
...ANYEONG MY FUTURE HUSBAND...
^^^By. Lucifer^^^
"Kok diem aja sih Kak, gimana penampilan kak Bina dengan balutan gaun kayak gini?"
"Hhmmm... Dia cantik! Gaun itu juga cantik dan sangat pas saat melekat di tubuhnya," langsung saja jawaban diberikan oleh Sean tanpa banyak waktu yang terbuang dalam memikirkannya.
Memang benar kok kalau gaun itu sangat cocok saat melekat di tubuh Rubina.
Rubina cukup senang mendengar jawaban seperti itu dari Sean. Kenapa cukup senang? Karena di satu sisi entah mengapa Rubina merasa jawaban seperti itu terpaksa dilontarkan oleh Sean karena di sini ada ibu dan adik perempuannya. Rubina tidak yakin Sean akan memberikan jawaban seperti itu saat hanya mereka berdua di ruangan ini.
Akan tetapi, terlepas dari jawaban itu diucapkan dengan tulus atau karena terpaksa, namun Rubina bersyukur karena Sean tidak membuatnya harus menahan malu di depan anggota keluarganya. Rubina bahkan tidak bisa menebak secanggung apa suasananya jika Sean malah memberikan jawaban berisi cemoohan ketika Dinda menanyakan soal penampilan Rubina. Setidaknya kalau memang jawaban itu diucapkan terpaksa, itu artinya Sean tahu cara menempatkan sikapnya. Rubina mungkin tidak keberatan jika dia harus mendengar keketusan Sean saat mereka sedang berdua, asalkan sikapnya harus dikontrol ketika sedang bersama keluarga. Baik itu dengan keluarganya Rubina, atau bahkan keluarganya sendiri.
***
"KAMU MAU CERITA APA SAMA AKU?" Rubina menatap calon adik iparnya dengan bingung. Rubina sempat menebak-nebak dalam hati, namun dia tidak menemukan apa-apa yang sekiranya jadi penyebab kenapa sampai calon adik iparnya itu ngebet pengin bicara sama dia.
Memanfaatkan Sean yang sedang di fitting room, Dinda membawa Rubina ke depan butik. Sebelum ngobrol kita duduk di sini yuk, Kak!" Dinda mempersilakan. Begitu Rubina duduk barulah Dinda juga ikut terduduk di sebelahnya.
"Sebenarnya gini Kak. Aku mau sedikit tanya-tanya sesuatu ke kak Bina. cuma mungkin aja ini sudah masuk ke ranah privasi. Tapi kalo memang kak Bina nggak mau buat jawab juga nggak apa-apa kok."
Dengan sedikit kernyitan Rubina berkata, "Emangnya apa yang mau kamu tanyain?"
"Aku sedikit penasaran. Kan kak Bina sama kak Sean bakalan nikah karena dijodohin. Dan kayaknya juga bukan rahasia umum lagi. Bahkan tiap orang yang kenal sama kak Sean bisa nilai sendiri kalo dia tuh punya sikap yang sangat dingin buat ukuran manusia. Karena itu aku jadi penasaran, apa dia juga bertingkah seperti itu sama kak Bina?"
"Sampe sekarang sih masih."
"Kak Sean bener-bener ya.... Tapi kak, aku juga mau bilang sesuatu tentang kak Sean yang kayaknya jarang diketahui sama orang lain. Jadi, kak Sean itu punya phobia. Aku pikir selain keluarga inti, enggak ada orang lain deh yang tahu soal itu." Dinda merasa wajib untuk memberitahukan hal ini kepada Rubina, terlebih karena sebentar lagi Rubina akan menjadi istri- yang selalu ada di sebelah Sean.
Jika Rubina tahu soal itu maka suatu saat jika terjadi sesuatu pada Sean yang berkaitan dengan phobianya, maka Ribina tidak akan panik dan bisa bertindak dengan cepat.
"Phobia?" ulang Rubina yang tentu saja penasaran ingin penjelasan lebih lanjut tentang itu.
"Nyctophobia. Itu sih yang aku tahu tentang nama phobianya."
"Nyctophobia?" Rubina mengulang lagi. "Apa itu Nyctophobia?" tanya Rubina.
"Penjelasan singkatnya tuh Nyctophobia adalah ketakutan terhadap kegelapan. Ya, intinya sih mereka yang mengalami Nyctophobia akan takut berada di ruang gelap tak bercahaya."
"Sejak kapan Sean punya Nyc, Nycta, Necta...." bibir Rubina jadi gelagapan dalam menyebut kata asing tersebut.
"Nyctophobia Kak."
