
...ANYEONG MY FUTURE HUSBAND...
^^^By. Lucifer^^^
"Itu... Tangan sama kaki sejajar Bi.. jangan kendor.."
"Iya Pah... ini juga udah lempeng..." ucap Rubina saat dia sedang melakukan gerakan squad yang diawasi oleh sang ayah Danniel.
Sementara Danniel hanya duduk sambil mengawasi putrinya.
"Duh Pah... jangan galak-galak napa, kita baru me time lagi loh setelah sekian lama soalnya papah sibuk kerja mulu..."
"Terusin! 30 hitungan lagi! udah lama juga kan kamu ga nge gym.."
"Iihh... Papah mah tega!"
***
"Makannya abisin!" ucap Danniel setelah mereka berada di sebuah restoran.
"Pah..."
"Hmm..."
"Masih marahkah?"
"Marah kenapa?"
"Soalnya Bina nggak dengerin omongan Papah dan milih setuju sama Grandpa..."
Danniel pun hanya menghela napas sambil menyimpan sumpit yang telah dipegangnya tadi.
"Pah... Bina tau Papah kecewa sama Bina, tapi Pah... Sean adalah cowok yang kedua setelah papah ya g Bina sayangin, papah kan tau sendiri Bina selama ini ga pernah suka ataupun pacaran sama cowok manapun, itu karena Bina udah netepin hati Bina buat Sean Pah... Papah percaya ya sama pilihannya Bina. Sean cowok yang baik kok... Sekarang Bina cuma pengen satu permintaan sama Papah, restuin pernikahan Bina sama Sean ya... Bina nikah harus persetujuan Papah dan restu dari Papah, karena bagaimana pun Papah tetap Papah Bina dan yang akan menikahkan Bina sama Sean... Papah mau liat Bina bahagia kan?"
Tak lama Rubina pun beranjak dari tempat duduknya dan memeluk Daniel yang masih bergeming di tempatnya.
***
SENYUM di bibir Rubina menghilang dan tergantikan oleh wajah dongkol. Bagaimana tidak, dia pikir saat ini hanya ada Syifa dan juga Rara yang sedang menunggunya di kafe. Namun siapa sangka ternyata selain ada kedua sahabatnya, di sana juga ada pria yang berhasil membuat perubahan mood Rubina setelah sebelumnya mereka saling membagi pandangan satu sama lain.
"Kok dia ada di sini?" tanya Rubina. Menatap dengan intens kedua rekannya satu persatu. Rubina sedang mencaritahu, kira-kira di antara kedua sahabatnya itu siapa yang meminta Agam untuk turut serta datang ke sini.
"Sebenarnya gue dateng ke sini setelah mendengar Syifa berbicara lewat telpon sama lo Bi. Tapi bukan salah dia kok, Emang gue yang mgikutin dia ke tempat ini." Agam memberikan penjelasan. "Gue ke sini soalnya gue pengen ketemu sama lo."
"ketemu sama gue? buat apa?"
"Ada sesuatu yang mau gue bahas."
"bilang saja yang mau lo bahas!"
Agam melirik kepada Rara dan juga Syifa, kemudian dia mengembalikan fokusnya ke wajah Rubina. "gue pengen ngomong berdua aja sama lo. Gue nggak mau orang lain denger."
Suifa yang paham dengan situasi itu mencolek Rara, "kita keluar dulu, kita kasih mereka kesempatan buat bicara berdua." Syifa bangkit disusul oleh Rara. Mereka berdua keluar menuju ke taman depan kafe untuk memberi space kepada Rubina dan Agam yang katanya ingin bicara berdua saja.
"Gue mau bilang kalo Caca nggak salah dalam hal ini, jadi gue minta lo supaya lo nggak marah sama dia," seperti itulah bunyi kalimat pertama yang disampaikan oleh Agam setelah mereka duduk berhadap-hadapan dengan dibatasi oleh sebuah meja.
"Tenang aja, gue nggak sepenuhnya marah kok sama Caca. gue tahu, dia sampai berbohong karena sebenarnya dia cuma pengan bantuin lo kan?. Kemarin gue emang agak kecewa sih, dan gue cuma butuh sedikit waktu sebelum berdamai sama masalah itu."
