu mengadu mata dengannya tiap kali berinteraksi verbal. "Coba bilang kenapa kamu ada di sini? Saya nggak yakin tujuan utama kamu ada di sini adalah buat olahraga. Kamu punya alasan lain kan?"
"Kamu pasti tahu alasan kenapa aku ada di sini!"
"Ck... gimana saya bisa tau alesan kamu ada di sini. Sementara kamu belum jelasin apapun."
"Hm, aku ada di sini supaya deket sama calon bapak dari anak-anak aku di masa depan." Rubina menerbitkan senyum tipis-tipis kemudian. Jangan ditanya lagi, pipinya saat itu telah memperlihatkan semburat merah.
"Teruslah bermimpi!" sementara Rubina sedang melukiskan senyum lewat bibirnya. Sean juga ternyata ikut melukiskan senyum lewat bibirnya. Bedanya, senyum yang diperlihatkan oleh Rubina merupakan senyum yang dapat diartikan sebagai senyum kebahagiaan, sementara senyum yang diperlihatkan oleh Sean adalah senyum miring yang dapat diartikan sebagai senyum meremehkan.
"Dengerin saya baik-baik! Percuma juga kamu terus ngejar saya. karena sampai kapanpun saya nggak akan pernah ngasih kamu ruang di hati saya."
"Mami aku pernah bilang kalo mimpi itu harus dikejar. Kayak kamu masih kecil, aku yakin beberapa kali kamu memimpikan menjadi seorang dokter. Karena impianmu itu, kamu jadi ambisius kan? Nggak peduli kata lelah, kamu terus belajar karena tekad kamu sangat besar untuk jadi seorang dokter. Dan akhirnya impian yang kamu harapkan sejak lama akhirnya bisa kamu gapai. Sama seperti kamu yang ngejar impian kamu untuk jadi seorang dokter, aku juga sedang dalam tahap mengejar impian aku untuk menjadikan kamu milik aku seutuhnya."
"Andai aja sikap ambisius kamu itu kamu gunain dalam bidang pendidikan," Sean menggeleng-gelengkan kepalanya menyayangkan Rubina yang begitu terobsesi dengannya padahal Sean sudah beberapa kali memberikan penolakan kepadanya. Sean tidak mau ambil pusing, sekarang terserah Rubi a saja, karena Sean tidak tahu jalan pikiran gadis itu.
"Entah kamu suka aku mengatakan ini atau tidak, tapi aku yakin sekali bahwa kita memang ditakdirkan untuk menjadi pasangan di masa depan," wajah Kayla saat itu memperlihatkan kesan yang terlihat begitu percaya diri.
"Saran dari saya sih ya, kalo lagi berekspektasi jangan terlalu ketinggian. Ntar kamu sendiri yang bakalan ngersain sakit yang luar biasa saat apa yang kamu harapkan di dalam imajimu nggak bisa terealisasikan ke dalam dunia nyata."
“Gimana bisa kamu seyakin itu kalo apa yang aku harapin nggak akan berjalan dengan mulus? Aku pikir ada alasan kenapa Tuhan mempertemukan kita di Rumah Sakit setelah tujuh tahun lamanya kita nggak ketemu satu sama lain.”
“Terserah sih, kalo emang kamu pengen berasumsi kalo pertemuan kita di Rumah Sakit hari itu karena Tuhan punya rencana lebih untuk hubungan kita ke depannya. Tapi menurut Saya pertemuan kita saat itu hanyalah sebuah kebetulan. Dunia ini sempit, jadi wajar aja kalo hari itu kita ketemu lagi."
"Oke... kalo kamu masih nolak buat satu pemikiran sama aku. Trus gimana sama fakta kalo orangtua kita udah ngebahas tentang perjodohan, bukannya itu udah bisa dijadiin tolak ukur sebagai salah satu progress yang mempertegas kalo sebentar lagi kita bakalan melangkah ke jenjang yang lebih serius?"
"Tuh kan, kamu kepedean lagi. Orangtua kita itu baru akan membicarakannya dalam waktu dekat. Mereka belum ngambil keputusan. Tapi tingkah kamu ini seolah-olah nganggap keputusan itu udah final saja." Sean memutuskan untuk mengakhiri interaksi verbalnya dengan Rubina. Toh, tujuan awalnya ke tempat ini adalah untuk melakukan olahraga cardio, bukannya ingin ngobrol.