"Nah itu! Abisnya ngomongnya susah. By the wau sejak kapan Sean punya fobia seperti itu."
"Kejadian apa yang kamu maksud?"
"Jadi dulu tuh pernah Kak. Waktu kak Sean masih kecil. Ya, masih kelas satu SD lah kira-kira. Kata Ibu, kak Sean pernah diculik gitu sama kawanan penjahat. Pokoknya selama hampir sepuluh jam kak Sean katanya disekap di ruangan tertutup yang tidak ada cahaya. Mungkin dari situ awal mula di mana kak Sean jadi takut sama yang namanya gelap."
Rubina meneguk salivanya ngeri membayangkan ada di posisi Sean saat itu. Pastinya tidak terbendung betapa takutnya Sean saat disekap dalam ruangan minim cahaya.
"Ya... Setelah dengar cerita dari kamu barusan kayaknya wajar sih kalo kenangan itu menyisakan ketakutan. Apalagi kan waktu itu dia masih sangat kecil. Mentalnya juga pasti masih rentan."
"Karena fobianya itu sampai kak Sean tuh enggak pernah matiin lampu kamarnya. Dan juga karena fobianya itu kak Sean jadi takut sama hantu."
"Sampe takut sama hantu juga?"
"Iya Kak. Soalnya kan hantu tuh identik sama gelap. Makanya dari kecil kak Dean tuh enggak mau matiin lampu pas lagi tidur. Mungkin efek dari trauma itu yang kak Sean membayangkan yang bukan-bukan pas lampu dimatiin."
Dinda melihat wajah Rubina sekilas. "Kakak enggak nyangka kan sama cerita aku barusan?"
"Jujur sih iya. Aku nggak pernah berpikir kalo dia punya fobia."
"Aku juga curiga kalau kak Sean itu punya kepribadian introvert. Emang sih dia nggak pernah cerita secara langsung, tapi beberapa alasan buat aku nyimpulin kalau kak Sean itu punya kepribadian introvert."
"Kalau masalah introvert nya itu udah kebaca sih pas pertama kali ketemu itu aku masih SMA dan dia udah jadi mahasiswa kedokteran."
Dinda menilikkan matanya mencurigai. "Maksud kak Bina? kak Bina sudah kenal kak Sean udah lama?"
"Ini rahasia ya. Pokoknya kamu jangan kasih tahu sama yang lain. Oke?"
"Siap Kak. Aku nggak bakal ceritain tentang ini sama siapapun" Dinda menyanggupi permintaan Rubina.
"Aku dan kakak kamu tuh sebenarnya udah kenal pas aku masih jaman SMA. Dia dulu praktek di SMA aku. Mungkin kamu bakalan kaget dengernya, tapi sebenarnya aku tuh udah ngejar-ngejar cintanya Sean dari jaman SMA. Aku bahkan udah nembak dia di hadapan murid-murid seangkatan aku."
"Demi apa Kak?" kaget Dinda dengan cerita Rubina.
"Iya, Din. Tapi dia nolak aku. Setelah itu aku nggak nyerah. Aku terus memperjuangkan dia. Dan setelah tujuh tahun kemudian akhirnya kita bisa ketemu lagi. Lebih dari yang aku harapkan ternyata Grandpa aku sama Kakek kamu temenan. Fakta yang paling buat aku takjub ternyata mereka berdua telah mengatur perjodohan ini."
"Sumpah ya Kak. Kisah kak Bina sama kak Sean tuh udah kayak cerita yang ada di novel-novel."
"Aku pikir aku nggak akan ketemu lagi sama Sean, tapi setelah tujuh tahun nggak bertemu. Siapa sangka kita kembali dipertemukan dengan hubungan yang semakin erat. Meskipun sampe sekarang sikapnya masih dingin sih, semoga aja ke depannya sikapnya yang kayak kulkas itu akan mencair."
"Amiiin Kak. Terlepas dari sikap dinginnya itu dia adalah sosok yang sangat baik dan penyayang. Aku ngomong kayak begini bukan karena dia kakak aku tapi karena emang kayak gitu kenyataannya."
"Kalian berdua ngapain di sana?" tanya Marisa sedikit meninggikan suaranya. "Ayo, sekarang kita pulang! Urusan fitting bajunya sudah selesai."
"Ayo Kak. Pembahasan ini kita lanjutin lain kali saja!" Dinda beranjak duluan. Barulah di beberapa detik selanjutnya Rubina ikut bangkit dan keduanya jalan bersisian menghampiri Marisa. Ketiga perempuan itu sama-sama kembali masuk ke mobil menyusul Sean yang sudah dalam posisi siap untuk menjalankan mobil.