"Terlepas dari dia ngebantu gue. Caca sangat tulus temenan sama lo. Semalam aja matanya sampe berkaca-kaca pas lo ninggalin dia. Oh iya, gue juga mau bahas soal perasaan gue ke lo," pembahasan yang semula kepada Caca, kini merembet kepada hal lain.
"Perasaan apa lagi, Gam?" tanya Rubina. Pertanyaan yang baru saja dia ajukan pada Agam mengikutkan sebuah decakan sebal. Bola matanya memutar malas.
"Oh... Ayolah, Gam. lo jangan bercanda!"
"Bercanda? Kalo emang gue bercanda, nggak mungkin gue memperjuangkan lo sampe sejauh ini. Nggak akan mungkin ada kejadian gue sampe pura-pura nyembunyiin identitas gue cuma buat ngasih lo hadiah. Ketahuilah, Bi! Gue benar-benar sangat sayang sama lo." Agam hendak mengambil tangan Rubina yang bertaut di meja, namun Rubina yang telah membaca gerakan itu dengan cepat menarik tangannya sehingga tidak ada kejadian Agam menyentuh tangannya.
"Sorry Gas," kata Rubina. "Sama kayak lo, perasaan gue ke lo juga masih sama kayak tujuh tahun yang lalu. Gue nggak pernah menaruh perasaan lebih sama lo. Bagi gue, kamu itu enggak lebih dari seorang teman aja. Sorry karena lancang bilang ini. Tapi itulah faktanya."
Agam kecewa namun tidak terkejut juga, soalnya dari awal dia memang sudah tahu kalau Rubina tidak memiliki perasaan lebih untuknya.
"Bahkan setelah tujuh tahun lamanya lo belum punya perasaan sama gue? Secuil pun enggak?"
"Sorry tapi emang sampai detik ini gue nggak ada rasa sama lo. Perasaan gue tuh buat..."
"buat Sean kan?" potong Agam yang sudah tahu ke mana arah pembicaraan Rubina meski Rubina belum menyelesaikan ucapannya. "Gue pikir tujuh tahun udah cukup untuk buat lo ngelupain Sean, tapi ternyata dugaan gue salah."
"Ayolah, Gas. Nggak usah ngerembet ke mana-mana pembahasannya. Sebaiknya lo berenti buat ngejar-ngejar gue lagi. Mendingan lo move on dan cari cewek lain. Gue yakin, di luar sana banyak kok cewek yang suka sama lo."
"Apakah memperjuangkan cinta adalah sesuatu yang salah? Kalo emang gitu trus gimana sama lo yang masih mengejar cintanya Sean. Padahal lo juga tau kalo dia enggak punya perasaan apa-apa sama lo. Kalo lo aja bisa berjuang untuk pria yang nggak cinta sama lo, trus kenapa gue nggak bisa memperjuangkan lo, Bi?"
"Mengejar cinta gue cuma membuang waktu lo, Gas! Dari pada ngabisin waktu untuk itu, mendingan lo cari cewek yang akan cinta sama aja!" ucap Rubina memberikan saran.
"Nggak," Agam menggeleng-gelengkan kepalanya pertanda bahwa dia tidak setuju dengan perintah Rubina yang memintanya untuk move on.
"Di hari pertama saat gue yakin cinta sama lo, gue udah janji kalo gue nggak akan mundur sebelum gue dapetin lo. Nggak peduli sekarang lo belum punya perasaan itu. Dengan begitu gue mungkin harus berusaha lebih baik lagi."
"Udahlah Gas. Setelah ini lo beneran harus move on !" Rubina merogoh tas bawaannya. Dia mengambil satu buah undangan dari dalam sana. Tangannya yang menggenggam sepucuk surat undangan terulur ke depan.
"Awalnya gue bakalan minta tolong sama Syifa buat ngasih lo undangan itu, tapi karena lo telanjur ada di sini, makanya gue langsung ngasih aja." Rubina semakin menyodorkan benda di tangannya.
Agam ikut mengulurkan tangannya, "Apa ini undangan ulang tahun?" tebak Agam bersamaan dengan tangannya yang mengambil alih sepucuk surat itu dari tangan Rubina.
"Lihat sendiri!" ujar Rubina. Alih-alih menjelaskan, dia sekiranya meminta Agam untuk mencaritahunya sendiri dengan melihat sendiri undangan di tangannya.
Agam menampilkan mata melotot melihat gambar Rubina dan Sean terpampang di kertas itu.
"Undangan pernikahan? Ini bercanda kan, Bi?" sekilas Agam melirik Rubina kemudian dia mengembalikan perhatian kepada undangan di tangannya. Kali ini dia langsung membuka undangan itu untuk lebih meyakinkan dirinya. Nama dr. Sean Altemose Ahmet tertera di sana sebagai seorang calon mempelai pria.
Agam merasa seolah pasokan oksigen di dalam dirinya semakin berkurang. Bahkan hampir membuatnya sesak.
"Ini bohong kan Bi? Bilang sama hue kalo ini adalah undangan palsu!" walaupun sudah ada bukti di genggaman namun pria itu masih menyimpan sebuah harapan. Paling tidak Agam ingin Rubina mengatakan bahwa saat itu dia hanya berbohong demi agar Agam menghindarinya.
"Terserah deh Gam, lo mau mau percaya atau nggak. Tapi ya itulah kenyataan yang berjalan. gue sama Sean bentar lagi bakalan memulai babak baru. kita akan segera menikah."
Agam memperhatikan gambar calon mempelai pria di undangan pemberian Rubina,
"Apa ini Sean yang sama dengan yang dulu lo kejar-kejar cintanya?"
"Ya, lo bener. Dia adalah orang yang sama."
"Apa sekarang dia benar-benar udah cinta sama lo?" tanya Agam.
"Ya, dia udah cinta sama gue," bohong Rubina demi agar Agam benar-benar berhenti mengejar cintanya lagi. "Lagian kalo emang dia nggak cinta sama gue, buat apa dia mau nikah sama gue?"
"Gimana bisa orang yang selama ini nilak lo justru memutuskan untuk nikah sama lo? Apa jangan-jangan lo main dukun ya Bi sampe si Sean bisa jatuh ke pelukan lo?" tuduh Agam. Efek panasnya api cemburu yang dia rasakan membuatnya berbicara yang bukan-bukan.
"Terlepas bagaimana cara aku bisa meluluhkan hatinya Sean bukan urusan lo. Yang jelas sekarang gue lagi dalam tahap persiapan buat nikah. Jadi, gue minta sama lo untuk berhenti ngejar-ngejar cinta gue. Di luaran sana ada banyak banget cewek yang jauh lebih baik dari gue. Sama satu lagi, kalo misalkan kita nggak bisa punya hubungan spesial, setidaknya gue bisa kok jadi sahabat lo."
Agam menghela napas panjang. Perasaannya campur aduk menjadi satu. "Tau gak apa yang gue rasain saat ini?" tanyanya membuat raut penasaran terpatri di wajah Rubina.
"Enggak," jawab Rubina.
"Hati gue sangat panas, Bi."
"Kok bisa?" tanya Rubina.
"Pikirin saja! Kabar pernikahan lo ini sangat tiba-tiba. Kabar pernikahan lo ini udah buat hati gue hancur berkeping-keping tau gak. Lagian kenapa nikahnya sama Sean sih? Padahal ada gue di sini, gue juga enggak kalah ganteng dibanding Sean. Sama satu lagi, kalo lo nikahnya sama gue, gue bakalan memperlakukan lo seperti seorang ratu."
"Udahlah, nggak perlu berandai-andai. Mungkin emang menyakitkan, tapi lo harus nerima kenyataannya. Dan gue juga akan mendoakan semoga dalam waktu dekat lo juga bisa menemukan cewek yang tepat," hibur Rubina. Rubina jadi membayangkan jika hal itu terjadi padanya melihat Sean menikah dengan wanita lain- pasti akan terasa seperti mimpi buruk bagi Rubina.